
"Saudara-saudara sekalian, sekarang kita telah memasuki babak semifinal. Agar para peserta dapat bertanding dalam kondisi prima, kami pihak panitia memberikan waktu istirahat selama lima menit.... Para penonton sekalian, mohon jangan ada yang meninggalkan tribun, karena pintu masuk sudah ditutup. Untuk para penonton yang ingin membeli makanan, selama waktu istirahat, kami pihak panitia menjual beberapa snack.... Para anggota kami sekarang telah memasuki tribun. Para penonton dipersilahkan untuk membeli snack yang telah kami sediakan."
Sebelum memasuki babak selanjutnya, pihak panitia memberikan waktu istirahat selama lima menit. Saat pengumuman ini disampaikan oleh pembawa acara, beberapa penonton mulai berdiri, hendak meninggalkan bangku penonton. Hal ini wajar, dari pertandingan pertama hingga pertandingan terakhir yang dilaksanakan, sudah beberapa jam waktu berlalu. Walaupun belum masuk waktu makan siang, semua energi yang dikeluarkan untuk bersorak, mulai membuat penonton kelelahan.
Beberapa penonton, ada yang merasakan haus, lalu ada penonton yang memiliki metabolisme langka menyebabkan mereka merasa cepat lapar, karena itu saat mendengar waktu istirahat tiba, para penonton ingin segera pergi dari tribun untuk membeli makanan dan minuman.
Sesaat para penonton hendak pergi dari tribun, pembawa acara segera memberi peringatan untuk tidak meninggalkan tribun. Tentu saja, ini membuat penonton merasa kesal. Tetapi pihak panitia segera memberikan solusi... Sesaat pembawa acara mencegah para penonton keluar, masuk beberapa staff dari akademi, membawakan jajanan kecil sasetan juga minuman yang ditaruh di gelas plastik.
Saat melihat staff akademi masuk, para penonton yang sudah berdiri duduk kembali, memilih membeli makanan dan minuman yang telah disiapkan oleh pihak panitia.
Ditempat lain, lebih tepatnya di ruang VIP. Tempat para orang-orang elit menonton turnamen yang diselenggarakan oleh pihak akademi ini. Tidak seperti para penonton yang diharuskan membeli makanan dan minuman, para VIP sudah disediakan makanan dan minuman untuk mengisi sesi istirahat mereka. Para staff dari akademi memasuki ruangan VIP, membawakan makanan mewah dan minuman yang sama mewahnya.
Seorang wanita, berambut merah, ia menggunakan pakaian penyihir klasik lengkap dengan topi segitiga panjang ala-ala penyihir abad pertengahan. Dia duduk di kursi empuk yang ada di ruangan VIP ini bersama dengan para petinggi, diantara para petinggi ini, ada keluarga dari Alya yaitu keluarga Nikitani, keluarga Dani yakni keluarga Kalpataru, keluarga dari Michael yaitu keluarga Caseolaris dan terakhir ada keluarga dari Reiko, yakni keluarga Kagami. Untuk keluarga Raihan, keluarga Adaka sendiri sudah diundang, hanya saja mereka tidak datang.
Alya yang tidak ikut bertanding, ikut duduk bersama keluarganya diruang VIP. Keluarga Nikitani duduk di antara keluarga Kalpataru dan keluarga Caseolaris.
"Hmph! Dasar anak bodoh! Bisa-bisanya kalah dari anak keluarga Kalpataru!" Ucap kepala keluarga Caseolaris sembari mendenguskan hidungnya.
"Yah... Dani memang anak yang berbakat, kemampuannya jauh berkembang semenjak aku mulai melatihnya." Kepala keluarga Kalpataru mengabaikan komentar dari keluarga Caseolaris yang seolah-olah merendahkan keluarganya itu, kepala keluarga Kalpataru, atau lebih tepatnya ayah Dani, dengan senang hati memuji kemenangan anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana Alya, apakah kau masih tertarik pada Dani?" Tanya kepala keluarga Nikitani kepada Alya.
"...." Alya tidak menjawab, ia hanya melihat kearah arena yang saat ini masih dirapikan oleh staff akademi.
"Hahahaha... Untuk masalah percintaan anak kita, lebih baik kita serahkan saja pada mereka. Tidak baik jika orang tua terus mengurusi masalah anaknya." Ucap kepala keluarga Kalpataru setelah tertawa lepas.
"Hmph!" Kepala keluarga Caseolaris hanya bisa mendenguskan hidungnya saat mendengar komentar dari keluarga Kalpataru itu.
