My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 75 Setelah Pertandingan Babak Pertama


__ADS_3

"Hmmm...?"


Dani terbangun di kamarnya. Isi kamar tempat Dani sekarang sangat berbeda dari yang ia ingat, tidak ada poster grup band, action figure karakter favoritnya serta tanaman yang menjadi koleksinya di veranda. Isi kamarnya saat ini dipenuhi dengan mainan, berserakan di lantai, bahkan meja belajarnya tidak seperti yang ia ingat, meja belajarnya lebih kecil. Dani melihat sekeliling lagi, tidak ada meja khusus komputer di dalam kamarnya.


"Dani~~ bangun! Aku, Raihan dan Michael menunggu mu dari tadi!"


"Alya...? Aaaah, begitu... Ini pasti mimpi." Pikir Dani, saat melihat seorang gadis kecil berambut biru yang memasuki kamarnya.


Gadis kecil itu sangat mirip dengan Alya, nyatanya gadis kecil itu memang dia, lebih tepatnya dia adalah Alya yang berumur sepuluh tahun.


Melihat gadis yang ia suka muncul di hadapannya, serta lokasi tempatnya sadar yang jelas-jelas di kamarnya, lalu bentuk kamarnya yang berbeda dari apa yang ia ingat. Jelas ini semua membuktikan kalau Dani saat ini sedang tidak berada di dunia nyata. Ia berada di dunia mimpi... Mimpi yang menunjukkan masa lalunya. Masa kecil Dani saat ia masih berteman baik dengan Michael serta hubungannya dengan Alya masih belum rusak.


"Ayo~~ bangun Dani!"


"Oke, oke... Aku bangun." Jawab Dani.


Walaupun Dani tidak bisa melihat tubuhnya, karena tidak adanya kaca untuk melihat pantulan dirinya. Dani mengetahui kalau saat ini ia berada di wujud anak kecilnya. Suaranya tidaklah seberat yang ia ingat, juga tinggi pandangannya lebih pendek dari yang ia ingat, bahkan tangannya juga lebih kecil. Ini semua membuktikan kalau ia sekarang, berwujud anak kecil.


Setelah Dani bangkit dari atas kasurnya, tangannya segera ditarik oleh Alya, membawanya keluar dari kamarnya.


"Yo Dani! Puas tidurnya?"


"Ya. Hooaam... Tubuh ku sedikit lemas karena terlalu lama tidur."


Sesaat Dani keluar kamar, ia disambut dengan dua orang teman masa kecilnya. Perasaan di dalam diri Dani sangatlah bertolak belakang saat ia membalas sapaan hangat salah satu teman masa kecilnya itu. Dani merasakan perasaan iritasi saat melihat salah satu sosok temannya.


Yang menyambut Dani adalah Michael dan Raihan, terlebih lagi Michael menyapanya, dengan senyum akrab, yang parahnya lagi, Dani membalas sapaan Michael dengan sama akrabnya.


"Jangan berteman dengannya! Jauhi dia!" Teriak kesadaran Dani pada diri masa kecilnya.


"Jadi mau main dirumah siapa kita hari ini?" Tanya Raihan.


"Rumah ku saja." Jawab Michael. "Ayahku baru saja membelikan konsol gaming terbaru."


"Oke, asal jika kau kalah, kau jangan menangis. Michael." Balas Dani, atas ajakan Michael dengan senyum mengejek.


"Aku tidak akan menangis! Ayo cepat! Kita pergi!" Ajak Michael.

__ADS_1


"Jangan! Jangan pergi! Kau hanya akan menyesalinya seumur hidup! Dengarkan aku! Dengarkan aku! Jangan pergi! Jangan pergi! Jangan pergi!"


Kesadaran Dani terus mencegah diri masa kecilnya untuk pergi kerumah Michael. Dani mengingat kejadian ini, ia tidak akan pernah lupa untuk seumur hidupnya. Awalnya nampak tidak ada masalah, mereka hanya ingin bermain layaknya anak kecil normal. Tetapi masalah terjadi setelah mereka sampai ke rumah Michael... Di hari ini, Dani mendengar sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang menggetarkan hatinya, sesuatu yang menghancurkan sebagian dirinya... Di hari ini, ia mendengar kabar... Kalau...


"Jangan pergi! Si keparat itu hanya ingin menyombongkan dirinya! Ia hanya ingin menghancurkan mu!"


Kesadaran Dani sekali lagi berteriak dengan suara putus asa...


Pada hari ini, Michael memberitahukan kepada Dani mengenai pertunangannya dengan Alya... Yang seketika merenggut separuh nyawa dari Dani Kalpataru yang baru mengenal cinta. Tidak peduli kata orang-orang itu hanyalah cinta monyet, cinta yang dikatakan kekanak-kanakan. Tetapi untuk Dani... Cinta kekanak-kanakan itu, adalah perasaan murni dari hatinya yang terdalam, perasaan itu adalah cinta pertamanya yang begitu berharga.


"Jangan pergi! Kau hanya akan berpisah dengan Alya! Ku mohon jangan pergi!"


"Jangan pergi....!"


Teriakan kesadaran Dani membawanya ke dunia nyata, ia terbangun, tangannya terarah ke depan, seolah-olah ingin menggapai sesuatu, tubuhnya tersentak, kaget, ia segera mengambil posisi duduk di atas kasur ruang medis.


Saat mata Dani terbuka... Ia melihat tepat didepan matanya, ada kawan-kawannya dari kelas A. Melihat ke arahnya dengan wajah terpelongo, kaget.


"Ka-Kau kenapa?" Tanya Mira, heran.


