My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 64 Keanehan pada tubuh Dani


__ADS_3

Dani melompat-lompat kegirangan ditengah arena. Sorakan penonton menyertainya. Ia tidak lama pada puncak euforianya. Saat sorakan penonton mulai mengecil, Dani berjalan kelorong tempat kelas A berada sembari melambai-lambaikan tangannya, disertai senyum sombong diwajahnya.


"Ahahahaha... Kemenangan yang mudah! Ahahahaha...." Dani tertawa terbahak-bahak, sesaat ia memasuki lorong.


Wajah bahagianya, entah kenapa menghilang, tergantikan dengan ekspresi gugup, takut, juga tertekan.


"Apakah Michael baik-baik saja. Aku tahu dia lemah, tapi nampaknya aku sudah berlebihan...?" Seketika wajahnya berubah lagi, kali ini ia menunjukkan ekspresi marah. "Tidak! Tapi ini salahnya! Berani-beraninya dia mengatakan ingin menikahi Alya!" Kata Dani, menyambung celotehannya.


Aku melihat Dani yang terus mengeluarkan celotehannya dengan emosi yang berubah-ubah. Yang lainnya, merasa aneh lagikan takut dengan sifat Dani yang seperti itu. Bagaimana tidak? Sedari tadi, ia seperti orang yang kehilangan akalnya, bergumam tidak jelas. Yang lainnya takut, jikalau salah bicara, Dani akan memfokuskan marahnya pada mereka.


Selagi lainnya merasa takut, aku merasa aneh, sifat yang ia tunjukkan seperti menunjukkan kalau dia seperti terkena gangguan Bipolar. Setahuku, Dani tidak memiliki gangguan Bipolar, jelas ada penyebab mengapa sifatnya bisa berubah-ubah secara drastis seperti ini.


"Aaaakh... Mengingat Michael mengatakan itu saja, sudah membuat ku kesal! Tapi aku berhasil mengalahkannya! Ha! Hahahahaha!" Sekali lagi Dani menceloteh tidak jelas, awalnya ia marah, kemudian emosinya berubah menjadi gembira. Jelas, ada yang tidak beres dengan sifatnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya ku dengan tenang. "Kau sadar? Kau mengungkapkan salah satu kartu As mu saat melawan Michael. Jika memang bisa mengalahkannya dengan mudah, seharusnya kau mengalahkannya dengan cara paling efektif, bukan dengan cara heboh seperti itu."


Berbanding terbalik dengan caraku yang memberitahunya dengan tenang, Dani membalas perkataan ku dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Masalah? Kau juga mengalahkan anak dari kelas C itu dengan cara heboh bukan? Kau menjatuhkan 1 ton air untuk menenggelamkannya! Kau ingat!? Kau tidak ada hak untuk memberitahu ku hal itu, Mira! Kau juga melakukan kesalahan yang sama seperti ku!" Bukan hanya emosi, Dani juga menuduhku melakukan kesalahan, tanpa didasari dengan bukti yang valid.


"... Ku akui kalau cara yang kugunakan cukup heboh, tapi aku sama sekali tidak mengeluarkan kartu As ku. Ingat Dani, kita harus tetap pada rencana yang kita diskusikan. Dengan jumlah murid kita yang sedikit, kita harus mengakali kekurangan kita ini dengan cara menarik informasi sebanyak-banyaknya dari musuh! Bukankah aku sudah memberitahu mu hal ini?" Jawab ku, melawan tuduhannya yang tidak valid itu.


Saat aku mengatakan hal itu, tiba-tiba wajah Dani berubah lagi. Kali ini ia menunjukkan ekspresi tertekan lagi takut.


"Ka-Kalau begitu... Aku melakukan kesalahan? Aaaakh... Bagaimana caranya kita membenarkan masalah ini!?" Untuk sekali lagi, di akhir perkataannya, emosi Dani berubah lagi, ia kali ini marah, wajahnya marahnya bercampur dengan ekspresi panik.


".... Serius... Apa yang terjadi pada mu?"


"Apa maksud mu?"


"...."


Saat aku bertanya, Dani tidak menjawab pertanyaan ku, ia malah bertanya balik dengan ekspresi bingung. Seolah tidak mengerti maksud dari perkataan ku. Aku bertanya dengan pertanyaan yang sangat mudah dimengerti, bahkan Natasha dan Alexandria saja mengerti maksud dibalik pertanyaan ku.


Aneh... Jelas sekali ada yang aneh dengan Dani... Saat aku berpikiran seperti ini, aku mengingat kalau Michael ada melemparkan sesuatu kewajah Dani. Aku tidak melihat dengan jelas apa yang sebenarnya orang itu lemparkan, tapi, jelas kalau sesuatu yang ia lempar itu adalah segumpal serbuk... Serbuk berwarna putih...


