
"Bukankah kau terlalu keras melatihnya?" Tanya Dani dengan khawatir, yang datang bersama dengan murid-murid kelas A yang lain.
"Dan juga, tidak mungkin dia bisa memecahkan batu ini hanya dengan kekuatan fisiknya." Tambah Alexandria.
"Tidak. Kau salah. Kemarin dia berhasil memecahkan batu ini." Jawab Mira dengan ketus. "Ini batu baru yang sudah ku lapisi dengan Graphine."
"Apa!? Kau serius! Aku tidak menyadarinya sama sekali." Kata Dani.
"Sebelum batu yang pecah itu hancur berkeping-keping, aku dengan cepat membalikkan hukum entropi batu itu untuk sementara, menahannya untuk pecah." Jawab Mira mengungkapkan fakta yang gila.
Membalikkan hukum entropi secara teori sama seperti memutar mundur waktu, hanya penyihir kelas atas saja yang bisa melakukan itu. Mereka semua hanya bisa menganga dengan wajah tidak percaya saat Mira mengungkapkan fakta itu.
"Kau bisa membalikkan hukum entropi?"
"Hanya sebentar, paling lama hanya satu menit."
"Karena itu kau menyudahi pelatihan dengan cepat. Tunggu, bukankah itu berarti pelatihan Raihan telah berhasil? Mau seberapa kuat dia, tidak mungkin Raihan mampu memecahkan batu ini jika di lapisi dengan... Apa namanya tadi...?"
Dani tahu mengani Graphine, setelah mendengar penjelasan Mira mengenai Barriernya yang super kuat. Tapi karena baru pertama kali mendengar benda itu, Dani masih susah untuk mengingat namanya.
"Graphine... Tidak bisakah kau mengingatnya sekarang..."
"Hehehe... Maaf..."
"Haaaah... Apapun itu, aku tidak bisa menghentikan latihannya sekarang. Walaupun memang fisiknya sudah meningkat dengan drastis, bahkan aku yakin dia mampu mengalahkan seseorang dengan sihir transformasi hanya dengan kekuatan fisiknya, tapi masih ada satu yang menghalangi Raihan."
"Maksudmu sifat kurang percaya dirinya?" Tanya Natasha.
"Ya. Aku harus mengatasi masalah itu, jika tidak, apapun yang kita lakukan selama ini, semuanya akan berakhir sia-sia."
***
Waktu terus berlalu, latihan Raihan terus berlanjut hingga tidak terasa seminggu lagi sudah berlalu.
Hari ini adalah hari dimana Raihan akan menantang ayahnya untuk mendapatkan ramuan warisan keluarganya.
Beberapa jam sebelum pulang sekolah, saat istirahat makan siang. Semua murid kelas A, berkumpul di lapangan untuk melihat perkembangan latihan Raihan selama ini.
"HAAAH!" Raihan berteriak, sembari mengerahkan kekuatannya untuk memukul batu yang ada di tengah lapangan.
Bam!
Suara keras dari kepalan tangan Raihan yang membentur batu itu dengan keras dapat terdengar bahkan sejauh 5 meter dari tempat kejadian.
Walaupun suara pukulan dari Raihan begitu nyaring, batu itu sama sekali tidak bergeming. Tidak bergeser se-senti, tentu saja retakan tidak muncul di tempat Raihan memukul. Hal ini menandakan kalau latihan Raihan selama ini telah menemui kegagalan lagi, ia tidak bisa memecahkan batu besar hanya dengan kekuatan fisiknya.
"Masih tidak bisa... Aku harus berlatih lebih keras lagi." Pikir Raihan.
Selama dua minggu latihan dan di berikan sugesti secara terus menerus, pemikiran Raihan telah berubah. Raihan lama pasti akan berpikir "Sudah ku duga tidak akan bisa." Dengan wajah putus asa. Tapi Raihan sekarang berbeda, kepercayaan dirinya mulai sedikit tumbuh, jika menemui kegagalan ia tidak berputus-asa, ia akan berpikir masih ada yang salah pada dirinya, dan harus memperbaiki kesalahan itu untuk meraih hasil yang lebih baik.
Seperti sekarang ini, ia berpikiran kalau tidak bisanya ia memecahkan batu besar itu karena dirinya kurang latihan.
__ADS_1
"Cukup latihannya Raihan." Mira datang mendekatinya.
"Baik." Jawab Raihan dengan nurut.
"Sudah ku duga kita tidak bisa membuat mu memecahkan batu ini selama dua minggu. Karena itu aku menyarankan cara lain."
"Cara lain...?"
Mira mengambil sesuatu dari sakunya, yang ia ambil adalah sebuah botol kaca kecil seukuran 10 centimeter. Botol itu seperti botol parfum, lengkap dengan cairan bening di dalamnya.
"Parfum?" Tanya Raihan.
