My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 48 Diskusi


__ADS_3

Pemberitahuan mendadak yang dibuat oleh pihak Akademi ini tentu saja mengejutkan seluruh murid kelas satu. Walaupun begitu mendadak, kami sebagai murid tidak bisa melakukan protes. Jalan satu-satunya adalah, menerima semua hal ini, dan memikirkan langkah selanjutnya untuk memenangkan turnamen ini. Atau begitulah yang dikatakan instruktur kami.


Walaupun ia dengan yakin memberitahu kami untuk memenangkan turnamen yang ada didepan mata kami, aku sebagai ketua tim, memikirkan hal ini dari sudut pandang lain yang lebih realistis.


Aku memikirkan, tidak peduli apapun strategi yang kami gunakan, kami tidak memiliki kesempatan untuk menang.


Aku berpikiran seperti ini bukan hanya karena perasaan pesimis biasa. Ada alasan kuat mengapa aku sampai pada kesimpulan ini.


Setidaknya ada dua alasan yang membuat ku berpikiran seperti ini.


Pertama kami kalah jumlah. Dan kedua kami kekurangan informasi.


Memang dari beberapa buku sejarah yang pernah kubaca, jumlah bukanlah faktor utama kemenangan dalam berperang. Tapi jika ku telusuri lebih lanjut, pasukan yang kalah jumlah yang didalam sejarah berhasil memenangkan peperangan, memiliki pasukan yang mumpuni. Mereka juga diuntungkan dari medan pertempuran, juga faktor lainnya, seperti pasukan musuh yang lebih banyak tidak memiliki pasukan yang mumpuni seperti pasukan yang kalah jumlah itu. Bisa dikatakan, pasukan yang kalah jumlah tapi bisa memenangkan perang di dukung juga dari berbagai macam faktor.


Bahkan sebagian besar sejarah, selalu menceritakan pasukan yang menang jumlah selalu menang dalam pertempuran. Jadi jika aku berpikir secara realistis, kami benar-benar sudah tidak memiliki harapan dikarenakan jumlah murid kelas A yang sedikit.


Alasan kedua tidak kalah pentingnya. Kami kekurangan informasi. Kami tidak tahu apapun mengenai musuh. Dalam buku sejarah yang pernah kubaca dulu, juga menceritakan, informasi adalah faktor paling penting dalam memenangkan perang.


Kekurangan informasi, dan kalah jumlah... Dari sudut pandangku, kami benar-benar tidak memiliki harapan untuk menang.


Bahkan saat ini, instruktur kami sama sekali tidak memikirkan cara untuk mengatasi masalah ini. Ia dari tadi hanya menjelaskan berbagai macam strategi yang dari sudut pandangku, sama sekali tidak berguna.


Sebagai contoh, Rotasi pemain, cara menjebak musuh saat melakukan permainan merebut bendera, dan cara memenangkan duel dengan musuh. Ayolah.... Itu semua strategi dasar! Apakah dia tidak memiliki cara yang lebih ampuh!?

__ADS_1


"Saran strategi dari saya cukup sampai disini. Ketua tim, mohon susun strategi yang menurut mu cocok. Kita masih memiliki waktu sampai sore sebelum sekolah berakhir."


Setelah instruktur kami mengatakan hal itu, kami semua menyusun meja kami menjadi bentuk bundar.


"Jadi, ketua. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Alexandria, membuka ruang diskusi.


"Kita tidak ada harapan untuk menang." Jawab ku.


Jika mereka memang ingin serius ikut turnamen ini, aku harus menampar mereka dengan fakta yang ada. Tidak ada gunanya memberikan harapan palsu pada mereka, karena itu, aku tanpa basa-basi langsung mengatakan apa yang kupikirkan. Sesaat aku mengatakan itu, semua orang membuka mulutnya dengan wajah terpelongo.


Tapi aku tidak berhenti... Aku terus melanjutkan perkataan ku.


"Kita kekurangan orang. Walaupun pak Jhon mengatakan jumlah bukanlah segalanya, tapi pada kenyataannya, dalam perang, jumlah adalah faktor yang paling penting dalam memenangkan pertempuran. Sama halnya dengan pertandingan kali ini. Aku harap kalian bisa mengingat kejadian saat kita praktek sihir, jumlah musuh yang ditambah dengan sihir 'Duplicate' saja kita kewalahan menghadapinya. Apalagi sekarang, kita melawan orang yang mungkin saja memiliki kemampuan yang setara dengan kita, yang jumlahnya lebih banyak, jelas kita tidak ada harapan untuk menang."


