
"Pertandingan selanjutnya! Kelas A, melawan Kelas B! Apakah kelas A bisa menunjukkan kemenangan yang begitu mudah seperti sebelumnya!? Ini layak untuk disaksikan para hadirin sekalian!" Ucap pembawa acara, membakar semangat penonton.
Nampaknya kata-katanya berhasil untuk membakar lebih jauh semangat penonton, seluruh penonton bersorak dengan sangat keras.
"Mulai!" Kata-kata pembawa acara menggema diikuti dengan suara lonceng yang dipukul, menandakan babak ketiga dimulai.
Sesaat lonceng berbunyi, Raihan segera mengaktifkan sihir Transformasinya, membuat seluruh tubuhnya berbubah menjadi banteng yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari banteng normal. Untungnya, pakaian Raihan saat ini didesain untuk ikut berubah mengikuti pakaian tubuhnya, sehingga pakaian yang ia kenakan tidaklah robek, melainkan melebar mengikuti bentuk tubuhnya. Walaupun saat ini ia terlihat aneh, dikarenakan wujud bantengnya saat ini tengah mengenakan pakaian seragam, membuat pemandangan tidak wajar melihat banteng yang mengenakan pakaian.
Lawan Raihan adalah seorang gadis dari kelas B, Ema Knežević.
Gadis berambut coklat itu terbalak kaget, seolah-olah tidak menduga situasi yang terjadi saat ini.
Raihan, menyeret-nyeret kaki kanan bagian belakangnya ketanah, bersiap-siap untuk menyeruduk Ema Knežević dengan tanduknya yang keras lagi berujung tajam.
Mengetahui niat dari lawannya, Ema Knežević, segera mengumpulkan partikel Carlania, bersiap-siap mengaktifkan sihirnya.
"Moooo!" Raihan segera berlari, menerjang Ema Knežević, sambil mengarahkan ujung tanduknya kearah gadis itu.
Dari sudut pandang penonton, Ema Knežević, jelas begitu dirugikan dari gerakan pertama Raihan, yang saat ini berlari, untuk menyeruduknya.
Ema Knežević segera menyiapkan cara untuk mencegah serangan Raihan, ia segera mengaktifkan sihirnya, mempengaruhi molekul tanah untuk membentuk sebuah dinding yang bertujuan untuk menangkis serangan Raihan. Dinding tanah yang diciptakan Ema Knežević, berjarak tiga meter dari tempat ia berdiri.
Alasan Ema Knežević melakukan hal ini, kemungkinan besar untuk mengantisipasi kalau-kalau dinding yang ia ciptakan tidak mampu menahan serudukan dari tanduk Raihan yang dari tampilannya saja terlihat cukup kuat.
Prediksi dari Ema Knežević, ternyata akurat, dinding yang ia ciptakan, tidak mampu menahan serudukan dari Raihan. Dinding itu hancur berkeping-keping, laju lari Raihan juga tidak melambat, ia terus berlari kearah gadis yang nampak lemah itu.
"Magic Set. Bubble!"
Ema Knežević, menciptakan bola air berdiamer satu meter, yang segera mengurung dirinya sendiri. Ia melakukan hal ini, dengan pertimbangan cepat dikepalanya untuk menggantikan dinding yang harusnya menghentikan serangan Raihan. Pertimbangan Ema Knežević sangatlah tepat. Saat tanduk Raihan tinggal semeter lagi mengenai tubuhnya, tanduk itu berhasil dihentikan dengan gelembung air yang 360° menutupi seluruh tubuhnya.
"Ooooh... Langkah yang bagus dari kelas B. Dia berhasil menahan serangan anggota kelas A dengan sihir airnya... Tunggu! Kalian lihat saudara-saudara! Anggota kelas B, terlempar menjauh! Bagaimana bisa! Bagaimana bisa serangan dari anggota kelas A, membuat anggota dari kelas B yang didalam gelembung air terlempar!? Apakah ini menandakan kalau serangan anggota kelas A begitu kuat!?"
