My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 15 Keluarga Adaka


__ADS_3

Raihan dan Dani adalah kawan semenjak mereka kecil, lebih tepat nya semenjak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak. Rumah mereka juga berdekatan, hanya berjarak satu komplek yang dapat di tempuh selama 20 menit jika mereka berjalan kaki.


Mereka berdua memiliki karakteristik dan keperibadian yang bertolak belakang, tetapi saling melengkapi satu sama lain. Dani adalah seorang yang ceroboh dan nekat, saat hendak melakukan sesuatu ia tidak memikirikan konsekuensi dari tindakan nya. Ia memiliki prinsip, 'jalani dulu terima akibat nya kemudian.' Walaupun tidak pernah mengandalkan otak nya, bukan berarti ia adalah anak yang bodoh, ini terbukti dari bisanya ia lolos ujian masuk magic academy dan di tempatkan di kelas terbaik. Ia hanya membenci kalau di suruh memutar otak nya. Kebalikan dari Dani yang ceroboh dan nekat dan jarang mengandalkan otak nya, Raihan lebih berhati-hati dalam bertindak, ia akan memikirkan dalam-dalam konsekuensi dan resiko dari perbuatan nya, ia lebih suka mengandalkan otak nya. Tapi karena sifat nya yang terlalu berhati-hati, Raihan akan selalu ragu dalam mengambil keputusan, di tambah rasa kurang percaya diri nya, semakin membuat nya selalu ragu dalam bertindak dan mengambil keputusan.


Murid dari kelas 1-A telah di antar kerumah mereka masing-masing. Saat ini Bus sekolah masuk komplek perumahan tempat Raihan tinggal.


"Ah. Stop di sini saja om."


"Baik de."


Bus sekolah belum benar-benar sampai di depan rumah Raihan, masih berjarak lima menit perjalanan dengan berjalan kaki. Walaupun masih belum sepenuh nya sampai, Dani yang duduk bersama Raihan di kursi paling depan Bus memberitahu supir bus untuk berhenti. Supir Bus menuruti permintaan Dani, mendarat dengan perlahan di atas tanah sebelum akhir nya benar-benar berhenti. Sesaat bus berhenti, supir bus menarik tuas untuk membuka pintu bus, Dani dan Raihan pun keluar dari Bus secara bergantian.


Saat mereka berdua benar-benar turun dari bus, supir bus kembali melanjutkan pekerjaan nya mengantarkan murid-murid kerumah masing-masing.


Dani dan Raihan berjalan bersama, ini sudah menjadi kebiasaan mereka berdua semenjak masih kecil. Mereka berdua akan mengobrol hingga sampai rumah salah satu mereka.


"Jadi Raihan, bagaimana pendapat mu mengenai gadis-gadis di kelas kita?" Kata Dani dengan cengengesan.


"Apa maksud mu dengan bagaimana?" Kata Raihan dengan wajah skeptis.


Mereka berdua adalah seorang remaja yang sehat, jadi wajar kalau mereka mengobrol mengenai masalah gadis. Tetapi mereka baru mengenal gadis-gadis di kelas mereka, sehingga pertanyaan Dani benar-benar di luar nalar Raihan. Ia pun terkejut dengan topik pembicaraan yang di angkat oleh Dani.


"Aku tidak memiliki maksud mendalam dari pertanyaan ku, aku hanya ingin tahu pendapat jujur mu mengenai mereka."


"Aku tidak bisa menilai secara pasti, karena kita baru mengenal mereka. Tapi ada satu orang yang membuat ku kagum."


"Aaah... Aku tahu siapa itu. Maksud mu yang cebol satu itukan?"


"Jika kau mengatakan itu di depan nya, aku yakin dia pasti akan marah."


Percakapan mereka berlanjut dengan suasana ringan, hingga Dani menyebutkan karakteristik seseorang, Raihan seketika menegang. Dari perkataan Dani yang menyebutkan kata 'Cebol' hanya ada satu orang yang cocok dengan karakteristik itu, siapa lagi kalau bukan Mira.


"Kau yakin? Aku merasa kalau dia bukan seseorang yang emosian, dan juga aku bisa yakin dia sama seperti kau Raihan. Sama-sama Introvert, buktinya dia sangat jarang berbicara saat Alexandria dan Natasha sedang mengobrol."


Kenapa dia tidak menggunakan otak nya untuk hal yang lebih berguna...? Pikir Raihan saat melihat Dani memberikan analisis nya yang begitu akurat mengenai kepribadian Mira.


"Dan juga Raihan, mengapa kau begitu gugup saat berbicara kepada mereka?"


