
"Maaf sudah membuat kalian khawatir dan saya juga minta maaf karena telah merepotkan anda pak Robert."
Beberapa menit telah berlalu semenjak Guru Robert membawa Raihan pergi, dan kini ia telah kembali bersama dengan Guru Robert. Sesaat ia kembali,
Raihan menundukkan kepala nya, meminta maaf kepada kami dan Guru Robert dengan serius.
Sebenarnya aku tidak khawatir pada Raihan, tapi tidak mungkin aku mengatakan hal itu di depan muka nya, karena itu aku menahan perkataan ku itu dan memuntahkan kebohongan kepada nya. "Jangan terlalu di ambil pusing, lagipula ini bukan salah mu." Kata ku.
"Kau tidak perlu meminta maaf," Kata guru Robert. "Sudah menjadi tugas kami untuk mengurus murid yang membuat masalah... Baiklah, karena waktu kita tersita akibat masalah sebelum nya, saya akan memulai pelajaran inti dari praktek sihir kali ini... Tetapi sebelum kita mulai, mari saya perkenalkan para asisten saya dalam mengajar sesi kali ini."
Raihan dan Guru Robert tidak sendiri sewaktu mereka kembali ke lapangan, mereka berdua datang bersama dengan beberapa orang, lima orang tepat nya, terdiri dari 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka menggunakan jump suit berwarna hitam. Selama mereka berlima datang bersama Guru Robert, mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, wajah mereka datar dan pandangan mereka kosong. Kurang intraksi dengan kami, dan juga fokus kami teralihkan ke Raihan, kami benar-benar tidak menyadari keberadaan mereka. Atau mungkin karena memang hawa keberadaan mereka yang lemah?
"Perkenalkan diri kalian!" Perintah Guru Robert.
Salah satu dari kelima orang itu menganggukkan kepalannya, maju, keluar dari barisan. "Salam kenal semua nya nama saya Alpha." Yang memperkenalkan diri nya adalah seorang perempuan berambut hitam panjang, suara nya datar dan tidak menunjukkan emosi sedikit pun. Perkenalan kemudian di lanjutkan, kali ini yang maju adalah seorang pria dengan tubuh gempal dan pendek. "Saya Beta." Kata nya dengan nada yang sama datar nya seperti perempuan sebelum nya. "Saya Charlie." Di lanjutkan dengan pria di samping nya yang berbadan kurus. "Saya Delta." Lalu di sambung oleh perempuan di samping nya, ia bertubuh pendek, walaupun tidak sependek tubuh ku. Dan terakhir adalah perempuan berambut biru pendek yang memperkenalkan diri nya sebagai "Epsilon."
Selama perkenalan mereka, aku menyadari, tidak, bukan hanya aku yang sadar, tapi semua teman sekelas ku sadar kalau mereka memperkenalkan diri berurutan dengan abjad, lalu nama mereka juga seperti nama abjad kuno di suatu negara yang pernah dulu berdiri.
"Kalian mungkin menyadari keanehan dari nama mereka dan cara bicara mereka... Yah, wajar kalau kalian merasa aneh, itu karena mereka bukanlah manusia. Mereka adalah Android yang di kembangkan oleh Academy."
Jadi itulah alasan mengapa hawa keberadaan mereka begitu lemah. Mereka dari awal bukanlah manusia. Manusia masa sekarang memiliki persepsi yang tajam, kami dapat menyadari keberadaan manusia lain dengan mudah (itupun jika manusia itu tidak menggunakan tehnik khusus untuk menyembunyikan hawa keberadaan mereka.) Kurang nya dalam menunjukkan emosi dan kurang nya interaksi dengan kami juga terjelaskan dari perkataan Guru Robert. Sebenarnya keberadaan robot, Android dan sejenis nya bukanlah hal langka di jaman sekarang yang memiliki teknologi begitu maju, karena itu kami tidak begitu terkejut mendengar kalau mereka bukanlah manusia. Walaupun penampilan mereka begitu mirip dengan manusia, ada beberapa aspek yang tidak bisa membuat mereka menjadi manusia sepenuh nya, salah satu nya adalah kurang nya emosi dan keinginan. Android tidak bisa melakukan sesuatu jika tidak di perintah, mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Mereka juga tidak bisa menggunakan sihir karena mereka tidak bisa menyerap Carlania Partikel di udara.
Mau seberapa hebat manusia pada masa ini, sampai bisa membalikkan entropy, mengendalikan atom dan melakukan berbagai macam hal di luar nalar lain nya, kami tetap tidak bisa menandingi kekuasan entitas yang telah menciptakan dan mengatur takdir kami. Ini menunjukkan betapa lemah nya mahluk bernama manusia.
