
Sesampainya di lapangan sekolah kami telah ditunggu oleh ketiga kawan kami yang menyaksikan kami berdua datang dengan wajah penuh harap.
"Bagaimana? Kalian mendapatkan izin?" Tanya Dani.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dengan kata-kata, aku hanya menunjukkan kartu izin yang guru Yukina berikan pada kami. Mereka bertiga tersenyum puas saat melihat kartu izin di tangan ku.
"Bagus!" Kata Alexandria.
"Natasha simpan kartu ini." Kata ku menyodorkan kartu itu kepada nya. Ia tanpa bertanya, mengambil kartu itu, saat ia hendak memasukkan kartu itu ke dalam sakunya, aku menghentikannya.
"Jangan di dalam saku mu."
"Baiklah... Harusnya aku paham kenapa kau memberikan kartu ini padaku." Jawab Natasha dengan senyum masam sambil mengaktifkan sihirnya.
Darah keluar dari ujung jari telunjuknya yang terdapat luka sayatan kecil, darah itu segera membentuk sebuah kota berdiameter 5 centimeter. Membuka bagian atas kotak itu, ia pun memasukkan kartu itu kedalamnya sebelum akhirnya merubah kotak itu menjadi cairan kembali yang segera cairan itu masuk kembali ke dalam luka sayatannya.
"Apa yang dia lakukan?" Tanya Alexandria dengan penasaran.
"Ah. Itu sihir khusus miliknya, ia mampu menyimpan barang di ruang khusus yang terdapat dalam kotak darahnya itu."
"Eeeh. Aku tidak tahu kalau penderita Sindrom Vampir dapat menggunakan sihir ruang dan waktu." Kata Alexandria dengan kagum, Dani dan Raihan menunjukkan ekspresi serupa dengan gadis berwajah androgini itu.
"Ayolah kawan-kawan, kita kesini bukan untuk melihat sihir Natasha. Jangan lupakan tujuan kalian." Kata ku pada mereka, yang hampir lupa tujuan utama kami pergi ke lapangan belakang sekolah ini.
Pertama-tama, kami ingin memastikan apakah ia selalu kehilangan kendali saat menggunakan sihirnya, atau hanya dikasus tertentu saja ia kehilangan kendali. Untuk memastikan hal itu kami meminta Raihan untuk menggunakan sihirnya.
Sebelum itu, untuk tindakan keamanan, aku menciptakan dua buah bom asap dengan sihir ku yang sudah kucampur sedikit zat kloroform yang berguna untuk membuat Raihan tidak sadarkan diri jika ia kehilangan kendali. Aku juga membuat Barrier dengan bahas khusus untuk mencegah ia menyerang kami dengan membabi buta.
Bahan yang kugunakan untuk Barrier ku lebih keras dari baja, lebih tipis dari kertas, lebih ringan dari bulu, memiliki sifat penghantar energi dengan baik serta mampu menahan getaran.
__ADS_1
"Apakah ada benda seperti itu di dunia ini?" Tanya Dani dengan ragu saat mendengar penjelasan ku mengenai bahan Barrier yang kugunakan.
"Ku pikir kau harus belajar lebih banyak lagi Dani." Jawab ku dengan ketus.
Setelah persiapan siap, aku memerintahkan Raihan melepaskan pakaiannya. Aku tidak ingin seragamnya rusak saat ia bertransformasi, juga kami masih ada pelajaran setelah istirahat nanti, akan gawat jika ia tidak menggunakan seragamnya saat kelas siang dimulai.
"Apakah kau ada baju ganti?" Kata Raihan dengan malu-malu mendengar perkataanku.
"Tidak ada."
"Uuhm..." Raihan melihat sekeliling dengan malu-malu, saat matanya tertuju kearah Alexandria dan Natasha yang merupakan seseorang dengan **** yang berbeda dengannya, wajah Raihan semakin memerah, membayangkan seluruh tubuhnya akan dilihat oleh mereka berdua.
"Sebaiknya beri Raihan pakaian..." Ucap Dani dengan canggung, prihatin akan kondisi kawannya.
"Apa boleh buat... Kau boleh menggunakan pakaian dalam mu."
"Baiklah, baiklah. Saat kau mengaktifkan sihir mu, Natasha dan Alexandria akan memejamkan matanya."
"Bagaimana dengan mu?"
"Tenang saja. Aku tidak tertarik dengan laki-laki. Mau kau telanjang di depan ku itu sama sekali tidak membuat ku bergeming." Dengan wajah datar, aku memberitahu Raihan mengenai hal ini.
