
"Mira!"
"Mira!"
Murid kelas A, yang masih tersisa, yakni Natasha dan Alexandria keluar dari lorong, meninggalkan Dani yang masih tidak sadarkan diri di dalam sana. Mereka berlari memasuki lapangan, mendatangi Mira yang sudah di bawa oleh tim medis di atas sebuah tandu.
Alexandria dan Natasha memiliki ekspresi khawatir diwajah mereka. Bagaimana tidak khawatir? Pemimpin mereka, sekaligus otak dari semua rencana mereka saat ini terluka parah.
"Mira!"
"Mira!"
Teriak kedua gadis itu saat sampai di samping tandu tempat Mira berbaring.
"Mohon jangan mendekat!" Tim medis memberi peringatan, sembari mendorong kedua gadis itu menjauh.
"Bagaimana dengan kondisi Mira?" Tanya Natasha.
"Walaupun nampaknya menerima luka yang cukup parah, untungnya luka itu tidak sampai ke bagian vitalnya. Dia tidak dalam kondisi bahaya, dia tidak sadarkan diri hanya karena kelelahan." Ucap tim medis kepada kedua kawan Mira, menenangkan mereka.
Karena seorang profesional langsung yang mengatakan hal ini, perkataannya sudah jelas dapat terjamin. Alexandria dan Natasha menghela nafas lega saat mendengar perkataan tim medis itu.
"Biarkan kami melakukan pekerjaan kami, kami akan membawanya ke ruang medis untuk diobati." Tim medis memberitahu kepada kedua gadis itu, sebelum mereka akhirnya pergi berjalan menuju lorong tempat ruang medis berada, sembari membawa tandu tempat Mira berbaring.
"Di mohon untuk anggota kelas A yang lain, untuk kembali ke lorong kalian." Ucap pembawa acara, mengingatkan Alexandria dan Natasha.
__ADS_1
Natasha menatap tim medis yang membawa Mira dengan wajah khawatir, ia nampak ingin pergi untuk menyusul tim medis itu. Tetapi ia segera mengurungkan niatnya, saat pundaknya disentuh oleh Alexandria.
"Serahkan Mira pada tim medis. Kita masih memiliki tugas lain." Ajak Alexandria kepada Natasha untuk kembali ke dalam lorong.
Natasha terdiam sejenak, masih terus menatap tim medis, saat tim medis itu telah memasuki lorong, Natasha mengangguk pelan. Ia berbalik, berjalan bersama Alexandria kembali ke lorong kelas A.
Sementara itu, di lorong lain, lebih tepatnya lorong yang menjadi markas kelas B. Reiko Kagami, berjalan memasuki lorong sembari tersenyum puas.
"Selamat atas kemenangan mu Reiko." Ema menyambut kedatangan ketua timnya itu sembari tersenyum senang.
"Hmph!" Reiko mengendus dengan wajah tidak puas saat mendengar pujian dari Ema.
"...?" Ema merasa bingung, ia memiringkan kepalanya dengan tanda tanya besar yang menggantung dikepalanya. Memang benar Reiko menang di pertandingan barusan, tapi entah kenapa, semenjak ia kembali, wajahnya cemberut, ia seolah-olah tidak puas dengan hasil pertandingan yang telah ia menangkan.
"Entah kenapa aku merasa janggal pada kemenangan ku tadi." Ucap Reiko, tidak puas, sembari menggigiti ujung kukunya.
"Ya. Kini aku mengerti apa maksud mu Ema. Rasanya para murid kelas A itu seperti menahan diri...? Entahlah, tapi anak bernama Mira itu, tidak ragu untuk mundur... Juga yang paling membuat ku kesal... Senyum sombongnya sewaktu ia menyatakan menyerah! Aaaakh! Mengingatnya saja sudah membuat ku kesal!" Celotehnya, sembari menghentak-hentakkan kakinya ketanah dengan wajah memerah karena marah.
"Hmmm...." Mendengar celotehan dari Reiko, Ema segera memegangi dagunya dengan ekspresi rumit. Ia memutar otaknya, mengalanisis semua hasil pertandingan kelas A sejauh ini.
