My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 43 Kegiatan Monoton yang tidak membosankan


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu semenjak aku memasuki akademi ini. Jujur, bisa ku katakan kalau kegiatan ku di akademi ini sungguh monoton.


Yang kulakukan setiap hari, hanyalah belajar di kelas. Setelah belajar, aku dan teman sekelasku pergi ke kantin, setelah itu belajar lagi. Lalu pulang setelah semua pelajaran selesai.


Hal ini terus ku lakukan, hingga akhirnya aku tersadar saat mengecek tanggal pada smartphone ku, sesaat aku bangun tidur.


Hari ini adalah hari minggu, lebih tepatnya tanggal 05 Juni tahun 2050.


Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak menghitung sudah berapa lama aku memasuki akademi, tapi setelah mataku terfokus pada bulan pada tanggal hari ini. Akupun menyadari, betapa cepatnya waktu telah berlalu.


Sampai-sampai, aku dibuat sadar kalau sudah 2 bulan semenjak aku memasuki akademi.


Sebenarnya, untuk kegiatan monoton yang biasa kulakukan tidak menjadi masalah pada titik ini. Jika mundur ke belakang, selama 15 tahun aku hidup... Aku tidak bisa lepas dari kegiatan monoton dalam hidup ini. Bahkan jika aku pikirkan lebih jauh, setiap manusia yang hidup, juga tidak bisa lepas dari kegiatan monoton dalam hidup mereka.


"Bulan Juni yah... Sebulan lagi, aku akan berulang tahun." Gumam ku dengan suara lirih.


Itu benar. Bahkan tanpa aku sadari sekali lagi, ulang tahun ku yang ke-16 juga sudah dekat. Hanya tinggal menghitung hari saja.


Aku akan berulang tahun pada tanggal 7 juli, hari kamis.


Jujur saja, aku tidak terlalu bersemangat, saat mengetahui ulang tahun ku sudah dekat seperti ini. Aku sudah bukan anak kecil lagi, terlepas dari wujud ku yang masih seperti anak kecil, yang bersemangat saat mengetahui kalau ulang tahun ku sudah dekat.


Jika ku pikirkan sekali lagi, bahkan hari ulang tahun ku juga terasa monoton.


Saat tahun kemarin, saat ulang tahun ku yang ke-15. Saat itu hanya keluargaku saja yang merayakannya.


Saat itu kami hanya mengadakan pesta kecil-kecilan dengan memanggang ayam turkey, membuka hadiah yang disediakan oleh kedua orang tuaku, yang dimana sebagian besar hadiah yang ku terima pastilah buku pelajaran.


Jujur saja, aku senang saat ulang tahunku di rayakan.


Tapi itu tidak membuat ku sampai merasa kalau ulang tahunku adalah hal yang spesial. Karena setiap tahunnya, pasti ulang tahunku, dan adikku, Mia, dirayakan oleh kedua orang tuaku.


Definisi spesial menurutku adalah, sesuatu hal yang dilakukan sekali dalam seumur hidup. Jadi wajar saja kalau aku merasa ulang tahun ku bukanlah hal yang spesial.


Pertanyaannya sekarang, apakah aku bosan menjalani hal monoton seperti ini? Sejujurnya... Aku tidak tahu...


Seperti yang ku jelaskan, aku telah menjalani hal monoton sepanjang aku hidup. Jadi aku tidak tahu apakah aku bosan menjalani hal ini atau tidak. Jika aku bosan, aku pasti akan berhenti melakukan hal monoton itu dan mencari hal baru yang menarik. Tapi nyatanya, aku tidak melakukan hal itu. Sehingga aku tidak mengerti apakah aku bosan atau tidak. Walaupun begitu, aku tahu hal ini dengan pasti...


Walaupun aku tidak bosan, dan tidak mencari hal baru yang ku anggap spesial, tapi jauh dilubuk hati ku, aku mengharapkan hal spesial itu datang kepadaku dalam waktu dekat.


Sambil berharap hal spesial itu tiba, aku menjalankan hal yang biasa kulakukan saat hari telah memasuki akhir pekan ini.


Bermain Game di PC yang ada dikamar ku. Setelah lelah bermain Game, aku akan pergi keluar berjalan-jalan disekitar komplek perumahan, saat lapar, aku pulang untuk makan, kemudian pergi kekamar ku untuk menyetel musik relaksasi sambil membaca buku hingga sore hari. Hal yang selanjutnya aku lakukan adalah mandi, lalu bermain game di smartphone hingga waktu makan malam, setelah itu belajar hingga aku mengantuk, dan untuk kegiatan terakhir adalah tidur, untuk mengakhiri akhir pekan ku, yang sekali lagi... Monoton ini...