Seorang wanita berambut merah yang mengenakan pakaian penyihir, melihat interaksi keluarga kelas atas itu, dengan tatapan tidak tertarik, ia terus menyendok makanannya yakni puding ala mode yang sudah dihiasi dengan saus caramel.
"Tidak ada yang menarik dari sihir yang diturunkan melalui genetik seperti sihir keluarga kalian." Pikir Wanita berambut merah itu.
Wanita berambut Merah yang dari tadi berpikir skeptis mengenai sistem negara, keberadaan keluarga kelas atas, dan kekolotan pemikiran keluarga kelas atas, adalah kepala sekolah dari Academi Carlania. Wanita yang telah mengganti namanya, yang terinspirasi dari legenda, yakni Merlin Ambrosius.
Wanita berambut merah, kepala sekolah academi Carlania, Merlin Ambrosius. Adalah wanita yang sangat menyukai sihir, dia adalah lulusan generasi terbaik akademi Carlania, dia sudah banyak menorehkan prestasi dibidang ini, sampai ia memiliki pengaruh dan ketenaran yang setara dengan keluarga kelas atas negara ini.
Tidak seperti keluarga kelas atas yang sebagian besar mendapatkan pengaruh dari prestasi leluhur mereka, atau mungkin melalui jalur perusahaan tertentu, Merlin adalah seseorang yang dapat dengan mudah mendapatkan pengaruh dari prestasinya sendiri. Hal ini membuatnya tidak menaruh rasa hormat terhadap keluarga penyihir kelas atas.
Atas dasar kesukaannya terhadap sihir, Merlin, sangat tidak menyukai negara tempat mereka tinggal. Yang mengangkat keluarga kelas atas melalui sistem yang menurut Merlin dapat menyebabkan penurunan kualitas dari penyihir itu sendiri.
__ADS_1
Negara tempat mereka tinggal, memiliki satu syarat untuk mengangkat suatu keluarga untuk bisa menjadi masyarakat kelas atas. Syarat itu adalah: Setiap keluarga yang ingin menjadi anggota penyihir kelas atas harus memiliki sihir khusus yang dapat diturunkan melalui genetik mereka.
Sebagai contoh: Keluarga Adaka yang mewarisi sihir Transformasi mereka melalui genetik keluarga mereka yang sudah terkontamitasi dengan radiasi nuklir dimasa lalu, lalu ada keluarga Kagami yang setiap anggota keluarganya memiliki kemampuan untuk memproses berbagai rumus diotak mereka, yang menjadi pondasi sebagai sihir Summoning mereka.
Bagi Merlin, untuk seorang penyihir yang hanya memiliki satu sihir khusus, merupakan sebuah kemunduran untuk profesi ini.
"Karena itulah tidak ada yang menarik dari para anggota keluarga kelas atas..."
"Sudah kuduga, hanya anak bernama Mira Fantasia itu saja yang dapat menjadi oasisku di gurun kebosanan ini."
"Fufufu..." Merlin tertawa pelan, sebelum akhirnya ia menyuap puding kemulutnya.
Mira Fantasia, seorang gadis yang bakatnya ditemukan oleh Merlin secara tidak sengaja. Saat ia sedikit jengkel dengan banyaknya peserta lulus yang memasuki akademinya, Merlin menaikkan tingkat kesulitan ujian, dan membatasi penerimaan murid hanya sampai 50 orang. Ia saat itu dengan iseng, memilih salah satu berkas murid untuk menjalani ujian yang betul-betul ia desain sendiri, tanpa campur tangan dari asistennya.
Tanpa sepengetahuan asistennya, ia menjemput Mira, menyewa beberapa tentara bayaran untuk memberikan ujian khusus padanya.... Ya. Itu benar. Wanita dinas yang menjemput Mira adalah Merlin. Karena hal ini jugalah mengapa ujian Mira terlihat tidak masuk akal dari pada ujian peserta lain.
"Walaupun hanya bisa menggunakan sihir dasar. Tetapi... Anak itu bisa mengembangkan sihir dasar itu hingga kepuncaknya, membuka variasi baru dari sihir dasarnya... Tapi nampaknya anak itu benar-benar menahan diri pada turnamen ini? Bahkan ia sengaja diserang sewaktu melawan Reiko Kagami..."
"Haaah..." Merlin menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Berhentilah menahan diri, dan hibur aku." Pikir Merlin dengan wajah cemberut, sembari tetap memakan pudingnya.