My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 41 Raihan VS Kepala Keluarga Adaka Part IIi


__ADS_3

Walaupun begitu, akibat batang dari tanduk yang tebal dan kuat, luka memar di dapat oleh Raihan, tepat di pergelangan tangannya yang reflek mengangkat untuk melindungi dirinya.


"Kuh!!" Raihan merintih kesakitan dengan wajah terdistorsi.


"Raihan! Menyerah saja! Kau tidak mungkin mengalahkan ayah!" Kakak kedua Raihan, segera memperingatkan Raihan sesaat Raihan terkena serangan bersih dari ayahnya.


Sebenarnya kakak Raihan berteriak bukan dasar khawatir kepadanya. Ia merasa tidak wajar pada pergerakan ayahnya, yang mungkin saja membahayakan ayahnya. Walaupun kakak Raihan tidak memiliki rasa sayang kepada Raihan sampai ia tidak khawatir padanya, tapi ia masih sayang kepada ayahnya, karena itulah ia bisa khawatir terhadap kondisi ayahnya.


Walaupun sudah di peringatkan, Raihan tidak berhenti. Ia menahan rasa sakitnya, bersiap untuk melawan ayahnya.


Saat Raihan sudah bersiap menerima serangan dari ayahnya sekali lagi, ayahnya berhenti menyerang.


Ayah Raihan seperti baru saja menyadari keberadaan orang lain selain Raihan, ia mengarahkan pandangannya ke arah dua kakak Raihan.


Hal itu sontak membuat semua orang yang hadir kebingungan.


"Mooo!"


Ayah Raihan, tanpa peringatan apapun, mengeluarkan lenguhan yang begitu kencang, mengarahkan tanduknya ke arah kedua kakak Raihan. Dengan kekuatan dan kecepatan yang sama saat seperti menyerang Raihan, ayah Raihan bergerak ke arah kedua kakaknya. Menyerang mereka berdua.


Sontak hal itu membuat mereka berdua terkejut bukan main.


"Kenapa ayah menyerang kita!?" Pikir mereka berdua dengan bingung, di sertai dengan wajah horor. Air muka mereka seketika berubah menjadi pucat pasi.


Karena ayah Raihan telah kehilangan akal sehatnya, dan benar-benar bergerak sesuai dengan instingnya, ia menganggap kedua kakak Raihan sebagai musuh. Karena perwujudan mereka berdua begitu mirip dengan Raihan, seseorang yang saat ini sedang menjadi lawannya.


Dengan insting bertahan hidup kehewanannya, ayah Raihan berpikiran untuk menyerang mereka berdua sebelum ia bisa di serang oleh kedua kakak Raihan.


"Menghindar!" Teriak Raihan kepada kedua kakaknya.


Teriakan Raihan sontak menyadarkan mereka. Sebelum serangan ayahnya berhasil menyerang mereka berdua, mereka melompat ke samping.


Kakak pertama Raihan ke arah kanan, dan kakak keduanya ke arah kiri.


"Ayah hilang kendali!" Teriak Raihan, "Sekarang dia menganggap kalian sebagai musuhnya!"


"I-Itu tidak mungkin! Sihir transformasi ayah tidak seperti milikmu! Ayah benar-benar sudah bisa mengendalikan sihirnya. Tidak mungkin sihir ayah kehilangan kendali!" Balas kakak kedua Raihan dengan emosi.


"Kakak ini seorang peneliti bukan? Mengapa kakak tidak bisa menemukan kebenaran di balik sihir Transformasi!?" Jawan Raihan balik, dengan emosi.


"Aku peneliti di bidang teknologi! Bukan sihir!?"


"Apa bedanya sihir dan teknologi!? Teknologi dan sihir sama-sama tercipta dari ilmu sains dan fisika! Pasti kakak sudah mempelajari hal itu kan!?"


"Jangan seenak-"


"Menghindar!"


Mungkin karena kakak keduanya berteriak dengan keras, ayah Raihan dengan instingnya, memilih untuk menyerangnya terlebih dahulu. Tapi Raihan melihat pergerakan ayahnya yang hendak menyerang kakak keduanya itu, ia segera memerintahkan kakaknya untuk menghindar.


Untung saja, berkat peringatan dari Raihan, Kakaknya dengan mudah menghindari serangannya.


"Aku harus mengalihkan perhatian ayah!"


Pikir Raihan yang bergerak mengambil batu kecil yang terbentuk akibat retakan tanah yang di ciptakan dari serudukan ayahnya. Raihan segera melemparkan batu kecil itu, dengan kekuatan fisiknya yang kuat, Raihan mampu membuat ayahnya yang dalam wujud bantengnya kesakitan akibat lemparan batunya.


"Mooo!" Ayah Raihan merintih kesakitan.


Ayah Raihan yang hendak menyerang kakak keduanya sekali lagi, langsung mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Mooo!"


Dengan lenguhan yang di penuhi dengan amarah, ayahnya sekali lagi menyerang ke arahnya.


