My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 71 Sekali lagi Ema menang


__ADS_3

"Uugh...." Suara erangan dapat terdengar didalam lorong yang menjadi markas Kelas A, pemilik suara tersebut saat ini tengah berbaring di atas tanah. Matanya mengerjap-ngerjap, tidak berselang lama, matanya pun terbuka sepenuhnya.


Menunggu fokus dimatanya, hingga pada akhirnya pandangannya pun benar-benar terfokuskan.


"Ughh... Apa yang terjadi...?" Ucap orang yang terbaring itu, sembari berusaha untuk bangkit dari posisi baringnya, dengan tubuh yang masih berat. Ia memegangi kepalanya, yang sedikit mengalami pusing.


Menunggu sampai rasa sakit dikepalanya berkurang, orang yang terbaring itupun bangkit, berdiri dengan langkah yang sempoyongan.


Orang itu berjalan, hingga ia sampai diujung lorong, disana sudah ada dua orang gadis yang menatap kedepan mereka dengan fokus yang begitu mendalam, sampai-sampai tidak menyadari ada orang yang datang dari dalam lorong.


"Natasha... Alexandria... Apa yang terjadi?" Tanya orang itu, dengan wajah bingung.


Saat nama kedua gadis itu dipanggil, merekapun akhirnya menyadari adanya seseorang didalam lorong, yang sebelumnya mereka lupakan keberadaannya.


"Oh... Dani, rupanya kau sudah sadar." Jawab Alexandria, setelah berbalik dengan senyum lega diwajahnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya orang itu lagi, yang rupanya identitasnya adalah anggota laki-laki kelas A yang masih tersisa, yaitu Dani Kalpataru.


"Mira membuat mu pingsan. Kau tidak ingat?" Jawab gadis yang satunya sekaligus memberi Dani pertanyaan, ia memiliki rambut pirang serta mata merah pekat seperti darah, Natasha Twilight nama dari gadis itu.


Mendengar jawaban dari Natasha, Danipun mengingat kejadian yang terjadi padanya. Seketika otaknya memutar semua ingatannya layaknya roll film.


Dani mengingat kalau ia melawan Michael, kemudian ingatannya menjadi samar-samar sesaat Michael melemparkan segumpal serbuk putih kewajahnya. Walaupun samar-samar, Dani masih bisa mengingat kejadian yang terjadi padanya setelah itu. Ia mengingat, ia merasakan emosi marah yang tidak terkendali, perasaan ingin menghajar Michael sampai babak belur seketika muncul di dalam dirinya.


Tanpa perlu ditanya lagi, Dani melakukan apa yang menjadi dorongan di dalam dirinya. Ia menghajar Michael sampai ia mengalami luka parah, setelah itu ia kembali ke lorong tempat kawan-kawannya berada... Pada titik inilah, roll film yang diputar di otaknya pun terputus. Ia tidak mengingat kejadian yang terjadi padanya, setelah ia memasuki lorong.

__ADS_1


Dengan hasil ini, Dani mencapai satu kesimpulan... "Ya... Aku tidak ingat. Mengapa Mira sampai melakukan hal itu?" Ucap Dani dengan heran.


"Hmm... Situasinya rumit untuk kami jelaskan," Balas Alexandria. "Lebih baik kau tunggu Mira untuk menjelaskan hal itu langsung pada mu."


"Benar juga... Dimana Mira? Aku tidak melihatnya."


"Dia berada di ruang medis."


"Di ruang... Medis... Kenapa?"


"Singkatnya, dia kalah melawan Reiko."


"Be-Begitu ya..."


"Saudara-saudara sekalian, Ema nampaknya mulai terdesak!" Suara pembawa acara dapat terdengar, mengomentari jalannya pertandingan yang terjadi. Mendengar suara pembawa acara itu, fokus Alexandria dan Natasha seketika tertuju pada arena. Mereka berbalik, melihat kearah luar lorong yang disana tersaji pertandingan antara perwakilan dari kelas B melawan perwakilan dari kelas C.


Dani juga ikut penasaran dengan jalannya pertandingan, terlebih lagi setelah ia mendengar nama Ema, seorang gadis dari kelas B yang mengalahkan sahabat baiknya.