"Tunggu... Serbuk putih...? Tidak... Tidak... Itu tidak mungkin... Tapi, tidak ada salahnya untuk membuktikannya bukan?"


Untuk membuktikan kecurigaan ku, aku berjalan mendekati Dani.

__ADS_1


"Ke-Kenapa?" Dani sedikit kaget saat aku sudah tepat berada didepannya.


Tanpa aba-aba, dan juga peringatan, aku menendang bagian ************ Dani dengan sekuat tenaga. Aku menendang tepat di ***********, lebih tepatnya di biji ***** miliknya.


"Aw! Apa yang kau lakukan!? Sialan!" Teriak Dani kepadaku dengan ekspresi marah, ia reflek memegangi ***********.


"Apakah kau benar-benar merasakan sakit?" Tanya ku.


"... Tentu saja tidak, tendangan pelan seperti itu, jelas tidak akan terasa sakit! Cuma, apa maksud mu menendang masa depan ku! Jika terjadi sesuatu, aku akan-"


Belum selesai ia berbicara, aku menggunakan sihir ku untuk membuat obat bius. Aku menyemprotkan obat bius itu tepat didepan wajah Dani, karena obat bius yang kugunakan cukup kuat, Dani segera tidak sadarkan diri setelah menghirup obat bius yang ku semprotkan. Tubuh Dani segera jatuh ketanah, saat ia tidak sadarkan diri.


"A-Apa yang kau lakukan Mira!?" Tanya Natasha, terkejut, melihat Dani yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Haaah... Ini sungguh merepotkan." Kata ku, setelah menghela nafas panjang. "Tenang saja, dia akan sadar beberapa jam lagi. Setidaknya ia akan sadar sebelum gilirannya dimulai." Sambungku, menenangkan Natasha.


"Be-Begitu... Lalu, apa maksud mu membuat Dani pingsan?" Natasha bertanya lagi, Alexandria yang berada disampingnya mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah menanyakan hal yang sama seperti yang Natasha tanyakan.


"Untuk memastikan, apakah kalian melihat apa yang Michael lemparkan kewajah Dani?" Tanya ku pada Natasha dan Alexandria.


"Aku tidak melihat dengan jelas. Tapi kelihatannya yang ia lemparkan sebuah serbuk?" Jawab Alexandria dengan wajah tidak yakin.


Dari kesaksian mereka berdua, sudah jelas kalau aku tidak salah lihat. Memang nampak kabur, tapi nampak sekali kalau Michael melemparkan segumpal serbuk berwarna putih kewajah Dani. Serbuk dari tanaman memang ada yang berwarna putih, dan bila dilemparkan kewajah, efeknya hanya akan menimbulkan bersin saja. Tetapi, reaksi Dani setelah menerima lemparan dari serbuk itu sangat berbeda... Membuat ku mengambil kesimpulan lain, mengenai serbuk yang Michael lemparkan kewajah Dani itu.


"Ini hanya spekulasi ku saja. Saat melihat reaksi Dani, aku curiga kalau yang dilemparkan Michael kewajah Dani adalah serbuk dari tanaman Coca yang sudah di ekstrasi."


"Tu-tunggu! tanaman Coca!? Setahu ku, itu adalah bahan dasar dari Kokain." Ucap Natasha dengan wajah pucat.


"Kau tidak salah Natasha. Tanaman Coca itu yang kumaksud."


"O-Orang gila... Mengapa dia menggunakan benda itu kepada Dani?" Tanya Alexandria dengan wajah rumit.


"Entah... Aku juga tidak tahu.... Tu-tunggu... Jangan-jangan! Aaaakh... Aku tidak memikirkan sampai situ!"


"Ke-Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba panik?"


Aku mengabaikan Alexandria, kemudian menyeret Dani untuk memasuki lorong lebih dalam. Saat memastikan kalau pandangan dari luar lorong tidak sampai pada ku, aku segera mengaktifkan sihir ku. Mempengaruhi sistem sel Dani, juga peredaran darahnya, aku mengeluarkan zat tanaman coca yang mungkin saja masih tersarang di jaringan sel Dani. Mengeluarkan zat itu dari sistem jaringan sel Dani, jujur saja, sungguh melelahkan. Aku harus mengingat bagaimana struktur jaringan sel, mengendalikan hukum entropi juga mengendalikan partikel Carlania disaat yang bersamaan. Melakukan semua hal ini dalam satu waktu, sungguh membebani otakku. Untung saja, semua hal yang kulakukan terbayarkan penuh. Saat aku memeriksa kondisi Dani dengan sihir ku.


"Fuuuh..." Aku menghembuskan nafas lega setelah selesai menyelesaikan tugas ku.