"Hmmm... Ternyata memimpikan wanita yang kau suka, termasuk mimpi buruk ya..."


"Apa maksud mu?"


"Kau berteriak, 'Kau hanya akan berpisah dari Alya!' Jadi aku memiliki tebakan kalau Alya keluar di mimpi mu. Tapi kalau sampai dia keluar, dan kau masih menganggapnya mimpi buruk, menandakan kalau sosok Alya itu merupakan siksaan bagimu."


"Mi-Mira!" Mendengar kalau Mira menyebut Alya merupakan sosok yang menyiksa Dani, Natasha segera menegur Mira. Ia seolah ingin memberitahu untuk memfilter sedikit ucapan gadis kecil itu.


"Apa? Aku salah?"


"Haah..."


Alexandria hanya bisa menghela nafas panjang dengan wajah lelah, ia tidak tahu lagi bagaimana harus menanangani gadis kecil berambut perak ini yang memiliki rasa kurangnya empati.


Mendengar perkataan Mira, Dani hanya tersenyum kecil, wajahnya menunjukan ekspresi sedih. Dengan lesu, ia membenarkan perkataan gadis kecil itu.


"Dia sosok yang menyiksa ku ya... Mungkin kau ada benarnya..." Ucapnya, sembari menunduk.

__ADS_1


"Kalau begitu mengapa masih dipertahankan? Wanita didunia ini tidak hanya satu! Cari yang lain! Yah... Percuma aku memberitahunya hal ini." Protes Mira di dalam kepalanya.


Walaupun ia tidak merasakan empati sedikitpun, Mira masih bisa membaca suasana. Kemampuannya inilah yang membuatnya mampu menahan komentar pedasnya untuk tidak ia keluarkan melalui mulutnya.


"Nampaknya aku salah datang sekarang."


Mira datang ke ruang medis ini, bukan karena khawatir kepada Dani. Ia datang kesini tidak lebih hanya ingin mendisuksikan hasil pertandingan pertama yang telah selesai pada hari ini, sekaligus ia ingin menyusun rencana untuk menghadapi pertandingan kedua. Mira menganggap kalau Dani mungkin akan patah semangat karena kalah, jika ia masih dalam fase itu, Mira sangat percaya diri mampu membakar semangat Dani kembali.


Tetapi... Kenyataan yang ia hadapi sekarang ini sangatlah berbeda...


Bukannya patah semangat karena kalah, Dani masuk ke fase depresi karena mendapatkan mimpi mengenai gadis yang ia cintai. Siapa yang bisa menebak hal ini akan terjadi? Bahkan pemikiran rasional Mira saja tidak akan bisa menduga hal ini untuk terjadi.


Mira tidak percaya dengan perasaan suci yang disebut cinta ini, terlebih cinta kepada lawan jenis. Pemikiran rasional Mira, menolak perasaan yang bernama cinta ini, menurutnya hal yang bernama cinta ini sangatlah tidak logis! Terlebih sampai bisa mempermainkan perasaan seseorang, karena ketidak mengertiannya terhadap rasa yang disebut cinta ini, Mira tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menghibur Dani... Yang Mira bisa hanya menghela nafas pasrah, menunggu mood Dani kembali seperti sedia kala.


"Dani..." Raihan yang kenal lama dengan Dani, nampak mengerti perasaan sakit yang ia alami.


Terlebih... Saat ini Raihan juga mengalami pengalaman yang sama seperti sahabatnya itu. Yaitu cinta bertepuk sebelah tangan, Raihanpun, tanpa jeda waktu yang lama, segera bisa menemukan kata-kata penghibur, yang segera menaikkan mood Dani.


"Semangat Dani! Aku yakin, kalau kau masih memiliki kesempatan! Jangan menyerah!" Ucap Raihan.


Walaupun terdengar sederhana, Dani juga mengerti perasaan Raihan. Akibat diskusi mereka sewaktu di kafe beberapa hari yang lalu, ia mengerti kalau Raihan juga sedang mengalami dilema dengan perasaannya, terlebih lagi gadis yang ia suka saat ini berada didekatnya. Raihan pasti, lebih mengalami sakit, tidak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, padahal orang yang ia suka begitu dekat... Tetapi rasanya begitu jauh, perasaan Raihan seperti mustahil untuk diwujudkan... Mengerti hal ini, senyum Dani kembali. Bukan senyum sedih, tetapi senyum optimis.


"Ya. Kau benar... Terlebih lagi jika kita berhasil memenangkan turnamen ini, pertunangan antara Michael dan Alya bisa dibatalkan... Terimakasih, Raihan."


"Apapun untuk mu, kawan." Jawab Raihan, atas ucapan terimakasih sahabatnya.


Natasha dan Alexandria turut bahagia untuk Dani, mereka berdua tersenyum. Bahkan terdengar suara hembusan nafas lega, melihat kawan mereka yang telah semangat kembali.


Sementara itu untuk Mira sendiri...


"Serius... Seberapa murah perasaannya, sampai-sampai dia bisa kembali semangat dengan kata-kata murah seperti itu."


Mira sama sekali tidak tahu menahu mengenai keterikatan perasaan mereka berdua yang telah dipahat dari semenjak kecil juga dari rasa pemahaman kedua remaja itu mengenai rasa cinta.


Melihat hal ini, Mira sekali lagi menegaskan dalam hatinya.


"Sudah ku duga... Perasaan cinta terhadap lawan jenis hanyalah ilusi. Ilusi yang diciptakan oleh spesies manusia untuk menyambung hidupnya." Ia sekali lagi menegaskan didalam hatinya, kalau ia sama sekali tidak percaya dengan perasaan yang disebut cinta ini.

__ADS_1


__ADS_2