"Aku tidak bisa menang hanya dengan kekuatan fisikku saja. Aku harus menggunakan sihir!" Pikir Raihan dalam waktu sepersekian detik.


"Magic set."


Raihan mengucapkan kode program pengaktifan particle Carlania sembari mengumpulkan particle Carlania di dalam tubuhnya. Ia kemudian menggunakan Particle Carlania untuk mempengaruhi selnya. Mempengaruhi sel-sel khusus di kelenjar endokrinnya untuk memproduksi zat kimia dalam jumlah besar. Zat kimia itu berupa hormon. Dan hormon yang diproduksi secara besar-besaran di tubuhnya adalah hormon adrenaline dan Endorphine.


Kedua hormon ini langsung menunjukkan efeknya. Memberikan Raihan tenaga tambahan. Memberikan ilusi, seakan-akan kekuatan fisiknya meningkat.


Satu-satunya sihir yang dapat digunakan dengan baik oleh Raihan adalah sihir penguatan fisik. Yang dimana kerjanya meningkatkan reproduksi hormon Endorphine dan Adrenaline secara besar-besaran, memberikan ilusi kalau kekuatan fisiknya meningkat.


"Baaaam!"


Kedua tanduk tebal lagikan runcing yang mengarah kearahnya, ia tangkap dengan presisi. Ia menggenggam tepat di bagian batang tanduk itu.


"Rrrraaah!"


Raihan mengeluarkan suara teriakan keras saat menahan tandukan dari ayahnya.


Ia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya.


Walaupun ia telah menggunakan sihir penguatan fisik, kekuatan fisiknya tidak benar-benar meningkat. Karena itu Raihan masih kesusahan menahan tandukan ayahnya, yang dimana kekuatan fisik ayahnya benar-benar sudah meningkat akibat sel mutasi yang menjadi dasar sihir transformasinya.


Walaupun begitu, Raihan masih mampu mengangkat ayahnya. Itu dikarenakan hormon adrenalin yang di produksi dalam jumlah besar, menahan rasa sakit yang ia derita saat ia mengerahkan seluruh kekuatan ototnya saat ia mengangkat ayahnya.


Manusia secara tidak sadar akan membatasi kekuatannya saat ia merasakan rasa sakit. Karena itu manusia tidak bisa mengeluarkan kekuatan fisik maksimalnya apabila ia merasakan sakit pada tubuhnya. Tapi karena rasa sakit yang di derita Raihan telah menghilang, ia pun mampu mengeluarkan seratus persen kekuatan fisiknya.


"Baaam!"


Raihan membanting ayahnya ke tanah dengan keras.


Tapi Raihan tidak berhenti, ia mengangkat ayahnya sekali lagi, membantingnya sekali lagi.


"Baaaam!"


"Raaaaaah!"


Tidak puas membanting ayahnya sekali, dua kali, Raihan mengangkat ayahnya lagi, membanting ayahnya untuk yang ketiga kalinya ke tanah.


Baaaam!" Bunyi benda keras yang terbanting ke tanah sekali lagi terdengar di ruang latihan keluarga Adaka.


Tapi Raihan tidak berhenti, ia masih memiliki tenaga. Tenaga besar yang dihasilkan dari hormon adrenalinnya.


"Baaam! Baam! Baam! Baam! Baaam! Baam! Baam! Baam! Baam! Baam! Baam! Baam! Baam! Baam! Baaaam!"


Raihan membanting ayahnya berkali-kali ketanah. Bunyi dentuman keras diikuti dengan suara lenguhan kesakitan dari mulut ayah Raihan menyertai, saat Raihan membanting ayahnya berkali-kali layaknya boneka yang di hempas-hempaskan ketanah.


"Raaaaah!"


Untuk penutupan dari gerakan brutal Raihan yang membanting ayahnya, ia melemparkan ayanya ke atas.


Ayah Raihan terlempar hingga menghantam langit-langit ruangan. Mengikuti gaya gravitasi di sertai dorongan akibat menabrak langit-langit ruangan, ayah Raihan dengan cepat turun ketanah, menyebabkan ia terbanting lebih keras ke tanah.


"Mooo!" Lenguhan yang lebih keras keluar dari mulut ayah Raihan.


Tapi semua gerakan yang Raihan lakukan akan percuma apabila ayahnya masih sadar. Sel mutasinya pasti akan menyembuhkan luka yang di deritanya dalam kurun waktu beberapa menit.

__ADS_1


Atas dasar itu, Raihan memutuskan untuk menutup pertarungan ini.


Raihan melompat, mengarahkan tumitnya untuk jatuh tepat ke kepala ayahnya yang saat ini masih terbaring di tanah.


"Bang!"


Dengan ketepatan yang presisi, tumit kakinya mengarah langsung ke ubun-ubun ayahnya. Menyebabkan benturan keras di kepalanya yang langsung mengarah ke otak.


Tidak peduli seberapa kuat ayah Raihan, ia tidak mampu menahan serangan yang langsung mengarah ke otak itu. Membuatnya pingsan. Mengakhiri pertarungan antara ayah dan anak.


10 menit kemudian...


