My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Pengumuman


__ADS_3

Karena kesibukan di Real life cerita ini akan saya Stop dan tidak akan lanjut lagi. Mohon maaf karena telah mengecewakan kalian sekali lagi...


Ternyata Kuliah sambil bekerja itu melelahkan, juga karena Semester makin tinggi, makin berat untuk mencari waktu luang dalam menulis. Karena kebanyakan novel ini mengambil data Ilmiah yang cukup akurat, saya semakin kesusahan dalam mengeksekusi cerita... Jadi banyak alasan mengapa saya memutuskan untuk berhenti.


Oke itu aja... Mungkin juga saya akan menghilang dari Platform ini untuk waktu yang tidak di tentukan...


Selamat Tinggal semuanya👋🏽👋🏽👋🏽


Buat nambah kata... Tulisan yang terakhir saya tulis... melanjutkan Chapter kemarin.


Aku dan Ema pergi meninggalkan tim kami. Sebelum pergi aku menyerahkan anggota kelas B yang lain kepada Raihan. Raihan memiliki kemampuan yang mumpuni, juga, aku juga memperbolehkannya menggunakan sihir penguatan fisiknya, membuat aku yakin, Raihan pasti akan dengan mudah mengalahkan tiga orang dari kelas B, terlepas ia yang kalah jumlah pada saat ini


Aku pergi ke wilayah barat, wilayah yang betul-betul sangat berjauhan dari markas kelas kami berdua. Dengan begini, perkelahian yang akan kami lakukan akan berjalan dengan adil.


Aku dan Ema terus berlari, hingga akhirnya kami sampai pada sebuah tanah kosong. Di daerah perkantoran, terdapat puing-puing bangunan, menandakan kalau tempat ini pernah berdiri sebuah gedung.


Merasa cocok dengan lapangan, atau lebih tepatnya tanah lapang bekas gedung berdiri. Aku dan Ema berhenti berlari. Kami berdua berdiri berhadap-hadapan dengan jarak 7 meter, saling menatap satu sama lain.


Ema berekspresi serius, melihatku dengan tatapan menginspeksi. Sedangkan aku... Aku menyembunyikan niat ku, untuk menganalisisnya, karena itu aku saat ini hanya tersenyum kecil menatapnya dengan tatapan layaknya orang polos.


Baik Ema Knežević... Apa langkah pertama mu untuk melawan ku...


***


Mira Fantasia. Seorang gadis kecil dari kelas A, sekarang saat ini berdiri di hadapan Ema Knežević.


Dia menatap Ema dengan tatapan aneh, dia menatapnya layaknya tatapan anak kecil yang mendapatkan mainan baru, berbinar, dengan kedua bola mata Heterochromia miliknya yang terus menatap ke arah Ema dengan bintang yang muncul di matanya. Ini hanya metafora, bintang tidak benar-benar muncul di matanya.


Di sisi lain, Ema sendiri, menatapnya dengan tatapan skeptis. Layaknya menatap binatang misterius, yang tidak diketahui bahaya yang disembunyikan oleh binatang itu.


Keputusan Ema, saat meninggalkan timnya, karena perkataan Mira yang benar-benar tidak bisa ia duga.


"Posisi ku saat ini di kelas sama seperti mu."


Kata-kata yang telah dirangkainya menjadi sebuah kalimat yang secara implisit adalah kalimat persuasi ini, benar-benar membuat Ema mengambil keputusan tanpa pikir panjang.


Sebuah rangkaian kalimat, yang seketika membuat rasa waspada kepada gadis kecil ini segera meroket. Membuat kewaspadaannya meningkat drastis.


"Jadi gadis kecil ini yang menjadi otak kelas A." Batin Ema, berkata, sambil terus menginspeksi gadis kecil berambut perak di depannya.


Wajah gadis kecil di depannya saat ini sama sekali tidak menunjukkan rasa tertekan, ia tidak bisa mengetahui emosi, atau apa yang ada di kepala gadis kecil itu. Tetapi jika perkataannya benar... Mengenai posisinya sama seperti Ema, berarti gadis kecil ini adalah otak dari kelas A. Dia yang merencanakan semua pergerakan kelas A... Kemampuan gadis kecil di hadapanya tidak bisa ditebak olehnya. Dia nampak bisa di kalahkan oleh Reiko, tapi dari kekalahan itu dia nampak sengaja mengalah... Jelas, ada yang disembunyikan darinya. Dan sesuatu yang ia sembunyikan, adalah informasi penting untuk bisa memenangkan turnamen ini... Begitulah hasil analisis Ema saat melihat sosok di hadapannya, seorang gadis kecil berambut perak, bermata heterochromia, bernama Mira Fantasia.


"Jika ingin mengalahkan seseorang, incarlah kepalanya." Pikir Ema, sambil mengumpulkan energi sihirnya.