Seperti yang dikatakan oleh pembawa acara, Ema Knežević, terlempar beberapa meter, untungnya ia tidak sampai terlempar hingga ke ujung arena. Balon air yang ia ciptakan segera pecah saat balon itu mendarat di atas tanah, mengungkapkan Ema Knežević yang berada didalam balon itu yang saat ini sudah berdiri tegak lagi, dengan tubuh yang sudah basah kuyup.
"Aneh." Pikir Raihan. "Harusnya balonnya akan langsung pecah saat tersentuh benda padat berbentuk runcing. Ini terbukti balonnya seketika pecah saat menyentuh tanah dengan keras, tapi mengapa balonnya tidak pecah saat ku seruduk? Juga tekstur balonnya tadi terasa padat saat tersentuh dengan tandukku. Pasti ada bahan lain yang ia gunakan untuk membuat balonnya memiliki tekstur seperti itu."
Raihan tidak melanjutkan serangannya, ia menginspeksi kejadian aneh yang sebelumnya terjadi saat ia menyerang balon air Ema Knežević dengan tanduknya.
Sementara Raihan menginspeksi, Ema Knežević menghela nafas panjang dengan ekspresi lega.
"Untung saja aku berhasil menciptakan molekul khusus yang menjadi pelindung airku. Membuat air yang kuciptakan bersifat seperti non Newtonian Fluid... Tetapi, aku tidak menyangka kalau anak terakhir keluarga Adaka mampu menggunakan sihir Transformasinya." Pikir Ema Knežević, sembari menggunakan sihir angin untuk mengeringkan pakaiannya.
Walaupun terdengar sesimple merubah sifat cairan menjadi lebih padat dengan menambah molekul khusus hingga merubahnya menjadi Non Newtonian Fluid. Sebenarnya hal yang dilakukan Ema Knežević tidak semudah kedengarannya. Walaupun bersifat lebih padat, Non Newtonian Fluid masihlah cairan, yang apabila di sentuh secara perlahan, benda padat masih dapat menembus cairan itu layaknya cairan pada umumnya. Untuk bisa benar-benar menghalangi serangan Raihan, Ema Knežević harus sedikit memundurkan posisinya, sehingga membuat serangan Raihan, seperti mengetuk dengan cepat air yang melindungi tubuhnya, dengan ini, cairan yang digunakanpun akan terasa seperti benda padat.
Setelah tubuhnya yang basah telah kering sepenuhnya, Ema Knežević tersenyum kecil. Iapun dengan santainya memulai percakapan dengan lawannya.
"Raihan Adaka. Aku dengar, kau tidak bisa mengendalikan sihir transformasi mu. Tapi rupanya aku salah? Kau benar-benar bisa mengendalikan sihir transformasi mu bukan?"
"...."
Raihan tidak menjawab, ia menatap kearah Ema Knežević dengan tatapan tajam. Raihan seakan-akan berbicara dengan tatapan matanya, yang jika diterjemahkan akan seperti ini. "Bersiaplah! Aku akan menyerang mu lagi!"
Mengerti maksud dari tatapan Raihan, Ema Knežević dengan panik menenangkan Raihan.
"Tu-tunggu sebentar. Tidak perlu seserius itu! Ini hanyalah pertandingan murahan antar kelas! Tidak ada hadiah spesial jika kau memenangkan turnamen ini."
__ADS_1
"..." Sekali lagi Raihan tidak mengatakan apapun, dari gestur tubuhnya, ia sekali lagi seperti mengindikasikan untuk menyerang Ema Knežević lagi.
"Tidak mau bicara ya... Baiklah, jika kau hanya ingin melawan ku. Tunggu apa lagi? Silahkan maju!" Ucap Ema Knežević dengan nada mengejek, bermaksud memprovokasi Raihan.
Raihan sudah diajarkan oleh Mira untuk menahan emosinya, oleh karena itu saat diprovokasi, Raihan tidak segera menyerang dengan membabi buta. Ia menyerang dengan serudukan yang tepat, akurat, lagi presisi. Membuat Ema Knežević mau tidak mau, menghindari setiap serangan yang Raihan lancarkan.
