
"Entah kenapa, setelah mengetahui Raihan diperlakukan dengan buruk oleh keluarganya membuat ku semakin prihatin kepadanya." Kata Alexandria dengan wajah sedih.
Makanan kami belum habis, karena kami fokus dengan cerita Dani, membuat kami tidak memiliki waktu memakan makanan kami. Karena itu selepas Dani pergi, kami langsung melanjutkan memakan makanan kami.
"Aku memiliki sesuatu yang ingin ku coba. Rahasiakan ini kepada Dani." Kataku kepada kedua kawanku.
Aku memberitahu isi pemikiran ku beserta alasan aku melakukan hal yang hendak ku lakukan ini. Reaksi mereka setelah mendengar perkataanku adalah terkejut dan tidak yakin. Bahkan alasan yang kuberikan pada mereka cukup logis, tapi mereka masih tidak yakin dengan apa yang hendak ku perbuat ini.
"Apakah kalian ingin membantu ku?"
Mereka tidak menjawab, aku memberikan sedikit dorongan. "Tenang saja, apabila berhasil aku akan menjelaskan semuanya pada Dani, bahkan jika ia masih marah, aku akan pasang badan untuk jadi bahan pelampiasan."
"Kau yakin hal yang akan kau lakukan ini akan berhasil?" Tanya Alexandria.
"Seratus persen pasti berhasil." Dengan jawaban tanpa ragu sedikitpun, membuat mereka bersedia membantuku berbuat sedikit tindakan jahat kepada Raihan dan Dani.
***
Beberapa hari kemudian, lebih tepatnya pada hari rabu. Pelajaran kedua telah selesai, seperti minggu-minggu sebelumnya, kami anak murid kelas A, diberikan waktu pelajaran khusus untuk belajar mandiri, yang dimana kami gunakan waktu ini untuk melatih Raihan di lapangan belakang sekolah.
Belajar dari minggu pertama saat mulai latihan, yang pada saat itu aku memaksanya untuk melepaskan pakaian, kali ini Raihan setiap hari membawa baju ganti khusus. Baju ganti itu terbuat dari kain khusus yang tercipta dari teknologi nanotech yang akan menyesuaikan tubuh Raihan saat bertransformasi, rupanya baju yang dikenakan Raihan adalah warisan dari keluarganya. Ternyata sejahat-jahatnya keluarga Raihan, mereka masih menyediakan pakaian khusus untuk Raihan sendiri.
Sebenarnya keluarga Raihan tidak sepenuhnya jahat jika kulihat dari sudut pandang mereka. Mereka hanya ingin Raihan menjadi kebanggaan, dan orang yang berguna untuk mereka. Walaupun begitu, perbuatan keluarga Raihan juga tidak sepenuhnya benar. Jika kami ingin benar-benar mengatasi masalah sihir Raihan, jelas kami harus mengatasi keluarganya terlebih dahulu. Kami harus bisa menciptakan lingkungan untuk Raihan agar ia tidak tertekan.
__ADS_1
Tapi apakah tidak terlalu lancang jika kami melakukan itu?
"Mira, kapan kita akan melakukan rencana mu?" Natasha, yang berdiri di samping ku menanyakan hal itu.
"Kita akan melakukannya sekarang. Ku serahkan Dani padamu."
Apapun itu, untuk saat ini aku harus fokus untuk menjalankan rencanaku.
"Magic set, Barrier!" Aku tanpa pemberitahuan apapun membuat Barrier yang menghalangi ku dan Raihan.
Dani tahu aku membuat Barrier untuk mengurung Raihan sebagai tindakan pencegahan kalau-kalau ia kehilangan kendali. Tapi kali ini, Dani kebingungan, karena bukan hanya Raihan yang di kurung di dalam, tapi aku juga ikut bersamanya.
"Apa yang kau lakukan Mira?" Tanya Dani.
"U-Uhmmm..."
"Kenapa? Kau tidak bisa?"
"Boleh aku tahu alasan mu melakukan ini?" Tanya Raihan.
