My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 27 Pertandingan Melawan Android Part IX


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu....


"Hah... Hah... Hah... Hah..." Aku dan Dani terengah-engah sembari melihat Android yang telah jatuh tidak sadarkan diri... Atau lebih tepat nya sudah ku nonaktifkan.


Karena kami tidak lagi kalah jumlah, aku dan Dani berhasil mengalahkan Android yang tersisa tanpa kesulitan berarti. Dani yang sudah bisa fokus menyerang satu Android saat aku membantu nya, berhasil menangkap Android yang ia lawan, lalu untuk yang ku lawan, aku menggunakan taktik yang sama seperti sebelum nya. Yaitu memanaskan Android lalu mendinginkan nya hingga Android yang ku lawan mengalami malfungsi dan hancur.


Dari sinilah, aku tahu kalau Android yang Dani lawan adalah yang asli. Kami segera membaringkan nya, menahan nya dengan akar yang Dani buat dari sihir nya. Lalu aku dengan sembrono nya mengotak-atik tubuh Android yang telah kami tahan, hingga akhir nya... Voila! Aku menemukan kode penonaktifan Android itu.


Tentu saja, aku tanpa menunggu lagi langsung menonaktifkan android itu.


Dan hasil nya adalah situasi sekarang... Dimana kami saat ini, dengan kehabisan tenaga, menyaksikan Android yang telah merepotkan kami beberapa waktu yang lalu telah terbaring di tanah, layak nya orang mati.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang...?" Setelah mengambil nafas, Dani bertanya pada ku.


Natasha yang wajah nya masih pucat pasi, jalan mendekati kami berdua dengan langkah terseok-seok.


Aku tidak menjawab pertanyaan Dani, aku malah menanyakan suatu hal pada Natasha. "Apakah kau bawa pasokan darah?"


Dia menggelengkan kepala nya... "Ku simpan di tas."


Dan tas kami saat ini berada di kelas. Ini merepotkan, aku berencana untuk langsung menyerang markas android-android yang menyebalkan ini. Dan kemampuan Natasha akan sangat berguna. Dan juga aku ingin menang jumlah saat menyerang markas musuh. Yang tentu saja keberadaan Natasha sangat krusial untuk itu. Percuma kami membawa nya, kalau keadaan nya saja sudah seperti ini. Bukan nya membantu, keberadaan nya hanya akan menjadi beban.


"Apakah dua gelas darah cukup?" Tanya ku pada Natasha.


"Sampai permainan ini selesai... Mungkin..." Jawab Natasha dengan ekspresi bingung.


Aku melihat ke arah Dani, mengetahui maksud dari pandangan ku, ia hanya menghela nafas, kemudian dengan wajah putus asa ia menganggukkan kepala nya.


Aku kemudian membuat gelas menggunakan sihir 'Creation' saat gelas muncul di telapak tangan ku, aku menyodorkan nya ke arah Dani, yang segera ia respon dengan melukai pergelangan tangan nya dengan sebuah batang pohon. Darah kemudian keluar dari pergelangan tangan nya, aku dengan hati-hati untuk tidak menumpahkan setiap tetes nya menadah darah Dani hingga akhir nya gelas itu terisi penuh. Setelah gelas terisi penuh, aku menggunakan sihir 'Heal' untuk menyembuhkan luka Dani.


Melihat apa yang ku lakukan, Natasha akhir nya paham apa yang hendak ku lakukan. Ia kemudian menatap ku dengan tatapan aneh saat aku menyodorkan darah Dani di hadapan muka nya.


"Minumlah!"


"Eeeeh... Kau serius...?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau tidak mau?"


"Kalau darah mu aku masih mau, tapi darah Dani..."


"Hei! Asal kau tahu ya... Aku anak yang sehat! Aku bahkan sering ikut program donor darah!" Protes Dani atas keluhan Natasha terhadap darah nya.


"Dan asal kau tahu ya... Aku pernah minum darah laki-laki. Dan rasanya sangat tidak enak! Sampai membuat ku trauma!"


"Heh..." Dani tersenyum sinis mendengar perkataan Natasha. "Mungkin laki-laki itu penyakitan, sampai-sampai darah nya tidak enak."


"Aku dapat darah itu dari situs lelang! Dan itu darah dari selebritis terkenal!"


Mereka malah saling ejek. Karena merasa kesal, aku melukai pergelangan tangan ku dengan gigi ku. Kemudian menyodorkan pergelangan tangan ku yang masih bersimbah darah kemulut Natasha.


"Mmmph!" Natasha mengeluarkan rintihan kecil saat aku melakukan hal itu. Mata nya terbelalak kaget, tapi saat aku mendengar suara "Gluk!" Dari tenggorokan nya, ekspresi kaget nya seketika berubah. Ia memejamkan mata nya, walaupun tanpa melihat mulut nya aku tahu saat ini ia sedang tersenyum bahagia. Natasha langsung menahan pergelangan tangan ku dengan kedua tangan nya. Menggenggam erat pergelangan tangan ku.