"Apa yang kau harapkan dari seorang Introvert dan dari seorang yang jarang berinteraksi dengan lawan jenis seperti ku?"


Keterbalikan dengan sikap nya yang begitu gugup saat di sekolah, kali ini Raihan berbicara tanpa rasa gugup di depan Dani. Sifat nya benar-benar terbalik seratus delapan puluh derajat dari sifat nya yang ia tunjukkan di sekolah.


"Hmmm... Tetapi Mira itu bisa berbicara normal pada ku, dan dari sifat nya yang sedikit gugup saat berbicara pada ku, aku yakin dia juga jarang berinteraksi dengan lawan jenis. Yang masalah disini adalah kau! Bukan karena sifat introvert mu dan bukan karena kau jarang berinteraksi dengan lawan jenis, tetapi karena kau kurang percaya diri! Kapan kau bisa memperbaiki sifat buruk mu itu!?"

__ADS_1


".... Akan ku usahakan..."


Wajah tegas Dani saat menasihati kawan nya berubah menjadi wajah kesusahan saat melihat senyum sedih Raihan saat ia menjawab saran dari nya.


"Ma-maaf..."


"Tidak ada yang perlu di maafkan..."


Pembicaraan terhenti. Suasana menjadi canggung. Dani yang tahu kalau ia masuk ke wilayah yang harus nya tidak di bicarakan tidak berani memulai topik pembicaraan baru, sedangkan untuk Raihan sendiri merasa bersalah karena membuat suasana menjadi berat. Suasana canggung terus mengikuti mereka hingga akhir nya mereka sampai di depan rumah Raihan, mereka berdua pun berpamitan, Raihan masuk ke dalam rumah nya dan Dani melanjutkan perjalanan nya menuju rumah nya.


"Aku pulang." Dengan datar Raihan mengucapkan salam.


"Selamat datang kembali tuan. Orang tua dan keluarga anda menunggu di ruang makan."


Pembantu rumah tangga perempuan berumur kisaran pertengahan empat puluh tahun, menyapa Raihan dengan sopan.


"Terima kasih telah memberitahu saya Bibi. Dan juga saya sudah sering memberitahu, bibi seharusnya tidak perlu menggunakan bahasa formal saat berbicara ke saya. Seharus nya saya yang berbicara dengan bahasa formal kepada bibi, mengingat saya yang lebih muda dari bibi."


"Terima kasih atas perhatian anda tuan, tetapi ini sudah menjadi tugas saya. Jadi saya harus menolak saran anda."


"Begitu ya..."


"Saya harap anda menemui keluarga anda dengan cepat."


Pembantu rumah tangga mengindikasikan sesuatu saat menasihati Raihan untuk segera menemui keluarga nya, Raihan terdiam sejenak lalu dengan wajah pahit ia menerima saran pembantu rumah tangga nya.


Rumah Raihan berlantai dua dengan luas rumah 30 meter persegi. Itu adalah ukuran yang besar, sehingga membuat Raihan harus mengambil waktu beberapa menit untuk mencapai kamar nya di lantai dua. Setelah sampai kamar nya, ia dengan cepat mengganti pakaian sederhana, kaos oblong dan celana panjang kain. Selesai mengganti pakaian, Raihan turun kembali kelantai pertama, menyusuri lorong rumah nya hingga sampai ke ruang makan.


Sesampai nya di ruang makan, keluarga nya menyambut dengan dingin sembari menyantap makanan mewah. Meja panjang yang terletak di ruang makan, cukup di duduki hingga sepuluh orang, dan meja makan sebesar itu di penuhi dengan makanan berkualitas tinggi.


Keluarga rehan sendiri, beranggotakan lima orang, jika ia di masukkan. Raihan memiliki dua kakak laki-laki yang telah lulus dari studi di Universitas terbaik yang ada di negara. Kakak pertama Raihan adalah penyihir yang hebat, dengan kemampuan nya Kakak Raihan menduduki kursi penting di pemerintahan. Kakak kedua Raihan tidak kalah hebat nya, dia adalah peneliti di bidang teknologi, walaupun tidak sehebat kakak Raihan yang pertama kemampuan sihir kakak kedua Raihan juga sangat hebat. Kedua orang tua Raihan juga penyihir hebat.


Raihan terlahir di keluarga Adaka, keluarga penyihir ternama di negara ini. Keluarga mereka sendiri di setiap generasi selalu melahirkan penyihir yang hebat dan memiliki pengaruh. Salah satu contoh nya, adalah kedua kakak Raihan dan ayah nya.


Karena prestasi keluarga Adaka itu, membuat keluarga Adaka menjadi keluarga penyihir kelas atas.