***


05 Juni tahun 2050. Pukul 12:30.


Matahari sedikit lewat dari atas kepala, bayangan yang terefleksi dari sinar matahari, sedikit lebih panjang dari objeknya. Siang hari, pada hari minggu ini terbilang cerah. Cahaya matahari bersinar terang menyinari bumi tanpa ada halangan dari awan.

__ADS_1


Musim semi pada negara ini sedikit lebih cepat berakhirnya, sehingga hawa panas dari musim panas telah datang pada bulan seperti ini, hawa panas akan mencapai puncaknya pada bulan agustus. Sehingga pada waktu seperti ini, suasana sejuk yang menjadi ciri khas musim semi, sedikit telah memudar, perlahan-lahan digantikan dengan hawa panas yang hanya tinggal menunggu waktu beberapa bulan lagi.


Di suatu cafe di pusat kota yang penuh dengan kemajuan teknologi ini, dua orang pemuda tengah menghabiskan waktu akhir pekan mereka.


Mereka baru saja memutuskan untuk beristirahat setelah mulai dari jam 10 pagi tadi, bermain di dalam mall yang dingin karena AC, dan sumpek yang dipenuhi dengan orang-orang yang berkunjung pada akhir pekan ini.


Sebenarnya mereka berdua bisa saja membeli makanan dan minuman dari dalam mall. Tapi sudah menjadi rahasia umum, kalau makanan di dalam mall lebih mahal daripada di luar mall. Karena itu mereka memutuskan untuk beristirahat di cafe yang paling dekat dengan mall.


Kedua pemuda itu memesan makanan dan minuman mereka ke pelayan cafe yang segera datang sesaat mereka telah memilih tempat duduk di cafe yang sejuk karena AC di dalam ruangan cafe ini. Setelah mencatat pesanan dari kedua pemuda itu, pelayan segera pergi ke area belakang untuk menyampaikan pesanan kedua pemuda itu kepada koki.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, kedua pemuda itu bercakap-cakap singkat. Sebagian besar percakapan mereka mengenai sekolah mereka. Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang, pesanan mereka berduapun tiba.


Mereka berduapun melahap hidangan yang mereka pesan, sambil melanjutkan percakapan yang telah mereka mulai sebelum pesanan mereka datang.


"Haah... Coba saja kantin sekolah menyediakan makanan seperti ini." Salah satu pemuda menggerutu mengenai masalah makanan di kantinnya sesaat ia menelan pasta yang ia pesan. Pemuda itu memiliki rambut hijau. Proporsi badannya kurus, dengan tinggi badan yang setara dengan pemain basket. Kata 'jangkung.' adalah kata yang cocok untuk mendeskripsikan penampilannya. Pemuda yang baru saja menggerutu itu adalah teman sekelas Mira, Dani kalpataru.


"Tidak ada gunanya mengomel masalah itu Dani." Balas pemuda yang duduk di depannya. Ia memiliki rambut hitam tipis, dengan tinggi yang setara dengan Dani dan memiliki tubuh berotot. Dia adalah sahabat Dani, Raihan Adaka.


"Juga, apakah kau tidak lelah mengomel masalah makanan di kantin terus-menerus?" Sambung Raihan, sebelum menyendok sesuap nasi goreng ke mulutnya.


"Seseorang pernah berkata. Berharaplah terus-menerus hingga harapan mu itu tercapai. Karena itu aku tidak lelah membahas masalah ini." Jawab Dani.


"Perkataan siapa itu?" Tanya Raihan dengan wajah skeptis. Seumur-umur ia hidup, ia tidak pernah mendengar perkataan itu dari seseorang sebelumnya.


"Kata ku." Jawab Dani, menyeringai lebar.


Mereka berhenti bercakap sebentar, untuk menyantap makanan mereka sebanyak beberapa suap. Setelah selesai menelan, mereka meminum minuman mereka seteguk untuk menyegarkan tenggorokan. Percakapan ringan antara dua remaja itupun dilanjutkan sekali lagi.


Kali ini, topik pembahasannya mengenai hubungan.


"Raihan, bukankah kau terlalu patuh kepada Mira? Tidak perlu sampai senurut itukan padanya." Tanya Dani dengan khawatir.


Dani khawatir terhadap kawannya, karena terlalu menuruti perkataan seorang gadis di kelas mereka. Memang gadis itu sudah membantu Raihan menyelesaikan masalahnya, tapi tetap, Dani khawatir dengannya. Terlebih saat gadis itu mengakui kalau dia telah mencuci otak Raihan dengan memberikannya sugesti secara beruntun.


Dani tidak ingin, temannya ini menjadi babu dari seseorang karena pengaruh cuci otak yang bahkan temannya sendiri saja tidak sadari.


"Yah. Tidak ada salahnya bukan? Dia sudah membantu ku. Lagipula dia tidak menyuruh ku melakukan hal yang diluar nalar." Jawab Raihan.


