
"Uuggh..." Kejadian yang sama terjadi. Tapi kali ini ditempat yang berbeda.
Seseorang menunjukkan tanda-tanda kesadaran, setelah beberapa jam atau menit berlalu? Entahlah, yang jelas, belum genap ia tidak sadarkan diri.
Orang yang mulai mendapatkan kesadarannya ini, mengerjapkan matanya, menunggu fokus di matanya kembali. Saat matanya sudah sampai pada titik fokus sepenuhnya, pandangan orang ini langsung mengarah ke arah langit-langit ruangan.
"Langit yang asing..." Gumamnya dengan lemas.
Dengan tubuhnya yang lemas, orang ini mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. Ia merasakan badannya saat ini berbaring ditempat yang empuk, jelas kalau tempat ia berbaring adalah sebuah kasur. Walaupun enggan berpisah dari keempukan yang nyaman ini, orang ini tetap berusaha bangkit, setidaknya tubuh bagian atasnya saja yang bangkit. Ia mengambil posisi duduk.
Orang ini segera menginspeksi ruangan tempatnya berada sekarang. Di ujung ruangan terdapat alat medis yang terususn rapi di dalam sebuah lemari kaca. Menengok kesamping kirinya, ia segera melihat kasur lain, yang saat ini sedang di tiduri oleh seseorang. Seorang gadis lebih tepatnya, mungkin untuk lebih tepatnya lagi seorang gadis kecil.
"Mira... Mengapa dia juga ada di ruang medis? Apakah dia juga kalah sama seperti ku?" Pikirnya setelah melihat gadis kecil itu yang tengah tidak sadarkan diri di kasur yang berada satu setengah meter di kasur yang ia duduki saat ini.
Orang yang baru sadar ini adalah anggota laki-laki lain kelas A, yang kalah pada ronde ketiga turnamen babak pertama. Siapa lagi kalau bukan Raihan Adaka.
"Apakah Mira baik-baik saja?"
Raihan tidak bisa untuk tidak khawatir dengan kondisi gadis kecil yang sudah banyak membantunya itu. Dengan tubuhnya yang masih lemas, Raihan menurunkan kakinya dari atas ranjang, menyentuhkan telapak kakinya ke lantai, peralahan-lahan ia pun menurunkan tubuhnya dari atas ranjang, berdiri tegap di atas lantai. Efek dari tubuh lemas Raihan seketika terasa, ia sedikit sempoyongan, segera ia mengambil keseimbangan tubuhnya, setelah itu barulah ia mulai berjalan mendekati kasur tempat gadis kecil itu berbaring.
Saat ia sampai di samping kasur gadis kecil itu, Raihan seketika membeku... Tubuhnya berhenti bergerak.
Raihan, mungkin tidak menyadari hal ini, atau mungkin ia sudah sadar tapi dia tidak ingin mengakui hal ini karena masih ada rasa tidak percaya diri yang masih melekat di dalam dirinya.
Raihan, terpana dengan wajah tidur gadis kecil itu. Ia tidak tahan saat melihat wajah polos gadis kecil itu. Rambut panjang berwarna peraknya yang menempel di salah satu pipinya yang berwarna krem cerah itu, menambah daya tariknya. Wajah kekanak-kanakannya semakin membuat kesan polos dari ekspresi datar wajah tidurnya.
Raihan tidak menyadari, atau mungkin sadar...? Tetapi, yang jelas... Raihan telah benar-benar jatuh cinta pada gadis kecil ini. Semenjak... Semenjak gadis kecil ini membantunya semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah keluarganya... Memang alasan seperti itu nampak dangkal, tapi seperti kata orang-orang, perasaan yang bernama cinta ini adalah sesuatu di luar logika dan rasional untuk bisa dipahami.
Dengan perasaan di luar logika ini, timbul suatu dorongan pada diri Raihan. Ia ingin menyentuh wajah polos dari gadis yang sedang berbaring di atas kasur ini...
"Sedikit saja tidak papa bukan?"
__ADS_1
Dengan pikiran seperti itu di kepalanya, Raihan dengan ragu-ragu disertai dengan rasa gugup, takut sekaligus rasa bersalah, mulai menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi gadis kecil berambut perak itu.
Perlahan... Perlahan... Ia menggerakkan tangannya. Karena perasaan gugup serta takutnya, telapak tangan Raihan mulai mengeluarkan keringat dingin... Tapi dorongan di dalam dirinya terlalu kuat untuk mengurungkan niatnya... Tangannya terus bergerak, terus bergerak... Hingga, jarak antara pipi gadis kecil itu dengan jari jemarinya hanya menyisakan beberapa milimeter.
Saat, tangan Raihan benar-benar ingin menyentuh pipi gadis itu... Seketika...
"Plak!"
"Eh?"
Tangan kanan yang Raihan gerakkan untuk menyentuh pipi gadis kecil itu seketika terayun ke atas, seolah-olah tangannya terdorong dengan gaya dorongan yang kuat. Suara herannya pun seketika keluar dari mulutnya, ekspresinya berubah menjadi kebingungan.
Raihan kemudian melihat mata gadis kecil yang ingin di sentuhnya itu, matanya telah terbuka sepenuhnya. Mata heterochromia milik gadis itu menatapnya dengan tatapan datar, tanpa menunjukkan emosi sedikitpun.
