
Setelah selesai makan malam.
Raihan, ayahnya beserta dua orang kakaknya pergi ke ruang bawah tanah untuk memenuhi permintaan dari Raihan. Yaitu menantang ayahnya dalam sebuah pertandingan yang mempertaruhkan sebuah ramuan warisan keluarga Adaka.
Saat sampai di arena yang berada di ruang bawah tanah rumah milik keluarga Adaka, kedua kakak Raihan berdiri di pinggir arena latihan, mengamati kedua orang yang sudah berdiri di tengah arena saling berhadap-hadapan, Raihan dan ayahnya.
Ayah Raihan melepaskan bajunya, memperlihatkan tubuhnya yang terlatih.
Ayah Raihan mulai mengumpulkan partikel Carlania, bersiap-siap mengaktifkan sihirnya.
Saat ia sudah siap sepenuhnya, ia mengaktifkan sihir transformasinya. Merubahnya menjadi seekor banteng dengan ukuran tubuh sepuluh kali lipat dari banteng normal. Tanduk di atas kepalanya berwarna hitam dengan ujung lancip.
"Sekarang. Gunakan sihirmu." Dengan suara berat layaknya suara banteng, ayah Raihan dalam wujud bantengnya berkata seperti itu.
Tidak seperti Raihan yang tidak bisa berbicara dan berperilaku seperti banteng normal lainnya, saat dia menggunakan sihir transformasinya. Ayah Raihan tidak seperti itu. Ia mampu berbicara, dan bersikap layaknya manusia normal. Menandakan kalau ayah Raihan tidak termakan dengan insting hewannya saat bertransformasi dan masih bisa mempertahankan kecerdasannya.
Saat di perintah oleh ayahnya untuk menggunakan sihir, Raihan abai. Ia malah melakukan pemanasan, peregangan, dan pendinginan layaknya orang yang hendak melakukan olahraga. Setelah selesai melakukan semua itu, Raihan melepaskan pakaiannya, kemudian ia memasang kuda-kuda seperti seorang pegulat yang siap untuk menangkap seseorang yang siap menerjangnya.
"Aku tidak akan menggunakan sihir." Kata Raihan dengan dingin.
"Kau bercanda..." Jawab Ayah Raihan dengan wajah terpelongo kaget.
"Aku tidak bercanda. Aku akan membuktikan, kalau ayahlah yang salah selama ini karena selalu meremehkan ku. Aku akan membuktikan siapa yang lemah saat ini."
"Kau akan menyesal berkata seperti itu dasar anak sialan!" Teriak ayah Raihan sembari berlari dengan kecepatan tinggi sambil mengarahkan tanduknya kepada Raihan.
Raihan menegangkan otot-otot kakinya, menghirup nafas panjang, menahannya di paru-parunya, kemudian ia mengencangkan otot perutnya. Setelah benar-benar siap, Raihan memfokuskan perhatiannya ke arah ayahnya yang melesat kearahnya layaknya peluru yang keluar dari dalam pistol.
Saat sudah se-senti jarak antara banteng dengan manusia yang sudah bersiap itu, sedetik kemudian hantaman pun terjadi.
__ADS_1
"Baaam!"
"Mooo!" Ayah Raihan dalam wujud banteng mengeluarkan lenguhan seperti rintihan kejutan. Wajah bantengnya juga menunjukkan sedikit perubahan, dapat dilihat kelopak matanya terbuka sedikit, layaknya ekspresi seorang manusia yang mengeluarkan ekspresi terbelalak kaget.
"Rrrrrrgh...." Raihan mengeluarkan rintihan berat.
"Ti-Tidak mungkin! Ba-bagaimana bisa!?" Kakak pertama Raihan yang berdiri di samping arena berteriak dengan ekspresi terbelalak, kakak kedua Raihan yang berdiri di samping kakak pertamanya juga menunjukkan ekspresi serupa.
Sebenarnya apa yang membuat mereka semua terkejut?
Tentu saja. Mereka terkejut karena Raihan yang tanpa menggunakan sihir sedikitpun, murni dengan kekuatan fisik, dapat menahan serangan serudukan ayahnya.
Sebelum terjadi hantaman. Raihan memposisikan dirinya untuk menangkap kedua tanduk ayahnya dengan kedua tangannya. Tapi hantaman dari banteng yang besarnya sepuluh kali lipat dari banteng normal itu, ditambah dengan sel mutasinya, kekuatan fisik ayah Raihan tidak main-main.
Memang Raihan berhasil menahan serudukan ayahnya, tapi ia tergeser dari tempatnya sejauh beberapa meter. Raihan langsung membenarkan posisi kakinya, berhasil menahan dorongan ayahnya. Tapi ada dampak yang terjadi, tanah tempat Raihan berpijak retak, yang bahkan retakan itu kini kian membesar saat Raihan dan ayahnya saling mengunci satu sama lain.