Raihan duduk di salah satu kursi kosong, mengambil nasi dan lauk, ia


Makan dengan perlahan layak nya keluarga ningrat di perjamuan makan.


"Bagaimana sekolah mu." Tanya Ayah Raihan dengan dingin.


"Tidak ada masalah. Aku berhasil masuk ke kelas A. Kata guru, hanya murid dengan nilai di atas rata-rata yang bisa masuk kesana."

__ADS_1


"Bagus. Saat aku mendengar mu masuk di akademi sihir, aku pikir kau hanya bercanda... Tapi ternyata kau benar-benar berhasil lolos tes dan masuk ke kelas A. Ini menandakan kemampuan mu telah meningkat."


Raihan tersenyum mendengar pujian dari ayah nya, tapi seketika senyum nya hilang saat ayah nya melanjutkan perkataan nya.


"Tapi itu belum cukup! Kekuatan dan keterampilan sihir mu masih belum seberapa! Kau masih tidak bisa menggunakan sihir mu dengan benar! Percuma kau masuk sekolah terbaik tetapi tidak bisa mewarisi kemampuan keluarga yang telah di wariskan. Terus asah kemampuan mu! Apakah kau tidak malu karena tidak mempunyai bakat seperti kedua kakak mu!? Mereka bisa menggunakan sihir dengan baik saat duduk di bangku SD!"


"Baik ayah. Akan saya usahakan!"


"Usaha...? Aku tidak meminta mu untuk berusaha! Aku meminta hasil! Usaha tanpa hasil adalah hal yang sia-sia!"


"Sayang... Mohon jaga tata krama mu saat di meja makan."


"Ah... Maaf. Raihan, setelah makan temui aku di ruang latihan."


Ayah Raihan memberitahunnya dengan nada tinggi, tapi langsung di tegur oleh istri nya. Membuat ayah Raihan tenang kembali. Setelah tenang, ayah Raihan menyuruh Raihan untuk menemui nya di ruang latihan. Raihan dengan lesu membalas "Ya." Ia kemudian melanjutkan makan nya dengan tenang.


Beberapa menit kemudian.


Tempat latihan yang di maksud oleh ayah Raihan adalah tempat keluarga Adaka melakukan latihan sihir, tempat latihan berada di bawah tanah dengan lebar 2 meter persegi, dinding ruangan terbuat dari beton dengan lantai berbahan sama. Di dalam ruangan sudah ada ayah Raihan dan kedua kakak nya, tidak lupa Raihan juga ikut bersama mereka bertiga.


Ayah Raihan dan Raihan berdiri saling berwalanan. Ayah Raihan menatap Raihan dengan tatapan tajam seperti seorang predator yang sedang mengincar mangsa nya, ia melepaskan baju menampakkan otot-otot yang terbentuk dengan baik, bagaikan binaragawan profesional.


"Motto keluarga kita adalah kekuatan! Kau pasti sudah tahu itu kan." Kata Ayah Raihan kepada anak ketiga nya.


"Ya... Aku tahu itu."


"Motto itu sejalan dengan kemampuan sihir kita, karena itu aku yakin dengan menguasai kekuatan sihir kita dengan sempurna, kita dapat menjalanlan motto keluarga kita dengan baik. Apakah kamu, salah satu dari anak ku sudah menjalankan motto itu dengan baik?"


"... A-"


"Tidak perlu menjawab! Buktikan dengan perbuatan mu! Sekarang lawan aku! Jika kau berhasil mendaratkan lima serangan, ku anggap kau menang dalam pertandingan ini!"


"Ba-baik ayah." Jawab Raihan dengan terbata-bata. Ia kemudian melanjutkan dengan merapal mantra... Tidak, itu kurang tepat, lebih tepat nya Raihan merapalkan program untuk mengaktifkan sihir berkat dari evolusi nya yang di sebabkan oleh Carlania Partikel.


Setelah mengaktifkan sihir nya, Raihan melesat kearah ayah nya dengan kecepatan tinggi.


10 menit kemudian.


Raihan terbaring lemah di lantai dengan wajah bonyok dan di penuhi dengan luka.


Ayah nya menatap Raihan dengan tatapan lebih dingin dari es, dengan mulut nya, ayah Raihan mengatakan: "Aku kecewa pada mu." Dengan nada datar dan wajah tanpa eskpresi.


Raihan berusaha untuk tetap sadar, tetapi ia tidak kuat untuk tetap sadar. Ia pun jatuh pingsan. Dengan penglihatan terakhirnya adalah wajah kecewa ayah nya, yang begitu membuat nya sedih dan pendengaran terakhir nya adalah kata-kata ayah nya, yang membuat hati nya begitu sakit.

__ADS_1


__ADS_2