Sekejap energi sihirnya terkumpul, Ema mempengaruhi atom di sekitar menyusun atom itu menjadi struktur molekul, menciptakan suatu materi... Sebuah benda, benda yang menjadi senjatanya. Yakni palu godam besar seukuran tubuh orang dewasa, dengan berat puluhan... Tidak mungkin beratnya ratusan kilogram. Walaupun begitu, ia masih dapat mengayunkannya, dengan mempengaruhi partikel graviton di palu yang ia pegang dengan tangan kanannya, palu itu sama sekali tidak terasa berat.


"Hmmm... Sihir yang menarik. Kau bisa menciptakan barang jadi dengan sihir mu." Ucap Mira, terkesan dengan sihir Ema.

__ADS_1


"Ini sihir yang ku kembangkan sendiri." Jawab Ema.


"Hmmm..." Gumam Gadis kecil itu.


Alasan mengapa dia bisa terkesan dengan sihir Ema, karena sebagian besar para penyihir hanya membuat satu benda yang struktur molekulnya tidak rumit. Seperti tanah, air, api, dan berbagai macam hal lainnya. Tidak ada yang membuat benda seperti Ema, yang membuat palu godam dengan konstruksi kompleks. Seperti gagangnya yang terbuat dari kayu, yang dilapisi dengan besi, bagian kepalanya terbuat dari tanah yang dikeraskan, bagian ujung palu itu yang berbentuk datar dilapisi dengan titanium. Benar-benar menunjukkan kalau material yang digunakan dalam satu palu itu sangatlah kompleks.


Untuk merubah partikel menjadi sesuatu materi saja sudah memerlukan rumus yang begitu rumit. Tapi gadis ini, Ema Knežević mampu membuat palu yang kompleks itu dengan waktu singkat, menandakan kalau pemahamannya terhadap ilmu mekanika kuantum tidak bisa dianggap remeh.


Ema Knežević memasang kuda-kuda, bersiap-siap menyerang. Mira merespon hal itu dengan mengangkat tangan kirinya, mengumpulkan partikel Carlania, siap mengaktifkan sihirnya.


Udara seketika menengang, wajah Ema berubah, ia menatap Mira dengan tatapan tajam. Sedangkan Mira, sama sekali tidak merubah ekspresinya, malahan ia makin tersenyum senang, melihat Ema yang bersiap menyerangnya.


"Apakah ada yang lucu?" Tanya Ema.


Sadar kalau ekspresinya yang membuat Ema bertanya seperti itu, Mira merubah ekspresinya, menjadi datar. Seolah-olah tidak peduli akan dunia sekitar.


"Dia sama sekali tidak terlihat tertekan... Tunggu, seingatku sewaktu turnamen pertama ia juga menunjukkan ekspresi yang sama. Ia berekspresi datar, tidak peduli seberapa bahaya situasi yang ada... Apakah emosinya mati?" Pikir Ema, mengamati ekspresi Mira.


"Haaah... Dia seperti ingin memprovokasi ku dengan ekspresinya. Tapi bukannya malah terprovokasi, aku malah semakin mewaspadainya... Jelas orang ini..."


Adalah lawan terberat yang pernah di hadapi Ema.


Ema sadar akan hal itu, walaupun belum bertukar serangan. Tapi dari sifatnya yang begitu tenang, memperlihatkan rasa percaya yang begitu tinggi.


Seseorang bisa sampai ke tahap itu, memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena dua sebab.


Kedua, karena ia tahu persis bagaimana kemampuan lawannya, membuatnya tahu banyak hal untuk bisa mengcounter serangan dari lawannya.


Ema tidak tahu, alasan yang membuat Mira bisa sepercaya diri itu. Tapi yang jelas... Melalui sifatnya ini, Ema tahu, kalau Mira... Lebih superior dari pada dirinya, semakin membuatnya merasa inferior akan kemampuannya.


"Huuuuft..." Ema menghela nafas panjang, merendahkan kuda-kudanya. Kuda-kuda yang cocok untuk membuatnya melesat dengan cepat ke arah Mira.


Detik demi detik berlalu, keringat Ema mulai mengucur dari tubuhnya... Walaupun ia tidak bergerak, rasa gugupnya, membuat dirinya mengeluarkan keringat hingga membasahi keningnya. Saat...


Keringatnya setetes jatuh ke tanah, Ema pun akhirnya bergerak...


Ia melesat...


Melesat dengan kecepatan yang melebihi kecepatan peluru. Dirinya yang telah berevolusi melebihi batas manusia normal akibat Partikel Carlania membuat tanah tempatnya berpijak retak saat ia menggunakan kedua kakinya sebagai pegas untuk membuat tubuhnya melesat dengan kecepatan tinggi. Semakin besar gaya, semakin besar pula energi yang dihasilkan, membuat aspal tempatnya berpijak merasakan luapan energi yang dihasilkan Ema tersebut.


Dalam waktu beberapa milidetik saja, Ema berhasil sampai kehadapan Mira. Mengayunkan palu besarnya, palu godam seukuran orang dewasa itu ke arah Mira. Kepala palu yang telah dibaluti titanium itu diayunkannya ke arah tubuh mungil Mira.


Klang!


