
"Pelajaran pertama kita adalah sejarah sihir. Mungkin jika kalian mendengar kata sihir, kalian akan berpikir sesuatu kekuatan mistis yang melibatkan mantra dan berbagai macam metode supernatural lain nya. Tetapi pada kenyataan nya, sihir hanyalah sains yang begitu maju, yang kemajuan nya tidak dapat di capai oleh akal manusia." Menyalakan proyektor dengan remot kontrol, Guru Yukina mulai memperlihatkan gambar seorang wanita dengan jas putih yang biasa di gunakan oleh dokter, sebelum akhir nya ia mulai bicara lagi. "Seorang ilmuwan bernama Carlania Surturia, berhasil menemukan elemen baru dalam tabel periodik, yang katanya adalah sumber dari segala partikel. Layak nya Peter Higgs yang berhasil menemukam Higgs boson yang katanya adalah unsur utama dari partikel, Carlania berhasil menemukan partikel yang ternyata adalah sumber dari segala partikel di dunia. Partikel itu di beri nama atas nama nya, yaitu Carlania Partikel. Dengan partikel ini, sihir tercipta. Partikel ini dapat merubah hukum entropy, struktur molekul, mengendalikan partikel, dan berbagai hal gila lain nya. Carlania adalah ilmuwan terhebat pada abad ke-21. Bahkan nama nya dapat di sejajarkan dengan ilmuwan lain nya seperti Einstein dan Shcrodinger. Sayang nya sebelum dia berhasil memenangkan penghargaan Nobel, Carlania tutup usia."
"Carlania Partikel di teliti lebih lanjut oleh beberapa ilmuwan lain nya, hingga sampai ke titik di mana mereka berhasil mengevolusi manusia yang katanya sudah sampai ke puncak evolusi nya. Berkat Carlania Partikel teknologi sekarang juga begitu maju. Sayang nya pada tahun 2032, suatu insiden terjadi di pusat penelitian partikel dan menghancurkan LHC. Tidak ada yang tahu persis apa penyebab nya. Yang jelas insiden ini betul-betul merubah hukum dunia ini. Carlania Partikel tersebar di seluruh dunia membuat hukum entropy tidak stabil, merubah struktur tubuh manusia. Inilah yang menyebabkan sihir tersebar keseluruh dunia dan membuat manusia berevolusi kembali."
"Pada intinya, sihir hanyalah kemampuan manusia untuk mengendalikan Carlania Partikel yang sekarang telah menyebar keseluruh dunia, orang awam menyebut Carlania Partikel sebagai energi sihir. Manusia berevolusi untuk menyerap partikel ini ke dalam diri mereka tanpa harus menderita efek samping nya. Kalian pasti bertanya, mengapa kita harus berevolusi untuk menyerap partikel ini? Jawaban nya simpel, partikel ini sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Awal nya saat manusia berhasil menyerap pertikel ini kedalam tubuh mereka, dia akan keracunan, yang di mana partikel ini lebih mematikan dari racun manapun."
"Untuk beradaptasi dengan masalah itu, tubuh manusia di paksa untuk berevolusi. Alhasil seperti yang kalian liat sekarang, tubuh manusia pada zaman ini memiliki berbagai macam bentuk. Bahkan di daerah timur ada yang berhasil menumbuhkan telinga tambahan di atas kepala mereka."
"Sampai sini ada pertanyaan?"
Dani mengangkat tangan nya, setelah di izinkan untuk membuka suara, Dani kemudian bertanya. "Apakah ada dampak negatif dari evolusi itu?"
"Untuk beberapa kasus ya. Tapi itu adalah kasus khusus, hanya sebagian kecil hal itu terjadi."
"Ada yang lain?"
Tidak ada yang mengangkat tangan lagi, guru Yukina pun melanjutkan pelarajan nya. "Jika tidak ada akan saya lanjut."
***
Satu setengah jam kemudian.
Suara bel tanda akhir pelajaran berbunyi.
"Karena waktu kita sudah habis, untuk materi selanjut nya akan saya bawakan di pertemuan selanjut nya."
Setelah mengatakan itu, guru Yukina mengambil barang-barang nya yang ia taruh di atas meja, ia kemudian keluar dari kelas. Tidak berselang lama saat guru Yukina keluar, guru lain memasuki kelas, kali ini yang masuk adalah seorang pria berumur berkisar di usia 40 tahunan. Berbeda dari guru Yukina, guru yang satu ini memiliki sorot mata yang tenang dan ia memiliki wajah yang ramah.