Serangan yang dilakukan Raihan jujur saja terasa monoton, seperti menyeruduk, mengayunkan tanduknya kesamping kiri dan kanan, hingga mengayunkan tanduknya sekuat mungkin secara vertikal. Tapi serangan monoton ini nampaknya cukup efektif untuk melawan Ema Knežević. Terbukti dari seberapa kesusahannya ia mengatasi semua serangan Raihan itu.
"Ugh... Serangannya cukup merepotkan." Pikir Ema Knežević.
Walaupun ia berpikiran seperti itu, pada kenyataanya ia mulai terbiasa dengan pola serangan Raihan.
Menyadari hal ini, Raihan segera merubah pola serangannya, kali ini ia menggunakan tubuh bantengnya yang kuat untuk menyenggol tubuh Ema Knežević dengan sekuat tenaga.
"Kyaaa!" Perubahan serangan yang mendadak ini cukup efektif. Gadis itu hampir tidak bisa menghindari serangan Raihan, membuatnya harus menangkis serangan Raihan dengan menggunakan sihir tanah. Tapi karena serangan Raihan begitu kuat, tanah yang ia gunakan untuk menghalangi serangan Raihan, hancur, membuat serangannya berhasil mengenai tubuh gadis itu.
"Kelas B nampaknya terdesak para hadirin sekalian! Aku mulai merasa pertandingan ini tidak adil!" Ucap pembawa acara, mengomentari Ema Knežević yang terlempar, terjatuh tersungkur ditanah setelah terkena serangan Raihan.
Untungnya, Ema Knežević adalah manusia yang juga ikut berevolusi akibat partikel Carlania, membuat serangan Raihan tidak berdampak serius.
Raihan tidak menghentikan serangannya, walaupun Ema Knežević tersungkur ditanah. Ia mengayunkan tanduknya kearah gadis malang yang masih tersungkur ditanah itu. Untungnya Ema Knežević, segera berguling, menghindari serangan Raihan.
Boom! Boom! Boom! Boom!
Ema Knežević terus berguling, menghindari serangan beruntun dari Raihan. Saat sudah serangan yang kesembilan, Ema Knežević segera menggunakan sihir anginnya, membuat angin kencang yang menerbangkan tanah disekitar, membutakan mata Raihan.
Trik ini terbilang berhasil, mata Raihan yang sudah terkena debu yang berterbangan membuat serangannya menjadi amburadul, tidak terarah. Ini memberikan Ema Knežević kesempatan untuk mengambil jarak dari Raihan.
Pandangan Raihan yang terganggu akibat debu yang berterbangan bukan hanya membuat Ema Knežević, berhasil mengambil jarak dari Raihan, tapi juga memberikannya kesempatan untuk menyerang Raihan, dari celah yang ia hasilkan akibat pandangannya yang terganggu.
"Kulitnya sangat keras. Tidak ada gunanya untuk menyerang kulitnya. Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah dengan membuatnya tidak sadarkan diri. Dan satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah dengan cara mencederai otaknya secara langsung."
Dengan dirinya yang telah menjadi dua, Ema Knežević, menyerang Raihan dengan menggunakan sebuah palu berukuran satu meter, yang telah ia buat dengan sihirnya juga. Palu yang ia ciptakan hanya memiliki panjang satu meter, tapi nampaknya, palu yang ia buat cukup berat. Terbukti, dari cara gadis itu mengangkat palunya, yang harus ia angkat dengan tenaga dua orang.
Ema Knežević dengan Dopplegangernya mengayunkan palu berukuran satu meter itu kearah Raihan yang pandangannya masih terganggu karena debu dimatanya. Kelopak matanya masih tertutup, bahkan jika ia memaksa untuk membuka matanya, matanya terasa perih, membuatnya mau tidak mau harus terus menutup matanya.
