My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 08 Refreshing


__ADS_3

"Tunggu aku di luar. Aku ingin ganti baju sebentar."


Setelah Natasha menghabiskan teh nya, Mia mengambil cangkir teh yang kosong dan menaruh nya di atas nampan, kemudian ia meminta kami untuk menunggu nya bersiap-siap. Aku dan Natasha melakukan apa yang ia minta dan menunggu Mia di depan rumah.


Saat keluar rumah, Natasha menggunakan suatu sihir untuk mengendalikan darah nya yang keluar dari telapak tangan nya. Aku melirik sekilas ke telapak tangan nya, dan di sana ada luka sayatan kecil, ku asumsikan kalau dari sanalah darah nya keluar. Natasha mengendalikan darah nya untuk membentuk sebuah kotak berukuran sepuluh sentimeter. Dari kotak darah itu, ia memasukkan telapak tangan nya, ia kemudian menarik telapak tangan nya keluar dengan sebuah payung. Ia segera membuka payung yang di ambil dari kotak darah, menghalangi sinar matahari yang menyorot dari atas langit.


"Aku tidak tahu kalau darah mu bisa digunakan membuat ruang untuk menyimpan barang seperti itu."


"Kau terkejut?"


"Tidak juga."


"Hmm..."


"..."


"..."


Percakapan terhenti.


Apa yang bisa di harapkan dari intorvert seperti ku, yang tidak pandai berinteraksi dengan orang asing. Dan juga aku tidak tahu apa-apa tentang nya. Aku tidak tahu apa yang ia suka, hobi nya, bahkan aku tidak tahu tempat tinggal nya! Bagaimana aku bisa memulai percakapan jika topik pembicaraan saja tidak ada.


Mengetahui kondisi ku, Natasha berbaik hati membuka topik pembicaraan. Sebagai informasi, suasana menjadi hening selama kurang lebih lima menit.


"Adik mu lama sekali."


"Sudah kebiasaan seorang gadis. Jika melakukan persiapan pasti akan menghabiskan waktu yang lama."


"Hmmm... Lalu mengapa kau tidak lama saat bersiap-siap barusan."


"Aku orang yang sederhana. Aku tidak suka hal-hal yang ribet seperti itu."


Natasha tersenyum kecil mendengar jawaban ku. "Lagipula kau tidak perlu melakukan make up yang berlebihan. Penampilan mu yang sekarang sudah cukup."


"Entah kenapa, perkataan mu seperti sarkas di telinga ku."


"Aku tidak mengsarkas mu, aku bicara fakta Mira. Kau sudah sangat imut sekarang. Di tambah penampilan mu yang seperti anak kecil menambah nilai plus dari penampilan mu."


"Kau mengejek ku?"

__ADS_1


"Kenapa kau malah menangkap nya seperti itu? Sudah jelas aku memuji mu."


"Kata-kata mu terdengar seperti ejekan di telinga ku."


"Maaf membuat kalian menunggu!"


Mia, adikku keluar dari dalam rumah


Menghentikan Natasha yang hendak bicara untuk membalas perkataan ku.


"Baiklah Natasha, Kemana kita akan pergi?"


Aku tahu kita akan pergi ke mall, tapi itu terlalu ambigu, aku ingin tahu lebih spesifik ke mall mana kita akan pergi. Itulah maksud dari pertanyaan ku.


"Ke Mall terbaik di daerah sini." Natasha tersenyum, dengan jawaban yang ambigu, ia memberitahu tujuan dari refreshing kami.


***


Kami bertiga pergi ke jalan utama, atau bisa di bilang jalan raya, tempat kendaraan bermotor lalu lalang. Walaupun ku bilang tempat kendaraan bermotor lalu lalang, sebagian besar jalanan di pakai oleh pesepeda, kendaraan bermotor lalu lalang sedikit lebih keatas dari jalanan. Yap. Lebih sedikit keatas. Kendaraan bermotor pada pertengahan abad kedua satu ini semua nya melayang.


Walaupun semua kendaraan melayang, mereka semua melayang bukan nya tanpa arah. Masih ada trek yang mengatur kendaraan-kendaraan itu harus jalan. Jika waktu di tanah kendaraan-kendaraan itu mengikuti trek berupa aspal, saat kendaraan-kendaraan itu melayang, trek yang memandu jalan mereka berupa lampu neon yang mendekap di sisi kiri dan kanan kendaraan. Jika kendaraan-kendaraan itu keluar dari batas lampu neon, kamera pengawas yang telah terpasang di setiap sudut jalan akan memfoto pengemudi dengan resolusi kamera yang tinggi. Sehingga wajah pengemudi mobil tidak kabur saat terfoto.


Untuk anak seusia kami, kami mendapatkan uang saku yang terbatas. Dan untuk transportasi umum yang murah adalah bus, untuk taksi memerlukan biaya berkali-kali lipat dari bus. Atas dasar alasan ini, kami bertiga memilih untuk menaiki bus.


Kami bertiga pergi ke halte bus yang tidak jauh dari jalan keluar komplek perumahan, hanya berjarak dua menit berjalan kaki untuk sampai kesana. Sesampai nya kami di halte bus, sudah banyak orang di halte, menunggu kedatangan bus. Ini adalah hal yang wajar, banyak orang yang ingin pergi refreshing pada akhir pekan seperti ini, dan juga karena biaya yang murah banyak orang yang memilih untuk memakai bus. Walaupun di dalam bus kami akan berdesak-desakkan, itu adalah pengorbanan dari harga murah yang kami bayarkan.


Tidak berselang lama saat kami datang ke halte bus. Dari arah diagonal kanan kami, ada bus datang dengan kecepatan lambat yang turun dari atas langit menuju aspal jalan raya. Bus itu berhasil mendarat lima puluh meter dari halte bus, dari sana bus berjalan normal menggunakan roda nya di atas aspal untuk menuju halte bus tempat kami menunggu.