"Rrrrrraaaaagh!" Raihan mengeluarkan seluruh kekuatan ototnya. Di sertai dengan erangan yang nyaring, Raihan terus berusaha mengangkat ayahnya yang dalam wujud banteng itu.
"Moooo!"
Ke empat kaki banteng yang di angkat oleh seorang manusia di tengah arena itu bergerak kesana kemari seperti sedang meronta-ronta. Mengabaikan hal itu, manusia itu terus mengerahkan kekuatannya. Saat banteng itu sudah terangkat di atas kepalanya, manusia itu mulai berputar-putar sebanyak lima kali, mengambil ancang-ancang, lalu dengan keras ia melempar banteng itu hingga membentur dinding di luar arena dengan keras.
"Mooooo!" Lenguhan kesakitan keluar dari mulut banteng itu sesaat tubuhnya menghantam dinding dengan keras.
"Hah... Hah... Hah... Hah..." Raihan, manusia yang melempar banteng yang begitu besar itu kehabisan nafas.
Memang kekuatan fisik dan staminanya meningkat, tapi tetap saja melawan seseorang yang menggunakan sihir tanpa menggunakan sihir sedikitpun, tetaplah berat bagi Raihan.
Lalu mengapa Raihan tidak menggunakan sihirnya?
__ADS_1
Hal ini di lakukan untuk benar-benar melukai harga diri dari ayahnya yang sudah kelewat sombong.
Jelas sekali jika ayah Raihan, dengan sihir kebanggaannya, yang telah di turunkan kepada keluarganya dari generasi ke generasi, mampu di kalahkan oleh anaknya yang ia anggap tidak berguna, anaknya yang ia anggap tidak berbakat, dengan tanpa sihir sedikitpun, pasti akan melukai harga dirinya. Membuat pemikiran idealisnya hancur. Membuat ia berpikir dua kali mengenai motto keluarga yang selalu ia pegang teguh.
Raihan ingin ayahnya benar-benar mendapatkan tamparan keras dari kekalahan ini. Tamparan yang akan benar-benar mematikan hatinya. Membuat Raihan puas, atas balas dendam manisnya kepada ayahnya yang terlalu overproud itu.
Walaupun Raihan selalu memendam rasa benci kepada ayahnya jauh di dalam lubuk hatinya, saat ini Raihan, karena telah menumbuhkan kepercayaan dirinya, meluapkan emosinya kepada ayahnya.
Emosinya sekali lagi pecah. Yang dimana, emosinya benar-benar pecah saat merasakan pengkhianatan dari Mira.
"Kau lihat itu ayah! Aku bahkan tanpa menggunakan sihir mampu untuk mempecundangi mu!" Teriak Raihan di penuhi dengan emosi.
Raihan yang biasa menggunakan bahasa formal saat berbicara pada ayahnya, kini berbicara dengan bahasa yang sedikit kasar. Menandakan kalau emosi yang selama ini ia pendam telah mencapai batasnya.
Ayah Raihan yang terbaring lemah di lantai akibat hantaman keras ke dinding, perlahan-lahan mulai bangkit. Ke empat kakinya sedikit bergetar, dan gerakannya sedikit sempoyongan saat ia mulai membenarkan posisinya untuk bisa berdiri tegak.
Ayah Raihan mungkin merasakan sakit di kepalanya, tapi karena kedua tangannya telah berubah menjadi kaki banteng saat ia bertransformasi, ia tidak bisa memegang kepalanya yang sakit itu. Ayah Raihan hanya bisa menggelengkan kepalanya, seolah-olah hendak melemparkan rasa sakit itu dengan gelengan kepalanya.
Ayah Raihan dalam wujud bantengnya tidak lagi bicara. Ia menatap Raihan dengan tatapan predator terhadap mangsanya. Mengibas-ngibaskan kaki kanan bagian belakang ketanah, ayah Raihan sekali lagi bersiap menyeruduk Raihan.
"Mooo!" Di sertai dengan lenguhan yang seakan-akan itu adalah teriakan amarah, ayah Raihan berlari. Menerjang ke arah Raihan dengan kecepatan tinggi sekali lagi.
Dengan kecepatan gerak 90km perjam. Dia menyeruduk lurus ke arah Raihan.
Kelemahan sihir transformasi. Terlebih lagi untuk seseorang yang memiliki wujud perubahan banteng ialah, serangan yang sama akan terus di pakai. Yaitu menyeruduk. Serangan yang berkesan monoton itu, dapat dengan mudah di tangkis ataupun di hindari jika menemukam timing yang pas.
Mengetahui fakta ini dari Mira, Raihan menghindari serangan ayahnya dengan berguling ke samping kiri.
Mengetahui serudukannya telah meleset ayah Raihan menghentikan kakinya, tapi karena kecepatan geraknya, ia sedikit kesusahan untuk langsung berhenti. Ke empat kakinya terseret, saat melakukan pemberhentian tiba-tiba.
__ADS_1
Raihan memanfaatkan celah itu, dengan menendang perut ayahnya sebelum ayahnya benar-benar bisa berhenti.
"Mooo!"