Dengan senyum lebar diwajahnya, yakin kalau serangannya tidak akan bisa dihindari, Ema Knežević pun menyerang Raihan dengan palunya sekeras mungkin.
".... Tidak mungkin!" Ucap Ema Knežević dengan mata terbelalak.
Entah bagaimana caranya, Raihan dengan presisi, berhasil menghindari kepala palu yang terayun dari atas. Raihan mengambil beberapa langkah kebelakang, membuat palu yang diayunkan Ema Knežević dengan bersih memukul tanah dengan hantaman keras, membuat tanah yang sebelumnya menjadi tempat Raihan berpijak, retak.
"Moooo!"
Lalu entah bagaimana caranya lagi, kali ini Raihan berhasil membalas serangan Ema Knežević dengan menyeruduk gadis yang masih kesusahan mengangkat palu beratnya itu.
Ema Knežević yang asli menghindari serangan Raihan dengan meninggalkan palunya, yang terkena serangan bersih dari Raihan adalah Dopplegangernya. Dopplegangernya segera menghilang saat terkena serudukan brutal dari Raihan.
Mungkin saja alasan Raihan bisa menghindar dikarenakan insting hewaninya yang masih melekat dengan sel-sel tubuhnya, membuat ia secara ajaib bisa menghindar serangan fatal Ema dan juga bisa menyerang balik gadis itu dengan insting hewaninya. Walaupun begitu, serangan Raihan yang kehilangan kesadaran akibat insting hewaninya itu benar-benar tidak bisa ditolerir lagi....
"Apakah hal ini diperbolehkan!? Walaupun hanya doppleganger anggota kelas B tertusuk dengan tanduk dari anggota kelas A! Harap para pihak penyiaran sensor hal sadis ini!!! Hmm.... Saya baru saja mendapat pesan dari kepala sekolah. Beliau mengatakan, selagi bukan tubuh asli yang terkena, hal ini diperbolehkan!!!"
"BOOOOOOOOOO!!!!"
***
__ADS_1
"BOOOOOOOOO!!!!"
Aku yang berada dilorong diujung arena, menyaksikan pertandingan antara Raihan dan anggota dari kelas B, seorang perempuan bernama Ema.
Pertarungan Raihan jika dari sudut pandang orang awam, dia benar-benar mendominasi pertandingan. Bahkan dia dari tadi mendesak Ema dengan serangannya yang presisi.
Saking mendominasinya Raihan dalam pertandingan kali ini, para penontonpun sampai menganggap pertandingan kali ini sama sekali tidak seimbang, membuat Raihan terkesan sebagai pembuli di dalam arena. Ini semua terbukti dari teriakan ejekan penonton yang menggetarkan seluruh arena saat ini.
"Nampaknya sudah jelas siapa yang akan menang pada pertandingan kali ini." Ucap Dani.
"Mmm..." Angguk Alexandria, setuju dengan Dani. "Jelas sekali kalau Raihan yang akan menang." Sambungnya.
"Tidak.... Raihan akan kalah dalam pertandingan kali ini. Gadis itu dari tadi mempermainkan Raihan."
Itu benar, dari sudut pandang orang awam, jelas sekali Raihan yang mendominasi jalannya pertandingan, tidak heran kalau orang-orang berpendapat kalau dia yang akan menang. Tapi jika aku melihat dari sudut pandang ku, jelas sekali kalau gadis yang dilawan Raihan tidak mengeluarkan kemampuannya yang sebenarnya, ia sedari awal mempermainkan Raihan. Aku bisa menduga ini saat gadis bernama Ema Knežević menggunakan balon air untuk menangkis serangan Raihan. Walaupun nampak simple, hal yang ia lakukan sebenarnya sangat rumit, perlu pemahaman mengenai struktur molekul dan ketetapan perhitungan yang baik untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh gadis bernama Ema Knežević itu.
"... Mira... Kau serius?"
Saat aku menjelaskan alasan kekalahan Raihan, Natasha bertanya dengan ekspresi rumit. Ia mungkin tidak menduga kalau Raihan yang kelihatannya mendominasi pada kenyataanya sedang dipermainkan, membuat ia tidak yakin dengan pendapat ku.