Deru angin berhembus saat Ema mengayunkan palunya itu. Kemudian saat palu itu tinggal beberapa senti lagi menghantam tubuh Mira, bunyi besi beradu terdengar. Ema seketika membelalakkan matanya.


Mira Fantasia, yang sebelumnya tidak memegang senjata, kini memegang sebuah tameng di tangan kirinya, menahan serangan Ema dengan sempurna.

__ADS_1


Walaupun Mira berhasil menahan serangan Ema, gaya kejut dan daya dorong dari palu besar milik Ema yang telah ia tambah beratnya itu membuat Mira terpental sejauh 5 meter. Untungnya, ia bisa mendarat dengan mulus di atas aspal walaupun kedua kakinya masih terseret sejauh satu meter saat ia mendarat di tanah.


"Haaah... Sudah ku duga, aku tidak bisa membuat benda sekompleks kamu." Gumam Mira sambil mengibas-ngibaskan tangan kirinya, yang kini sudah tidak memegang perisai lagi. Perisainya menghilang akibat molekul penyusun perisai itu telah ia hilangkan, membuat palunya menghilang di udara tipis. "Sial! Harusnya aku memakai sihir Barrir saja barusan, tangan ku kebas menerima serangan mu." Sambungnya.


"Tentu saja tidak mudah membuat benda seperti ku. Kau kira berapa lama sampai aku bisa menyempurnakan sihir ini?" Balas Ema, mengomentari gumaman Mira.


"Memangnya berapa lama?" tanya Mira.


"..... Lima tahun." Ema sedikit ragu, bisa saja yang ia ungkapkan ini informasi penting, tapi Ema memutuskan kalau informasi ini terkait akan masa lalunya, dan masa lalunya tidak ada hubungannya dengan turnamen kali ini, karena itu setelah diam beberapa saat, Ema pun menjawab pertanyaan Mira.


"Itu lama sekali..." Komentar Mira, terkesan dengan dedikasi Ema untuk menyempurnakan sihirnya.


"Ya... Begitulah, tapi hasilnya tidak sia-sia." Ucap Ema, sembari mengayun-ayunkan palunya, memutar-mutarnya di sekeliling tubuhnya seolah-olah palu godam besar itu hanyalah sebuah tongkat ringan.


"Kemampuan mu sungguh hebat Ema..." Puji, Mira kepada Ema. "Kalau boleh tahu, apakah kau tertarik masuk ke kelas A?" Sambungnya, bertanya.


"Apa maksud pertanyaan mu itu?" Tanya Ema, dengan curiga.


"Dari perilaku mu. Jelas kalau kau tidak tertarik dengan turnamen ini. Saat turnamen pertama, kau hanya bermain-main sewaktu melawan Raihan. Rasanya kau tidak peduli kalau kau menang atau kalah, ku lihat kau hanya ingin mencari hiburan saja dari turnamen ini. Karena itu aku penasaran, mengapa orang yang tidak tertarik dengan turnamen ini, mau berusaha begitu keras sampai-sampai mau menjadi otak dari kelasnya." Jelas Mira, mengungkapkan hasil pengamatannya. "Apakah alasan kau berusaha sekeras ini karena ingin masuk ke kelas A?"


"Aku ingin menanyakan hal yang sama kepada mu. Kenapa orang yang nampak tidak tertarik dengan turnamen ini begitu berusaha keras di turnamen ini? Sampai mau mengambil posisi sebagai otak kelas?" Tanya Ema.


"Karena aku di paksa." Jawab Mira, singkat.


"Kalau begitu sama dengan ku. Aku juga dipaksa oleh Reiko. Dia begitu terobsesi untuk masuk ke kelas A." Jelas Ema.


"Kenapa?"


"Kalian mungkin anggota kelas A tidak sadar akan hal ini. Tapi... Kelas yang lebih rendah dari kelas A, mengalami diskriminasi. Pelaku diskriminasi tersebut adalah kakak kelas kita."


"Aku baru tahu hal ini..." Ucap Mira, terbelalak kaget. "Kau... Tidak mengarangnya bukan?" Tanya Mira, skeptis.


"Kau bebas percaya pada ku atau tidak." Jawab Ema.


"...."


Mira seketika terdiam, dengan wajah merenung. Ia seperti memikirkan sesuatu, entah apa yang ia pikirkan.


"Ngomong-ngomong, bagaimana tangan mu? Apakah masih kebas?"


".... Sudah tidak." Mira berhenti termenung, melihat kearah Ema, sebelum ia menjawab pertanyaannya.


"Bagus kalau begitu. Mari kita lanjutkan." Ucap Ema, mengayunkan palu godamnya, kemudian ia memasang kuda-kuda yang sama, bersiap untuk melesat ke arah Mira.


Mira tersenyum kecil. Kemudian ia juga bersiap, mengangkat tangan kanannya, mengumpulkan partikel Carlania di tangannya. "Terima kasih telah memberikan ku waktu untuk menghilangkan kebas di tangan ku." Ucap Mira.


"Sama-sama..." Jawab Ema, kemudian ia melesat dengan cepat ke arah Mira dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2