Mata Raihan kemudian melirik tangan kiri gadis itu, yang dari posisi tangannya jelas sekali kalau gadis itu telah mengayunkan tangannya dengan sekuat tenaga, menepis tangan Raihan hingga terayun ke samping wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya gadis kecil itu, dengan tenang.
Mata Raihan mulai lari, ia melirik ke kanan dan ke kiri, mencari alasan untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu. Beberapa saat kemudian, ia pun menemukan alasan yang tepat.
"Aku hanya memeriksa kondisi mu Mira." Jawab Raihan, dengan nada sedikit panik.
"Hmm..." Gadis kecil itu, Mira, hanya memberikan respon setengah hati saat mendengar jawaban dari Raihan.
Suasana seketika menjadi canggung. Raihan yang tidak tahu ingin membahas apa, juga ia masih dilanda dengan rasa panik, semakin membuatnya tidak bisa mendapatkan topik pembicaraan. Hal ini ditambah dengan sifat Mira yang pendiam, membuat suasana canggung makin terasa di antara mereka berdua.
Suasana canggung ini terus berlanjut hingga beberapa saat, Raihan sedari tadi hanya bisa menundukkan kepalanya, sembari sesekali melirik ke arah Mira yang ada di hadapannya. Sementara itu Mira entah sedang melakukan apa, ia sedari tadi menatap ke arah telapak tangannya, yang ia tutup dan buka sedari tadi.
"Genggaman ku masih lemah," Yang memecah keheningan adalah Mira. Tapi ia tidak berbicara pada Raihan, ia hanya bergumam pada dirinya sendiri. "Nampaknya aku benar-benar mengambil resiko saat mebiarkan diriku sengaja di serang oleh Reiko."
Mendengar perkataan Mira ini, Raihan langsung bereaksi, ia menatap Mira dengan khawatir. Ia kemudian membuka mulutnya, merespon perkataan Mira dengan nada yang sedikit tinggi. "Kau sengaja di serang oleh Reiko!? Mengapa kau melakukan hal gegabah itu!?" Tanyanya.
__ADS_1
"Untuk mencari informasi. Sahabat mu, Dani bertindak ceroboh, membuat musuh kita mengetahui kartu ASnya." Jawab Mira dengan nada yang berbanding terbalik dengan Raihan, nadanya begitu tenang.
"Da-Dani melakukan hal itu? Kalau tidak salah dia melawan Michael... Jangan-jangan dia menjadi emosi saat menghadapinya?" Tanya Raihan, memastikan.
"Hebat sekali kau langsung bisa menebak situasinya." Ucap Mira, sedikit terkesan.
"Aku sudah mengenal Dani sudah lama... Aku tahu kalau dia begitu menyukai Alya, dia selalu kehilangan kendali akan emosinya saat gadis itu terlibat. Terlebih lagi, saat mengetahui kalau keluarga Alya, keluarga Nikitani dan keluarga Michael, keluarga Caseolaris membuat perjanjian kerja sama... Perjanjian kerja sama itu, secara natural membuat Michael dan Alya bertunangan." Jawab Raihan, dengan ekspresi rumit di wajahnya.
"Hmm..." Mira sekali lagi merespon dengan nada yang setengah hati, menunjukkan ketidaktertarikannya. "Tetapi, tebakan mu kali ini setengah benar. Michael berbuat sesuatu sampai Dani tidak bisa mengendalikan emosinya."
"Apa yang orang itu lakukan?"
"Saudara-saudara sekalian... Pertandingan selanjutnya, akan mempertemukan satu-satunya perwakilan dari Kelas A, Dani Kalpataru. Lawannya adalah anak yang di gadang sebagai seorang jenius dari Kelas B, Reiko Kagami!!"
Belum sempat Mira menjawab pertanyaan Raihan, terdengar suara lain dari pengeras suara yang ada di ruang medis. Suara itu adalah suara pembawa acara yang mengumumkan pertandingan semi final kedua pada babak pertama turnamen pada hari ini.
Mendengar pengumuman ini, Mira kemudian menyingkirkan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, dengan tubuh kecilnya, kaki Mira tidak sampai ke bawah ranjang tempat tidurnya, ia pun melompat dari ranjangnya. Saat kedua kakinya menyentuh lantai, ia sedikit sempoyongan sama seperti Raihan sebelumnya. Mira dengan segera menyesuaikan keseimbangan tubuhnya, berhasil berdiri tegak dengan kedua kakinya.
"Akan ku jelaskan masalah itu saat kita berkumpul bersama yang lain. Untuk saat ini, mari kita saksikan pertandingan Dani dan Reiko." Ajak Mira kepada Raihan.
"Uhmm..." Raihan sedikit ragu-ragu menerima ajakan Mira.
Mira memutar bola matanya, mengeluarkan ekspresi jengkel. "Apakah kondisi tubuh mu masih belum pulih?" Tanyanya.
"Sudah sih... Tapi..."
"Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama mu..." Tambah Raihan di dalam kepalanya.
Tidak mengetahui keinginan Raihan, Mira mengajak Raihan sekali lagi, kali ini dengan nada memaksa. "Kalau begitu, tunggu apalagi? Apakah kau tidak ingin melihat pertandingan sahabat mu?"
Setelah mengakatan hal itu, Mira tidak menunggu jawaban Raihan yang sedikit tertunda itu. Ia sudah berjalan menuju pintu keluar ruang medis.
__ADS_1
"Tu-Tunggu! Aku ikut!" Ucap Raihan, menggerakkan kakinya, mengikuti langkah Mira.