My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 10 Mencari Kelas


__ADS_3

Ke esokan hari nya, hari senin tanggal 04 April tahun 2050.


Mulai hari ini, aku resmi menjadi siswa dari Magic Academy.


Aku melihat pantulan sosokku di depan cermin yang sudah memakai seragam sekolah baru ku. Seragam Magic academy, di dominasi dengan warna hitam, dengan bordir berwarna emas di bagian kerah dan pergelangan tangan layak nya garis-garis. Untuk seragam sekolah Putri sendiri terdiri dari kemeja berwarna putih polos pergelangan panjang, dilapisi blazer yang juga berwarna hitam dengan bordir emas, bagian rok cukup terbilang pendek, seukuran paha dengan embel-embel rok yang cukup heboh yang menambah kesan imut. Di bagian kerah leher di hiasi dengan dasi kupu-kupu berwarna kuning cerah. Ada hiasan tambahan berupa jubah pendek seukuran pergelangan tangan, yang menambah kesan seorang penyihir pada abad pertengahan.


Selain seragam juga ada tas gandeng yang ukuran tas nya hanya cukup untuk di masuki buku tulis dan beberapa alat tulis. Pihak akademi juga memberikan sepatu slip berwarna hitam, untuk kaos kaki sendiri nampak nya pihak akademi tidak memberikan peraturan khusus, kami para murid di bebaskan memilih jenis kaos kaki yang hendak di pakai. Untuk menyesuaikan dengan penampilan ku, aku memilih mengenakan stocking yang menutupi seluruh kaki ku, tentu saja stocking yang ku pilih juga berwarna hitam.


Setelah puas menginspeksi semua sudut dari seragam baru ku di depan cermin, aku mengangguk puas dengan penampilan ku. Rambut panjang berwarna perak ku juga sudah ku sisir dengan rapi, sehingga tidak ada yang namanya 'tidak rapi' dalam penampilan ku.


Aku pergi keluar kamar sambil menggendong tas ku, yang sudah berisi buku dan alat tulis lengkap. Aku sangat bersemangat untuk masuk ke sekolah baru kali ini, terlebih lagi sekolah yang ku masuki kali ini adalah sekolah unggulan, dan juga seragam yang di sediakan pihak akademi juga berkualitas tinggi, membuat tidak ada alasan untuk ku untuk tidak bersemengat memasuki sekolah.


Turun ke bawah, menuju ruang tengah, aku di sambut keluarga ku yang sudah duduk di ruang makan dengan meja yang sudah penuh dengan makanan yang tidak terlalu berat untuk perut.


Untuk sarapan pagi, keluarga kami biasanya memang tidak menyediakan makanan berat, roti dan susu adalah menu sarapan yang pasti selalu di sediakan pada pagi hari.


Ayah, Ibu, dan Adikku Mia menyapa kemudian memuji sosok ku yang menggunakan seragam Magic Academy. Setelah pujian ringan itu, kami semua fokus makan, menghabiskan sarapan yang telah tersedia di atas meja. Sudah jadi kebiasaan dalam keluarga ku untuk tidak berbicara saat makan bersama. Ayah mengatakan itu berguna untuk menghargai rezeki yang di berikan entitas pengatur dunia ini. Sebagai anak yang baik, aku dan adikku Mia menuruti nasihat ayah kami dan tidak banyak berbicara saat makan.


Setelah menghabiskan makanan kami, sarapan kami di lanjutkan dengan minum susu segelas, setelah semua anggota keluarga ku menghabiskan makanan dan minuman kami, barulah terjadi percakapan, yang di buka oleh ayah.


"Mia. Bagaimana hasil ulangan mu?"


"Semua nilai melewati KKM, walaupun aku masih tidak bisa mendapatkan tempat di sepuluh besar." Pertama ayah ku menanyai nilai ulangan adikku, setelah mendengar jawaban dari adikku, ayah menyisipkan nasihat nya kepada adikku. "Teruslah belajar, ayah doakan di ulangan selanjutnya kamu masuk di sepuluh besar."


Setelah memberikan nasihat pendek kepada adikku, ayah melanjutkan percakapan dengan menanyai ku. "Mira kapan bus sekolah mu akan datang?"


Saat pihak akademi memberikan seragam kemarin, mereka juga menyisipkan pemberitahuan kalau semua siswa akan di jemput dengan menggunakan bus sekolah yang akan datang ke tempat masing-masing murid. Dengan teknologi bus terbang yang cukup lumrah pada masa sekarang ini, menjemput murid satu persatu adalah perkara yang mudah.

__ADS_1


"Sebentar lagi akan datang." Jawab ku atas pertanyaan ayah. Seperti sebelum nya, setelah ayah bertanya, ia akan melanjutkan nya dengan nasihat singkat. "Kami turut senang dan bangga kau bisa masuk ke sekolah unggulan Mira. Belajarlah dengan rajin dan serius selama di sekolah, jangan sia-siakan kesempatan ini Mira."


"Baik ayah."


Setelah ayah memberikan nasihat nya pada ku, secara kebetulan bus jemputan datang di depan rumah ku. Aku bisa mengetahui nya dari suara klakson khusus.


Berpamitan dengan keluarga ku, aku pergi keluar rumah mendatangi bus jemputan. Saat aku memasuki bus, aku melihat Natasha yang berada di kursi bagian paling belakang, ia melambaikan tangan nya ke arah ku. Aku memilih untuk duduk satu kursi dengan nya. Untuk introvert seperti ku, duduk di kursi bersama orang asing membuat ku tidak nyaman, atas alasan ini aku memilih duduk bersama Natasha, seseorang yang sudah aku kenali walaupun aku baru mengenal nya beberapa hari.