Jam menunjukkan pukul 9:00, itu artinya pelajaran kedua telah di mulai. Untuk pelajaran kali ini tidak ada kaitan nya dengan sihir, karena pelajaran kali ini adalah Matematika.
__ADS_1
"Perkenalkan murid-murid, saya adalah guru Matematika kalian, nama saya Hiroaki Shiina. Kalian pasti berpikir kalau pelajaran saya tidak ada kaitan nya sama sekali dengan sihir. Tapi dengan tegas saya menyatakan kalau kalian salah! Magic Academy tidak mengajarkan pelajaran yang sama sekali tidak ada kaitan nya dengan sihir. Karena itu saya akan merubah mindset kalian tentang pelajaran ini."
"Sebelum kita mulai pembelajaran, ada baik nya kita perkenalan terlebih dahulu. Sebelum nya saya sudah memperkenalkan diri, selanjut nya adalah kalian. Di mulai dari kamu!"
Sama seperti sebelum nya, kami berkenalan secara bergantian, kali ini di mulai dari aku di ikuti dengan Natasha, Raihan, Alexandria dan Dani. Setelah semua nya sudah memperkenalkan diri, pelajaran matematika pun di mulai.
"Kalian pasti bertanya-tanya mengapa Matematika berhubungan dengan sihir. Untuk menjawab itu, saya akan memberikan kalian beberapa pertanyaan, perlu berapa lama bagi kalian untuk mengaktifkan sihir kalian?, jumlah energi sihir di dalam tubuh kalian?, serta perlu berapa banyak energi sihir yang kalian keluarkan untuk mengaktifkan suatu sihir?"
"Dalam pelajaran ini kita akan membahas mengenai itu semua, kita juga akan memperkirakan berapa kecepatan sihir kalian sampai ke suatu target. Jika kalian berhasil menguasai itu semua, saya yakin kemampuan sihir kalian akan meningkat secara signifikan."
"Untuk pertemuan kali ini, kita akan membahas jumlah energi sihir yang kalian butuhkan untuk mengaktifkan sihir kalian."
Memperhatikan dengan seksama, guru bernama Hiroaki ini benar-benar merubah perspektif ku tentang Matematika. Aku tidak menyangka kalau Matematika akan sangat krusial dalam dunia persihiran. Seharus nya aku bisa menebak itu, mengingat sihir yang ada sekarang bukanlah kekuatan supernatural tetapi ilmu sains, yang sebenarnya ilmu sains sendiri tidak bisa di pisahkan dari Matematika. Aku benar-benar bersyukur bisa masuk ke Magic Academy, baru hari pertama aku bersekolah di sini, sudah ada banyak hal yang dapat aku pelajari.
***
Setelah bel tanda istirahat berbunyi, salah seorang murid, Dani lebih tepat nya meluncurkan setengah badan nya di atas meja, menaruh badan nya. Dengan ekspresi lelah seperti habis lari puluhan kilometer ia mengeluh.
"Seharus nya kau bisa menebak konten pembelajaran sekolah ini memalui tes tertulis saat ujian masuk bukan?" Alexandria mengomentari keluhan dari Dani.
Yang di katakan Alexandria ada benar nya, saat tes tertulis pelajaran yang di berikan begitu sulit, bahkan setara dengan pelajaran perguruan tinggi. Di bandingkan dengan pelajaran yang kami lakukan saat ini, tes tertulis saat ujian masuk lebih sulit.
"Dan juga bagaimana bisa kau masuk ke kelas ini? Jika kau masuk ke kelas ini seharusnya kau mendapat kan nilai tinggi saat ujian masuk bukan?"
"Aku mendapatkan nilai 88 saat tes tertulis. Dan juga apa maksud mu? Apakah kelas kita di pisah berdasarkan nilai?" Tanya Dani kepada Alexandria.
"Bukan kah itu sudah jelas?" Yang menjawab bukan Alexandria melainkan Natasha. "Berdasarkan perkataan kepala sekolah kelas kita di bagi berdasarkan nilai dari tes yang kita laksanakan. Intinya kita berlima yang masuk kelas ini mendapatkan nilai tinggi daripada murid lainnya. Aku sendiri mendapatkan nilai 95 saat tes tertulis."
