
"Ba-bagaimana mungkin masih ada begitu banyak Android yang menunggu di markas mereka!?" Teriak Alexandria dengan air muka yang pucat pasi, keringat dingin mengalir setetes dari dahi nya ke arah pipi nya.
Tidak mungkin Raihan menjawab pertanyaan Alexandria, ia sendiri saja kebingungan dengan kejadian saat ini. Dan untuk para Android yang mereka lawan juga tidak mungkin untuk menjawab nya. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau Android hanya mengikuti perintah dari tuan nya saja, dalam kasus kali ini, para Android hanya bisa mengikuti perintah dari Robert.
"A-Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Raihan dengan takut-takut.
"Ugh...! Kita pergi dari sini!" Dengan enggan, Alexandria menjawab pertanyaan Raihan. Ia tidak ingin mundur dalam perkelahian kali ini, tapi ia tidak bisa melawan mereka, jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, maka kawan-kawan nya akan kalah jumlah. Jika ia mundur di sini, maka Alexandria mengaku kalah pada perkelahian kali ini, dan jika ia tidak mundur, teman-teman nya akan beresiko kalah dalam pertandingan kali ini. Jalan apapun yang Alexandria pilih, selalu mengarah ke posisi dimana ia akan kalah. Jelas itu bertentangan dengan motto keluarga yang ia junjung setinggi mungkin. Karena itu Alexandria harus berfikir secara realistis, dan dengan enggan harus mundur dari perkelahian kali ini.
Lagipula ada kata-kata bijak dari seseorang, kalah dalam pertempuran, tetapi menang dalam peperangan. Ia berharap kekalahan nya pada perkelahian kali ini akan membimbing tim nya memenangkan pertandingan.
Tetapi kenyataan tidak sebaik itu...
Entah sejak kapan, tanpa Raihan dan Alexandria sadari, salah satu dari keempat Android yang berada di depan mereka menghilang. Kini Android itu berdiri di belakang Alexandria dan Raihan, menutup pintu di belakang mereka. Mereka berdua segera berbalik saat pintu berdecit tanda ada seseorang yang menggerakkan nya.
"Sejak kapan..." Gumam Raihan dengan suara bergetar ngeri.
Android yang menutup pintu adalah seorang perempuan berambut hitam panjang yang bernama Alpha, ia masih menggunakan jump suit berwarna hitam nya. Alpha yang telah menutup pintu, tidak kembali ke barisan Android, ia hanya berdiri diam di depan pintu dengan wajah datar nya.
__ADS_1
"Tidak ada pilihan lain... Kita harus melawan mereka!" Dengan posisi yang benar-benar tidak menguntungkan karena kalah jumlah, Alexandria mengambil keputusan yang begitu berat.
"Magic set. Fire Magic: Fire Ball!" Menciptakan bola api berdiameter 10 sentimeter, Alexandria menyerang ketika bola api itu telah berbentuk bola sempurna, dengan kecepatan gerak bola api itu yang mencapai dua kilometer, dan luas ruangan yang kira-kira hanya sebesar tiga meter persegi, bola api itu dengan cepat sampai di depan salah satu android yang ada di depan mereka.
Android yang sejalur dengan proyektil milik Alexandria, merubah tangan nya menjadi sebuah tameng. Bola api buatan Alexandria dengan bunyi keras menghantam tameng buatan Android itu. Dari warna logam yang di gunakan untuk tameng itu, yang dimana warna nya putih metalik, bisa di pastikan kalau tameng itu terbuat dari titanium. Titanium murni sangat keras, bahkan titik leleh nya mencapai 1668 derajat celcius. Untuk bola api milik Alexandria sendiri sangat jauh dari angka itu, mentok-mentok tingkat kepanasan api yang di buat nya hanya mencapai 600 derajat celcius. Dengan daya panas yang sudah jelas sangat jauh itu, bola api milik Alexandria hancur berkeping-keping layak nya sebuah kaca yang menghantam tembok.
"Cih!" Alexandria mendecakkan lidah nya dengan wajah kesal, bersiap merapalkan mantra lain.
"Magic set-"
Tidak berhenti hanya dengan satu pukulan, Android berbadan cungkring itu tanpa terganggu dengan fakta pukulan nya di hindari, melanjutkan serangan nya. Kali ini dengan memanfaatkan momentum gerakan Alexandria yang masih miring kesamping, Android itu mengayunkan kaki kiri nya secara diagonal, mengarah langsung ke kepala bagian kanan Alexandria. Sekali lagi, mengandalkan reflek nya, Alexandria menangkis serangan itu dengan pergelangan tangan kanan nya. Tapi karena posisi tubuh nya masih miring, Alexandria yang terkena tendangan bersih di pergelangan tangan nya, terpental beberapa sentimeter dari tempat ia berdiri.
