My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 78 Babak kedua turnamen di mulai


__ADS_3

Bunyi alarm di ruang istirahat kami berbunyi. Kami semua segera bersiap-siap menyambut hari, menantang turnamen yang diadakan akademi Carlania ini.


Persiapan kami, pertama adalah mengusir para murid laki-laki pergi keluar rangan, setelah itu kami secara bergantian memakai kamar mandi ruang istirahat untuk membersihkan tubuh kami. Untuk lebih diperjelasnya adalah mandi.


Setelah selesai, kami menggunakan seragam akademi kami kembali, untungnya bahan yang digunakan untuk pakaian kami tahan dari kotoran, membuat seragam yang belum dicuci ini masih layak untuk kami gunakan. Setelah itu, barulah kami keluar ruangan, membiarkan para murid laki-laki melakukan hal yang sama seperti kami.


Setelah semua murid kelas A, telah selesai membersihkan diri. Kami segera pergi ke luar lorong, menuju arena. Hari masih pagi, karena itu arena saat ini masih sepi, belum ada penonton sama sekali. Bahkan para peserta dari kelas lain, belum ada yang keluar dari lorong mereka. Keuntungan dari peserta kami yang sedikit, adalah waktu persiapan ini, kami selesai lebih cepat dari kelas lain.


Tidak berselang lama, para murid kelas lain datang, memasuki arena.


Alasan kami memasuki arena saat ini, karena instruksi dari instruktur kami, yang menyuruh kami untuk berkumpul ke arena. Jujur saja, Instruktur Jhon tidak memberitahukan alasan mengapa ia menyuruh kami berkumpul. Saat ku desak untuk memberitahu alasannya, ia hanya berkata.


"Besok. Kau akan tahu sendiri."


Selama hampir lima menit kami berkumpul di arena, mungkin karena rasa persaingan yang kuat. Tidak ada percakapan yang terjadi antar kelas lain.


"Hmm...? Bukankah sudah saatnya para penonton turnamen akan datang? Mengapa jam segini mereka belum datang?"


Saat otakku teralihkan, dengan memikirkan hal lain. Aku menyadari satu hal.


Permainan rebut bendera, adalah permainan tim, yang biasanya arena yang digunakan memiliki area yang luas, hampir satu kilometer persegi. Jarak rata-rata arena untuk permainan rebut bendera biasanya 600 meter persegi.


Dari sini saja, tidak mungkin untuk mengadakan turnamen di arena yang ukurannya tidak sampai 200 meter yang menjadi tempat kami berkumpul sekarang. Kalau begitu, turnamen akan dilaksanakan di tempat lain? Dan alasan mengapa kami dikumpulkan disini untuk diantar ke arena tempat pertandingan dilaksanakan? Dengan kedua alasan ini, menjelaskan juga mengapa para penonton belum ada yang datang, karena turnamen babak kedua kali ini tidak mungkin untuk dilaksanakan disini.


Membuktikan tebakan ku benar, para instruktur setiap kelas datang dari lorong masing-masing kelas. Mereka datang dengan membawa sebuah device khusus yang nampaknya sangat berat hingga harus di bawa dengan kedua tangan, juga dari ekspresi para instruktur yang nampak kesusahan semakin menandakan kalau device yang mereka bawa memiliki berat puluhan kilogram.


Ketiga instruktur yang datang, menaruh device yang mereka bawa ditanah.


Setelah ketiga instruktur datang, tim medis datang tidak lama setelah itu.


Segera, kondisi kami diperiksa secara bertahap, mulai dari pengecekan tekanan darah, tingkat stress, kelelahan, luka, suhu tubuh serta frekuensi jantung kami. Juga tim medis membawa sebuah alat yang tidak ku ketahui apa gunanya, tetapi setelah mendengar ucapan dari salah seorang anggota medis, aku segera mengetahui fungsi alat itu.

__ADS_1


"Semua peserta terbukti tidak menggunakan dopping, serta zat kimia lain yang dilarang tidak terdeteksi dari tubuh mereka."


Rupanya alat yang digunakan itu adalah alat pengecek zat kimia didalam tubuh kami. Jika Dani masih terpapar zat kimia Coca, alat itu pasti akan mendeteksi hal itu, membuat posisi Dani dalam bahaya. Untungnya aku telah mengatasi hal itu.


Aku tertarik dengan reaksi seseorang saat mendengar hal itu, aku secara diam-diam melirik ke arah Michael.


"Baiklah, mari kita lihat bagaimana reaksinya."


Reaksi dari Michael tidak seperti yang ku harapkan, dia memiliki ekspresi datar, seolah tidak terkejut maupun tertarik dengan perkataan anggota medis barusan.


Nampaknya rencana ku untuk menyingkirkan Michael lebih cepat gagal. Juga, bagus sekali poker Facenya, dia bisa tidak mengeluarkan ekspresi sedikitpun saat mendengar hal itu.


