
Senin. 06 Juni 2050.
Kelas pagi telah selesai seperti biasa, sekarang waktunya istirahat. Pada titik ini, aku tidak akan mengeluhkan lagi seberapa monoton kegiatan sekolah ku. Walaupun memang kegiatan sekolah ku monoton, tapi tidak untuk pelajaran yang dibahas di setiap mata pelajarannya.
Walaupun mata pelajaran pada hari senin ini sama seperti hari-hari senin sebelumnya, konten yang dibahas pada hari ini jelas sekali berbeda pada hari-hari sebelumnya. Ini membuat aku belajar hal baru setiap minggunya. Di tambah, pelajaran yang aku dapatkan sangat berguna untuk mengembangkan ilmu sihir ku. Semakin membuatku tidak bisa mengeluh mengenai kegiatan monoton yang selalu aku lakukan.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, kami semua beranjak dari kelas untuk pergi ke kantin untuk istirahat makan siang.
kami menyusuri koridor lantai tiga, lantai yang menjadi kelas untuk anak-anak kelas satu yang masuk ke akademi pada tahun ini. Menuruni tangga hingga lantai dua, kami sampai dimana kakak kelas kami berada, anak murid yang masuk ke akademi tahun kemarin, yaitu anak kelas dua. Kami harusnya akan terus berjalan menuruni tangga hingga sampai ke lantai satu, tapi saat kami tiba di koridor lantai dua, Dani tiba-tiba berhenti seakan-akan tubuhnya mematung.
Aku melihat ekspresi wajah Dani, ia melihat ke Salah satu depan ruangan yang ada di koridor lantai dua ini dengan wajah sedih bercampur dengan senang. Mulutnya bergetar hebat layaknya seseorang yang mandi di air es pada musim dingin.
"Dani ada apa?" Tanyaku dengan penasaran.
"...."
Dani tidak menjawab pertanyaan ku, atau bisa dikatakan, ia sama sekali tidak menyadari kalau aku bertanya padanya. Aku mengikuti arah pandangan Dani, memfokuskan pandangan ku ke depan sebuah ruangan.
Di depan ruangan terdapat beberapa murid anak akademi. Terdiri dari 3 murid laki-laki dan 3 murid perempuan. Aku tidak tahu kearah mana pastinya pandangan Dani mengarah, tapi yang jelas pandangannya berfokus ke arah enam orang murid itu.
"Apakah ada kenalan Dani di sini?" Pikir ku.
Saat aku memikirkan kemungkinan itu di kepalaku, seseorang teman sekelasku mengkonfirmasi kemungkinan yang ku buat di kepala ku.
"Hmmm... Dani! Bukankah yang di sana itu Alya!?"
Seseorang yang mengkonfirmasi tebakan itu adalah sahabat Dani, yaitu Raihan.
__ADS_1
Dani mengabaikan Raihan, dan terus menatap murid bernama Alya, yang tidak ku tahu yang mana orangnya. Intinya, murid bernama Alya itu ada di salah satu barisan murid yang saat ini berada sekitar 20 meter di depan kami.
"Siapa itu Alya?" Tanya Alexandria.
"Gadis yang Dani suka." Jawab Raihan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Eeeeh.... Yang mana orangnya!? Yang mana!?" Tanya Alexandria dengan sedikit bersemangat.
"Yang it-"
"Ayo pergi..."
Sebelum Raihan menunjuk murid yang bernama Alya itu, Dani mengajak kami semua pergi ke kantin dengan nada lesu.
"Eh? Kau yakin? Bukankah kau selama masuk akademi ini terus mencarinya?" Tanya Raihan.
Dani pergi berjalan menuruni tangga, Raihan dengan segera mengejar sahabatnya itu. Alexandria melihat ke arah koridor dan ke arah Dani yang menuruni tangga secara bergantian, sebelum akhirnya ia mengejar Dani sembari memanggil namanya.
"Mira... Kau tidak ingin ikut?"
Untuk ku, aku masih menatap ke arah koridor, menginspeksi. Natasha yang masih berdiri di samping ku, mengajakku untuk mengejar Dani. Tapi aku tidak menanggapi ajakannya, aku terus menatap kearah koridor.
Aku tidak tahu murid mana yang Dani maksud, tapi dari situasi yang terjadi di sekelompok murid yang ku lihat saat ini, aku bisa menyimpulkan murid mana yang bernama Alya itu.
