
Matahari telah berada tepat di atas kepala, jam telah menunjukkan pukul 12 tepat. Kelas pagi telah selesai, sekarang waktunya untuk istirahat.
Aku, Natasha, Alexandria, Dani dan Raihan. Atau bisa di bilang, seluruh murid kelas A. Pergi keluar ruangan kelas, menuju kantin.
Saat di kantin, kami berlima memesan makanan yang kami suka. Untungnya, saat ini terdapat sebuah meja makan yang kosong. Sehingga kami, murid kelas A, dapat duduk di meja makan bersama.
Sebelum kelas pagi dimulai, Raihan segera menundukkan kepalanya sesaat kami memasuki kelas. Ia berterima kasih padaku, karena telah membantunya untuk melawan ayahnya dalam sebuah duel.
Yang kulakukan hanyalah menerima rasa terima kasihnya.
Walaupun telah diakui oleh ayahnya, bukan berarti hubungan Raihan dengan keluarganya membaik. Malahan menurut cerita yang ia ceritakan tadi pagi, hubungannya dengan keluargnya malah semakin canggung.
Bahkan dari ceritanya, ia tidak melakukan pembicaraan apapun dengan keluarganya saat sarapan tadi pagi.
Aku bisa mewajarkan hal ini.
Mengingat apa yang telah keluarga Raihan lakukan kepadanya hingga pada titik ini, akan sulit untuk memperbaiki hubungannya dengan keluarganya yang memang sedari awal memang sudah buruk.
Jika di ibaratkan, hubungan Raihan layaknya kaca pecah. Yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan sebuah lem. Kaca pecah yang apabila disatukan, masih akan terlihat retakan kaca itu.
Aku tidak bisa mengibaratkan keluarga Raihan seperti itu sebenarnya, dikarenakan keberadaan sihir di zaman sekarang ini, yang dapat membalikkan hukum entropi untuk mempebaiki kaca pecah. Tapi pengibaratan ku juga tidak sepenuhnya salah, karena tidak ada satupun sihir yang dapat memperbaiki hubungan keluarga yang telah retak.
Cara memperbaiki hubungan yang sudah seperti itu hanyalah membuang harga diri yang ada, dan saling memaafkan satu sama lain. Melupakan semua hal yang terjadi... Itupun bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
Dari cerita Raihan, nampaknya ayah dan kedua kakaknya sudah memaafkan Raihan. Tapi Raihan, yang telah diperlakukan buruk, merasa maaf mereka hanyalah kata kosong sekarang.
Raihan pasti berpikiran, kenapa ayahnya tidak melakukan hal itu sedari dulu. Mengapa baru sekarang meminta maaf? Perasaan kecewa, benci, marah, dan segala emosi negatif yang di pendam Raihan kepada keluarganya benar-benar mencapai puncaknya saat ia melakukan duel dengan ayahnya kemarin.
Jujur saja, aku tidak terlalu peduli dengan hubungan Raihan dan keluarganya. Dan juga aku sudah tahu, pasti akan seperti ini hasil akhir yang kami dapatkan.... Tapi nampaknya hasil akhir ini tidak memuaskan Dani, ia kecewa dengan hubungan Raihan dan keluarganya yang tidak segera membaik. Walaupun kecewa, Dani masih bersikap realistis, dengan menerima hasil akhir ini apa adanya.
Aku tidak kecewa dengan hasil akhir ini, karena sedari awal, tujuan ku bukan untuk membantu Raihan memperbaiki hubungannya dengan keluarganya. Tapi untuk membantu Raihan mengendalikan sihir transformasinya... Jika Raihan dapat mengendalikan sihirnya dengan baik, aku akan puas dengan hasil akhir ini.
Sembari mengingat hal yang terjadi tadi pagi, aku terus menyuap makanan ku kedalam mulut. Tidak seperti biasanya, hari ini semua orang memakan makanan mereka dengan tenang. Tidak di selingi dengan percakapan ringan. Berkat ini jugalah, kami dapat dengan cepat menghabisi makanan kami dalam waktu lima menit.
"Sesuai yang kita diskusikan di grup chat tadi malam. Ayo kita pergi ke lapangan." Ucap Alexandria, sesaat ia menghabisi minumannya.
"Hah...? Grup Chat...? Sejak kapan kita memiliki grup chat...?"
Terlepas dari kebingungan di kepalaku, Alexandria, Raihan, dan Dani beranjak dari tempat duduknya.
Aku dan Natasha saling menatap, dari ekspresinya yang sama bingungnya dengan ku, nampaknya Natasha juga tidak tahu menahu mengani grup chat yang dimaksud oleh Alexandria itu.
