My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 57 Babak Pertama Turnamen Part I


__ADS_3

"Kedua peserta silahkan ambil posisi!"


Semua anggota kelas yang tidak bertanding telah keluar dari lapangan, menyisakan peserta yang berpatisipasi pada ronde pertama, yaitu aku dan seorang murid laki-laki dari kelas C, yang tidak kuketahui namanya.


Atas instruksi dari pembawa acara, aku dan murid laki-laki itu mengambil posisi, berdiri berjauhan sekitar 10 meter, saling berhadap-hadapan.


"Baiklah, para hadirin sekalian! Duel pertama pada hari ini, dimulai!" Dengan nada riang disertai dengan semangat membara, pembawa acara mengumumkan mulainya duel pada hari ini. Bunyi bel yang begitu kencang, mengikuti setelah deklarasi pembawa acara itu, menandakan kalau kami sudah boleh bertukar serangan.


Aku dengan sigap merespon bunyi bel itu, mengumpulkan partikel Carlania, bersiap mengaktifkan sihir kapan saja.


Dalam duel seperti ini, siapapun yang menyerang terlebih dahulu, akan diuntungkan... Begitulah pemikiran para orang awam, tapi pada kenyataanya, hal ini tidak sesimpel itu.


Jika aku memikirkan secara baik-baik, orang yang menyerang pertama, sama saja mengungkapkan kemampuan mereka lebih awal, yang dimana hal ini akan berakibat fatal dalam duel satu lawan satu seperti ini.... Karena itu, para professional, biasanya akan berhati-hati saat memulai pertukaran serangan.


"Magic Set. Fireball!"


Atau begitulah pikirku...


Skenario duel dikepalaku yang harusnya tegang diawal karena saling bertatap-tatapan untuk mengidentifikasi kemampuan lawan, tidak terjadi kali ini...


Lawan ku, dengan percaya diri, dan cerobohnya, menyerang ku dengan sihir bola api berdiameter cukup besar, yaitu tiga meter.


Aku tidak langsung mengaktifkan sihirku, hal awal yang kulakukan adalah menghindari serangan bola api yang melesat kearah ku, dengan cara berlari kesamping, menjauh dari arah lesat bola api itu.


Tapi tentu saja, musuhku tidak akan membiarkan aku lolos dengan mudah. Ia segera menembakkan bola api lain kearah tempatku berlari. Aku terus berlari, menghindari serangan bola api.


Woosh! Woosh! Woosh! Woosh!

__ADS_1


Bola api, demi bola api terus melesat kearah ku, yang kesemua itu dapat kuhindari dengan mudah dengan berlari kesamping, menghindari arah lintasan bola api itu.


"Firebal! Fireball! Fireball! Fireball! Berhenti menghindar dan serang aku! Fireball! Fireball!" Ucap lawan ku dengan kesal sambil terus mengaktifkan sihirnya. Bisa dikatakan ia mengaktifkan sihir dengan beruntun, tapi sudah menjadi pengetahuan umum kalau waktu pengaktifan sihir memakan waktu beberapa detik. Dicelah beberapa detik inilah aku menggunakannya untuk mengidentifikasi serangan yang datang, membuatku dapat menghindari serangan tanpa adanya masalah.


"Kelas A terdesak! Kalian bisa lihat ini para hadirin sekalian, kelas A, dipaksa terus menghindar dari serangan kelas C." Ucap pembawa acara, yang bertugas menjadi komentator pertandingan.


Mereka berpikir aku terdesak? Baguslah kalau mereka berpikir seperti itu.


Tetapi... Apakah orang itu hanya bisa menggunakan sihir bola api saja? Sedari tadi serangannya hanya itu.


"Hah... Hah... Hah... Berhenti menghindar dan lawan aku sialan!" Lawanku menghentikan serangannya, dengan nafas Tersengal-sengal ia melontarkan protesnya kepadaku. Dengan raut marah tentu saja.


