My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 37 Perubahan Sikap Raihan


__ADS_3

"Ayah. Boleh saya minta ramuan rahasia milik keluarga kita?"


".... Apa yang kau katakan barusan?"


"Saya ingin ramuan milik keluarga kita. Apakah itu boleh?"


Di ruang makan keluarga Adaka, Raihan mengatakan hal itu dengan percaya diri kepada ayahnya saat ini sedang menyantap makanannya. Saat Raihan tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang sungguh di luar nalar ayahnya itu, ia berhenti menyuap makanannya sesaat sendok yang berisi makanan sudah tepat di depan mulutnya.


Pertanyaan Raihan tentu saja menyulut emosinya, tapi ia belajar dari kesalahan yang telah lalu, saat ia di tegur oleh istrinya karena meninggikan suaranya di meja makan. Dengan emosi yang sedingin es, ayah Raihan berkata dengan senyum sinis di wajahnya.


"Kau gila. Ramuan itu hanya untuk anggota keluarga Adaka yang telah pantas. Sedangkan kau masih jauh dari kata itu."


"Ayah benar Raihan, sebaiknya kau fokus ke sekolah mu dari pada meminta ramuan itu." Kakak tertua Raihan, mengatakan itu dengan senyum mengejek sebelum ia menyuap sepotong daging ke mulutnya.


Kata-kata mereka sangat menusuk hati Raihan, tapi ia tidak bergeming. Menahan rasa sakit di hatinya, ia dengan sifatnya yang berbanding terbalik dari biasanya, membuka mulutnya, mengatakan sesuatu yang tidak di duga-duga oleh anggota keluarganya.


"Kalau begitu, jika saya membuktikan kelayakan saya sebagai anggota keluarga Adaka, apakah ayah akan memberikan ramuan itu kepada saya?"


"Heh... Setelah apa yang terjadi terakhir kali sungguh hebat kau mengatakan hal itu." Kakak kedua Raihan dengan cengegesan mengatakan hal itu kepada Raihan.


"Ini bukan urusan kalian berdua. Ini urusan ku dengan ayah. Aku harap kalian bisa tutup mulut kalian!" Ucap Raihan dengan nada menantang.


"Apa kau bilang!?" Kedua Kakak Raihan tersulut emosinya, Seketika mereka berdua meninggikan nada suara mereka.


"Kita di ruang makan. Mohon jaga sopan santun kalian." Ucap ibu Raihan mengingatkan.


Ibu Raihan memiliki sifat yang tegas, semenjak di tunangkan dengan ayah Raihan, ia selalu bersikap keras. Menegur anggota keluarga Adaka apabila berlaku tidak sopan saat perjamuan makan. Ia wanita yang tidak akan mengganggu perdebatan yang terjadi di keluarganya, karena itu ia tidak menghentikan Raihan yang bersikap kurang ajar kepada kedua kakaknya, ia mungkin akan menegur Raihan apabila Raihan ikut meninggikan suaranya saat sedang di perjamuan makan.


"..." Kedua kakak Raihan ingin mendecakkan lidah mereka, tapi mereka masih menghormati ibu mereka, sehingga mereka menahan hal itu, melanjutkan menyantap makanan mereka dengan muka masam.

__ADS_1


"Jadi ayah, mengenai pembahasan kita sebelumnya, apakah saya boleh mendapatkan ramuan itu?"


".... Hmph..." Ayah Raihan mengendus dengan nada meremehkan, kemudian ia berkata. "Baiklah. Akan ku berikan ramuan itu. Tapi jika kau bisa mengalahkan ku."


"Baik. Akan saya lakukan. Ayo kita bertanding sehabis ini." Jawab Raihan dengan percaya diri.


"Sifatnya benar-benar berubah. Dia nampak begitu percaya diri, apa yang telah terjadi padanya?" Pikir ayah Raihan saat melihat putra termudanya menyantap makanannya tanpa menunjukkan emosi sedikitpun.


Sudah dua minggu waktu berlalu semenjak Raihan meminta maaf kepada Mira di kantin akademi.


Dan selama dua minggu ini Raihan berlatih keras hingga titik darah penghabisan untuk menantang ayahnya dalam duel yang hendak ia lakukan selepas makan malam ini. Lalu, apakah dengan berlatih begitu keras itu merubah sifat Raihan yang awalnya pengecut, tidak percaya diri, dan terlalu berhati-hati itu menjadi seperti sekarang? Tentu saja tidak. Tidak mungkin sifat seseorang dapat berubah dalam waktu sesingkat itu. Lalu bagaimana bisa sifatnya bisa berubah?