"Saat aku melawan anak dari keluarga Adaka itu, aku berhasil menang dengan mudah, seolah-olah ia menahan diri...? Tapi apakah benar seperti itu...? Keluarga Adaka terkenal dengan sihir Transformasinya, dan semua keluarga Adaka dapat bertransformasi menjadi banteng. Sama seperti sihir Summoning yang menggunakan hewan untuk menyerang, keluarga Adaka juga menggunakan hewan, perbedaannya hanya bagaimana caranya mereka mengendalikannya saja. Dan kekurangan dari hewan dibandingkan manusia adalah pola serangan yang mononton. Ini dapat terlihat sewaktu aku melawan anak dari keluarga Adaka itu, juga dari hewan panggilan Reiko... Kalau begitu... Apakah anak dari keluarga Adaka itu tidak menahan diri? Aku menang dengan mudah karena memang sihir yang menggunakan hewan semua serangannya mononton, sehingga mudah ditebak?"
Pikiran Ema mulai menjelajah, ia sudah tidak lagi ada dunia nyata. Ia sudah masuk kedalam dunia pikirannya yang dipenuhi dengan data-data acak hasil analisisnya. Tujuannya menjelejah dunia pikirannya, karena ia ingin mengumpulkan, menyusun, dan menguraikan data acak dikepalanya menjadi satu data utuh yang teroganisir dan terstruktur.
"Lalu saat pertandingan anak dari keluarga Kalpataru itu... Entah kenapa dia tiba-tiba kehilangan emosinya? Membuatnya menggunakan sihir dengan tidak terkendali? ... Apapun penyebabnya emosi, satu hal yang jelas dari anak keluarga Kalpataru itu... Sihir yang ia gunakan adalah sihir langka dan memiliki tingkatan tinggi. Aku harus mencegahnya untuk menggunakan sihir yang ia gunakan itu, juga aku harus segera memikirkan cara mengatasi sihirnya itu."
__ADS_1
Hal yang ditakutkan Mira benar-benar terjadi. Ema, dengan pikirannya yang tajam dapat dengan mudah menganalisis kemampuan Dani, dalam waktu sepersekian detik saja ia mampu menemukan cara untuk mengatasi sihir Dani.
"Mmm... Ini cara yang bagus. Dengan cara ini, aku bisa mencegah anak dari keluarga Kalpataru itu. Dia pasti tidak akan bisa menggunakan sihir yang sama untuk kedua kalinya dihadapan ku!" Pikir Ema, tersenyum, saat ia menemukan cara untuk mengatasi sihir Dani.
Ema menjelajah lebih jauh kedalam dunia pikirannya, ia mulai mengumpulkan data acak mengenai Mira. Sayangnya, data acak mengenai Mira dikepalanya sungguh sangat sedikit, membuatnya sedikit kesusahan untuk mengorganisir kemampuan Mira melalui data acak yang ada di dunia pikirannya.
"Kemampuan anak bernama Mira itu dapat terbilang biasa saja...? Dia hanya menggunakan sihir dasar dalam dua pertandingan terakhirnya... Tetapi, dari perkataan Reiko, anak bernama Mira itu nampak menahan diri... Hmmm... Aku kekurangan informasi untuk menilai seberapa hebat anak itu." Pikir Ema.
"Ema! Ema! Ema!"
"Y-Ya!"
Saat Ema ingin menjelajah lebih jauh ke dalam dunia pikirannya, suara Reiko memanggilnya, menariknya kembali kedunia nyata.
"Aku dari tadi memanggil mu." Ucap Reiko dengan sebal.
"Ma-Maaf..."
"Sudahlah, aku hanya ingin memberitahu, lima menit lagi, pertandingan mu akan dimulai. Persiapkan dirimu!" Ucap Reiko.
"Oh? Ternyata kita diberi waktu istirahat ya. Lalu, siapa lawan ku? Apakah murid dari kelas A?"
"Hmmm... Dari proses eliminasi, lawan mu adalah murid dari kelas C. Murid kelas A yang tersisa akan menjadi lawan ku."
"E-Eeeeeh...."
__ADS_1
Karena kurang teliti, Ema melakukan kecerobohan lagi... Walaupun sudah susah payah ia memikirkan rencana untuk melawan Dani, ia malah mendapatkan lawan yang berbeda. Ema hanya bisa mengeluarkan suara keluhan dengan wajah kecewa saat mengetahui semua analisis yang ia lakukan terbuang sia-sia.... Setidaknya sia-sia untuk babak pertama ini.