Saat ini, di sekelompok murid yang kami terus perhatikan ada dua orang murid yang berbicara dengan keakraban yang tidak wajar di antara mereka. Murid laki-laki dan perempuan.
Murid laki-laki memiliki rambut coklat lebat dengan tubuh atletis, aku dapat melihat wajahnya dari sini, jika ku nilai secara objektif, dia termasuk dalam kategori tampan. Ia menggunakan seragam yang sama dengan kami, tapi yang menjadi pusat perhatian ku adalah dasinya yang berwarna kuning cerah seperti kami. Menandakan kalau ia adalah murid kelas satu.
__ADS_1
Untuk murid perempuan sendiri dia adalah seorang gadis dengan tubuh tinggi dengan bentuk tubuh langsing dan memiliki payudara yang cukup besar, dia memiliki rambut berwarna biru muda panjang yang di ikat menjadi twintail, dan memiliki wajah yang imut. Jelas kalau dia adalah murid kelas dua, hal ini tergambar jelas dari warna dasinya yang berwarna coklat muda, yang menjadi identitas kalau dia adalah murid kelas dua.
Sebagai informasi tambahan, seragam akademi memiliki warna dasi yang berbeda sesuai dengan kelas masing-masing siswa. Untuk anak kelas satu adalah kuning cerah, anak kelas dua coklat muda, dan anak kelas tiga merah tua. Dari warna dasi ini aku bisa menebak kelas dari suatu murid.
Walaupun aku bisa menebak mana murid yang bernama Alya. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ku. Aku hanya penasaran saja, tidak lebih dari itu. Aku tidaklah baik hati untuk membantu hubungan percintaan seseorang. Dengan pemikiran ini, aku berjalan menuruni tangga, menuju lantai satu bersama Natasha.
Saat berada di kantin, terdapat satu meja makan yang tidak terisi penuh. Aku melihat ke antrian para murid yang mengantri di meja prasmanan. Antriannya sangat panjang, untuk mengatasi tempat kami tidak di ambil, salah satu dari kami akan menunggu di meja yang kosong tersebut, sementara yang lain memesan makanan untuk orang yang menunggu di meja.
"Aku ingin sup ayam, dan roti. Untuk makanan penutup salad sayur. Lalu untuk minuman, aku ingin jus jeruk." Kataku kepada kawan sekelasku, sebelum pergi berjalan ke meja makan yang masih kosong.
Aku duduk di meja kosong, mengambil smartphone ku yang sudah terhubung dengan headset di saku baju ku. Aku memasang headset itu di kedua telinga ku, lalu menyetel musik relaksasi.
Beat musik yang rendah, dan ritme musik yang tidak terlalu heboh, membuat telinga ku tidak sakit saat mendengarkan musik yang ku mainkan. Terkadang, telinga ku akan sakit sesaat musik yang terputar bergenre rock, hal ini bisa terjadi karena headset yang kugunakan adalah kualitas yang terbaik. Membuat musik semakin jernih dan jelas, walaupun musik yang ku putar tidak dalam volume penuh.
Sembari bergumam pelan mengikuti beat musik yang terputar di headset ku, aku melihat kearah antrian meja prasmanan. Di sana kawan-kawan sekelasku sudah berada di antrian barisan depan, hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya giliran mereka tiba.
Musik yang ku putar berakhir, pengaturan untuk memutar musik berikutnya secara otomatis menyala, memutar lagu relaksasi yang berbeda. Kali ini musik yang terputar di telinga ku adalah Lofi hip-hop.
Musik Lofi hip-hop yang terputar di headset yang sekarang ku kenakan, baru mencapai pertengahan. Aku mematikan musik, kemudian melepas headset yang ku kenakan. Aku melakukan ini karena aku melihat kawan sekelas ku yang lain telah selesai mengantri untuk mengambil makanan, dan sekarang mereka berjalan ke arah meja yang saat ini ku duduki.
Saat mereka hendak sampai, ada sekelompok murid yang menaruh makanan mereka di atas meja yang ku duduki saat ini. Dengan sopan aku mengatakan pada mereka.
"Maaf, meja ini telah di pesan." Kataku pada mereka sambil melirik ke arah kawan sekelasku.
Kelompok murid itu mengeluarkan ekspresi kecewa, sebelum akhirnya mereka menemukan meja yang baru saja kosong. Dengan sigap mereka langsung pergi ke arah meja itu.
Sesaat sekelompok murid barusan telah pergi, Natasha dan Raihan datang ke meja tempat ku duduk.
__ADS_1