Ayah Raihan sadar, saat tubuhnya terbaring di lantai. Matanya langsung mengarah kelangit-langit ruangan sesaat ia membuka matanya.


Tidak lama kemudian, ia melihat wajah kedua anaknya yang menatapnya dengan khawatir.


"Rudy," Katanya memanggil anak pertamanya. "Randy," Sambungnya memanggil nama anak keduanya. "Apa yang terjadi?" Tanyanya.


Ia sebenarnya mengingat apa yang terjadi. Lagipula kejadian itu tidak berlangsung lama hanya beberapa menit yang lalu.


Saat itu, ia tidak terima kenyataan karena telah di pecundangi oleh anaknya, membuat emosinya memuncak. Ia dengan emosi yang membara, mengumpulkan energi sihir untuk membuat sihir transformasinya semakin kuat. Lantas karena hal itu, pikirannya tiba-tiba menjadi aneh.


Layaknya seseorang yang terkena skizofrenia, ia mendengarkan suara bisikan yang entah dari mana datangnya. Bisikan yang terdengar seperti suara iblis.


Saat ia terus mengumpulkan partikel Carlania, membuat, kesadarannya menghilang seketika. Dan saat ini, sewaktu ia sadar, ia berbaring di tanah. Dengan tubuh yang di penuhi dengan rasa sakit. Walaupun ia tidak sadar beberapa menit yang lalu, tapi kemampuan berpikirnya, sampai ke sebuah kesimpulan...


"Ayah kehilangan kendali akan sihir ayah." Jawab anak pertamanya, Rudy, atas pertanyaannya.


"Mmmm..." Anak keduanya, Randy, mengangguk. Seolah menegaskan hal itu. "Ayah bahkan sempat menyerang kami berdua. Untungnya Raihan berhasil mengalahkan ayah."


"Begitu ya... Aku telah kalah..." Jawabnya dengan lemas.


Ayah Raihan, Rangga Adaka. Adalah orang yang memegang teguh pendiriannya, ia selalu meyakini motto keluarganya. 'Kekuatan.' Itulah yang di ajarkan kepadanya sedari kecil.


Ia di latih secara fisik dan mental untuk bisa menggunakan sihir transformasi dengan benar. Ia bahkan berhasil mengalahkan ayahnya dalam duel tangan kosong. Karena itu ia dinyatakan siap untuk menggunakan sihir transformasi, ia di berikan ramuan oleh ayahnya dan dapat menggunakan sihir transformasinya dengan benar saat pertama kali mencobanya.


Hal ini membuat Rangga Adaka semakin meyakini motto keluarganya. Ia telah meyakini kekuatan yang telah ia dapat.


Bahkan, saat kedua anaknya lahir. Ia tidak terkejut sewaktu kedua anaknya berhasil menggunakan sihir transformasi dengan baik. Walaupun tidak sempurna, masih ada beberapa bagian yang tidak berubah menjadi banteng utuh, dia senang melihat, bakatnya turun kepada anaknya.


Saat anak ketiganya lahir. Ia merubah gaya pelatihan yang telah di wariskan, berharap anak ketiganya berbakat sama seperti kedua anaknya. Tapi kenyataan tidak selalu sesuai dengan ekspetasi. Anak ketiganya tidak berbakat seperti kedua kakaknya. Ia bahkan tidak menganggap anak ketiga itu sebagai anaknya, karena tidak mewarisi kekuatan dan bakat miliknya.


"Keluarga Adaka. Adalah orang-orang berbakat! Orang-orang yang kuat! Yang tidak memiliki dua hal itu, tidak pantas menjadi keluarga Adaka!"


Itulah yang selalu di pikirkannya saat melihat anak ketiganya yang tidak berbakat itu. Membuat rasa sayangnya kepada anak ketiganya memudar, hingga membuatnya buta akan bakat anaknya sendiri.


"Apakah selama ini aku salah dalam mendidik Raihan..." Pikir Rangga, dalam penyesalan terdalamnya.


Rangga bangkit, duduk di atas tanah. Ia melihat sekeliling, melihat Raihan yang berdiri tidak jauh darinya.


"Apakah ayah memiliki sesuatu yang ingin ayah katakan?" Tanya Raihan dengan ketus.


".... Kau menang Raihan... Ayah akan menepati janji ayah. Ramuan itu ada di dalam brangkas di kamar ayah. Kau bisa minta kode brangkas ke ibumu." Kata ayah Raihan dengan lemas.


"Begitu...? Terima kasih." Kata Raihan, sebelum berbalik, membelakangi ayahnya.


"Raihan... Ayah... Minta maaf..." Kata ayah Raihan dengan suara lirih.


Raihan yang sudah berjalan beberapa langkah menghentikan langkahnya saat mendengar permintaan maaf dari ayahnya.

__ADS_1


Ia tanpa menanggapi, bahkan tanpa menengok ke arah ayahnya, terus berjalan, keluar dari ruang bawah tanah.


"Terlambat untuk meminta maaf sekarang." Pikir Raihan, terus melanjutkan langkahnya.


__ADS_2