My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 46 Setelah dikantin


__ADS_3

Aku menahan seringai ku, karena aku hanya akan memperburuk situasi jika aku melakukan itu. Untuk saat ini, aku hanya perlu diam, mengabaikannya, hingga ia puas dengan provokasinya.


"Kau, anak kecil! Apakah kau menghina ku! Kau dari tadi makan seolah menganggap ku tidak ada! Apakah kau menghina ku!?"


Kenapa aku juga kena...?


"Haaah... Apa yang kau inginkan dari ku? Ikut kesal?" Tanya ku dengan ekspresi lelah.


"Sialan! Tidak pernah aku merasa terhina seperti ini!"


Pada titik ini aku tidak tahu lagi apa maksud dan tujuan dari orang yang bernama Michael ini. Definisi 'Tidak jelas' sungguh sangat cocok untuknya.


"Anak kecil sialan!"


Wajahnya memerah karena kesal. Ah... Aku secara tidak sadar nyengir saat melihatnya marah-marah tidak jelas dari tadi. Akibatnya, ia semakin marah karena senyum mengejekku.


"Nampaknya aku harus memberi mu pelajaran!" Katanya dengan kesal padaku.


Pada titik ini, kawan sekelasku, sudah beranjak dari bangku mereka. Ingin berkontravensi secara langsung dengan Michael.


"Silahkan saja," Kataku dengan tenang. "Jika kau melakukan sesuatu padaku, kau akan dikenakan hukuman oleh akademi. Lagipula kegiatan kita selama di kantin ini di awasi oleh CCTV yang ada di sudut ruangan ini... Aku ingin tahu apa yang akan terjadi jika kau terkena hukuman, mungkin keluargamu akan memberikan mu hadiah karena berhasil di hukum di akademi ini?"


"Kuuuuh.... Ayo pergi dari sini! Tidak ada gunanya berurusan dengan orang tidak berguna seperti mereka."


"Wooow... Aku sungguh tersinggung dikatakan tidak berguna oleh orang yang bahkan tidak mampu masuk ke kelas khusus." Ucap ku dengan nada datar.


Wajahnya semakin memerah mendengar perkataan ku, ia akan segera meledak dengan emosi yang telah mencapai puncaknya, tapi ia menahan itu semua, ia pergi dari tempat kami dengan wajah kesal.


".... Aku tidak menyangka Michael yang menyebalkan itu akan mundur..." Gumam Dani.


"Kalian yang salah di sini. Tidak ada gunanya melawan provokasi dari orang itu, yang ada energi kita hanya akan habis dibuat olehnya." Ucap ku, meminum minuman ku. Salad sayur yang menjadi hidangan penutup telah habis ku makan.


Setelah menghabiskan minuman ku, aku hanya bisa menghela nafas lelah....


"Nampaknya aku memang tidak bisa menyantap makanan dengan tenang selama aku masih bersama dengan kawan sekelasku." Keluhku di dalam kepala.


***

__ADS_1


"Aaaaah.... Apa-apansih dia itu!?Ngeganggu orang kayak gitu! Nggak jelas banget!"


Kami semua telah beranjak dari kantin, saat ini kami tengah berjalan di koridor lantai tiga, menuju ruang kelas kami. Saat kami berjalan, koridor lantai tiga ramai dengan murid anak kelas satu. Kami berjalan sedikit hingga sampai ke koridor kosong yang hanya tinggal beberapa meter lagi sampai kekelas kami. Saat di koridor yang tidak ada orang inilah, Alexandria menyentak-nyentakkan kakinya dengan wajah cemberut, menggerutu kesal, dengan kejadian yang baru saja terjadi dikantin.


"Michael memang seperti itu," Ucap Raihan. "Dia memang suka mengganggu orang dengan alasan tidak jelas." Wajah Raihan juga menunjukkan ekspresi kesal.


Memang aku tidak tahu alasan orang bernama Michael itu mengganggu kita saat dikantin. Tapi menurutku, dia memiliki maksud tertentu untuk mengganggu kita. Maksudku, tidak mungkin orang akan membuang energinya untuk mengganggu orang dengan alasan tidak jelas... Tapi aku tidak bisa membuat kesimpulan akan masalah ini dengan cepat.


Mengingat kesalahanku saat pelajaran praktek sihir jika menyimpulkan sesuatu dengan cepat akan berakibat fatal. Aku harus memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi, termasuk orang bernama Michael itu hanyalah manusia idiot yang mengganggu orang karena gabut. Aku juga kekurangan informasi dalam menanggapi masalah ini, jadi untuk dapat membuat kesimpulan yang jelas, aku harus mencari informasi.


"Ngomong-ngomong Dani, apa yang orang itu bisikkan padamu?" Tanya ku.


Mungkin jika aku mengetahui apa yang orang bernama Michael itu bisikkan kepada Dani, dapat membantuku sampai kepada sebuah kesimpulan yang valid. Itulah yang ku harapkan, saat aku menunggu Dani menjawab pertanyaanku.


".... Dia mengatakan untuk menjauhi Alya, hubungannya dengan Alya telah di setujui oleh keluarganya dan keluarga Alya. Jadi aku tidak memiliki harapan... Begitulah katanya."


"...."


Aku seketika terdiam saat mendengar alasan Dani. Kemampuan berpikir paralel ku hanya sampai pada satu kesimpulan.


Intinya dia, hanya ingin menunjukkan superioritasnya terhadap Dani.


Dari sikapnya, aku sampai pada kesimpulan itu... Mungkin tidak puas merasa superior dari Dani, ia ingin lebih menunjukkan rasa superioritasnya kepada kami, kawan sekelas Dani...


