
Barrier Graphine yang ku ciptakan setebal 5 cm. Walaupun hanya setebal itu, dengan sifatnya yang dapat menyerap getaran, graphine sebesar itu sudah lebih dari cukup. Aku membuat kubah sebesar 1 meter yang menutupi sekeliling Raihan. Ia yang segera berlari menyeruduk, menghantam Barrier graphine ku, dan tentu saja serudukannya tidak mempan sama sekali.
Aku dengan cepat mengaktifkan sihir nomor urut lima, yaitu Creation: Smoke Bomb yang sudah ku campur dengan chloroform dalam jumlah besar.
Menciptakan bolongan kecil yang cukup untuk memasukkan smoke bomb di Barrier yang mengurung Raihan, aku segera melemparkan smoke bomb ke dalamnya. Chloroform dalam jumlah besar itu terhirup oleh Raihan, memenuhi paru-parunya. Walaupun ia bertubuh lebih besar dan nampak lebih ganas, menghirup sejumlah besar chloroform membuat Raihan dalam wujud bantengnya perlahan-lahan mulai tidak sadarkan diri.
Setelah tubuh besarnya tumbang tidak sadarkan diri, wujud Raihan pun kembali ke wujud manusia. Aku segera menghilangkan Barrier yang mengurungnya, setelah itu aku membuka Barrier yang satu lagi, Barrier yang selama ini menghalangi Dani untuk membantu sahabatnya.
Setelah semua Barrier yang ku buat menghilang. Dani segera berlari kearah ku dengan wajah marah. Ia hendak melayangkan tinjunya, tapi untungnya ada Natasha yang segera menahan Dani.
"Sialan kau! Lepaskan aku! Biarkan aku memukul anak ini sampai aku puas!" Katanya dengan kesal, memberontak untuk melepaskan diri dari Natasha.
"Lepaskan dia Natasha. Biarkan dia memukul ku. Aku memang pantas mendapatkannya." Kataku dengan pasrah.
"Ta-Tapi..."
"Tidak apa-apa. Lepaskan saja."
"U-Um..." Natasha mengangguk dengan tidak yakin, melepaskan Dani dari pelukannya.
Aku segera menutup mataku, menunggu pukulan yang hendak di arahkan kepada ku. Tapi seberapa lamapun aku menunggu, pukulan itu tidak datang sama sekali, aku dengan perlahan membuka mataku...
Saat aku membuka mataku, Dani sudah tidak ada di tempatnya. Berbalik badan, aku dapat melihat Dani yang berjongkok tepat di samping Raihan, memeriksa kondisinya.
"Kau tidak memukul ku?" Tanyaku pada Dani.
"Sebenarnya aku sangat ingin memukul mu. Tapi tidak etis rasanya mekukul seorang perempuan, dan aku lebih khawatir dengan kondisi sahabatku... Jelaskan situasinya pada kami setelah orang ini sadar, tergantung dari penjelasan mu, aku akan memikirkan ulang haruskah aku memukul mu atau tidak."
Dani menjelaskan hal itu dengan menahan emosinya yang meluap, sebelum ia menggendong sahabatnya, membawanya keruang perawatan.
***
Raihan sadar.
Saat ini aku dan semua teman sekelasku menunggu kesadarannya di ruang perawatan. Kami semua lega saat melihatnya membuka mata.
Perawat yang bertugas di ruang perawatan memeriksa keadaan Raihan sebentar, ia menyatakan kalau tidak ada masalah pada tubuhnya, Raihan juga memberitahu lebih lanjut kalau ia tidak mengalami keanehan pada tubuhnya. Mendengar itu dari mulut Raihan langsung memberikan kami ombak rasa syukur.
Raihan duduk di kasur perawatan, sesaat ia menyadari ada aku yang berbaris bersama dengan para gadis, wajahnya berubah menjadi masam. Ia seakan, tidak... Bukan seakan lagi, jelas sekali kalau ia tidak terima kalau aku hadir menunggunya sadar.
Image baikku langsung buruk karena melakukan satu hal buruk padanya. Aku juga tidak bisa membela hanya berlaku buruk padanya sekali untuk mendapatkan kepercayaan darinya lagi. Karena memang apa yang kulakukan sudah keterlaluan, jelas sekali kalau ia akan terganggu dengan kehadiran ku.