Setidaknya dia bisa mengeluarkan ekspresi kesal sedikit, mengetahui rencana untuk menuduh Dani gagal.


"Hmmm...?"


Setelah ku perhatikan, ekspresinya tidak sepenuhnya datar, dia memiliki ekspresi gugup, ketakutan, dan tertekan. Mengapa ia mengeluarkan ekspresi seperti itu, bukankah dia menyembunyikan kecurangannya dengan baik? Harusnya ia tidak perlu mengeluarkan ekspresi seperti itu.


"Sekarang ekspresinya berubah... Ekspresinya seperti seorang prajurit yang ingin memasuki medan perang."


Walaupun aku tahu emosi dari ekspresi yang ia keluarkan, aku tidak mengetahui alasan ia mengeluarkan ekspresi seperti itu. Nampaknya... Ada masalah yang lebih serius dari rencananya untuk menjatuhkan Dani yang gagal ini... Yah, apapun masalahnya, itu bukanlah urusan ku.


Aku mengalihkan fokus ku, ke device yang dibawa oleh ketiga instruktur.


Device itu mengeluarkan bunyi elektrik, lalu muncul sebuah cahaya berwarna biru.


Layaknya hidup, device yang mereka taruh di tanah bergerak, melayang ke udara, lalu device itu membentuk sebuah segitiga, sesaat kemudian, device itu mengeluarkan cahaya terang yang membutakan mata kami, reflek kami semua menutup mata.


Seketika...


"Woooooah!"

__ADS_1


Suara teriakan penonton terdengar.


Membuka mataku, aku mendapati diri ku disebuah jalan raya panjang, di samping kiri dan kanan ku terdapat bangunan yang terbengkalai, juga di trotoar banyak kendaraan usang, tidak terurus.


"Barusan pasti adalah alat teleportasi." Ucap ku, setelah menganalisis situasi.


Hampir lupa untuk mengingatkan, saat ini anggota kelas lain yang ikut berkumpul bersama kami di arena sebelumnya sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah anggota kelas ku, yakni Natasha, Dani, Raihan dan juga Alexandria.


Juga, sedari tadi ada sebuah device berbentuk bulat yang melayang-layang didepan kami, device itu menunjukkan layar hologram, suara sorakan penonton yang aku dengar saat berpindah kesini pun berasal dari device itu. Saat ini, Device itu menunjukkan sekumpulan penonton yang duduk di sebuah tribun, yang jelas tribun itu bukanlah tribun turnamen pada hari pertama kemarin.


"Aaaah... Ehem, ada sedikit perubahan aturan." Layar tiba-tiba berubah, menunjukkan pembawa acara. "Awalnya turnamen pada babak kedua ini, memiliki aturan khusus sebagai handicap untuk kelas A yang memiliki anggota paling sedikit. Tetapi sekarang peraturan itu dirubah."


"Hah?" Ucap semua orang di kelas ku secara bersamaan, dengan ekspresi kebingungan.


"Aturan awal permainan, setiap tim akan mengirim anggota sebanyak lima orang dalam satu tim, tapi aturan itu dirubah. Setiap yang memiliki anggota kelas lebih dari lima orang, boleh mengirim anggota tim hingga jumlah maksimal, yakni 8 orang, dan 4 orang cadangan."


"The fu... He's serious!?" Ucap Dani, dengan wajah terpelongo, kaget.


Bukan hanya Dani yang kaget, tapi juga semua orang yang hadir kaget. Termasuk aku, yang sedikit membelalakkan mataku.


"Instruktur Jhon... Ini berbeda dari yang kau beritahu padaku." Protesku, didalam kepalaku.


Dengan jumlah murid kelas B, yang memiliki 12 orang, dan kelas C yang memiliki 18 orang, jelas mereka bisa bertanding dengan anggota maksimal, ditambah mereka masih memiliki cukup anggota sebagai cadangan. Sedangkan kami, bukan hanya tidak bisa bertanding dengan anggota maksimal, kami juga tidak memiliki anggota cadangan.... Ini... Sudah tidak adil bukan?


Apakah pihak akademi sengaja membuat kami kalah?


"Nampaknya, kelas A benar-benar dirugikan dari perubahan peraturan ini." Ucap pembawa acara, dengan nada yang menunjukkan rasa iba. Tapi ekspresinya yang menunjukkan senyum lebar, benar-benar tidak memberikan kesan seperti itu.


Jelas dia sangat bersemangat dengan perubahan peraturan ini...


Walaupun jelas kami yang dirugikan dari perubahan peraturan kali ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Protes pun sudah tidak ada gunanya, pertandingan akan segera dimulai. Yang bisa kami lakukan hanyalah pasrah menerima keadaan.

__ADS_1


__ADS_2