"Mira, Natasha, apa yang kalian lakukan? Ayo kita pergi ke lapangan." Ajak Alexandria, yang posisinya sudah agak jauh dari meja tempat kami makan.
Aku dan Natasha beranjak dari tempat duduk kami, berjalan mendekati kawan-kawan sekelas kami. Dari depan kantin, kami berjalan menyusuri koridor sekolah hingga akhirnya kami sampai di luar gedung sekolah. Dari sini, kami terus berjalan hingga sampai ke lapangan belakang gedung sekolah.
__ADS_1
"Sejak kapan kita memiliki grup chat?" Tanya ku, sesaat kami berada di lapangan.
"Ah... Aku lupa memasukkan kalian berdua ke grup Chat." Ucap Alexandria, dengan wajah seakan ia menyadari kesalahan besar.
Jadi hanya aku dan Natasha yang belum masuk ke grup chat yang mereka buat...
Dengan menghela nafas panjang, aku bisa segera menebak sejak kapan kawan sekelasku membuat grup chat itu.
Pasti jawabannya saat Raihan dirawat di ruang perawatan... Sungguh tidak tahu diri sekali Alexandria. Padahal seharusnya dia bisa segera memasukkan kami ke dalam grup Chat sesaat ia meminta maaf padaku. Maksud ku... Kejadian itu sudah berapa minggu yang lalu, dan dia baru ingat sekarang kalau aku dan Natasha belum di masukkan ke dalam grup Chat!
"Yaaa... Kau tahu, suasana saat itu masih canggung-canggungnya, dan juga kita segera fokus melatih Raihan, jadi hal ini terlewat di dalam kepala ku... Maaf ya..." Kata Alexandria dengan nada menyesal.
"Terserahlah," Kataku. "Lalu, apa yang kita lakukan di lapangan ini?"
"Untuk mengetes sihir Raihan."
"Hmmm...."
Raihan pergi ke tengah lapangan, melakukan sedikit pemanasan sebelum akhirnya, ia bersiap-siap untuk mengaktifkan sihirnya.
Raihan memejamkan matanya, mengumpulkan fokus. Ia kemudian menghirup udara dalam jumlah besar dari hidungnya yang kemudian ia keluarkan melalui mulutnya. Hal itu ia lakukan selama beberapa kali.
Setelah ia rasa dirinya telah siap. Raihan segera mengumpulkan partikel Carlania dalam jumlah yang cukup, setelah itu ia memasukkan program ke partikel Carlania yang telah ia kumpulkan. Hal ini segera mempengaruhi sel mutasi dalam tubuhnya, seketika membuat tubuh Raihan bertransformasi menjadi banteng dalam waktu beberapa detik.
"Aku berhasil! Hahahaha... Aku tidak kehilangan kesadaran ku! Mooo!" Dengan suara berat, layaknya suara banteng, Raihan berkata dengan gembira sambil melompat-lompat dengan keempat kakinya.
Ia begitu bahagia, akhirnya ia bisa menggunakan sihir transformasinya dengan baik.
Hal ini membuat Dani dan juga Alexandria tersenyum lega. Mereka berdua bertepuk tangan atas pencapaian yang Raihan capai.
"Terima kasih Mira. Ini semua berkat bantuan mu." Kata Raihan sambil mengangguk-anggukan kepala bantengnya.
Mendengar ucapan terima kasih dari Raihan, membuat mulutku sedikit membengkok keatas, mengeluarkan senyuman kecil. Walaupun tidak ada rasa bangga ataupun bahagia saat melihat kawan ku berhasil melakukan pencapaian ini, tapi aku lega dan bersyukur atas semua usaha dan waktu yang telah ku habiskan untuk melatih Raihan hingga bisa sampai ke tahap ini.
Aku merasakan semua usaha yang telah kulakukan telah terbayar dengan impas. Walaupun sempat berpikiran semua yang kulakukan akan berakhir sia-sia karena kejadian sewaktu di ruang perawatan beberapa minggu lalu, aku sungguh lega dan bersyukur, mengetahui kalau semua usaha yang kulakukan tidaklah sia-sia dalam membantunya.
"Sama-sama. Sekarang yang harus kau lakukan, adalah mengembangkan sihir mu itu." Kataku kepada Raihan.
"Baik Mira. Akan ku lakukan."
Raihan tanpa menyanggah ataupun menolak, segera menuruti perkataan ku. Hal ini membuat ku berpikir, apakah cuci otak yang kulakukan padanya masih berpengaruh? Kalau masih berpengaruh, aku tidak tahu bagaimana untuk menghilangkan pengaruhnya. Lagipula tidak ada ruginya kalau cuci otakku masih berpengaruh bukan? Dengan begini, aku bisa mempunyai bawahan yang bisa ku perintahkan sesuka ku.