"Jadi Pak Robert, mengapa anda membawa android kesini?" Tanya Alexandria yang wujud nya telah kembali menjadi feminim kembali.
"Seperti yang saya bilang, kita akan masuk ke inti pada praktek sihir kali ini."
***
__ADS_1
Perkembangan teknologi, ekonomi, dan ilmu kedokteran jelas meningkat pesat akibat adanya ilmu sihir. Sebagai contoh, ilmu alkimia. Dengan ada nya ilmu ini sebagai salah satu cabang sihir, dunia kedokteran dapat menciptakan ramuan yang dapat menyembuhkan segala jenis penyakit, lalu ada ilmu yang masuk dalam cabang sihir yang bernama "Magic Enchanment" Yang mempelajari pengimbuhan partikel Carlania ke suatu benda, membuat perkembangan teknologi begitu pesat, salah satu nya berhasil di ciptakan nya alat teleportasi.
Tetapi bukan hanya dalam bidang itu saja yang mengalami perkembangan akibat ilmu sihir, di bidang olahraga juga termasuk. Jika pada zaman dahulu, olahraga paling populer adalah sepak bola. Hal itu berbeda sekarang. Akibat evolusi manusia, yang sekarang kemampuan fisik manusia rata-rata meningkat jauh di luar nalar, olahraga sepak bola menjadi tidak seru lagi untuk di tonton, karena itulah organisasi olahraga dunia menciptakan olahraga baru yang segera menggeser kepopuleran sepak bola. Walaupun ada beberapa olahraga yang di ciptakan, tapi olahraga kali ini yang paling populer di antara olahraga lain nya.
Olahraga itu kini dijadikan salah satu hiburan yang selalu di tayangkan di saluran TV nasional setiap minggu nya, bahkan dalam waktu 4 tahun sekali juga ada kejuaraan dunia layak nya sepak bola pada zaman dahulu.
Sebagai seseorang yang mengikuti perkembangan dunia sihir, aku tentu saja menyukai olahraga satu ini. Olahraga satu ini kami sebut dengan "Rebut bendera!"
Seperti namanya, "Rebut Bendera" Adalah olahraga yang mempertemukan dua tim atau lebih, masing-masing tim terdiri dari 4-8 orang. Tim yang bertanding akan berusaha untuk mengambil bendera lawan sampai waktu yang di tentukan. Lama waktu permainan 90 menit, sama seperti sepak bola. Jika bendera kami di rebut selama waktu belum habis, kami masih di beri kesempatan untuk merebut kembali hingga waktu habis. Walaupun terdengar simple, tapi ada strategi yang begitu kompleks dalam memainkan olahraga ini. Seperti membagi tim ke dalam posisi menyerang atau bertahan, atau cara menyembunyikan bendera, dan masih banyak taktikal yang kompleks dalam permainan ini.
Permainan di laksanakan di berbagai arena, seperti perumahan, kota mati, atau kepulauan. Intinya permainan di laksanakan di tempat yang tidak sepenuh nya terbuka. Hal ini berguna untuk menyembunyikan bendera dari musuh.
Kali ini guru Robert membawa kelima android untuk bertanding melawan kami berlima. Pertandingan di laksanakan di salah satu komplek sekolah, lebih tepat nya di ujung pulau melayang yang menjadi tempat Magic Academy berdiri. Arena tempat kami bertanding selebar 350 meter persegi, dengan bangunan auditorium, lab, gudang sekolah dan gedung tidak terpakai yang menghiasi arena.
Dengan tempat yang banyak bangunan seperti ini, kami di paksa untuk mencari bendera lawan, dan menyembunyikan bendera kami dari lawan.
Dengan arena sebesar ini, bagaimana kami bisa menemukan bendera lawan? Sebenarnya ada drone yang selalu berkeliling di arena, dan setiap 5 menit, drone itu akan menunjukkan peta arena. Inti strategi dalam permainan ini ada di drone ini, jika kami berhasil mengelabui musuh dengan informasi palsu sebelum drone itu menunjukkan peta, maka kemenangan akan mudah untuk di raih. Atau begitulah strategi nya...
Saat ini kami telah berpindah ke komplek sekolah yang berada di ujung pulau melayang, permainan akan di mulai dalam waktu satu menit, aku dan teman sekelas ku berada di sebuah bangunan tua atau lebih tepat nya gudang penyimpanan, kami saat ini tengah merundingkan strategi permainan kami.
"Pertama-tama, kita bagi tim menjadi dua. Satu menyerang, dan satu bertahan." Dani mengajukan pendapat nya. Strategi yang sangat klasik, yang ia usulkan, tapi efektif. Juga, kami tidak mengetahui apa-apa mengenai android yang kami lawan, kami kekurangan informasi! Karena itu, mungkin lebih baik untuk saat ini kami menggunakan strategi klasik yang di usulkan oleh Dani.