Perawat yang menyadari suasana menegang, meminta izin keluar, memberikan kami kesempatan untuk berdialog.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya dengan dingin.
"Aku ingin minta maaf atas apa yang telah ku lakukan sebelumnya." Kataku dengan wajah datar.
"Maaf... Setelah apa yang telah kau lakukan!?"
Karena wajah ku yang jarang menunjukkan emosi, ia tidak menganggap permintaan maaf ku sebagai hal yang serius. Ia bahkan berteriak dengan keras saat aku mengungkapkan alasan ku berada di ruang perawatan bersamanya.
"Aku percaya padamu... Aku percaya kau akan dengan tulus membantu ku... Tapi... Kau tidak akan pernah mendapatkan maaf ku! Tidak akan pernah!" Katanya dengan mata yang di penuhi kebencian yang langsung di arahkan padaku.
Dani yang duduk di kursi yang ada di samping kasur Raihan, terkejut melihat dia yang seperti itu. Dari ekspresinya jelas sekali kalau Raihan baru kali ini menunjukkan emosi yang begitu dalam pada seseorang.
"Yah... Kau mau memaafkan ku atau tidak itu terserah mu. Tapi setidaknya dengarkan perkataan ku, ini juga berguna untuk membantu perkembangan mu."
__ADS_1
"Pergi kau dari sini!" Katanya, berteriak dengan mata yang di penuhi dengan kebencian padaku.
"Kau bebas membenci ku, tapi setidaknya dengarkan aku."
"Bisakah kau tidak menyulut emosinya?" Kata Dani membela Raihan dengan nada yang serupa.
"Haaah... Jika aku tidak memberitahu ini sek-"
"Aku! Tidak akan! Pernah mendengarkan perkataan dari iblis seperti mu! Sekarang cepat pergi dari sini!"
Bukankah itu berlebihan...? Mengatakan aku sebagai iblis...
Walaupun terdengar menyakitkan, aku tidak akan menolak pernyataan dari Raihan. Karena pada kenyataannya, jika ku lihat dari sudut pandangnya, aku adalah seorang gadis yang berhati dingin, yang berperilaku seperti iblis, yang berusaha untuk menipunya, bahkan dengan cara memanfaatkan teman ku hanya untuk melukainya.
Yah, apapun itu, aku tidak akan mundur. Mengabaikan protes darinya, aku menjelaskan sesuatu.
"Selama berminggu-minggu..."
"Kau masih tidak ingin pergi. Dasar wanita sialan!" Kali ini Dani yang mengutukku dengan penuh emosi.
Bahkan Natasha dan Alexandria tidak membela ku, mereka hanya diam. Alexandria menatap ku dengan tatapan yang dingin lagi menusuk.
"Aku mengumpulkan informasi mengenai sihir transformasi." Kataku melanjutkan.
"Sialan!" Dani berdiri dari tempat duduknya, berjalan dengan kesal kearah ku.
"Magic set, Barrier." Mengaktifkan sihir pelindung di sekitarku, mencegah Dani menyerang ku.
"Perempuan sialan!" Dani berteriak sambil memukul-mukul pelindung yang ku ciptakan.
"... Bisakah kalian berhenti untuk sesaat? Kalian boleh membenci ku, tapi aku tidak mau hal yang kulakukan sia-sia. Dan kau Raihan, alasan kau tidak berkembang karena pemikiran mu terlalu ideal, sesekali kau harus melihat kenyataan! Tidak... Bukan hanya Raihan! Tapi kalian semua yang ada di sini! Kalian semua hidup di dalam pemikiran ideal kalian! Alasan kenapa kau tidak bisa menghancurkan Barrier ku, karena kau terlalu nyaman di zona nyaman mu! Tidak bisakah kalian buang ego kalian sebentar saja!?" Tidak tahan lagi dengan tatapan sinis, cercaan, dan perlakuan kasar dari teman sekelas ku. Untuk pertama kali dalam waktu yang lama, aku menjadi emosi.
"Terkadang benda yang kita benci mempunyai kegunaan. Dan di masa lalu ada beberapa negara yang membuang ego mereka untuk mengkopi senjata lawan hanya untuk menang perang! Bahkan para agamawan rela membuang perilaku agamisnya hanya untuk mencari kebenaran! Tidak bisakah kalian melakukan hal seperti itu!? Dan dengarkan perkataan gadis sialan dan berperilaku seperti iblis ini hanya dalam waktu singkat!?"