Android itu tanpa terkejut sedikit pun, mengetahui serangan beruntun nya di hindari oleh Alexandria, tanpa ragu melanjutkan serangan nya. Kali ini ia melancarkan dua kali pukulan lurus di tambah dengan tendangan kaki kiri ke arah wajah Alexandria.
Memang pada dasarnya, kemampuan reflek Alexandria jauh di atas rata-rata, ia pun dengan mudah berhasil menangkis dua serangan pukulan dan menghindari tendangan dari Android itu. Tetapi sama seperti sebelum nya, Android itu terus melanjutkan serangan nya, yang kesemua nya berhasil di hindari oleh Alexandria.
Raihan yang dari tadi menyaksikan perkelahian Alexandria hanya bisa terdiam mematung di tempat. Para Android sama sekali tidak menyerang nya, mereka hanya mengawasi Raihan dengan tatapan datar, menunggu Raihan melakukan pergerakan.
__ADS_1
'Kenapa mereka tidak menyerang ku?' Itulah yang terlintas di pikiran Raihan, saat mengetahui ia sama sekali tidak di jadikan sasaran oleh para Android. 'Apakah ada alasan mengapa mereka tidak menyerang ku? Apapun alasan mereka, ini adalah kesempatan ku untuk menganalisis kemampuan android yang di lawan Alexandria!' Raihan mempercayai kalau Alexandria dapat mengatasi android yang kini ia lawan, dari pergerakan, Alexandria sama sekali tidak terdesak. Memang dari awal Alexandria sama sekali tidak menyerang balik, tapi ia dengan mudah menghindari semua serangan nya. Raihan percaya, hanya dalam waktu beberapa menit, Alexandria mampu membalas serangan Android itu, dan juga dalam waktu segitu, Raihan dapat menganalisis kemampuan Android yang di lawan oleh Alexandria, yang berguna saat ia memutuskan untuk membantu nya. Atas alasan itulah, Raihan memilih untuk berdiam diri, menganalisis jalan nya pertarungan dengan teliti.
***
Dani sudah siap menghadapi ke empat Android yang saat ini berdiri di atap gedung yang berada di setiap sisi nya. Ke empat Android itu mengenakan jubah, mereka semua datang secara bersamaan beberapa saat yang lalu, saat menyaksikan hanya ada Dani sendiri, ketiga Android yang datang langsung bergerak berpencar, mengambil posisi masing-masing di setiap sisi untuk mengepung Dani. Setelah ke tiga Android mendapatkan posisi yang ideal, yaitu di atas atap bangunan yang ada di setiap sisi Dani, Android yang terakhir mengambil inisatif, mengikuti ketiga Android yang lain dengan mengambil posisi di atas atap bangunan yang berada 4 meter di depan Dani.
Dengan mengelilingi Dani di setiap sisi, keempat Android itu memainkan psikologis dani, membuat nya merasa terpojokkan, dengan cara mengepung nya dari empat sisi, yaitu depan, belakang samping kiri dan kanan. Dan cara itu terbilang ampuh! Dani yang sudah merasa rendah karena kalah jumlah, semakin tertekan dengan di kepung seperti itu. Insting nya benar-benar memberitahu nya tanda bahaya, sedangkan otak nya yang dari tadi digunakan untuk berpikir akhir nya mencapai batas nya, ia sama sekali tidak memikirkan ide untuk bisa lepas dari kepungan ke empat Android yang mengepung nya sekarang.
'Sial! Aku tidak memikirkan hal ini! Bagaimana caranya aku memberikan informasi kepada yang lain nya kalau aku sudah terkepung seperti ini!? Tunggu... Jika ku pikir-pikir, aku setidak nya memberikan peluang kemenangan kepada Raihan dan Alexandria, jika mereka berdua berhasil mengalahkan android yang tersisa di markas musuh dengan cepat!' Walaupun ia tidak bisa menemukan cara lagi, tapi setidak nya ia cukup senang mengetahui kalau kemenangan sudah ada di depan mata, walaupun kemenangan itu hanyalah embun pada pagi hari, yang tidak lebih hanyalah butiran air yang akan menghilang tanpa jejak jika hari sudah mulai siang.
Dani hanya tinggal menunggu waktu, sebelum akhirnya ia sadar kalau kemenangan yang ia perkirakan sebenarnya tidak akan pernah terjadi dari awal.
"Magic set. Botany Magic: Trunk!"
Karena tidak ada pilihan lain, selain melawan, Dani pun merapalkan mantra sihir nya. Ia menciptakan empat buah batang pohon di setiap sisi nya dengan diameter 20 centimeter, ujung batang yang di ciptakan nya, berbentuk runcing seperti jarum. Dengan di kendalikan oleh kesadaran nya, keempat batang pohon itu memanjang dengan kecepatan tinggi, menyasar ke arah empat android yang saat ini berdiri di atap bangunan.
Saat momen Dani menyerang inilah, akhirnya ia tersadar akan kenyataan yang begitu menyakitkan.
__ADS_1