
Hening. Tempat yang begitu ramai dengan manusia yang bahkan jumlahnya mencapai puluhan ribu ini sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bahkan suara tarikan nafaspun tidak dapat terdengar. Hening. Hanya ini kata yang tepat untuk mendeskripsikan situasi sekarang.
Situasi Hening ini diakibatkan, para penonton yang sekali lagi tidak menyangka dengan hasil pertandingan pada Ronde ketiga ini. Para penonton ternganga dengan wajah kaget, heran, bingung dan tidak percaya.
Awal pertandingan nampak sangat jelas Raihan mendesak Ema, tapi pada saat diakhir, situasi benar-benar terbalik dalam beberapa detik. Pada ronde ketiga ini, pertandingan sekali lagi diakhiri dengan satu serangan fatal, membuat para penonton tidak bisa berkata-kata.
"Pe-Pemenang pada ronde kali ini.... Kelas B!"
Pembawa acara yang juga sama kagetnya dengan para penonton, hingga terdiam seribu kata, adalah orang yang pertama kali berbicara. Ia mengumumkan kemenangan dari kelas B, yang diwakili oleh Ema Knežević.
Atas pengumuman kemenangan Ema Knežević, para penonton yang terdiam selama beberapa saat, seketika meneriakkan sorakan yang membuat seluruh arena bergetar hebat. Suara teriakan para penonton itu bisa mencapai 100 desibel, suara sekeras itu tentu saja begitu memekakkan telinga. Tapi para penonton tidak peduli, mereka berteriak begitu kencang, mengalahkan suara pembawa acara yang berbicara menggunakan mikrofon.
"WOOOOOOOOOOOOOAAAAAAAH!!"
Suara nyaring itu berlanjut kurang lebih dua menit. Hingga akhirnya para penonton lelah sendiri, membuat mereka akhirnya berhenti berteriak.
__ADS_1
"Pertandingan-pertandingan tahun ini banyak sekali yang diluar prediksi. Untuk saya sendiri turnamen kali ini bisa disandingkan dengan turnamen pada tahun 2020 dulu, yang digadang-gadang sebagai turnamen akademi terbaik sepanjang sejarah... Tapi, masih cepat saudara-saudara untuk menyimpulkan hal ini, masih ada beberapa pertandingan yang tersisa... Baiklah!!! Tanpa basa-basi lagi, mari kita lanjutkan babak pertama pada hari ini!!!"
Tim medis telah memasuki arena untuk membawa Raihan keruang medis. Ema, menatap tim medis yang membawa Raihan yang telah menjadi manusia dengan senyum puas diwajahnya. Setelah melihat Raihan dibawa melewati lorong, Ema berjalan kelorong tempat kawan-kawannya berada.
"Good Job! Ema!" Ucap salah satu teman Ema, memberinya selamat atas kemenangannya.
"Yah, dia mudah untuk dikalahkan. Tapi rasanya aku merasa ada yang aneh dengan kemenangan ku kali ini." Kata Ema tersenyum senang saat menceritakan kemudahannya, tapi saat ia memberi detail kemenangannya, wajah senang Ema berubah ekspresi menjadi ekspresi rumit.
"Apa maksud mu?" Tanya kawan Ema.
"Hmmph! Kau terlalu Overthinking Ema. Jelas sekali kau lebih superior dari murid kelas A yang baru saja kau lawan." Ucap Reiko, meyakinkan kemenangan Ema. "Juga dari hasil pengamatan ku dari murid Kelas A bertubuh kecil itu, aku dapat menduga kalau dia hanya bisa menggunakan sihir dasar."
"Aku harap itu benar... Jelas sekali kalau mereka merencakan sesuatu pada babak ini... Ah... Aku rasa, aku melakukan kesalahan." Pikir Ema.
Penentuan kelas para siswa sebenarnya ditentukan melalui ujian tertulis yang dilakukan pada saat tes ujian masuk. Para siswa yang berhasil memasuki kelas A, memiliki nilai ujian tertulis yang melebihi angka 85. Untuk masuk kelas A, minimal siswa harus mendapatkan nilai 86, jika mendapatkan nilai dibawah itu, maka ia tidak dapat memasuki kelas A, dan harus puas berada dikelas B. Ema adalah orang yang tidak beruntung ini, Ema hanya kurang satu point untuk bisa masuk kelas A. Diantara siswa kelas B lain, ia adalah siswa yang memiliki nilai paling tinggi.
__ADS_1
Alasan nilai Ema bisa kurang, bukan berarti ia tidak kompeten untuk masuk kelas A. Ia hanya sedang tidak beruntung saja. Soal yang diberikan sewaktu ujian tertulis benar-benar diluar prediksi Ema. Siapa yang akan menyangka kalau pihak akademi akan memberikan soal yang setara dengan perguruan tinggi? Karena kurangnya informasi ini, Emapun harus puas masuk kekelas B.
Ema sendiri sangat hebat dalam kemampuan berhitung, pemahamannya tentang ilmu mekanika kuantum juga sangat baik. Membuatnya dapat menggunakan sihir dengan lebih efisien.
Hanya saja, Ema terkadang kurang teliti dalam melakukan analisis, dan juga ia kurang berhati-hati. Inilah yang menjadi alasan ia gagal memenuhi standar nilai untuk bisa masuk kekelas A, kurangnya ketelitian dalam menjawab soal.
Saat melawan Raihan barusan, ia dengan cerobohnya menggunakan salah satu kartu Asnya. Emapun nampaknya menyadari hal ini.
Ema Knežević, memiliki peran sebagai otak di kelas B. Ia menyusun strategi untuk turnamen ini. Rencananya sendiri bahkan sangat serupa dengan rencana Mira. Menyembunyikan informasi dari musuh dan mengorek informasi dari musuh.
"Aku tidak boleh membiarkan Reiko melakukan kesalahan yang sama seperti ku." Ema meneguhkan hatinya untuk memberitahu Reiko hal yang sangat dibenci gadis itu.
"Reiko sebisa mungkin kau harus menahan diri. Walaupun itu membuat mu kalah." Usulnya.
"Hmph! Konyol! Aku Reiko Kagami, anak yang terlahir jenius dalam sihir pemanggilan harus menerima kekalahan! Itu pastinya tidak boleh terjadi!" Ucap Reiko dengan senyum sombongnya, menolak usulan Ema.
__ADS_1
"Haaaah..." Ema mengalah, tidak bisa menyanggah perkataan Reiko. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghela nafas panjang dengan wajah pasrah.