Saat otakku memikirkan hal ini, aku hanya bisa menghela nafas dengan suara lirih.


"Seperti yang kuduga, aku tidak bisa menganggap serius mengenai masalah percintaan seseorang. Aku merasa bodoh karena berpikiran kalau dia memiliki maksud terselubung saat mengganggu kami di kantin barusan."


Berjalan terus menyusuri koridor, kami sampai di depan ruang kelas kami dalam waktu kurang dari dua menit. Kami memasuki ruangan kelas, duduk di bangku masing-masing, menunggu bel masuk berdering yang hanya tinggal beberapa menit lagi.


"Kriiiing!"


Tidak sampai lima menit kami duduk di bangku, bel masuk segera berdering. Menandakan kelas siang telah dimulai. Guru yang mengajar pelajaran ke-empat memasuki kelas semenit setelah bel masuk berbunyi. Yang memasuki kelas adalah seorang lelaki berumur 30 tahun. Saat guru memasuki kelas, kami semua menatapnya dengan bingung.


Kami kebingungan dikarenakan guru yang masuk berbeda dari biasanya. Seharusnya yang masuk saat pelajaran keempat adalah guru bernama Margaret Lavoisier, guru wanita yang mengajarkan pelajaran Alkimia.


"Uuuhm... Pak. Maaf, sepertinya anda salah masuk kelas." Natasha mengangkat tangannya, memberitahu guru itu dengan gugup.

__ADS_1


"Hmmm...? Ini kelas satu A bukan?" Tanya guru pria itu.


"Anda benar pak. Ini kelas satu A." Jawab Dani.


"Kalau begitu, saya tidak salah." Jawab pria itu, berjalan ke meja guru.


Kami semakin kebingungan. Tidak ada yang memberitahu kami kalau ada pergantian kelas saat ini, untuk memastikan sekali lagi, kali ini aku yang memberitahu guru itu.


"Maaf pak, seharusnya yang memasuki kelas kami adalah bu Margaret. Beliau mengajar Alkimia."


Mendengar perkataan ku, guru itu mengeluarkan ekspresi tidak yakin. Ia nampak bingung.


Guru itu kemudian mengeluarkan smartphone dari sakunya, ia nampak sedang mengirim pesan kepada seseorang. Setelah beberapa saat, Smartphonenya mengeluarkan bunyi getaran, tanda balasan telah masuk.


"Haaah... Kalau memang seperti itu, mohon informasikan lebih lanjut." Gumamnya sembari menyentuh layar smartphonenya, dengan gaya mengetik. Aku simpulkan dia sedang mengirim balasan kepada seseorang yang dari tadi ia hubungi melalui pesan teks.


"Ehem... Maaf, sepertinya saya memang tidak salah masuk kelas." Katanya setelah membetulkan ekspresi ragunya.


Aku dan kawan sekelasku saling bertukar tatapan ragu setelah mendengar pernyataan guru itu. Kami semua kebingungan, mengapa tiba-tiba ada pergantian mata pelajaran seperti ini... Sebenarnya kami tidak perlu bingung lagi, karena sedari awal masuk akademi, kami tidak pernah diberikan jadwal pelajaran yang pasti. Tapi tetap saja, rasanya tidak nyaman kalau mengganti jadwal pelajaran setelah berbulan-bulan kami memasuki akademi ini.


"Saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Jhon Jiménez. Saya akan menjadi instruktur kalian selama turnamen antar kelas berlangsung." Guru laki-laki bernama Jhon Jiménez, memiliki penampilan berkulit putih, berambut coklat keriting tebal. Ia menggunakan kacamata bulat diwajahnya, dengan ekspresi wajah yang memberikan kesan kalau dia sangat kelelahan. Bahkan terdapat kantung mata di bagian bawah matanya.


Guru berkacamata itu, mengatakan sesuatu yang semakin membuat kami bingung. Menjadi instruktur kami, dan turnamen kelas. Semua informasi yang ia berikan sama sekali tidak dapat kami proses dengan otak kami. Hal ini wajar, karena ia sama sekali tidak menjelaskan apapun! Jika ia memberikan penjelasan, mungkin kami bisa sedikit paham apa yang hendak ia sampaikan.


"Apa maksud anda dengan turnamen kelas?" Tanya Alexandria.


"Kalian tidak tahu? Ini aneh, seharusnya selebarannya sudah di tempel di papan pengumuman."


"Jalankan selebaran, letak papan pengumuman saja kami tidak tahu." Kata Alexandria.


"Hmm...? Bukankah papan itu ada di dekat tangga? Kalian tidak menyadarinya?"


Aaaah.... Pantas saja banyak sekali murid yang berkumpul di dekat tangga saat kami kembali kekelas barusan. Rupanya di sana terdapat papan pengumuman.


Aku menyadari hal ini saat menaiki tangga, aku melihat banyak sekali murid yang berkumpul di dekat tangga, melihat kearah dinding. Karena tidak ingin berkerumunan, aku tidak repot-repot mengecek apa yang tengah dilakukan murid-murid itu, jadi aku mengabaikannya. Sedangkan untuk kawan sekelas ku sendiri, mereka ingin segera pergi ke tempat sepi untuk mengekspresikan kekesalan mereka, karena itulah mereka tidak menyadari hal ini.


Tapi yang jadi pertanyaan sekarang adalah.... Sejak kapan papan itu ada disana? Selama kami melewati tangga lantai tiga, kami tidak pernah melihat papan itu.

__ADS_1


__ADS_2