"Tentu saja bukan. Ini adalah Ramuan yang ku dapat dari dark web." Jawab Mira. "Ramuan ini berguna untuk membesarkan masa otot selama satu hari penuh, jadi secara harfiah jika kau meminum ramuan ini kemampuan fisikmu akan meningkat secara signifikan dalam waktu 24 jam. Jika di gunakan dalam jangka pendek ramuan ini tidak akan memberikan efek samping, tapi bisa memberikan efek kecanduan jika di gunakan secara terus menerus. Karena itu aku memberikan mu ramuan ini, jika kau memakainya hanya pada hari ini, ramuan ini tidak akan memberikan efek samping padamu."
Mira memberikan botol kaca itu pada Raihan. "Gunakan ramuan ini untuk menantang ayah mu." Ucapnya pada Raihan dengan senyum sinis.
"Bukankah menggunakan ramuan ini sama saja dengan curang?" Tanya Raihan dengan ragu.
"Serius...? Kau berpikir seperti itu? Apakah kau melupakan fakta kalau ayahmu menggunakan ramuan untuk menstabilkan sel mutasinya saat menggunakan sihir transformasi."
Jika di pikirkan sekali lagi Mira ada benarnya. Ayahnya, selama ini juga menggunakan ramuan untuk mendapatkan kekuatan yang ia miliki sekarang, apa salahnya jika ia juga menggunakan ramuan? Toh, ramuan yang ia pakai efeknya hanya satu hari, tidak jangka panjang seperti ramuan yang di pakai ayahnya selama ini.
Karena pola pikir Raihan telah berubah akibat sugesti berkelanjutan yang di lakukan Mira, ia pun bisa membuang pemikiran idealnya dan berpikir realistis, tapi ia akan berpikir seperti itu jika Mira yang mengatakannya.
Itu benar. Bisa dikatakan, sugesti yang dilakukan Mira kepada Raihan membuatnya tidak bisa menentang perkataan Mira. Ia pasti akan menganggap pernyataan dan perkataan Mira itu benar.
"Baiklah. Mira. Aku akan menggunakan ramuan ini untuk melawan ayah ku."
Raihan mengangguk dengan nurut, meminum ramuan dari botol kecil itu hingga habis. Saat ia meminum ramuan itu, Raihan tidak merasakan adanya perubahan pada tubuhnya, tapi ia mempercayai perkataan Mira. Karena itu, tanpa ragu Raihan memukul batu yang ada di tengah lapangan, yang memiliki diameter 20 meter itu dengan sekuat tenaga.
Bam!
Batu yang di pukulnya, seketika retak, yang dimana retakan itu makin melebar hingga akhirnya batu yang besarnya berdiameter 20 meter itu pecah. Hingga pecahan terkecil.
"Be-Berhasil."
Prok! Prok! Prok! Prok! Prok! Prok!
Mira bertepuk tangan melihat batu yang selama ini menjadi hambatan untuk Raihan telah pecah. "Bagus. Bagus." Katanya dengan senyum bangga. "Sekarang kau boleh istirahat duluan Raihan, aku dan yang lainnya akan menyusul setelah membersihkan serpihan batu-batu ini."
"Baiklah... Terima kasih Mira, terima kasih telah membantu ku selama ini." Katanya sambil menunduk.
"Jangan di pikirkan, sekarang pergilah ke kantin duluan."
Raihan mengangguk, berlari menuju kantin sekolah.
"Huuft... Selesai juga tugas merepotkan ini." Gumam Mira dengan lelah.
"Pada akhirnya, dia tidak bisa memecahkan batu berlapis graphine ini tanpa bantuan ramuan." Kata Alexandria berjalan mendekati Mira, ia sedari awal mengawasi dari pinggir lapangan bersama dengan murid kelas A lainnya.
"Tentu saja tidak mungkin hal itu terjadi. Aku sudah menghilangkan unsur graphine di batu itu sesaat ia meminum air putih yang ku kasih."
__ADS_1
"Begitu ya... Tunggu... Air putih? Maksud mu... Ramuan yang kau berikan itu?" Dani berkata dengan wajah mengerti, tapi saat ia sudah memproses semua perkataan Mira, ia seketika terbelalak kaget.
"Kau pikir aku akan membeli ramuan dari situs berbahaya hanya untuk memecahkan masalah keluarga orang?"
Percakapan Raihan dan Mira dapat terdengar oleh murid kelas A lain. Termasuk perkataan Mira yang mengatakan ia mendapatkan ramuan dari dark web. Karena itu mereka terkejut saat mengetahui kalau semua perkataan Mira adalah bohong.
"Untuk apa kau melakukan semua itu?" Tanya Natasha dengan bingung.
Mira tersenyum lebar, mulutnya membentuk bentuk bulan sabit, senyum Mira bukanlah senyum bahagia. Melainkan senyum sadis dan sinis.
"Tentu saja, sebagai proses akhir pencucian otak yang telah ku lakukan selama ini." Jawabnya dengan dingin.
