
Sesaat ia merapalkan mantranya, aku segera mengalihkan pandangan ku ke gelang yang ia gunakan. Lampu LED yang berwarna hijau berubah warna menjadi warna merah, seketika sebuah benda putih berbentuk bola muncul dihadapannya. Dari sana keluar sebuah objek, layaknya termuntahkan keluar.
Objek itu bukanlah benda, melainkan mahluk hidup. Sebuah hewan. Tidak berselang lama, muncul objek yang sama. Objek itu keluar sebanyak tiga kali dari bola putih didepan Reiko.
Objek yang berupa hewan itu, atau lebih tepatnya hewan Summoning Reiko muncul, hewan-hewan itu terbaring lemas, seperti sedang sekarat.
"Kalian, serang bocah itu!" Perintah Reiko.
Lampu LED yang ada digelang Reiko berubah warna menjadi warna biru. Sedetik kemudian, hewan yang Reiko panggil bangkit, sosok lemas hewan-hewan yang Reiko panggil sebelumnya nampak seperti sebuah ilusi, sesaat Reiko memerintahkan ketiga hewannya untuk menyerang ku.
Hewan yang Reiko panggil sama seperti informasi yang kudapatkan. Panther, Singa, juga macan.
Hewan-hewan yang dipanggil Reiko bergerak, mengikuti perintahnya, ketiga hewan buas itu segera berlari kearah ku, menunjukkan taring, juga cakar mereka. Mereka semua berniat untuk menyerang ku.
"Seperti dugaan ku. Gelang yang ia gunakan memiliki hubungan dengan sihir summoning miliknya... Walaupun masih kurang yakin, tapi dari perubahan warna lampu LED saat dia merapalkan mantra, aku dapat menduga kalau gelang itu memiliki fungsi sebagai stabilizer untuk sihirnya."
Sembari menganalisis fungsi dari gelang yang Reiko gunakan. Aku menghindari serangan dari hewan buas yang Reiko panggil.
Serangan pertama yang datang adalah Panther, hewan buas itu menerjang ku dengan rahangnya yang terbuka lebar, ingin mencabikku dengan taringnya yang tajam. Aku melompat ke kiri, menghindari serangannya.
Serangan kedua datang dari macan. Yang menyerangku dengan dua kali ayunan kaki depannya yang dihiasi dengan kuku tajam lagi runcing. Melompat dua kali kebelakang menjauhi, lintasan dari cakar macan itu, aku menghindari serangan macan itu.
Serangan ketiga datang dari samping, yang dilancarkan oleh raja rimba, yakni singa. Diantara yang lainnya. Hewan satu ini yang menyerangku yang paling agresif. Dia melompat, menerjang leherku dengan rahangnya, aku menunduk, menghindari lintasan lompatannya. Tidak berhenti sampai disitu, singa milik Reiko menyerang ku dengan kaki depannya, mengarahkan cakarnya kearah ku. Vertikal, Horizontal, Diagonal, Horizontal, Vertikal dan Diagonal lagi. Itulah semua lintasan dari cakar singa milik Reiko yang dengan susah payah ku hindari.
"Rawr!"
"Rawr!"
"Rawr!"
Aku tidak bisa bernafas lega karena telah berhasil menghindari semua serangan ketiga hewan buas itu. Mereka tidak berhenti menyerang ku, tidak memberikan ku nafas sedikitpun. Panther menyerang dengan cakarnya dengan ayunan yang tidak terarah, jujur aku dapat dengan mudah menghindari serangan itu, tapi ada macan yang berada disampingku, yang segera melompat, menerjang kearah ku, aku menunduk, menghindar, tapi sesaat kemudian ada singa yang menyerang ku dari belakang dengan cakarnya.
__ADS_1
Aku menghindari semua serangan ketiga hewan itu. Serangan mereka serampangan, membuatku dapat dengan mudah menghindar.
Walaupun serampangan, jumlah serangan yang dilancarkan tidak sedikit. Lama kelamaan, stamina ku semakin berkurang, membuat reaksi ku lambat sedetik saat menghindar. Untungnya, aku masih bisa menghindar dengan presisi. Dikarenakan hormon adrenaline ku yang meningkat, membuatku masih bisa menghindari serangan para hewan buas ini walaupun aku saat ini tengah kelelahan.
"Rawr!"
Singa menerjang ku dari belakang. Aku reflek melompat kesamping.
"Rawr!"
Saat melompat kesamping, sudah ada macan yang menunggu ku dengan ayunan kaki depannya. Aku melompat kesamping lagi.
"Rawr!"
"Magic set. Blow!"
Saat aku melompat kesamping, menghindari serangan macan, ada Panther yang menungguku. Aku segera mengeluarkan sihir, menciptakan angin kencang yang kuarahkan ke tempat ku berpijak. Hembusan angin kencang membuat ku melayang jauh ke atas, enam meter aku melayang dari atas tanah.