Pertanyaan ini dapat terjawab pada kejadian yang telah Raihan alami selama dua minggu ini.


***


Batu yang di tunjuk oleh Mira di ciptakannya dengan partikel Carlania, atau bisa di bilang dengan menggunakan sihir.


Jika Raihan menggunakan sihir penguat fisik, tentu saja hal yang di perintahkan Mira itu dapat di lakukan Raihan dengan mudah, tapi tanpa adanya sihir hal itu sangatlah sulit untuk di lakukan. Saat Raihan ingin mengeluhkan hal itu, Mira menghela nafas kecewa bahkan sebelum ia bisa mengeluarkan keluhannya.


"Sifatmu yang kurang percaya diri itu benar-benar menjadi hambatan. Bahkan kau sudah ingin mengeluh sebelum mencoba. Sudahlah, coba saja." Katanya dengan wajah kecewa.


Raihan tidak di biarkan menolak, ia pun mau tidak mau menuruti perintah Mira.


Dan benar saja, saat Raihan mencoba memukul batu itu, batu itu tidak menunjukkan keretakan sedikit pun. Malahan tangan Raihan yang digunakannya untuk memukul batu itu mengeluarkan bunyi tulang berdecit dan keluar darah dari kulit tangannya.


Hal itu membuat Raihan merintih kesakitan.


Mira mengobati tangan Raihan, Dani yang melihat sahabatnya di perintahkan hal yang tidak masuk akal itu ingin protes, tapi ia belajar dari kesalahannya, sehingga ia memilih diam dengan merapatkan giginya.

__ADS_1


"Sudah ku duga tidak bisa ya..."


"Kalau kau tahu aku tidak bisa melakukannya, kenapa masih menyuruh ku untuk mencobanya?" Protes Raihan.


"Tidak ada salahnya kan mencoba? Bahkan Wright bersaudara saja mampu membuat benda yang bisa terbang yang menurut orang sebelum mereka adalah hal yang mustahil."


Mendengarkan pernyataan Mira itu, Raihan hanya bisa terdiam.


"Jika kau tidak mencobanya, kau tidak akan pernah tahu kau bisa melakukannya atau tidak. Haaah... Sebenarnya aku tidak ingin menceramahi mu seperti ini, tapi aku benar-benar kesal dengan sifatmu itu. Sebagai hukuman, kau harus latihan sampai kau bisa memecahkan batu ini, murni dengan kekuatan fisikmu."


"Kau serius...?"


"Tentu saja aku serius. Cukup berbincang-bincangnya, sekarang mulai latihan!"


Mulai dari sinilah, Raihan memulai latihannya.


Menu latihan yang di kasih oleh Mira sungguh tidak masuk akal. Ia di suruh lari 100 kilometer, angkat beban dengan berat ratusan kilo, push up seribu kali, sit up seribu kali, back up, dan latihan fisik lainnya. Tidak lupa, Mira memberikan beban pada kaki dan tangan Raihan seberat sepuluh kilo berupa gelang yang tidak bisa di lepas dengan kunci khusus yang selalu ia pegang.


Selama dua minggu Mira melatihnya seperti itu. Selepas latihan, ia juga harus memukul batu besar di lapangan hingga pecah.


Sebagai catatan, Mira sudah meminta izin untuk menaruh batu besar di situ selama waktu dua minggu sebagai dalih latihan sihir. Dengan hak khusus yang di miliki kelas A, ia dapat dengan mudah menerima izin itu dari wali kelasnya.


Mira bukan hanya melatih Raihan, ia juga memberikan sedikit sugesti kepada Raihan. Yang di mana sugesti itu, perlahan tapi pasti merubah gaya pikir Raihan. Hal ini tidak di sadari oleh Raihan, hanya teman-teman sekelasnya yang sadar, tapi Mira menyuruh mereka diam mengenai perubahan gaya pikir Raihan itu.


Seminggu telah terlewati, Raihan masih tidak bisa memecahkan batu itu. Bahkan ia tidak menimbulkan retak sedikit pun. Tapi jelas ada perubahan, tangan Raihan yang awalnya terluka saat memukul batu itu, sekarang tidak lagi menimbulkan luka. Kulit tangannya mulai mengeras akibat terus di pukulkan kebatu yang keras itu.


"Kau masih tidak bisa melakukannya. Sebagai hukuman, lari lagi keliling lapangan sebanyak seribu kali." Perintah Mira.


Raihan mengangguk tanpa mengeluh, ia pun menjalankan perintah Mira, berlari keliling lapangan.

__ADS_1


__ADS_2