Bus berhenti tepat di depan halte, pintu bus terbuka otomatis. Kernet yang menunggu di depan pintu bus menertibtkan kami untuk masuk ke dalam bus secara teratur. Kernet bus mengutamakan orang tua selanjutnya adalah remaja seperti kami.


Saat kelompok remaja memasuki bus, kami bertiga berada di barisan paling belakang kelompok remaja. Natasha dan Mia memasuki bus tanpa ada masalah, tapi saat aku hendak memasuki bus...


"Adik kecil. Apakah adik kecil ingin duduk bersama kakak adik kecil atau duduk di tempat yang tinggi seperti itu?"


Kernet menunjuk kursi khusus anak kecil yang berada di barisan paling depan bus.


"Ah. Dia bersama-"


"Apakah boleh?"

__ADS_1


"Ya. Silahkan duduk di tempat yang adik suka."


"Terima kasih paman!"


Mia ingin menghentikan kernet yang menyuruh ku untuk duduk di kursi khusus anak kecil. Tapi aku memanfaatkan bentuk tubuh ku yang kecil dan kebaikan kernet itu, dan memilih untuk duduk di kursi khusus anak kecil yang terlihat lebih nyaman dari kursi khusus orang dewasa.


Dan juga kursi khusus orang dewasa berbentuk panjang khusus tiga sampai empat orang yang bisa duduk di situ, sedangkan kursi khusus anak kecil adalah kursi kecil yang hanya cukup untuk satu anak kecil. Untuk introvert seperti ku, berbagi tempat duduk dengan orang asing adalah NO besar! Karena itu aku memanfaatkan kesalah pahaman kernet untuk duduk di kursi VIP yang khusus untuk anak kecil.


Aku melirik ke arah Mia yang melihat ku dengan tatapan tidak percaya. Natasha yang berada di samping nya hanya menutup mulut nya, tubuh nya bergetar akibat berusaha menahan tawa nya.


Saat semua penumpang telah duduk, bus mulai berjalan. Saat sekitar seratus meter bus berjalan, bus mulai melayang dari tanah seperti pesawat yang lepas landas.


Saat bus sudah stabil berada di trek lampu neon, bus mulai terbang dengan kecepatan stabil tanpa ada kendala.


'Pemberhentian selanjut nya. Mall Nemian."


Di samping kursi penumpang ada sebuah tombol 'STOP!' Ini adalah tombol yang di gunakan untuk memberitahu supir untuk berhenti di tempat pemberhentian selanjut nya. Bus yang kami naiki akan berhenti di halte jika halte itu ada orang yang menunggu di sana. jika tidak ada yang menunggu, maka bus ini akan terus berjalan hingga sampai ke halte yang penuh atau setidak nya ada satu orang yang menunggu di halte itu. Tapi dengan Pengecualian, jika salah satu penumpang memencet tombol 'STOP!' Bus akan berhenti di halte selanjut nya, walaupun di sana tidak ada orang yang menunggu.


Aku melihat ke belakang, aku bisa langsung mengetahui siapa yang memencet tombol 'STOP!.' Yang memencet nya adalah Natasha. Sebenarnya aku tidak menyangka kalau kami akan pergi ke Mall Nemian. Mall itu sangat sepi pengunjung mulai dari tahun kemarin. Walaupun memang Mall Nemian adalah salah satu Mall terbaik di daerah sini.


Karena bus melayang, waktu yang di perlukan untuk sampai ke lokasi hanya 3 menit. Jika di tempuh melalui jalan darat, membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.


Mungkin akan terlalu berlebihan jika pergi ke tempat yang hanya berjarak satu jam dengan menggunakan bus terbang. Tetapi pada kenyataan nya, bus yang kami gunakan melayang dengan ketinggian 20 meter, jadi untuk kendaraan terbang ketinggian ini masih terbilang rendah.


Tidak memakan waktu lama untuk bus lepas landas, bus kembali turun dengan kecepatan pelan. Setelah mendarat beberapa meter di dekat halte bus, bus berjalan pelan menuju halte bus hingga akhir nya benar-benar berhenti di depan halte bus yang posisi nya tepat berada di depan Mall Nemian.


Kami bertiga turun dari bus. Saat kami bertiga menginjakkan kaki di tanah, pintu bus tertutup otomatis, kemudian bus mulai berjalan kembali menuju halte selanjut nya.


Kami bertiga kemudian berjalan memasuki mall, pintu otomatis terbuka saat kami tepat berada di depan mall.


Seperti yang media beritakan, mall ini sangat sepi pengunjung. Sangat sedikit orang yang ada di dalam nya. Sangat aneh melihat salah satu mall terbaik di daerah ini sepi pengunjung. Aku tidak pandai mengenai bisnis, jadi aku tidak mengetahui alasan mengapa mall ini sepi, padahal dari segi desain bangunan mall ini tidak buruk. Mall ini memiliki desain futuristik. Kondisi bangunan ini juga terbilang masih bagus. Tidak ada dinding retak ataupun cat yang luntur. Bisa di katakan bangunan ini cukup terawat dengan baik.


"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya ku pada Natasha.


"Kau yang tentukan," Natasha membalas. "Aku kesini hanya mengajak mu."


"Haaah... Mia, bagaimana dengan mu? Kau ingin pergi kesuatu tempat?" Aku menghela nafas, sebelum akhir nya menanyai pendapat adikku.


"Ayo kita kelantai tiga. Ke gamecenter. Sudah lama aku tidak main game."

__ADS_1


Karena kami berdua tidak memiliki tujuan lain, aku dan Natasha pun mengikuti adikku.


__ADS_2