
Matahari seperti biasa terbit di tempat ia terbit, alarm yang telah ku setel berbunyi, seketika membangunkan ku. Aku bangkit dari tempat tidur ku, kemudian bersiap-siap untuk pergi bersekolah, tidak ada hal spesial yang ku lakukan untuk persiapan sekolah pada pagi hari ini. Aku mandi seperti biasa, mengenakan seragam academy yang sama seperti kemarin, (seragam telah di cuci dan di keringkan dengan alat pengering), sarapan, lalu menunggu bus jemputan, setelah bus datang, aku berpamitan kepada keluarga ku lalu pergi keluar rumah menaiki bus jemputan. Sama seperti kemarin, aku duduk di kursi paling belakang, yang menjadi perbedaan pada hari ini mungkin adalah kehadiran Alexandria yang duduk bersama dengan Natasha.
Setelah aku duduk di samping mereka berdua, bus kemudian berjalan menjemput beberapa murid lagi sebelum akhir nya benar-benar pergi ke Magic Academy.
Sesampai nya bus di academy, murid kelas satu turun dengan teratur. Sama seperti kemarin, Aku, Natasha di ikuti Alexandria turun paling terakhir dari bus. Saat kami bertiga benar-benar turun dari bus, kami di tunggu oleh dua orang teman sekelas kami yang lain, yaitu Dani dan Raihan.
"Hmm...? Ada apa wajah dengan mu Raihan?" Tanya Natasha saat melihat wajah Raihan dengan sekilas.
Aku, Alexandria dan Dani penasaran dengan wajah Raihan, kami secara serentak melirik ke wajah nya. Aku memerhatikan dengan seksama... Aku bisa menyimpulkan, kalau wajah Raihan... Tidak ada yang aneh. Wajah nya sama seperti kemarin, tidak menunjukkan perubahan sedikit pun, tapi entah mengapa Natasha melihat wajah Raihan dengan tatapan aneh, dan juga entah kenapa ekspresi Raihan seketika panik saat Natasha menanyakan hal itu.
"A-Apa maksud mu? Je-jelas sekali tidak ada yang aneh dengan wajah ku." Kata Raihan berusaha menjelaskan dengan panik.
"... Kalau kau tidak ingin memberitahu, baiklah." Natasha menatap Raihan dengan tatapan serius selama beberapa detik, sadar akan sesuatu dari ekspresi Raihan, ia pun menyerah meminta penjelasan lebih lanjut.
"..."
Raihan tidak bisa berkata apa-apa, ekspresi wajah nya menunjukkan kebingungan, kepanikan, serta rasa lega dari sikap Natasha yang memilih menyerah untuk menanyai Raihan lebih lanjut.
Aku tidak tahu apa yang di lihat oleh Natasha dengan mata khusus nya, tapi yang jelas sesuatu yang di lihat Natasha membuat Raihan tidak nyaman, akibat nya suasana seketika menjadi canggung. Aku pun memilih menengahi suasana canggung ini dengan mengajak ke empat teman sekelas ku pergi ke kelas. Tidak ada yang menolak ajakan ku, kami berlima pun berjalan memasuki academy, melewati pintu masuk, berjalan di lorong yang menyambungkan koridor di lantai satu, kami pergi ke ujung lorong, menuju tangga. Menaiki tangga hingga lantai tiga, kami melewati koridor yang sama seperti kemarin hingga akhir nya kami sampai di depan ruangan kelas 1-A. Kami semua memasuki kelas, duduk di bangku masing-masing, lalu menunggu hingga bel tanda jam pelajaran pertama di mulai.
"Kriiing!" Tidak menunggu waktu lama, bel tanda di mulai nya jam pertama akhirnya berbunyi.
"Taktaktaktaktaktaktak!" Kami mendengar suara langkah kaki yang begitu nyaring dari luar, suara langkah kaki itu mengarah ke kelas kami, suara langkah kaki itu semakin nyaring, menandakan pemilik langkah kaki itu semakin dekat. Saat suara langkah itu berhenti tepat di depan kelas kami, sesaat kemudian seseorang pria masuk ke kelas. Ia memiliki tinggi badan setinggi 2 meter dengan tubuh berotot seperti binaragawan, dengan kulit berwarna kecoklatan, menandakan kulit nya terbakar sinar matahari dengan sempurna, ia berkepala botak tanpa rambut sehelai pun, ia nampak berumur kisaran 30 tahunan, ia memiliki kumis dan janggut tipis yang bersambung menutupi daerah sekitaran mulut nya.
Pria yang memasuki kelas kami tersenyum lebar sesaat masuk ke kelas kami, lalu dengan suara di penuhi dengan semangat ia menyapa kami. "Selamat pagi!"
__ADS_1
"Pa-pagi." Kami sedikit terkejut dengan sifat nya yang begitu bersemangat, membuat kami ragu-ragu menjawab salam nya, alhasil kami pun menjawab nya dengan terbata-bata.
"Kalian kurang bersemangat! Sekali lagi! Selamat Pagi!"
