My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 50 Sekali lagi bertemu pengganggu


__ADS_3

Pertama kami harus mengetahui terlebih dahulu seberapa banyak kelas yang akan menjadi musuh kami, setelah itu kami harus mengetahui jumlah murid masing-masing kelas, pemimpin grup, dan yang terakhir kemampuan semua murid satu persatu.


Untuk kesemua informasi itu sangat mudah untuk didapatkan, kecuali informasi yang terakhir. Untuk mengetahui kemampuan semua murid yang ada, kami harus memiliki akses ke data semua murid yang dimiliki oleh akademi ini, yang dimana data itu, tidak mungkin untuk kami dapatkan.


Karena itu, kami akan mencari informasi semampu kami. Untuk informasi yang mudah didapat, kami hanya tinggal menanyakan kepada instruktur kami, Jhon Jiménez, yang sedari awal kami diskusi, dia hanya bermain dengan Smartphonenya sambil duduk santai sembari menaikkan kakinya keatas meja, tidak peduli dengan apa yang sedang kami diskusikan saat ini.


Apakah dia benar-benar instrutur kami...? Aku tidak bisa untuk tidak ragu saat melihat perilakunya yang santai itu. Juga apakah ia benar-benar bisa membawa kami menuju kemenangan...?


Terlepas dari perasaan raguku, aku pun mengganggu guru Jhon yang tengah asik memainkan Smartphone miliknya.


"Pak Jhon. Boleh saya menanyakan sesuatu." Kataku sambil mengangkat tangan. "Ada berapa kelas yang akan kami lawan, berapa jumlah murid masing-masing kelas, siapa pemimpin masing-masing kelas?"


Guru Jhon melirik kearah ku, kemudian ia menyimpan Smartphone di sakunya. "Kalian tahu hanya ada 35 murid yang berhasil masuk tahun ini kan? Jumlah itu jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Karena itu jumlah kelas yang ada juga sangat sedikit.... Jumlah kelas satu pada tahun ini berjumlah tiga kelas. Kelas, A, Kelas B, dan Kelas C. Seperti yang kalian tahu juga, murid kelas A adalah kelas yang paling sedikit muridnya, selanjutnya ada kelas B yang memiliki murid sedikit kedua yaitu 12 murid, lalu ada kelas C yang memiliki 18 murid."


Perbedaan antara murid kelas B dan Kelas C tidak terlalu signifikan. Seperti yang kuduga, jumlah murid kelas kami yang benar-benar menjadi masalah disini. Yang bahkan jumlahnya saja tidak mencapai 10 orang.


"Untuk pertanyaan mu yang ketiga, mengenai siapa pemimpin masing-masing kelas, aku tidak tahu. Mengenai masalah itu biasa diumumkan saat pembukaan turnamen."


Nampaknya harapan kami untuk menang semakin kecil. Kami betul-betul kekurangan informasi!


Sepertinya aku tidak memiliki jalan lain selain menggunakan cara kotor.


"Kalian yakin ingin menang?" Tanyaku kepada kawan sekelasku.


Mereka semua mengangguk dengan wajah yakin.


"Kalian yakin? Asal kalian tahu, aku akan menggunakan apapun cara untuk menaikkan presentase kemenangan kita. Setelah mendengar ini, kalian yakin masih ingin menang?" Tanya ku sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih menekan.

__ADS_1


"Sudah terlambat untuk mengatakan itu." Jawab Dani.


"Mmm... " Angguk Alexandria. "Dalam motto keluarga ku, juga tidak ada menyuruh kami menang dengan cara yang adil. Motto keluarga ku, hanya 'Menang!' tidak kurang dan tidak lebih."


"Baguslah kalau kalian tidak ragu sedikitpun."


"Memangnya kau ingin melakukan apa Mira?" Tanya Natasha.


Aku tidak menjawab pertanyaan gadis Vampir itu, aku menatap kearah Guru Jhon yang memainkan Smartphonenya lagi. "Pak Jhon, dari mana Akademi mendapatkan data masing-masing pemimpin kelas?"


"Setiap Instruktur akan mengupload data ke email kepala sekolah." Jawab Guru Jhon tanpa mengalihkan pandangannnya dari Smartphone miliknya. "Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?" Tanyanya melirik kearah ku dengan tatapan curiga.


"Sebelum saya menjawab hal itu. Saya ingin menanyakan satu hal."


Pada titik ini, Guru Jhon menyingkirkan Smartphone dari depan wajahnya, ia menatapku dengan tatapan intimidasi.