"Apakah penting mengetahui hal itu? Sudahlah... Cukup bicaranya, ayo cepat gunakan sihirmu untuk melawan ku."
Raihan tidak mau menuruti ku. Wajar saja, bahkan jika aku di posisi Raihan, aku juga tidak mau bergerak tanpa adanya informasi yang jelas. Karena tidak memiliki cara lain membuat Raihan bergerak untuk mengaktifkan sihirnya, aku memutuskan untuk memaksanya bergerak menyerang ku.
__ADS_1
"Magic set, Delay Magic." Aku mengaktifkan sihir yang sama, yang kugunakan saat melawan android beberapa minggu yang lalu.
Mengaktifkan sihir lain yang akan menjadi daftar sihir yang ku gunakan untuk menyerang dan bertahan dari serangan Raihan. Aku mengaktifkan total sepuluh macam sihir, diantaranya adalah:
No.1. Fire Ball, No.2. Gravity Field, No.3. Bubble, No.4. Giant Rock, No.5 Creation: Smoke Bomb, No.6. Cyclone, No.7. Fire Spear, No.8. Wind Cutter, No.9. Barrier, No.10. Creation: Flash Bomb.
Suasana menengang saat aku mengaktifkan sihirku. Raihan semakin kebingungan, Dani yang berada diluar mulai menatap ku dengan tatapan tajam, mengevaluasi, dan curiga. Aku mengabaikan semua itu, memilih mengaktifkan sihirku untuk menyerang Raihan.
"Activated Number four!"
Sihir yang berada di nomor urut nomor 4 adalah sihir tanah bernama 'Giant Rock' sihir ini memiliki efek menciptakan batu besar berdiameter 10 meter. Batu besar itu dengan kecepatan tinggi melesat kearah Raihan. Ia secara reflek mengaktifkan sihir penguatan fisik, dan menghindari sihir ku.
"Apa yang kau lakukan!?" Teriak Raihan dengan ekspresi gugup.
Mengabaikan pertanyaannya, aku melanjutkan mengaktifkan sihirku, terus menyerangnya tanpa jeda sedikitpun. Mengaktifkan sihir nomor urut dua 'Gravity Field' sedetik kemudian melanjutkan mengaktifkan sihir nomor urut tujuh 'Fire Spear' dengan kedua sihir itu aku menyerang Raihan.
Sihir Gravity Field adalah sihir yang mengendalikan particle elementer Graviton untuk membuat gaya gravitasi disekitaran subjek berubah. Aku mengendalikan Particle Graviton milik Raihan yang segera membuat tubuhnya menjadi berat karena tambahan gaya gravitasi. Akibat dari sihir ini membuatnya jatuh tersungkur, tidak kuat untuk mengangkat berat tubuhnya sendiri.
Setelah Raihan jatuh tersungkur, aku mengaktitkan sihir Fire Spear yang segera melesat dengan cepat kearah Raihan. Pada titik inilah, Dani yang berada diluar Barrier, yang dari awal pertarungan diam mengevaluasi, berteriak dengan wajah pucat kepada sahabatnya yang dalam bahaya.
"Raihan, cepat aktifkan sihir mu!"
Sayangnya, peringatan Dani itu terlambat. Tombak api yang kuciptakan telah terkena tubuh Raihan dengan telak, lebih tepatnya terkena bagian dadanya. Bagian mata tombak yang tajam, dan tubuh tombak yang terbuat dari api yang menyala-nyala segera menusuk dada Raihan, bau daging yang terbakar dapat tercium saat tombak itu menancap tepat di dadanya.
__ADS_1
"Maaf ya. Aku sudah lelah melatih mu. Memang tidak ada gunanya melatih seseorang yang tidak berbakat seperti mu. Anggap saja apa yang kulakukan sekarang adalah pelampiasan kekesalan." Kataku dengan dingin kepada Raihan yang masih sadar, yang sekarang menatap ku dengan ekspresi yang tidak dapat ku deskripsikan.