Mereka semua terdiam, dengan wajah rumit. Tapi akhirnya, mereka semua terdiam, setelah mendengarkan perkataanku yang begitu realistis. Tidak ingin membuang kesempatan ini, aku terus melanjutkan penjelasan ku.
"Baiklah. Akan ku lanjutkan. Seperti yang ku katakan. Aku berminggu-minggu mencari informasi mengenai sihir transformasi, aku pergi mewawancarai orang yang memiliki sihir serupa, mencari cacatan sejarah pengguna, lalu mengumpulkan buku-buku yang berhubungan dengan sihir itu..."
Dari hasil pencarian ku. Aku menemukan fakta kalau sel mutasi yang menyebabkan sihir transformasi tidak dapat di kendalikan apabila seseorang mengalami masalah mental dan tanpa adanya ramuan khusus, lalu juga aku menemukan fakta kalau hebat tidaknya seseorang dalam mengendalikan sihir tidak ada pengaruhnya dalam mengendalikan sel mutasi itu.
Mengenai penjelasan pengendalian energi sihir juga berpengaruh dalam sihir transformasi sebenarnya terjadi akibat seseorang yang sedang dalam kondisi mental tidak baik, berpengaruh dalam pengendalian energi sihir mereka. Sehingga menimbulkan asumsi kalau pengendalian energi sihir juga berpengaruh dalam masalah pengendalian sel mutasi, yang sebenarnya hal itu salah total!
Aku juga menemukan fakta kalau sel mutasi dapat menyembuhkan luka. Karena itu aku berani melukai tubuh Raihan. Hal ini terbukti, Raihan saat ini tidak menderita luka yang aku sebabkan akibat sel mutasi miliknya.
Lalu fakta terakhir yang aku dapat adalah, emosi dan kondisi mental pengguna berpengaruh dalam wujud transformasi. Karena itu Raihan dapat berubah menjadi lebih ganas saat tertekan dan saat emosi. Aku masih ragu dengan hal ini karena itu aku mengetesnya pada Raihan, dan aku lega kalau fakta ini benar.
"Jadi bisa di simpulkan latihan Raihan dalam mengendalikan energi sihir selama ini kita lakukan semua sia-sia. Yang perlu ia lakukan hanyalah melatih mental dan fisiknya untuk menstabilkan sel mutasi agar lebih mudah di tekan dengan ramuan khusus. Mungkin karena itu jugalah mengapa latihan keluarga Raihan awalnya berfokus pada latihan fisik dan mental bukan latihan sihir... Lalu untuk masalah Ramuan khusus yang ku sebutkan, mungkin ayah mu mengira ramuan itu hanya sebatas warisan yang di turunkan secara turun menurun, tanpa tahu kegunaan dari ramuan itu sebenarnya."
"Ku tanya, apakah kau pernah di berikan ramuan dari ayah mu?"
Raihan hanya bisa menunjukkan wajah kesal mendengar pertanyaan ku itu. Tapi dari wajahnya aku bisa tahu kalau jawaban yang ia ingin ucapkan adalah "tidak pernah."
"Tidak pernah ya... Haaah... Ternyata berpegang pada motto keluarga adalah kesalahan yang besar. Karena itulah aku mengatakan kalau kalian semua hanya berdiam di zona nyaman dan hidup dalam idealitas kosong! Jika kalian ingin menganggap perkataan ku salah, silahkan! Aku sebenarnya menaruh respect pada kalian, kalian mampu menjalankan pemikiran ideal kalian di kerasnya dunia ini. Tapi setelah melihat kalian sekarang... Respect ku pada kalian hilang! Kalian... Haaah.... Sudahlah, tidak ada gunanya aku bicara lagi disini."
Aku menonaktifkan sihir ku, berbalik badan lalu berjalan keluar dari ruang perawatan.
***
__ADS_1
Sesaat setelah Mira keluar dari ruangan.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan tertunduk lesu, mereka di hajar hingga babak belur. Mereka tidak di hajar dengan fisik, tapi di hajar dengan kata-kata.
Motto keluarga mereka yang selama ini tertanam dalam diri mereka, yang mereka anggap benar, sekarang hanya nampak seperti kata-kata kosong setelah mendengar perkataan gadis kecil itu.
