
"Seperti yang kubilang kemarin. Kita masih kekurangan informasi. Rencana kita tidak berubah, seperti yang kita diskusikan. Sebisa mungkin, kita juga harus menyembunyikan kemampuan kita selama turnamen, dan juga sebisa mungkin kita mengorek informasi dari musuh."
Semuanya mengangguk, setuju dengan rencanaku.
"Satu lagi. Saat perkenalan, aku ingin Dani yang mengenalkan diri sebagai perwakilan kelompok. Aku sudah membaca peraturan turnamen, yang mengenalkan diri sewaktu turnamen bukan ketua kelas tapi perwakilan dari kelas. Hanya saja entah kenapa masalah ini salah diinterpretasikan sebagai perkenalan ketua kelas."
"Jadi maksudmu, kita akan memalsukan informasi mengenai siapa pemimpin kita?" Tanya Natasha.
"Ya. Kau benar."
Sekali lagi tidak ada yang menolak usulan ku.... Mobil terbang terus berjalan dilintasan yang telah ditetapkan. Lampu-lampu neon layaknya lintasan aspal normal bersinar menuntun kami pada ketinggian rendah di perkotaan futuristik abad pertengahan dua puluh satu, membawa kami ke fasilitas khusus akademi.
***
30 menit kemudian.
Kami sampai di fasilitas khusus yang dimaksud.
Fasilitas khusus akademi merupakan bangunan berbentuk layaknya kubah yang berdiri di atas pulau melayang dengan ketinggian 150 meter dari atas tanah.
Menaikkan sedikit ketinggian mobil, sampai pada lintasan khusus, guru John Jimenez, mengendarai mobil dengan kecepatan rendah. Di sebelah timur bangunan berbentuk kubah itu terdapat jalanan aspal yang berbentuk layaknya landasan pacu pesawat dengan panjang sekitar lima meter.
Guru Jhon, mendaratkan mobil terbang di jalanan aspal itu.
Berjalan sedikit hingga sampai tepat didepan bangunan berbentuk kubah itu, kami disambut oleh staff akademi yang segera mengecek kendaraan kami, setelah selesai, kamipun dibiarkan lewat.
Tepat disamping bangunan, terdapat jalanan aspal yang berjarak kurang lebih satu meter dari dinding bangunan, jalanan aspal yang saat ini kami lewati berbentuk melingkar, memutari bangunan berbentuk kubah. Sedikit memutari bangunan berkubah melalui jalanan aspal, kami sampai ditempat parkir yang telah terisi banyak bus dan mobil-mobil mewah.
Guru Jhon memakirkan mobil di barisan paling luar parkiran. Setelah mobil sepenuhnya berhenti, dan guru Jhon mematikan mesin mobil, kamipun dipersilahkan untuk turun.
Yang pertama kali keluar dari mobil adalah aku, diikuti dengan Natasha kemudian Alexandria setelah itu kedua murid laki-laki yang tersisa dikelas A. Saat berada diluar, aku segera melihat kearah bangunan berbentuk kubah yang berdiri kokoh, menjulang keatas langit setinggi 20 meter.
Aku berjalan mendekati bangunan yang ada di depan ku, kawan-kawan sekelasku mengikuti langkah ku. Rupanya bukan hanya aku yang penasaran dengan bagunan fasilitas khusus akademi ini.
__ADS_1
Klang, Klang, Klang.
Aku memukul-mukul dengan pelan dinding bangunan. Dari suaranya, aku menyadari kalau bangunan besar yang menjadi fasilitias khusus akademi ini bukan terbuat dari beton ataupun batu, tapi terbuat dari logam.
Berani sekali pihak akademi membangun bangunan logam pada ketinggian seperti ini. Apakah mereka tidak menyadari kalau ketinggian mempengaruhi kelembapan udara? Dan kelembapan udara mempengaruhi tingkat korosi pada suatu logam? Aku meragukan hal ini, tidak mungkin akademi elit, mengabaikan hal dasar seperti ini.... Kalau begitu... Apakah logam yang digunakan untuk bangunan ini merupakan logam khusus?
Sementara aku penasaran dengan bahan logam yang digunakan, teman-temanku yang lain tidak memikirkan sampai sejauh itu, mereka hanya penasaran dengan bentuk dan bahan bangunan ini. Sesaat mereka mengetahui kedua hal itu, mereka segera melupakan rasa penasaran mereka. Dengan sekejap, rasa penasaran mereka tergantikan dengan perasaan kagum dan terkesima dengan bangunan logam yang berdiri kokoh didepan mereka.
"Waaah~~~"
"Woow~~~"
Teman-temanku mendongak sembari berjinjit, seakan-akan berusaha melihat kepuncak bangunan logam yang menjulang tinggi didepan kami.
"Bagaimana? Hebat bukan? Fasilitas khusus akademi Carlania." Guru Jhon datang menyusul kami dengan senyum puas diwajahnya, senang dengan reaksi keempat kawan sekelas ku yang terkagum-kagum melihat bangunan fasilitas khusus akademi. "Perlu waktu yang lama untuk membuat bangunan ini. Pihak akademi memikirkan bagaimana cara membangun bangunan kokoh dan nampak elegan. Pihak akademi pada akhirnya memutuskan untuk membangun bangunan dari logam. Dengan menggunakan berbagai logam dari berbagai penjuru dunia, pihak akademi berhasil membangun bangunan yang tahan lama di ketinggian seperti ini." Jelas guru Jhon dengan senyum lebar di wajahnya.