__ADS_1


"Kenapa? Apa yang kau lakukan kali ini Mira?" Tanya Alexandria.


"Aku menyelamatkan kelas kita dari di diskualifikasi. Bayangkan saja apabila Dani positif menggunakan tanaman Coca itu? Seingat ku tanaman Coca itu memiliki efek untuk menghilangkan rasa sakit.... Sampai sini kalian mengerti bukan?"


Seketika wajah Alexandria dan Natasha memucat.


Jika salah seorang murid ketahuan menggunakan narkotika, jelas bukan hanya Dani yang di diskualifikasi, kelas A, juga akan ikut di diskualifikasi. Lebih parahnya lagi, nama kelas A akan tercoreng, membuat kehidupan akademi kita akan seperti neraka jika melakukan kecurangan di turnamen resmi seperti ini.


"Ja-Jadi maksud mu, kau mengeluarkan zat tanaman Coca itu dari tubuh Dani barusan?" Tanya Alexandria.


Aku mengangguk, seketika membuat Alexandria dan Natasha terkejut. Seperti yang sudah ku jelaskan, untuk melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan, seseorang harus melakukan banyak hal dalam satu waktu. Dan hal itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jika memaksa melakukan hal yang sama seperti ku, otak orang normal akan mengalami kelebihan beban, menyebabkan pusing berkelanjutan atau yang lebih parahnya, saraf otak bisa saja putus. Untungnya aku memiliki kemampuan berpikir paralel, membuatku bisa melakukan banyak hal sekaligus dalam satu waktu.


"Intinya, hal yang dilakukan Michael barusan benar-benar licik. Untung saja kita bisa mengatasi hal ini sebelum menjadi masalah besar." Gumam ku.


"Tindakan orang bodoh benar-benar tidak bisa ditebak. Pemikiran orang bernama Michael itu benar-benar diluar perkiraan ku. Tidak pernah terbesit sedikitpun didalam kepalaku kalau dia sampai berbuat sejauh ini."


Orang cerdas akan menggunakan kepalanya sebelum bertindak. Tetapi hal ini tidak berlaku untuk orang bodoh. Mereka, tidak pernah menggunakan kepala mereka dalam bertindak, membuat orang seperti ku, yang memikirkan beberapa langkah kedepan tidak akan bisa menebak langkah orang-orang yang tidak pernah menggunakan kepalanya.


"Saudara-saudara sekalian, sudah ada tiga orang yang telah masuk ke babak empat besar atau bisa dibilang semi final. Tetapi, semi final tidak akan berjalan apabila pada babak ini masih kekurangan satu peserta. Karena itu, untuk melanjutkan turnamen pada hari pertama ini ke babak semi final, mari kita lanjutkan ke pertandingan selanjutnya!" Pembawa acara, yang kali ini telah berganti ke seorang wanita, mengumumkan dimulainya pertandingan berikutnya.


"Haaah..." Aku menghela nafas panjang saat mendengar pengumuman itu.


"Pertandingan selanjutnya, perwakilan dari kelas B, Reiko Kagami, akan melawan perwakilan dari kelas A, Mira Fantasia! Kedua peserta, silahkan masuk ke arena!"


Yap. Sesuai dengan dugaan ku.


"Mira. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Natasha dengan khawatir. "Sihir yang kau gunakan ke Dani barusan, bukankah itu sudah banyak menguras energi sihir mu?"


Kekhawatiran Natasha memang tepat. Sihir yang barusan kugunakan memang banyak menguras energi sihir ku, aku sudah kelelahan saat ini. Bukan lelah secara fisik, melainkan secara mental. Sihir yang kugunakan untuk mengeluarkan zat Coca dari tubuh Dani, bukan hanya menguras energi sihir ku, tapi juga sedikit membebani otakku. Walaupun aku memiliki kemampuan berpikir paralel, melakukan multitasking benar-benar membuat otakku lelah.


"Tenang saja," Jawab ku, menenangkan Natasha. "Aku masih bisa bertarung melawan Reiko, tapi untuk mengalahkannya, aku tidak yakin."


Nampaknya jawaban tambahan yang ku berikan itu tidak diperlukan. Bukannya membuat Natasha tenang, aku malah membuatnya semakin khawatir.


"Jangan memasang wajah seperti itu." Ucap ku sekali lagi. "Sedari awal, aku memang tidak memiliki niat untuk menang... Baiklah... Kita sudahi pembicaraan kita sekarang, jika tidak cepat aku akan didiskualifikasi."


"Jangan memaksakan diri Mira." Kata Natasha.


Aku mengangguk, kemudian berjalan keluar dari lorong, memasuki arena pertandingan.

__ADS_1


__ADS_2