My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 73 Berkumpul kembali


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang medis, aku segera memasang sepatu ku yang terletak di rak sepatu yang ada di depan ruang medis. Raihan yang ikut bersama ku, mengikuti ku, memasang sepatunya yang ada di rak sepatu.


Sesaat aku dan Raihan keluar, ada seorang penjaga yang menjaga tidak jauh dari ruang medis, ia segera mendatangi kami. Faktanya ruang medis bukan hanya satu, ada beberapa ruang medis lain. Mungkin saja Michael di bawa ke ruang medis lain, mengingat aku tidak menemukannya saat di ruang medis barusan. Aku bisa menebak kalau setiap kelas memiliki ruang medis masing-masing.


Penjaga yang menjaga ruang medis, menanyai kami beberapa pertanyaan, sebagian besar pertanyaan berhubungan dengan kondisi fisik kami, penjaga itu juga melakukan pemeriksaan singkat terhadap tubuh kami. Setelah yakin kalau kami dalam kondisi baik, penjaga ruang medis mempersilahkan kami pergi.


"Ikut saya, saya akan mengantar ke lorong tempat kawan kelas kalian berada." Penjaga ruang medis itu menawarkan pada kami, sebelum kami benar-benar pergi.


Kami dengan senang hati menerima tawaran itu, berjalan mengikuti penjaga itu tepat di belakangnya.


Penjaga ruang medis tidak berjalan ke arah luar lorong, malahan ia pergi masuk makin ke dalam lorong. Apapun itu, kami berdua tetap mengikutinya.


Saat kira-kira kami sudah berjalan sekitar satu setengah menit kedalam lorong, penjaga yang mengantar kami menyentuh lorong bagian kiri, seketika dinding lorong terbuka mengungkapkan jalan lain, tersembunyi di balik dinding lorong.


Sedikit terkejut, aku terdiam sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan langkah kaki ku mengikuti langkah dari penjaga ruang medis.


"Lorong ini adalah lorong yang menghubungkan lorong satu dengan lorong lain. Lorong ini di buat tepat di bawah arena."

__ADS_1


Membuktikan perkataan penjaga itu, lorong yang kami lalui saat ini mulai menurun, tidak jauh hanya sekitar beberapa meter. Saat turunan telah selesai, jalanan kembali menjadi lurus, berjalan sedikit kami menemukan persimpangan yang memisah lorong menjadi 8 jalan terpisah di setiap sisinya. Kami mengambil jalan kiri diagonal yang ada di depan kami. Kami terus berjalan di lorong yang memiliki penerangan remang-remang yang berasal dari lampu tidur ini. Selama beberapa menit kami terus berjalan, hingga akhirnya lorong yang kami lalui mulai menanjak. Menaiki lorong yang menanjak ini hingga lorong kembali menjadi lurus seperti semula, kami terus berjalan selama beberapa saat, hingga akhirnya penjaga menyentuh dinding lorong, mengungkapkan jalan tersembunyi seperti sebelumnya.


"Ini adalah lorong tempat kelas A berada. Lokasinya tepat di depan ruang istirahat kalian." Ucap penjaga itu, sebelum akhirnya mempersilahkan kami melewati belahan dinding yang berbentuk seperti sebuah pintu. Sesaat kami melewati belahan dinding itu, seketika belahan dinding itu menutup kembali seperti pintu otomatis.


Aku menginspeksi dinding sedikit, tidak ada sisa belahan sedikitpun. Mengingat dinding yang terbelah barusan, aku terkesan dengan struktur bangunan ini.


"Semangat Dani!"


Aku dapat mendengar gema suara orang dari arah kanan ku. Suara itu sangat ku kenal, itu adalah suara seorang gadis, kawan sekelas ku.


"Alexandria..." Gumam Raihan.


Aku berjalan, mengikuti asal suara barusan, di ikuti oleh Raihan. Terdapat cahaya terang di depan kami, menandakan kalau di depan kami adalah ujung dari lorong, yang langsung membawa kami ke arena.


Mempercepat langkah ku, aku terus berjalan hingga aku dapat melihat ujung lorong, yang tepat di ujungnya berdiri dua orang gadis yang sedang melihat ke arah arena dengan begitu fokus.


"Kami kembali..." Ucap ku, sesaat aku berada di belakang kedua gadis itu.

__ADS_1


"Hah!" Tubuh mereka berdua tersentak, berbalik dengan cepat, menghadapku dengan ekspresi terkejut.


"Mi-Mira...? R-Raihan...? Bagaimana kalian bisa muncul dari belakang?" Tanya gadis berambut pirang, Natasha.


"Kami melewati jalan rahasia, jalan rahasia itu ternyata menghubungkan semua lorong yang ada di arena ini." Jawab ku.


"Eeeh... Rupanya ada jalan seperti itu ya..." Kata Alexandria terkesan.


"Kita kesampingkan itu dulu, bagaimana pertandingan Dani melawan Reiko?"


Tanyaku, walaupun aku bisa langsung melihat pertandingan Dani, aku tetap menanyai mereka. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik terjadi, sebelum aku datang.


Aku melihat saat ini, Dani benar-benar mendesak Reiko, ia menyerangnya dengan batang pohon buatannya. Reiko harus menghindar, tanpa bisa merapalkan mantranya.


"Dani melakukan hal yang sama dengan mu," Kata Natasha. "Dia langsung menyerang Reiko sebelum dia bisa menceloteh sembarangan."


Orang normal manapun pasti akan menyerangnya saat dia menunjukkan celah. Hanya orang bodoh, yang membiarkannya mengeluarkan celotehannya, terlebih lagi sampai menunggu dia menyelesaikan mantranya... Juga, apakah Reiko tidak belajar dari kesalahannya? Dia melakukan hal yang sama seperti melawanku...

__ADS_1


Aku terus menyaksikan pertandingan Dani melawan Reiko, harusnya dari segi sihir juga kemampuan, Dani berada di atas angin. Dia bisa mengungguli Reiko dari berbagai aspek, tapi aku juga harus memikirkan informasi yang bocor dari Dani... Informasi bocor ini, bisa saja menjadi bumerang untuk kami.


__ADS_2