"Huuft..." Pada titik inilah aku bisa mengambil nafasku. Aku menghela nafas lega, berhasil menghindari serangan beruntun ketiga hewan buas itu.
"Hahaha..." Tawa masam keluar dari mulutku saat aku memikirkan hal ini.
Walaupun aku sering berpikir rasional menggunakan logika. Terkadang pikiran yang diluar rasionalitas ini terlintas dikepala ku.
"Lihatlah saudara-saudara. Kedua belah pihak saling bertukar serangan! Sebelumnya Mira Fantasia dari kelas A mampu memojokkan Reiko Kagami dari kelas B dengan sihirnya. Tapi situasi sekarang berbalik! Reiko Kagamilah yang sekarang memojokkan Mira Fantasia! Diantara semua pertandingan yang ada, ini adalah pertandingan paling mendebarkan!" Pembawa acara mulai mengomentari jalannya pertandingan, membakar semangat penonton.
"Wooooah!" Sontak saja, teriakan ricuh dari tribun dapat terdengar.
"Hahahaha! Rasakan itu! Itulah yang akan terjadi apabila kau melawan orang jenius seperti ku! Jangan berhenti, serang dia terus!" Sifat sombong Reiko Kagami kembali, ia mulai menceloteh, menyombongkan dirinya sebelum akhirnya ia melanjutkan memberi instruksi kepada hewan panggilannya.
Cakaran, gigitan, serangan dari belakang, samping, depan, suara auman, ayunan kaki depan kearah Horizontal, Vertikal, Diagonal, diikuti dengan terjangan dari gigitan juga intimidasi. Berbagai macam serangan diarahkan padaku. Aku terus menghindar, tubuhku tidak berhenti, terus bergerak, menjauhkan diri dari arah lintasan serangan. Stamina ku sedikit demi sedikit mulai terkuras, walaupun dibantu dengan hormon adrenaline, cukup melelahkan untuk menghindari semua serangan hewan buas milik Reiko.
__ADS_1
Terkadang aku menggunakan sihir, apabila sempat. Serangan yang dilancarkan begitu cepat, sampai-sampai aku kehilangan kesempatan untuk menggunakan sihir.
"Dengan kecepatan segitu... Lalu sudut serangannya... Baiklah... Dengan ini..."
Saat menganalisis kecepatan terjangan, sudut cakaran juga lokasi masing-masing hewan yang menyerang ku, aku dapat memperhitungkan untuk mengcounter serangan mereka yang dapat dibilang serampangan.
Menunggu momen yang pas... Terus menunggu hingga benar-benar pas... Hingga akhirnya...
"Rawr!"
"Sekarang! Magic Set! Blow!"
Saat singa, Panther dan macam melancarkan serangan mereka secara bersamaan. Aku berdiam ditempat ku berdiri, menunggu mereka dekat, kemudian aku mengaktifkan sihir angin untuk meniup badan ku, melayang ke udara.
"Raa!"
"Rawr... "
"Grrr!"
Macan terkena terkaman dari Panther, tubuh bagian kiri Panther terkena serangan cakaran dari singa, sedangkan wajah Singa terkena cakaran dari macan. Inilah momen pas yang aku tunggu.
Aku menunggu mereka menyerang secara bersamaan, kemudian menghindari semua serangan itu dengan hindaran yang tepat lagi presisi. Alhasil berkat kesabaran ku, juga dari perhitungan yang kulakukan di otakku. Aku berhasil mengcounter serangan mereka. Atau lebih tepatnya, membuat ketiga hewan buas milik Reiko menyerang satu sama lain. Secara tidak sengaja, tentu saja.
Saat berada diudara, aku melihat kearah Reiko, kemudian menyerangnya dengan menggunakan sihir batu. Batu yang kuciptakan berbentuk seperti peluru. Peluru batu yang kuciptakan ini segera kutembakkan kearah Reiko.
"Lindungi aku!" Ucap Reiko dengan panik.
Salah satu hewan yang ia panggil, bergerak dengan cepat, tidak memperdulikan luka yang dideritanya. Yang bergerak ada seekor Panther, yang berlari ke arah Reiko, Panther itu segera berdiri di depan Reiko, bertugas menjadi perisainya, melindungi Reiko dari peluru batu yang kutembakkan.
"Rawr!" Panther itu mengeluarkan rintihan kesakitan saat peluru batu yang kutembakkan mengenai mata kanannya, membuat bola matanya menghilang.
__ADS_1
"Sial! Sial! Sial! Serang bocah itu dengan benar! Lukai dia! Jangan biarkan dia menggunakan sihirnya!" Perintah Reiko dengan emosi yang membara.
Sesaat aku mendarat, serangan dari hewan yang tersisa datang kepada ku. Mungkin karena perintah Reiko, serangan hewan buas miliknya tidak lagi serampangan. Kali ini serangan mereka lebih presisi, benar-benar mengincar daerah vital ku.