"!" Tentu saja itu mengagetkan ku, tapi aku membiarkan nya melakukan itu sampai ia puas menghisap darah ku.


"Gluk! Gluk! Gluk! Gluk! Gluk! Gluk! Gluk!" Suara ia menelan dapat terdengar. Ia menelan semua darah ku dengan kasar, ekspresi nya makin meleleh seperti seorang candu akan obat-obatan.


Seperti nya... Ia menghisap lebih banyak dari perkiraan.... Uggh! Aku merasakan gejala anemia sekarang...


"Aaaaaah~~~" Berbanding terbalik dengan ku yang mengerang kesakitan, Natasha mengeluarkan ******* panjang dengan wajah penuh ekstasi. Wajah nya juga sedikit menunjukkan sedikit ekspresi penuh euforia yang biasa muncul saat seorang wanita berada pada puncak orgasme nya. Dan tentu saja, ******* panjang nya itu terdengar begitu erotis di telinga ku dan juga Dani, seketika membuat ekspresi kami berubah, aku menunjukkan espresi jijik, sedangkan Dani menunjukkan ekspresi malu, darah nya mengalir deras ke wajah nya yang segera membuat wajah nya memerah seperti tomat.


"Uuuhm... Sebaik nya kita segera membantu Alexandria dan Raihan." Kata ku mengalihkan perhatian dari Natasha yang masih di tengah euforia nya.


Beberapa menit kemudian...


Kami sampai di depan markas para Android. Markas android berupa bangunan dengan pintu gerbang yang berkarat menghiasi bangunan itu. Aku tidak langsung membuka pintu itu. Pertama-tama aku menginstruksikan kedua kawan ku untuk berhenti, kemudian aku mengendap-endap, menempelkan telinga ku di pintu berkarat itu, aku dapat mendengar suara pertarungan terjadi di balik pintu itu.


Setelah puas mendengarkan, aku menginspeksi pintu berkarat itu. Kemudian aku melihat roda yang menggerakkan gerbang itu tersambung dengan besi di bawah nya, yang jadi masalah roda dan besi itu sudah berkarat, sehingga akan membuat pintu akan berdecit jika kami geser.


Mengakali hal itu, aku menciptakan oli dengan sihir ku, kemudian mengoleskan nya ke lintasan roda. Menggeser pintu gerbang sepelan mungkin, hingga membuat celah yang pas untuk mata ku. Mengintip melalui celah itu, aku di kejutkan dengan penampakan punggung seseorang. Dari pakaian nya, aku segera mengetahui kalau orang yang di depan pintu adalah seorang Android.


Aku berbalik, mengibaskan tangan ku ke atas kebawah, seakan memberi isyarat 'kemari!' kepada Dani. Ia menuruti ku, berjalan perlahan ke samping ku. Aku memberikan instruksi dengan kepala ku untuk mengintip kedalam. Saat ia mengintip kedalam selama beberapa detik, ia mengalihkan tatapan nya kearah ku.

__ADS_1


Aku menganggukkan kepala ku, Dani yang paham akan maksud anggukan ku segera mengaktifkan sihir nya. Membuat akar berukuran 10 centimeter. Akar itu menjulur melalui celah dengan cepat, mengikat Android yang berjaga di depan pintu.


"Sekarang!" Kata ku sembari membuka pintu gerbang sepenuh nya.


Aku dan Natasha memasuki gerbang, untunglah tidak ada yang menyadari keberadaan kami. Karena ketiga Android yang tersisa sedang terfokus menyerang Alexandria. Tanpa pikir panjang, aku dan Natasha mengaktifkan sihir, lalu menyerang ketiga Android yang sedang menyerang Alexandria.


Natasha menyerang dengan dua buah tombak nya, di ikuti dengan ku yang menyerang dengan sihir "Bubble!"


Sihir kami berhasil, semua android yang menyerang Alexandria terkena serangan proyektil kami.


"Kawan-kawan," Dengan wajah penuh kegembiraan Alexandria menatap kami.


"Bendera!" Kata ku. "Cepat rebut bendera nya!"


"O-oke!"


Alexandria berbalik badan, berlari ke arah bendera yang berjarak tidak lebih dari 2 meter dari tempat nya berdiri.


Tangan Alexandria sedikit lagi menyentuh bendera itu, hanya tinggal beberapa inci lagi!


Dengan begini... Kemenangan kami...


"Selamat!"


Belum sempat Alexandria menyentuh bendera, suara guru Robert terdengar dari pengeras suara di pojok atap gedung.


"Kemenangan telah di pastikan... Selamat untuk tim Android! Kalian menang! Selamat!"


Kemenangan kami...


Kemenangan kami...


Kemenangan kami...


"Eeeeeh!? Kok Bisa!?" Alexandria, Natasha, dan Dani berteriak di atas paru-paru mereka dengan wajah yang di penuhi emosi gelap.

__ADS_1


Kemenangan kami tidak pernah tercapai...


__ADS_2