"Tapi tetap saja... Bukankah kau terlalu nurut padanya."


"Dia bahkan mengaku mencuci otakmu kau tahu..." Tambah Dani di dalam kepalanya.


"Kalau itu aku akui sih... Tapi entah kenapa, aku tidak bisa menolak perintahnya. Aku bahkan akhir-akhir ini selalu memikirkan dia, entah apa yang salah dengan otakku saat ini." Ucap Raihan dengan senyum di wajahnya.


"Hmmm...?" Dani tidak bisa mengabaikan maksud perkataan sahabatnya itu.


Ia menginspeksi lebih teliti ekspresi dari sahabatnya.


Sahabatnya yang bernama Raihan itu, tersenyum kecil dengan ekspresi malu-malu, bahkan ada sedikit rona berwarna merah di pipinya. Tatapannya seperti tidak melihat kearah makanan yang ia makan, tapi menatap jauh seolah-olah melihat ke masa depan. Seakan-akan ia sedang mengimajinasikan sesuatu...

__ADS_1


"Tidak mungkin... Tidak mungkin..." Kepala Dani berusaha untuk menolak apa yang ia lihat saat ini, tapi kenyataan terpampang jelas di depan wajahnya. Sehingga, otaknya tidak mampu lagi menolak atas apa yang dialami oleh kawannya saat ini.


"Pfft..." Dani berusaha menahan tawanya. Tapi tidak bisa, tawanya akhirnya lepas dari mulutnya. Membuat orang-orang yang ada di cafe seketika melihat ke arah tempat kedua pemuda ini duduk.


Raihan melihat Dani dengan tatapan ragu, tidak mengerti mengapa sahabatnya ini tiba-tiba tertawa lepas.


"Ahahahahahaha.... Hah... Hah... Haaah..." Setelah tertawa selama beberapa detik, Dani mengumpulkan nafasnya kembali. Menenangkan diri dari tawanya.


"Raihan... Kau suka, Mira bukan?" Tanya Dani dengan seringai di wajahnya.


"Hah!? Ti-tidak! Aku hanya merasa utang budi padanya!" Ucap Raihan, menyangkal.


Tapi ekspresi wajahnya mengindikasikan sebaliknya. Wajahnya saat ini memerah seperti tomat.


Dani hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan senyum mengejek di wajahnya, seolah-olah ia menerima sangkalan dari Raihan.


"Ya... Aku mengerti... Tidak perlu heboh seperti itu."


"Aku bilang tidak!"


"Mmm... Aku tahu Raihan. Kau tidak menyukainya... Aku benar-benar mengerti." Ucap Dani dengan nada mengejek.


"Ternyata tidak ada gunanya aku khawatir." Pikir Dani dengan senyum lega.


Dani berpikiran kalau Raihan tidak bisa menolak perkataan Mira karena efek cuci otak Mira masih melekat pada sahabatnya itu. Tapi setelah mengetahui alasan kalau sahabatnya itu selalu nurut perkataan Mira dikarenakan ia memendam perasaan romantis padanya, membuat rasa khawatir Dani menguap layaknya air yang terkena hawa panas.


Satu hal yang tidak di sadari oleh Raihan dan Dani. Yaitu perasaan romantis yang saat ini Raihan pendam kepada Mira, sebenarnya perasaan itu adalah efek kelanjutan dari cuci otak yang ia terapkan. Yang sebenarnya efek ini juga tidak bisa di duga oleh Mira.


"Lupakan tentang ku. Bagaimana dengan mu? Apakah hubungan mu dengan Alya lancar?" Tanya Raihan.


"...... Maaf. Aku tidak ingin membahas mengenai masalah itu...." Dani terdiam sejenak, sebelum membalas dengan senyum sedih.


"..... Apakah ada masalah? Kau bisa cerita padaku."


".... Sebenarnya, aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi semenjak masuk akademi. Bahkan setelah keliling akademi pun, aku tidak pernah melihatnya lagi." Jawab Dani dengan lesu.


"Ooooh... Jadi itu alasan mu keliling nggak jelas waktu pertama kali masuk akademi. Untuk mencari Alya?"


"Memangnya ada alasan lain?"


"Tapi kau masih ada nomornya bukan?" Tanya Raihan.


"Dia tidak pernah membalas Chat ku, dan tidak pernah mengangkat telepon ku. Pasti orang tuanya yang memegang smartphone miliknya."


"Begitu ya... Yah, apapun itu, telinga ku selalu terbuka untuk mendengar curhatan mu kawan."


"Thanks, my bro."


Dengan begitu, mereka melanjutkan menghabiskan makanan mereka dengan suasana yang agak canggung.

__ADS_1


__ADS_2