Dani berjalan sedikit hingga ujung lorong, ia berdiri bersampingan dengan Natasha. Matanya langsung ditujukan ke luar lorong, ke arena tempat pertandingan berlangsung.


Ema Knežević, gadis yang mengalahkan sahabatnya, sedang mengalami situasi sulit, seperti yang dikomentari oleh pembawa acara. Saat ini, gadis itu terus ditembaki dengan serangan proyektil dari musuhnya. Ia terus bergerak kesana-kemari, menghindari serangan proyektil yang datang beruntun itu.


"Jelas sekali kalau dia menahan dirinya. Ini persis sewaktu dia melawan Raihan." Ucap Alexandria.


"Ya... Kau benar... Rasanya sangat menjengkelkan melihat lawan mu menahan diri." Sambung Dani.

__ADS_1


"Tapi nampaknya, gadis itu sudah menemukan celah lawannya, menurutku pertandingan ini akan segera berakhir." Kata Natasha, menganalisis jalannya pertandingan.


"Tunggu... Jika pertandingan ini berakhir, berarti sehabis ini pertandingan ku bukan? Dan dari perkataan kalian, nampaknya sudah jelas aku akan melawan Reiko." Kata Dani dengan senyum masam di wajahnya.


"Pake nanya... Seperti yang kau bilang, setelah pertandingan ini selesai, selanjutnya adalah giliran mu." Ucap Natasha, mengkonfirmasi dugaan Dani.


"Serius..."


Setelah tidak sadarkan diri selama beberapa menit, Dani merasakan kalau tubuhnya saat ini tidak dalam kondisi terbaiknya. Ia merasa sedikit pusing serta sedikit lemas. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya bisa sampai pada kondisi seperti ini... Tetapi jika dilihat dari situasinya, mungkin ini ada hubungannya dengan serbuk tanaman coca yang Michael lemparkan ke wajahnya serta obat bius yang Mira gunakan padanya... Walaupun begitu, Dani tidak mengetahui hal ini, ia hanya bisa merasa keheranan dengan kondisi tubuhnya yang tidak dalam puncak performanya ini.


Kondisi tubuhnya yang seperti ini, tentu saja membuat Dani khawatir. Terlebih lagi lawannya adalah murid kelas B, yang digadang-gadang sebagai seorang jenius, seseorang yang bisa mengalahkan Mira... Walaupun tidak dalam kondisi siap, Dani mau tidak mau harus menerima kondisi yang ia hadapi saat ini.


"Kuharap pertandingan ini berjalan sedikit lebih lama. Setidaknya sampai kondisi ku sedikit pulih." Harap Dani di dalam kepalanya.


Harapan sering kali tidak sesuai dengan realita. Saat Dani sudah berharap seperti ini, kenyataan segera menghianatinya, ia diberi tamparan yang begitu keras.


"Ema... Mulai menyerang balik.... Oooh... Saudara-saudara sekalian, dengan satu hantaman palu dari Ema, lawannya langsung tumbang!"


Dengan perkataan pembawa acara yang sinkron dengan peristiwa yang terjadi di arena, harapan Dani seketika lenyap bagaikan asap yang tertiup angin.


Ema Knežević, menghindari serangan lawannya, menunggu sampai lawannya membuka celah. Saat itu terjadi, tanpa membuang kesempatan, Ema membuat palu besar dengan sihirnya, ia berlari ke hadapan lawannya... Kemudian Ema, dengan sekuat tenaga mengayunkan palu di tangannya itu... Satu ayunan dari Ema, cukup membuat lawannya terlempar sejauh 4 setengah meter. Perwakilan dari kelas C, terlempar ke udara, jatuh ketanah mengikuti hukum gravitasi, kemudian ia berguling-guling di tanah, sedetik setelahnya ia pun tidak sadarkan diri. Memahat kemenangan Ema Knežević pada babak semifinal kali ini.


"Saudara-saudara... Pemenang dari babak ini, Ema Knežević." kemenangan Ema semakin diperjelas dengan pengumuman pembawa acara yang diikuti dengan sorakan penonton yang begitu nyaring, menyoraki gadis yang menjadi perwakilan kelas B itu.


Ema melambaikan tangannya, terseyum senang, mengapresiasi sorakan penonton. Ia terus melakukan itu sambil berjalan ke lorong tempat kelas B berada.

__ADS_1


__ADS_2