Karena tidak ada yang menyanggah strategi Dani, ia pun mengambil kesimpulan kalau semua orang setuju dengan strategi milik nya, ia kemudian melanjutkan dengan membagi tim kami menjadi dua.
"Dari kemampuan kalian, aku menyarankan Alexandria, Raihan dan aku menjadi tim penyerang. Sedangkan Natasha dan Mira mengambil posisi bertahan. Apakah ada yang keberatan?" Tanya Dani.
Melirik sebentar ke kiri dan ke kanan untuk menyaksikan ekspresi yang lain secara sekilas, aku bisa mengetahui kalau mereka tidak menentang saran Dani. Aku pun mengambil inisiatif untuk menjawab "Tidak ada!" Atas pertanyaan Dani.
"Bagus!"
__ADS_1
"Tapi sebelum itu," Natasha mengangkat tangan nya.
"Ada apa?"
"Aku ingin bertanya... Apa yang harus kami lakukan pada bendera nya? Menyembunyikan nya?"
"Benar juga... Aku tidak kepikiran masalah itu..."
"Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal itu," Kata ku kepada Dani yang segera memegangi dagu nya, kebingungan menjawab pertanyaan dari Natasha. "Untuk masalah bendera, serahkan pada ku. Kalian bertiga fokus menyerang saja!"
".... Baiklah, aku percayakan pada mu. Lagipula dalam sebuah tim harus saling percaya satu sama lain!"
Waktu persiapan habis. Dani, Alexandria dan Raihan langsung keluar dari gudang penyimpanan, menyusuri arena untuk mencari bendera lawan. Aku dan Natasha yang di tinggal sendirian kembali berunding mengenai bendera yang harus kami jaga.
Bendera yang kami jaga tepat berada di samping kami. Aku menyentuh bendera itu sembari mendiskusikan strategi ku kepada Natasha.
"Kita tidak perlu menyembunyikan bendera ini." Kata ku kepada Natasha sembari mengumpulkan energi sihir di telapak tangan ku.
"Kalau begitu apa rencana mu?"
"Taktik klasik. Sama seperti usulan Dani..." Kata ku memberitahu Natasha, energi sihir akhir nya telah berkumpul di telapak tangan ku, yang tersisa hanyalah memasukkan program untuk menciptakan fenomena. Untuk lebih simpel nya merapalkan mantra sihir untuk mengaktifkan sihir. "Magic Set. Analyze, Copy!" Mengaktifkan dua sihir sekaligus, aku menciptakan dupkliat bendera. Bendera baru yang penampilan nya benar-benar sama dengan pertama muncul dari udara kosong, tepat di samping kanan bendera yang asli.
Bendera yang asli memiliki chip kecil yang berguna untuk menandai kalau bendera kami telah di rebut oleh musuh atau belum. Chip itu sangat kecil, seukuran jarum, jika tidak di perhatikan secara seksama chip itu tidak dapat di lihat dengan mata telanjang. Chip itu terletak di tiang bendera yang sedari awal telah menancap di tanah. Saat bendera kami di rebut oleh musuh chip itu akan mengeluarkan cahaya berwarna merah yang hanya bisa di lihat jika ruangan benar-benar tidak ada cahaya, sedangkan saat bendera itu masih aman bersama kami, chip itu akan mengeluarkan cahaya berwarna biru.
Aku membuat beberapa bendera lagi, sampai akhir nya bendera yang kami punya berjumlah lima buah. Aku kemudian menginstruksikan Natasha untuk mematikan lampu di dalam ruangan lalu menghalangi cahaya masuk dari luar. Sesaat Natasha melakukan yang ku instruksikan, segera chip pada bendera asli menyala, Natasha dengan inisiatif nya mengambil bendera tersebut, melepaskan nya dari tanah lalu berkata pada ku "Aku akan menyembunyikan bendera ini di ruang bawah tanah."
"Oke..." Jawab ku.
Walaupun tiang bendera hanya berdiameter 3 milimeter, tapi tetap akibat tiang itu di cabut dari tanah, akan memunculkan lubang dengan diameter yang sama dengan tiang. Mungkin lubang sekecil itu tidak di sadari oleh musuh, tapi aku lebih memilih untuk berhati-hati dengan menutupi lubang kecil itu sampai benar-benar tertutup.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Natasha kembali dari ruang bawah tanah, aku menyalakan lampu, lalu Natasha membuka kembali penutup yang menghalangi cahaya dari luar, membuat ruangan menjadi terang kembali. Dengan begini, musuh tidak akan tahu kalau tidak ada bendera asli di ruangan kami saat ini.
"Jebakan pertama telah di pasang," Kata ku, "Kita lanjutkan dengan jebakan yang kedua."