Alexandria, Dani, Raihan dan Natasha terkejut saat mendengar pertanyaan ku. Berbanding terbalik dengan kawan sekelasku, Guru Jhon hanya tersenyum sinis saat mendengar pertanyaan ku. Dengan senyum sinis lagi mencurigakannya itu, ia menjawab.


"Menurutmu sendiri. Apakah aku instruktur mu?"


"...."


"Yang jelas, aku diperintahkan oleh atasan ku untuk menjadi instruktur kelas A."


Tanpa kusadari, gaya bicara Guru Jhon Jiménez berubah. Ia awalnya menggunakan bahasa formal, menjadi menggunakan bahasa non formal.


"Kalian boleh pulang sekarang. Percuma kalian berdiam diri di sekolah ini, sehabis ini sudah tidak ada pelajaran lagi." Katanya, sebelum akhirnya ia beranjak pergi dari kelas.

__ADS_1


Waktu tidak lama berlalu semenjak guru Jhon Jiménez memasuki kelas kami. Lebih tepatnya 30 menit semenjak ia memasuki kelas. Sebenarnya kami masih belum boleh pulang, karena masih ada kelas siang yang masih tersisa. Walaupun ia nampak mencurigakan, tapi aku tidak merasakan kebohongan dari kata-katanya barusan.


Mengikuti instruksi dari instruktur kami, kami berlima pun beranjak keluar dari kelas kami.


Hal yang mengejutkan saat kami sudah berada di luar kelas, saat kami berjalan di koridor, menjauh dari kelas. Kami menemukan fakta kalau bukan kelas kami saja yang diperbolehkan untuk pulang. Semua murid kelas satu juga diperbolehkan untuk pulang.


Kami berpapasan dengan murid bernama Michael saat posisi kami sudah dekat dengan tangga. Ia dengan kelompoknya tersenyum mengejek saat melihat kami... Tidak, nampaknya ia tidak tersenyum kepada kami, melainkan kepada Dani.


"Yo... Dani... Senang bisa melihat mu disini." Ucap Michael kepada Dani dengan nada akrab. "Aku menantikan untuk bertanding di turnamen ini bersama dengan mu."


"Cih." Dani hanya bisa mendecikkan lidahnya dengan wajah kesal, menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Michael.


"Jika aku memenangkan turnamen ini, sudah pasti keluarga Nikitani akan semakin mendukung hubungan ku dengan Alya. Dan Alya... Kurasa dia tidak akan bisa menolak lagi... Jadi dari pada kau membuang tenaga mu mengikuti turnamen ini, lebih baik kau menyerah saja."


Dari alur pembicaraan yang terjadi, aku bisa mengetahui kalau keluarga Nikitani adalah keluarga dari gadis yang Dani suka. Yakni Alya. Juga aku bisa mengetahui kalau keluarga gadis bernama Alya ini mencoba menjodohkan Alya dengan Miachel, tapi dari perilakunya yang ia tunjukkan kepada Dani, aku bisa mengetahui kalau gadis itu juga menyukai Dani, dan mungkin saja gadis bernama Alya ini tidak menyetujui perjodohan yang keluarganya lakukan... Semua cerita ini tergambar jelas dari perkataan Michael barusan dan sifat gadis bernama Alya yang ia tunjukkan sewaktu dikantin.


"Bukan hanya itu, jika aku memenangkan turnamen ini. Aku akan meminta pihak akademi untuk mengatur kelas sekali lagi, dan memasukkan ku dikelas A." Tambah Michael dengan senyum percaya diri.


"Kau sangat yakin sekali bisa menang." Kata Alexandria dengan ketus.


"Tentu saja aku yakin. Secara jumlah, kelompok yang aku pimpin lebih banyak dari kelas lain."


"Pffft..." Aku segera memalingkan wajahku, menyembunyikan bibir ku yang melemas karena tidak kuat menahan tawa. Aku yakin saat ini aku tengah nyengir karena mendengar perkataannya.


Untungnya ia tidak sadar dengan sikap ku yang menahan tawa lirih ku. Dari perkataannya barusan, aku yakin sekali kalau orang ini berada di Kelas C.


Ini sangat lucu. Mengatakan kami adalah orang tidak berguna, nyatanya yang paling tidak berguna adalah dia! Bukan hanya tidak bisa menembus kelas A, tapi bahkan ia tidak bisa menembus kelas B. Seberapa rendah nilainya!? Tapi aku harus menahan ketawa ku disini, aku tidak ingin membuat masalah.

__ADS_1


__ADS_2