Aku menyimpan fakta kita kalah melawan android sewaktu praktek sihir dikarenakan kekuatan android yang lebih unggul dari manusia normal. Aku menyimpan fakta ini untuk mengingatkan mereka pada kenyataan, dan tidak sepenuhnya berpegang pada pemikiran ideal mereka.


Aku tahu pasti ada yang akan menyangkal kata-kataku. Aku bisa menebak yang menyangkal pertama adalah Alexandria, yang memiliki motto keluarga 'menang!'. Sebagai orang yang memegang motto itu, jelas dia yang akan pertama kali menyangkal perkataanku.


"Nampaknya kami salah memilih mu!"


Aku melihat orang yang menyangkalku dengan wajah terpelongo. Orang yang pertama kali menyangkal ku bukanlah Alexandria, tapi Dani. Yang lebih parah lagi dia langsung emosi. Dia memukul meja dengan keras, sembari mengeluarkan kata-katanya yang layaknya desisan ular.


"Mengapa kau begitu emosi?" Kata ku. "Aku hanya mengungkapkan fakta disini... Juga kau tahu personaliti ku bukan? Kau harusnya bisa menebak bagaimana cara berpikirku."

__ADS_1


"Cih... Sudah ku duga, kita memang tidak cocok!" Kata Dani setelah mendecakkan lidahnya.


"Sejujurnya kita bisa menang kalau kita beruntung." Kataku dengan ketus.


Untuk orang yang berpikiran realistis sepertiku mengatakan kita menang jikalau beruntung adalah kata-kata sarkas yang begitu jelas. Ini seperti bermain judi, yang presentase kemenangan di bawah satu persen. Sebegitu tidak menguntungkannyalah situasi kami saat ini.


"Sebenarnya Mira, aku tidak setuju dengan kata-kata mu. Kita tidak bisa tahu sebelum mencobanya." Kali ini orang yang kuduga yang akan menyangkal ku untuk pertama kali berbicara, siapa lagi kalau bukan Alexandria.


"Walaupun aku tidak setuju dengan perkataan mu, tapi aku tidak bisa menyangkal semua yang kau katakan. Karena kau mengungkapkan fakta pada kami." Sambungnya.


Sepertinya kejadian dengan Raihan betul-betul merubah gaya pikir Alexandria sedikit. Ia yang sekarang sudah bisa menerima realita dengan lapang dada. Yang aku heran disini Dani, sebenarnya ia sudah tahu kepribadian ku dan juga sudah tidak bisa menutup mata akan kenyataan yang ada, tapi entah kenapa kepribadiannya yang lama kembali. Ia lebih mementingkan emosinya ketimbang logikanya.


Aku menggunakan kemampuan berpikir paralel ku untuk menemukan keanehan dalam perilaku Dani. Dan tidak butuh lama, aku bisa mengetahui alasannya... Tapi tidak ada gunannya membawa hal ini sekarang.


"Haaah... Kita mungkin bisa menang, tapi peluangnya sangat kecil, bisa dikatakan lima persen. Itupun di dukung faktor keberuntungan. Jika kalian mau mengikuti perkataan ku, mungkin saja kita bisa menang. Tapi seperti yang kubilang, presentase kemenangan hanya lima persen. Bagaimana? Apakah kalian mau ikut dengan rencanaku?"


"Lima persen ya..." Alexandria berguman sambil mencubit bibir bagian bawahnya. "Baiklah... Ini patut dicoba. Kami akan mengikuti rencana mu. Jadi apa yang harus kami lakukan?"


"Mengumpulkan informasi." Kataku dengan senyum kecil yang menghiasi wajahku.


Zaman dahulu, seseorang bernama Alan Turing pernah memecahkan kode musuh negaranya pada masa perang dulu, yang terjadi pada abad ke-20. Pria bernama Alan Turing ini berhasil memecahkan kode yang dibuat oleh mesin paling canggih penyusun kode pada masa itu, yang bernama Enigma.


Alan Turing memecahkan kode musuh dengan mesin ciptaannya yang mampu memecahkan kode Enigma. Berkat mesin itu Alan Turing berhasil mendapatkan informasi base musuh yang terenkripsi dengan kode itu. Berkat informasi yang ia dapatkan negaranya mampu mengalahkan negara musuh dan mengakhiri perang.

__ADS_1


Dari cerita ini dapat disimpulkan dua hal, betapa pentingnya mencari informasi lawan, dan betapa bahayanya apabila informasi bocor kepihak lawan.


Karena itu, langkah pertama yang harus kami lakukan adalah mencari informasi lawan sebanyak-banyaknya, dan sebisa mungkin mencegah informasi tentang kami bocor kepihak lawan.


__ADS_2