"Aku 89." Jawab Raihan.
__ADS_1
"Aku sama seperti Natasha, 95." Jawab Alexandria. "Dan juga aku senang kita bertemu kembali, walaupun aku tidak menyangka kalau kita akan sekelas."
"Harus nya itu perkataan ku," Balas Natasha. "Aku tidak menyangka kalau lelaki yang kita temui kemarin adalah seorang perempuan yang begitu cantik."
"Hahaha... Terima kasih," Alexandria tertawa malu saat menerima pujian dari Natasha. "Dari pada kita mengobrol terus di sini, bagaimana kalau kita ke kantin? Waktu istirahat hanya sebentar, kita tidak boleh menyia-nyiakan nya!"
Alexandria mengajakku dan Natasha ke kantin untuk istirahat makan siang. Saat kami hendak keluar, kedua murid laki-laki di kelas kami meminta ikut bersama kami, atau lebih tepat nya Dani yang meminta ikut. Natasha dan Alexandria tidak langsung menerima permintaan mereka. Malahan Natasha dan Alexandria meminta pendapat ku. Walaupun aku tidak nyaman dekat dengan pria, aku bukanlah orang jahat yang dengan mudah menolak permintaan seseorang, jadi di sini aku hanya mengangguk, mengizinkan Dani dan Raihan ikut bersama kami ke kantin.
Kantin berada di lantai satu, untuk lebih spesifik nya, dari aula yang ada di lantai satu, pergi ke koridor yang ada di sebelah kiri aula, saat melewati koridor itu, jalan lurus hingga sampai di jalan bercabang, ambil jalan kanan lalu di lanjutkan jalan lurus sekitar sepuluh meter. Aku mengetahui dari denah yang di berikan.
Kami berlima telah menuruni tangga hingga sampai ke lantai dua, dari lantai dua ini perjalanan kami di hiasi dengan obrolan ringan sampai kami tiba di aula di lantai satu, saat kami berjalan ke koridor, Dani yang dari lantai dua mendominasi alur pembicaraan mengingat sesuatu.
"Oh. Benar juga. Saat kita membahas nilai di kelas barusan, kau tidak memberitahu nilai mu Mira."
Kami berjalan di koridor menuju kantin, sambil memegangi dagu ku, aku mempertimbangkan untuk memberitahu nya. Apakah aku harus berbohong atau menjawab nya dengan jujur? Mempertimbangkan hubungan kami sesama teman sekelas, lebih baik aku menjawab jujur di sini. Lagipula kepercayaan adalah kunci utama agar hubungan tetap dalam kondisi yang baik.
"Aku mendapatkan nilai sempurna saat tes tertulis."
"Hahaha... Kau tidak perlu berbohong Mira. Tidak ada di antara kami yang mendapatkan nilai sempurna." Dani tertawa terbahak-bahak atas perkataan ku, ia menganggap ku bercanda kalau aku mendapatkan nilai sempurna... Ternyata kebenaran yang ku katakan, terlihat sebagai dusta di mata nya.
Menghela nafas lelah, aku mengabaikan Dani yang terus tertawa. Aku melirik ke arah Raihan yang terus berjalan di samping Dani, nampak nya ia sama sekali tidak menganggap ku bercanda, ia menyikut Dani yang dari tadi masih tertawa. Setelah di sikut beberapa kali oleh Raihan, Dani akhir nya menyadari kesalahan nya, dengan air muka yang pucat pasi, setetes keringat dingin jatuh mengalir ke pipi nya, Dani dengan takut-takut bertanya padaku.
"Eh...? Kau serius...? Ni-Nilai sempurna...?"
"Apa aku terlihat bercanda di mata mu?"
"Ti-Tidak mungkin... Dengan soal sesusah itu... Kau mendapatkan, nilai sempurna..."
Apakah semengejutkan itu untuk mendapat nilai sempurna. Dan jika ku perhatikan lagi, semua orang begitu terkejut mendengar jawaban ku.
__ADS_1
Mengabaikan mereka, aku terus berjalan menuju kantin sekolah. Tentu saja yang lain nya mengikuti, tetapi kali ini perjalanan kami ke kantin tidak di isi dengan percakapan ria, perjalanan kali ini di isi dengan suasana sepi lagi canggung.
"Haaaah..." Sekali lagi aku menghela nafas lelah.