"Kau begitu menarik perhatian di mana pun kau berada ya Mira." Itu adalah kata-kata pertama yang ia ucapkan pada ku pada hari ini.


Natasha seperti sedang memuji ku saat ia mengatakan itu, tapi pada kenyataan nya ia sama sekali tidak memuji ku. Natasha hanya membicarakan fakta yang terjadi saat aku baru pertama kali menginjakkan kaki di dalam bus ini.


Mungkin melihat ku yang berpenampilan seperti anak kecil, aku menarik perhatian saat aku memasuki bus barusan. Wajah orang-orang yang berada di dalam bus seakan-akan bertanya-tanya "Mengapa ada anak kecil disini?" Ini jelas cukup aneh. Seharus nya mereka sudah melihat ku saat pengumuman tes ujian masuk, jadi mereka seharus nya tidak terkejut lagi saat melihat penampilan ku.


"Mungkin mereka terlalu fokus dengan kepala sekolah, sehingga mereka tidak menyadari mu?" Natasha menebak alasan mengapa semua orang terkejut melihat ku.


"Aku sangat yakin bukan hanya penampilan mu yang seperti anak kecil saja yang membuat mu menarik perhatian orang-orang Mira."


"Bisa kau berhenti membaca pikiran ku?"


"Aku tidak memiliki kemampuan seperti itu. Raut wajah mu begitu mudah di tebak Mira. Padahal saat aku pertama kali bertemu dengan mu, raut wajah mu begitu datar, sehingga aku tidak bisa membaca pikiran mu sama sekali."


Selama kami berdua bercakap-cakap ringan, bus mulai berjalan di atas aspal sebelum akhir nya benar-benar lepas landas ke langit.


***


Walaupun tidak secepat mobil yang ku naiki saat tes masuk, bus sekolah mampu mengantar kami menuju academy dalam waktu singkat, hanya dalam hitungan menit saja. Lebih tepat nya dua puluh menit. (Bus tidak langsung menuju ke academy, masih harus menjemput beberapa murid selama di perjalanan. Jika bus langsung ke academy, kemungkinan waktu sampai akan lebih singkat.)

__ADS_1


Saat bus mendarat di depan gedung academy, kami semua turun dari bus dengan teratur. Aku dan Natasha turun paling akhir, mengingat lokasi tempat kami duduk yang berada di paling belakang bus.


"Aku tidak menyangka sekolah ini akan sebesar ini."


Aku tidak menyadari Magic Academy akan memiliki bangunan sekolah yang begitu megah. Itu di karenakan kemarin kami langsung di teleportasikan ke lokasi ujian, dan juga saat aku mendarat di taman academy, aku terlalu fokus dengan penyerang mobil ku, jadi tidak begitu memperhatikan sekeliling.


Bangunan Academy sebagian besar di dominasi dengan warna krem, dengan gedung memiliki tiga tingkat. Bagian depan menjorok sedikit kedepan, dengan tinggi dua tingkat, memiliki atap segitiga dengan genteng yang terbuat dari marmer, sisa bagian belakang academy yang tingkat tiga, memiliki bangunan berbentuk kotak seperti gedung bertingkat pada umum nya.


Berjalan sampai depan pintu academy, dua pintu setinggi 5 meter terbuat dari kayu jati berwarna coklat menyambut kami. Pintu di desain dengan corak batik Pring Sedapur. Melewati kedua pintu itu, kami di sambut dengan ruangan besar seperti aula pada pesta dansa bangsawan yang sering ku lihat di komik-komik fantasy. Ruangan besar ini tersambung dengan koridor-koridor, di ujung aula terdapat tangga menuju lantai dua. Ruangan seperti aula ini begitu ramai di lalui oleh orang-orang yang menggunakan seragam ataupun orang-orang yang menggunakan pakaian dinas.


"Bagaimana kita menemukan kelas kita di ruang sebesar ini?" Gumam Natasha dengan wajah kagum sembari melihat sekeliling.


Aku mengambil secarik kertas dari tas ku. Kertas itu adalah denah ruangan yang sudah di sisipkan oleh pihak akademy sebelum nya. Aku menyadari keberadaan kertas ini saat di bus sebelum nya, saat aku membuka semua kantung-kantung yang ada di dalam tas ku.


"Kelas kita berada di lantai tiga. Lantai satu ini di gunakan oleh senior kita, lebih tepat nya kelas tiga. Lalu lantai dua di gunakan oleh anak kelas dua."


"Dari mana kau mendapatkan itu?" Tanya Natasha.


"Periksa tas mu!"


Mungkin malas memeriksa tas nya, Natasha tidak mengindahkan perkataan ku, ia hanya mengikuti di samping ku sambil sesekali melirik ke kertas yang ku pegang.


Aku ralat pernyataan ku sebelum nya. Tangga yang ku anggap membawa kami kelantai dua ternyata salah, tangga yang saat ini kami naiki tidak berhenti hinga sampai lantai dua, tangga masih terus berlanjut hingga sampai kelantai tiga. Tanpa mengatakan banyak hal, aku, Natasha dan murid baru lain nya terus menaiki tangga hingga sampai lantai tiga.


Saat kami sampai di lantai tiga, kami di sambut dengan koridor panjang yang denah nya cukup kompleks. Untung nya aku masih memegang denah academy, jadi aku tidak perlu untuk memeriksa koridor satu persatu.


Mengambil koridor kiri, aku terus berjalan hingga sampai di jalan cabang dua, satu berbelok ke kanan dan satu terus kedepan. Mengambil jalan kanan, aku terus berjalan hingga sampai di depan sebuah ruangan yang di atas ambang pintu nya tertulis "Kelas 1-A."

__ADS_1


__ADS_2