Memikirkan kemungkinan ini, sekali lagi membuat senyuman terukir di mulutku.
Puas melihat Raihan yang bersenang-senang dengan wujud bantengnya, aku mengalihkan pandangan ku ke arah Natasha. Ia tidak seperti yang lainnya, yang tersenyum saat melihat Raihan yang berhasil melakukan sihir transformasi. Anehnya, ekspresi Natasha saat melihat Raihan melakukan sihir transformasi adalah.... Panik...?
__ADS_1
Aku tidak yakin, tapi satu hal yang pasti, wajah Natasha menunjukkan ekspresi yang berbeda dari kami. Penasaran, akupun bertanya mengenai alasan mengapa ia berekspresi seperti itu.
"Ada apa Natasha? Kau tidak senang dengan pencapaian Raihan?"
"Hah... E-eee... Uuhm... Tentu saja aku senang, aku benar-benar senang kok..."
"Lalu mengapa kau berekspresi seperti itu?"
"....Raihan menggunakan seragamnya saat bertransformasi... Apakah itu tidak apa-apa? Bukankah sehabis ini kita masih ada pelajaran?"
"..... Ah..."
Semua orang terdiam mendengar perkataan Natasha, sebelum akhirnya kepala kami seakan-akan ditampar oleh benda keras yang segera mengingatkan kami dengan hal itu. Kamipun hanya bisa melihat ke wajah Natasha dengan tatapan kosong, dengan ekspresi terpelongo layaknya orang bodoh.
Untungnya, Raihan diperbolehkan untuk mengenakan pakaian olahraga selama kelas siang. Sewaktu pulangan, ia segera meminta seragam baru dari wali kelas kami. Dan untungnya lagi, seragamnya segera dibuatkan oleh pihak akademi, tapi untuk masalah proses pembuatan seragam ini, Raihan tidak mendapatkan keuntungan.
Seragam Raihan memakan waktu pembuatan hingga 3 hari penuh. Sehingga sisa minggu ini, ia menghabiskan waktu belajar dikelas dengan seragam olahraga, hingga hari seninpun tiba, sampai dia benar-benar bisa menggunakan seragam akademi lagi.
***
"Hmmm.... Sudah hampir dua bulan semenjak murid-murid baru masuk ke akademi ini. Tapi tidak ada hal menarik yang terjadi."
"Apa yang anda harapkan? Wajar jika tidak terjadi apa-apa. Lagipula mereka baru bersekolah di akademi ini baru dua bulan. Untuk mengingat seluruh bangunan di akademi saja tidak cukup dalam waktu sesingkat itu. Mengingat seberapa luasnya akademi ini."
"Begitu...? Di zaman ku dulu, kita para murid, sudah berbuat kekacauan saat bulan pertama masuk di akademi ini."
"Haaaah.... Sudah saya katakan, jangan membandingkan zaman sekarang dan zaman anda."
"Yah, apapun itu... Aku masih bosan, apakah kau ada ide untuk menghilangkan kebosanan ku ini?"
"..... Sebenarnya, ada satu dikepala saya.... Hanya saja, saya tidak yakin ini adalah waktu yang tepat untuk memulainya."
"Eeeeh... Apa itu? Katakan pada ku!"
"Pertandingan antar kelas. Sudah jadi tradisi bukan? Untuk melakukan hal itu. Tapi seperti yang saya katakan, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memulainya."
"Tidak apa-apa, mulai saja. Memangnya apa faedahnya menunda-nunda hal itu."
"Tapi... Bukankah, pertandingan biasa dilakukan setelah ulangan tengah semester? Masih ada waktu satu bulan lebih sebelum ulangan tengah semester dilakukan."
"Tidak apa-apa, mulai saja. Lebih cepat lebih baik, lagipula tujuan kita melaksanakan kegiatan itu untuk mengembangkan bakat para murid bukan? Mulai saja secepatnya."
"Uuugh... Anda tidak bisa-.... Haaaah... Baiklah akan saya urus masalah itu, walaupun saya tidak yakin bisa memulai kegiatan itu dalam waktu dekat. Berikan saya waktu tiga minggu untuk melakukan persiapan."
"Baiklah... Aku serahkan padamu kalau begitu, fufufu... Sekarang, kita lihat bagaimana murid baru ini untuk menghiburku, terlebih lagi gadis kecil itu... Aku harap dia menghibur ku sama seperti saat ujian masuk. Fufufu..."
__ADS_1