"Ah. Kalau begitu, aku juga tidak akan menutup mataku. Aku sudah biasa melihat hal seperti itu saat menggunakan sihirku." Alexandria mengangkat tangannya, menolak usulan ku untuk tidak melihat Raihan saat melepaskan pakaiannya, ia beralasan yang dimana alasan itu tidak dapat ku tolak. Aku hampir melupakannya, Alexandria memiliki sihir 'Morphing' yang membuatnya dapat merubah tubuhnya? Atau jenis kelaminnya? Apapun itu, dengan sihir itu Alexandria dapat menjadi perempuan ataupun laki-laki dengan sesuka hati.
"Jadi apa yang kau permasalahkan Raihan? Tidak ada yang tertarik dengan mu dari awal."
"Uuggh!" Seakan di tusuk menggunakan benda tajam, Raihan mengerang, wajahnya meringis kesakitan, kedua telapak tangannya memegang dada bagian sebelah kirinya. "Kata-kata mu barusan sungguh menyakitkan."
"Hmm... Aku setuju." Sambung Dani.
__ADS_1
Bicara mengenai dramatisasi. Reaksi Raihan terlalu berlebihan saat aku melemparkan kata-kata yang sebenarnya bukan hinaan. Dengan disertai penolakan yang sebenarnya tidak perlu, aku akhirnya berhasil meyakinkan Raihan untuk melepaskan pakaiannya. Hanya saja, sesuai dengan perjanjian, aku dan kedua orang gadis di kelas akan membelakangi Raihan sebelum ia bertransformasi, ia juga tidak melepaskan semua pakaiannya, menyisakan pakaian dalam berupa boxer dan singlet.
Raihan memasuki Barrier yang ku buat. (Aku tidak melihat proses ini. Aku hanya di beritahu oleh Dani.) Saat Raihan telah masuk kedalam, aku menutup rapat Barrier ku tidak membiarkan satu lubang pun tersisa. Raihan mengumpulkan sihirnya, mengatur pernapasan beberapa kali, ia menenangkan diri. Saat dirasa sudah siap, Raihan mengucapkan mantranya dengan tenang. "Magic Set. Transformation!"
"Aaaaaakh.... Mooooo...." Setelah selesai mengucapkan mantranya, suara Raihan tergantikan dengan teriakan yang secara bertahap berubah menjadi lenguhan banteng yang begitu keras. Pada titik inilah, aku dan kedua gadis lainnya berbalik melihat kearah Raihan.
"Ukurannya sama seperti banteng pada umumnya." Gumam Alexandria saat melihat wujud banteng Raihan.
Jadi perubahannya tidak sama seperti saat melawan android kemarin ya... Apa yang membuat wujudnya berbeda? Apakah ada syarat atau kondisi khusus?
"Dan juga ia tidak bertindak agresif." Di tengah renungan ku, aku tersadarkan dengan perkataan Dani yang melihat Raihan dengan wujud bantengnya, berjalan tanpa tujuan di dalam barrier ciptaan ku.
"Aaaah. Alasan ia tidak bertindak agresif, karena kita sama sekali tidak bergerak. Banteng biasanya akan menyerang mahluk yang di anggapnya berbahaya. Selama kita diam di sini, Raihan tidak akan menyerang kita."
"Jadi maksudmu, dengan diamnya kita di sini. Kita di anggap mahluk tidak berbahaya?"
"Begitulah... Tapi kalau memang Raihan bergerak berdasarkan insting kehewanannya, bisa di pastikan kalau alasan dia kehilangan kendali karena ia tidak bisa mengendalikan perubahan sel mutasi miliknya."
"Lalu bagaimana cara kita mengatasinya?"
"Seperti yang ku jelaskan kemarin. Pertama kita harus mengajari Raihan cara mengendalikan energi sihirnya, lalu mengatasi masalah mentalnya, dan membuat Ramuan untuk menahan perubahan sel mutasi miliknya saat ia menggunakan sihir transformasi.... Tapi ada satu hal yang masih janggal di kepalaku."
"Maksud mu perubahan wujud Raihan yang terlihat lebih ganas dari biasanya?" Tanya Alexandria.
Aku mengangguk, "Ya. Apakah itu juga mengganggu pikiran mu?"
"Hm. Aku masih penasaran apa penyebab dari perubahan wujud yang tidak biasa itu."
Sepertinya masih banyak informasi yang harus kami cari untuk benar-benar menyelesaikan masalah ini.
__ADS_1