"Aku juga tidak yakin. Lagipula ini hanyalah hipotesa ku saja."
"Mudahan Hipotesa mu kali ini salah." Ucap Dani.
"Aku juga berharap seperti itu." Harap ku didalam kepalaku. Mata ku terus tertuju pada pertandingan Raihan, untuk memastikan harapan dangkal ku ini dapat menjadi kenyataan dan membuktikan kalau Hipotesa ku sepenuhnya salah.
***
Pertandingan antara Ema Knežević dan Raihan Adaka berlanjut.
Raihan yang masih belum terlalu melihat dengan kedua matanya, mengandalkan insting hewaninya untuk menyerang Ema dengan tanduknya.
Dampak dari matanya yang masih belum bisa melihat dengan baik begitu terlihat dari pola serangan yang Raihan lancarkan. Pola serangannya sama seperti sebelumnya, hanya saja kali ini pola serangannya tidak lagi presisi sampai membuat kesusahan, serangannya kali ini amburadul, membuat Ema dapat dengan mudah menghindari setiap serangan Raihan.
Mudah disini bukan hanya Ema yang tanpa berkeringat mampu menghindari serangan Raihan, tetapi mudah disini jauh lebih mudah daripada itu. Saking mudahnya Ema menghindar, ia tidak perlu banyak melangkah untuk menghindari serangan Raihan, ia hanya mengambil setengah sampai dengan satu langkah hanya untuk benar-benar menghindari serangan Raihan. Sebegitu tidak berbahayanyalah serangan Raihan bagi Ema.
Ema melangkah kekiri beberapa centi untuk menghindari serudukan menusuk Raihan. Ema menunduk untuk menghindari ayunan tanduk horizontal milik Raihan, Ema memiringkan badannya ke samping kanan untuk menghindari ayunan kuat Vertikal dari tanduk Raihan. Tanduk Raihan tertancap ditanah, menandakan kerasnya ia mengayunkan tanduknya.
Ema tersenyum sombong saat melihat sosok menyedihkan Raihan.
"Ini sangat mengasyikkan." Pikir Ema. Saat ia mulai mempertimbangkan untuk bermain lebih lama lagi, ia kemudian merasakan hawa dingin yang menyerang punggungnya, Ema dengan refkel melihat kearah lorong tempat kelasnya berada. Disana ada ketua kelompok Ema, yaitu Reiko Kagami yang menatapnya dengan tatapan dingin, yang dinginnya melebihi nol derajat selsius....
"Berhenti main-main..." Itulah maksud dari tatapan dingin Reiko Kagami.
"Oke-oke....tidak perlu menatap ku seperti itu..." Balas Ema dengan tatapannya juga.
Menjawab arahan dari Reiko, Ema segera membuat lagi senjata palunya, yang nampak sangat berat. Hanya saja kali ini berbeda, palu yang nampak berat sebelumnya itu kali ini nampak ringan. Terbukti dari cara Ema yang mengayunkan palu itu layaknya patahan ranting pohon.
"Magic Set. Weight Control!" Ucap Ema, mengayunkan palu besarnya ke kepala Raihan yang masih tertunduk ditanah, berusaha untuk menarik tanduknya yang masih tertancap ditanah.
Bang!
Berbanding terbalik saat Ema mengayunkan palu besar itu, suara yang dihasilkan dari hantaman palu itu sungguh nyaring, seakan-akan berat palu itu bertambah berkali-kali lipat.
"Mooooo!" Raihan mengeluarkan lenguhan kesakitan, bersamaan dengan jatuhnya tubuhnya ketanah dengan keras disertai dengan awan debu yang beterbangan.
__ADS_1
"Pemenang pada ronde kali ini adalah Kelas B!" Suara bersemangat pembawa acara memecah keheningan sesaat Raihan dengan wujud bantengnya jatuh ketanah. Ini memastikan kemenangan Ema Knežević.