Alexandria yang di dalam hatinya tumbuh perasaan benci pada Mira sekarang tumbuh perasaan baru, yaitu rasa jijik terhadap dirinya sendiri.
Dani yang sebelumnya di penuhi dengan emosi yang menggebu-gebu pada gadis itu. Tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar perkataan gadis itu. Emosinya padam. Ia sekarang nampak seperti boneka kosong yang benang-benang pengendalinya telah putus. Ia terduduk lemas di lantai dengan lesu.
Raihan yang di penuhi dengan amarah, benci, jijik dan perasaan buruk lainnya ke Mira hanya bisa menggantung kepalanya dalam penyesalan.
Sebenarnya Mira juga salah dalam masalah ini. Tapi ia dengan lapang dada menerima kesalahan itu. Ia bahkan menahan emosinya saat mereka semua menghina dan mencercanya. Ia benar-benar membuang egonya, dan menggunakan kepalanya sepenuhnya. Hal itu ia lakukan tidak lain dan tidak bukan untuk membantu Raihan.
Tapi... Terlepas dari fakta itu... Mereka semua malah berlaku kasar padanya. Hanya penyesalan yang tersisa pada diri mereka sekarang.
"U-Uuhm... A-Aku ingin mengejar Mira." Kata Natasha tidak tahan dengan perasaan negatif dalam hatinya yang terus saja muncul.
Tanpa menunggu persetujuan dari teman sekelasnya, Natasha sudah keluar dari ruang perawatan. Ia melihat sekeliling, tapi ia sama sekali tidak menemukan sosok Mira di sepanjang koridor.
"Jika kau mencari teman kecil mu itu dia pergi ke arah sana." Kata perawat menunjuk ke arah kanan, ia saat ini memegang sebuah pipa yang di ujungnya terdapat bara api. Ia menghisap pipa itu dari ujungnya yang satu lagi, lalu menghembuskan gumpalan asap tebal dari mulutnya.
"Terima kasih." Jawab Natasha berlari ke arah koridor yang di tunjuk oleh perawat.
Natasha menyusuri koridor dengan berlari, ia kadang di tegur oleh guru. Karena aturan akademi melarang muridnya untuk berlari di koridor, tapi ia mengabaikan itu dan malah bertanya pada guru yang menegurnya mengenai keberadaan Mira.
Mengikuti arahan dari orang yang ia temui selama perjalanan di koridor, Natasha sampai di aula utama, bertanya pada guru yang ada di aula itu ia di arahkan keluar akademi.
Berlari keluar akademi hingga sampai di gerbang masuk, Natasha terus berlari hingga ia melihat sosok Mira dari kejauhan.
"Om. Beli crepe ini satu."
Berbanding terbalik dengan ruangan yang ia tinggalkan yang semua orangnya di liputi dengan perasaan negatif, gadis yang ia kejar sama sekali tidak menunjukkan hal itu, ia dengan santainya membeli sebuah crepe lalu memakannya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Mira. Syukurlah aku menemukan mu." Kata Natasha kepada Mira yang sedang menyantap crepe miliknya.
"Natasha... Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya dengan bingung setelah ia menelan crepe yang ia kunyah.
"Mengejar mu."
"Kenapa?"
"Apakah ada alasan untuk mendatangi seorang teman?"
"...."
"Kenapa kau malah terkejut?"
".... Tidak... Ah. Benar juga, kau ingin crepe? Aku yang teraktir."
"Tidak. Tidak perlu, aku bisa beli sendiri."
"Begitukah...? Yah terserah mu mau atau tidak. Aku hanya menawarkan."
Natasha membeli crepe yang sama seperti milik Mira. Mereka menghabiskan crepe mereka bersama dengan wajah yang di hiasi dengan senyuman.
Natasha tidak menyadari, kalau perbuatan kecilnya ini telah merubah sesuatu dari Mira. Dan Mira juga tidak tahu kalau perilaku yang ia tunjukkan juga merubah sesuatu dari Natasha.
__ADS_1
Mulai hari ini, jam ini, dan detik ini, persahabatan mereka... Persahabatan yang begitu kuat, hingga mampu menahan terpaan badai yang ganas, telah terbentuk di antara mereka.