"Berani sekali pihak akademi membangun bangunan dari logam pada ketinggian seperti ini." Ucap ku, menanggapi penjelasan guru Jhon.
"Tenang saja, logam yang digunakan memiliki tingkat ketahanan korosi yang cukup tinggi." Balas guru Jhon.
"Kau akan mengetahui hal itu saat berada di dalam." Jawab Guru Jhon, sebelum mengajak kami untuk segera memasuki bangunan fasilitas khusus akademi.
Kami berjalan sedikit memutari bangunan berbentuk kubah yang terbuat dari logam. Kami sampai di depan pintu gerbang, yang terdapat antrian yang panjang... Mungkin karena hak khusus yang dimiliki oleh guru Akademi, kami berlima, anak murid guru Jhon, tidak perlu ikut mengantri untuk masuk ke bangunan kubah.
Staff yang bertugas menjaga pintu gerbang, membungkukkan kepalanya sedikit, menyapa guru Jhon, sebelum akhirnya membiarkan guru Jhon dan kami, muridnya melewati pintu gerbang.
Melewati gerbang pendeteksi logam tanpa ada masalah, kami tiba didalam fasilitas khusus akademi.
Awalnya kami semua bertanya-tanya, mengapa pihak akademi, mengeluarkan biaya yang begitu banyak hanya untuk membangun bangunan ini... Pertanyaan kami ini, benar-benar terjawab, sesaat kami masuk kedalam bangunan. Ini selaras dengan pernyataan guru Jhon, atas pertanyaan ku sebelumnya.
"Wooah..." Dani berdecak kagum sesaat kami berada didalam bangunan, ia melihat sekeliling dengan mulut menganga. Teman-teman ku yang lain mengeluarkan ekspresi serupa dengan Dani.
"ITER..." Gumamku saat menyaksikan sebuah konstruksi raksasa yang ada di tengah ruangan.
__ADS_1
"Kau tahu nama benda besar yang disana itu?" Tanya Guru Jhon.
Aku mengangguk.
ITER merupakan sebuah Akronim dari International Thermonuclear Experimental Reactor. Sebuah reaktor fusi nuklir terbesar yang pernah dibuat.
Dahulu, lebih tepatnya tahun 2025 benda ini telah dibuat disuatu negara yang telah lama hancur disebuah benua yang disebut benua biru. Karena suatu bencana yang telah mengubah susunan dunia yang diakibatkan oleh partikel Carlania, benda ini hancur tanpa bisa menunjukkan kobelahannya bersama dengan negara yang membuatnya. Semenjak bencana besar itu, tidak ada lagi ide untuk membuat benda ini karena berbagai alasan... Tetapi, aku tidak menyangka, kalau pihak akademi akan membuat benda ini lagi.
Sekarang semua hal telah jelas. Mengapa pihak akademi membangun sebuah fasilitas khusus yang terpisah dari bangunan utama. Dengan adanya reaktor fusi yang memiliki besar kira-kira 10 meter ini, akan bahaya apabila benda ini di bangunan di gedung utama akademi yang dipenuhi dengan murid-murid.
"Kelihatannya konstruksinya belum selesai." Gumam ku.
"Memang belum, " Jawab guru Jhon. "Prakiraan rampungnya konstruksi ini sekitar 3 sampai 4 tahun lagi... Untuk saat ini, kita harus puas dengan reaktor fusi mini yang telah pihak akademi buat."
"Eeeeh... Pihak akademi juga membuat reaktor fusi mini?" Ucap ku terkejut.
"Masih prototype, masih tidak memungkinkan untuk mengambil energi dari reaktor fusi mini itu." Jawab guru Jhon dengan nada lesu dan wajah kecewa.
"Sudah jelas itu tidak mungkin. Tidak mungkin bisa menghasilkan reaksi fusi pada suhu normal!" Balasku sembari berteriak. "Apakah pihak akademi menggunakan metode cold fusion? Bukankah itu secara eksperimental masih tidak memungkinkan!? Sudah berapa banyak paladium yang pihak akademi habiskan untuk proyek delusional ini!?" Sambungku dengan emosi.
"Uhm... Kalian berdua dari tadi membicarakan apa?" Tanya Natasha dengan kebingungan.
"Apakah kau tidak tahu Natasha!? Hal yang dikerjakan pihak akademi saat ini benar-benar tidak masuk akal!?"
"Sebenarnya bukan hanya Natasha yang kebingungan... Kami juga tidak dapat menangkap satupun kata yang keluar dari mulut kalian." Gumam Alexandria dengan senyum canggung.
"Apa!?" Aku begitu terkejut mendengar perkataan Alexandria, aku kemudian melihat wajah kawan-kawan ku yang lain. Dari ekspresi mereka, membuktikan kebenaran dari perkataan Alexandria.
"Haaah...." Aku menghela nafas, menenangkan diri. "Lupakan yang kami berdua bicarakan... Lalu, untuk apa anda membawa kami kesini? Apa hubungannya bangunan ini dengan turnamen yang akan dilaksanakan?" Tanya ku pada guru Jhon.
"Aaah... Benar juga, sebenarnya turnamen akan dilaksanakan disini, lebih tepatnya di bangunan yang berada tepat di belakang bangunan ini."
"Tapi dari luar, kami tidak melihat bangunan lain, selain bangunan ini." Ucap Raihan dengan kebingungan.
__ADS_1
"Sebenarnya, bangunan itu tertutupi dengan pelindung yang membuat bangunan itu tidak terlihat." Jawab guru Jhon, atas kebingungan Raihan.