Jawaban Mira itu seketika membuat semua orang merinding.
***
Kondisi mental Raihan yang tertekan, membuat sifatnya mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
Mengetahui hal ini, Mira memanfaatkan hal itu dengan baik.
Pada awal melatih Raihan, niat Mira memang tulus di tambah dengan sedikit rasa penasarannya, ia melatih Raihan dengan sungguh-sungguh.
Dia dan Alexandria melatih Raihan selama dua minggu untuk mengendalikan sihirnya, selama kurun waktu itu ia mencari informasi mengenai sihir transformasi. Pada titik ini Mira telah mengetahui mengenai sel mutasi yang dapat menyembuhkan luka, ia juga berhipotesa kalau perubahan Raihan yang tidak wajar ada hubungannya dengan emosi dan keadaan mental.
Mira menambah informasi lagi sampai pertemuannya dengan Dani pada hari sabtu di cafe, mendengarkan ceritanya mengenai kondisi keluarga Raihan. Melalui cerita Dani dia sudah yakin dengan Hipotesanya, tapi ia masih perlu bukti untuk membuktikan hipotesanya benar atau tidak.
Mira pun menyusun rencana untuk melukai Raihan, mengetahui sel mutasi yang dapat menyembuhkan dan dia juga sudah memiliki bukti untuk itu, Mira pun menjalankan rencananya beberapa hari kemudian. Berhasil membuat Raihan terluka, memaksanya bertransformasi, sehingga membuktikan mengenai hipotesanya.
Pada titik ini, niat Mira yang tulus untuk membantu Raihan pun menghilang. Saat Raihan mencacinya dan menunjukkan kalau dia adalah remaja dengan pikiran sempit. Layaknya katak di dalam sumur. Saat itu yang tersisa dihatinya hanyalah perasaan kecewa.
Dia juga mengetahui kebenaran di balik sihir transformasi, dan juga sudah ada bukti konkrit mengenai hal itu. Tapi anehnya mengapa ia bisa tahu hal itu, padahal di buku resmi di dalam perpustakaan tidak tercatat mengenai hal itu. Mira berpikiran luas, dengan melihat dari sudut pandang lain, yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain sebelumnya, ia bisa mengetahui hal itu. Di tambah akan fakta keluarga Adaka yang memiliki ramuan rahasia yang ia dengar dari Raihan sendiri, menambah keyakinannya dengan hipotesanya yang satu ini.
Saat Raihan meminta di latih lagi. Mira yang selalu percaya diri, menjadi pesimis, ia sangat yakin apapun yang ia lakukan, selama Raihan masih belum menyelesaikan masalah dengan keluarganya, semua usaha untuk membantu Raihan akan berakhir sia-sia.
Saat inilah, Mira memulai rencana pencucian otaknya. Yang dapat ia selesaikan dalam waktu dua minggu saja.
Saat mengetahui kalau latihan pengendalian sihir tidak ada hubungannya dengan sihir transformasi, ia merubah pelatihan Raihan sama seperti keluarga Adaka pada generasi terdahulu. Melatih fisik dan mental Raihan.
Mira dengan sifat manipulatifnya, memanipulasi jalan pikir Raihan. Ia membuat Raihan menganggap semua perkataan yang ia katakan selalu benar.
Dengan menunjukkan sikap berbaik hati ke Raihan yang masih merasa bersalah padanya. Mira terus memerintah Raihan dengan memberikan sedikit sugesti berupa kalau ia selalu bersusah payah mencari cara memperkuat fisik Raihan selama latihan. Yang padahal, sedari awal fisik Raihan memang sudah kuat, ia hanya membuat Raihan beranggapan kalau kekuatan fisiknya meningkat berkat saran dari Mira.
Tentu ini menumbuhkan rasa percaya Raihan kepada Mira. Hingga pada titik, Raihan selalu menganggap perkataannya selalu benar, dan tidak bisa menolak perintahnya.
Dengan memanfaatkan cara yang sama. Mira membuat Raihan berpikir, kalau ia memberikan ramuan penguat fisik yang sebenarnya ramuan itu hanyalah air biasa. Tentu saja ini untuk membuat Raihan semakin yakin akan perkataan Mira. Dengan di landaskan rasa percayanya pada Mira, Raihan pun dapat menantang ayahnya untuk berduel dengan percaya diri.
Inilah yang menjelaskan mengapa sikap Raihan berubah menjadi 180 derajat. Yang awalnya pengecut, tidak percaya diri, dan berhati-hati, menjadi begitu percaya diri, berani dan sembrono.
Selama Mira yang mengatakan ia bisa menang melawan ayahnya, Raihan yang telah di butakan dengan rasa percaya kepada gadis kecil itu akan terus bersikap berani dan percaya diri.
Itu benar. Selama Mira yang mengatakan ia bisa menang. Ia yakin dengan keyakinan maksimal kalau ia bisa menang.
__ADS_1