"Tidak ada gunanya aku melawan mu. Kau saja hanya bisa menggunakan sihir yang begitu mudah kuhindari. Jika kau ingin aku melawanmu, kau harus menyerang ku dengan serangan yang membuatku membalas seranganmu."


Aku kurang yakin dia hanya bisa menggunakan sihir bola api saja. Pasti dia menyembunyikan kemampuannya, karena itu aku memprovokasinya, untuk membuat ia mengeluarkan seluruh kemampuannya disini.


Maaf kalau aku cebol... Balas ku, dalam kepalaku.


Sepertinya, provokasiku berhasil. Nampaknya ia akan menyerangku dengan serangan lain....


...... Atau begitulah yang kupikirkan...


"Jangan sampai mati cebol sialan! Magic Set. Massive Fireball!"


Mmm... Dia tidak menggunakan sihir lain. Masih sihir bola api, tapi kali ini ia membuat bola api yang cukup besar, hingga berdiameter 50 meter.


"Saudara-saudara sekalian... Nampaknya peserta kelas C, akan menggunakan sihir yang begitu berbahaya." Ucap komentator dengan nada sedikit gugup.

__ADS_1


Bola api yang digunakan lawanku semakin membesar. Nampaknya ia harus mengumpulkan partikel Carlania dulu untuk membuat bola api yang sesuai dengan nama sihirnya, yaitu Massive.


"Magic set. Waterfall."


Baaar!


Hanya orang bodoh yang akan membiarkan musuhnya mengumpulkan kekuatan untuk melakukan serangan seperti itu. Aku dengan santainya, mengaktifkan sihir, menciptakan air dalam jumlah besar di atas kepala lawanku. Air dalam jumlah besar jatuh, memadamkan bola api yang ia buat, sekaligus menenggelamkannya. Air yang kuciptakan layaknya sebuah air terjun, yang jatuh dari ketinggian dengan begitu deras.


"Blublublublublublublub.... Gaaah..."


Lawanku mencoba mengatakan sesuatu, mulutnya megap-megap didalam air, membuat gelembung dalam jumlah besar setiap kali ia membuka mulutnya. Kejadian lucu ini terjadi selama beberapa detik, hingga pada akhirnya ia kehabisan nafas, kehilangan kesadaran... Aku segera menghentikan sihirku, membuat tubuh lawanku jatuh ketanah dengan keras dengan tubuh yang sudah basah kuyup.


"I-I-Ini... Tidak terduga! Kelas A menang hanya dalam sekali serang!"


"Woooooaaaah!"


Nampaknya kemenangan ku tidak terduga oleh pihak penonton dan pembawa acara. Ada keheningan sejenak saat aku berhasil membuat lawanku tidak sadarkan diri. Tapi setelah pembawa acara, yang bertugas sebagai komentator mendeklarasikan kemenangan ku, keheningan itu segera tergantikan dengan ledakan suara penonton yang berteriak dengan teriakan yang mampu memekakkan telinga.


"Sungguh pertandingan yang tidak terduga. Sekilas, kelas A nampak terdesak, tapi diakhir kelas A mampu menumbangkan lawannya hanya dalam sekali serangan! Ternyata julukan kelas A sebagai kelas terbaik bukanlah isapan jempol belaka!"


"Wooooah!"


Mengabaikan komentar lanjutan dari pembawa acara dan sorakan penonton yang makin menjadi. Aku berjalan keluar dari arena, menuju ke tempat kelompokku berada.


Aneh... Jelas sekali kalau kelas C juga mengincar kemenangan pada babak ini. Tapi mengapa mereka mengirimkan orang yang hanya bisa menggunakan satu sihir saja? Apakah tidak ada orang yang kompeten dikelas C? Atau mereka sengaja menyembunyikan anggota terkuat mereka?


Yah... Apapun itu, aku senang bisa menang tanpa harus mengungkap kemampuan ku lebih lanjut... Pertandinganku selanjutnya yang akan menjadi tantangan untukku.

__ADS_1


__ADS_2