"Pagi!" Kami menjawab salam pria itu sekali lagi dengan serentak, membuat suara salam kami nampak nyaring karena suara kami bersatu di udara.
Mendengar jawaban kami yang memuaskan, pria itu mengangguk dengan senyum lebar di wajah nya, ia lalu berjalan kearah meja guru dengan langkah tegap.
"Bagus! Pagi-pagi begini kalian harus bersemangat! Sebelum kita memulai pelajaran, biar saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Robert Podolski. Saya mengajar praktek sihir."
Ternyata pria berotot yang memasuki kelas kami adalah guru yang mengajar pelajaran pertama pada hari ini. Di banding kan dengan guru pada hari pertama yang mengajarkan pelajaran kepada kami, ia nampak bertolak belakang dengan mereka. Guru hari pertama yang mengajarkan pelajaran kemarin, nampak seperti seorang ilmuwan atau seorang professor yang sering melakukan penelitian. Sedangkan guru yang memasuki kelas kami hari ini, sangat jauh berbeda dari deskripsi itu, dia seperti seorang pejuang atau prajurit yang sering menghabiskan waktu nya di medan pertempuran, bahkan ia masuk ke kelas kami hanya menggunakan kaos oblong polos berwarna hitam, berbeda jauh dari guru kami kemarin yang selalu memakai pakaian formal atau memakai kostum penyihir pada abad pertengahan.
"Untuk pelajaran kali ini, saya akan mengambil waktu dua kali mata pelajaran. Karena pada hari ini, kita tidak akan menghabiskan waktu berteori di dalam kelas, melainkan kita akan melakukan praktek di lapangan. Tanpa perlu basa-basi lagi di tempat seperti ini, ayo kita pergi ke lapangan! Sekarang ganti seragam kalian ke seragam olahraga! Saya tunggu di lapangan dalam waktu tiga puluh menit. Jika ada yang terlambat, akan saya hukum lari keliling lapangan sebanyak seratus kali!"
"A-anu... Kami tidak membawa seragam olahraga. Dan juga kami tidak di beritahu kalau ada praktek pada hari ini." Kata Alexandria memberitahu kepada guru Robert.
"Apa maksud kalian? Bukankah seragam kalian sudah di sediakan di ruang ganti."
"Ruang ganti?"
"kulkas di ujung ruang kelas kalian, ada tombol khusus di sana, coba kalian tekan tombol itu."
Kami secara serempak berbalik, melirik ke arah kulkas di belakang kami dengan ekspresi skeptis. Dani berbalik kembali melihat kearah guru Robert, guru Robert mengangguk dengan yakin membalas tatapan skeptis dari Dani.
Dani berdiri dari tempat nya duduk, berjalan ke arah kulkas. Sesampai nya ia didepan kulkas, Dani menginspeksi setiap sudut kulkas dengan teliti, hingga akhirnya ia berseru dengan nada terkejut. "Benar-benar ada tombol di sini!"
__ADS_1
"Coba kau tekan tombol itu." Instruksi guru Robert.
Mengikuti instruksi guru Robert, Dani menekan tombol khusus yang ada di samping kulkas dengan yakin. Jika terjadi sesuatu yang aneh, kami tidak akan di salahkan, karena kami hanya mengikuti instruksi dari pengajar, karena itulah Dani begitu yakin menekan tombol asing itu yang tidak jelas fungsi nya.
Sesaat Dani menekan tombol itu, tiba-tiba kulkas bergeser kearah kanan dengan mulus, layak nya ada roda di bawah kulkas itu. Dani melompat ke belakang dengan kaget sesaat kulkas itu bergeser.
Kulkas itu terus bergeser hingga menunjukkan lubang yang sama besar nya dengan kulkas itu, lubang itu berbentuk persegi panjang. Dani membalikkan kepala nya sekali lagi, melihat ke arah guru Robert, guru Robert memberikan isyarat dengan kepala nya, untuk menyuruh Dani memeriksa lubang itu.
Dani tanpa ragu sedikit pun memeriksa lubang itu, setelah beberapa detik memeriksa, ia membalikkan badan nya kemudian berseru kepada kami dengan suara tinggi dengan ekspresi yang lebih kaget dari sebelum nya. "Ada lorong bercabang di dalam nya!"
"Lorong kiri mengarah ke ruang ganti perempuan, sedangkan yang kanan mengarah ke ruang ganti laki-laki. Baju ganti kalian sudah siap di sana! Sekarang cepat ganti seragam kalian!"
Setelah menginstruksikan itu, guru robert dengan langkah yang sama nyaring nya saat ia mendatangi kelas kami, keluar dari kelas.
Sesaat guru Robert keluar dari kelas, kami dengan cepat memasuki lubang di balik kulkas, saat masuk kedalam memang benar ada lorong bercabang, satu ke kiri dan satu ke kanan. Mengikuti arahan dari guru Robert sebelum nya, aku dan kedua murid perempuan kelas A pergi ke arah lorong kiri hingga kami sampai di depan ruangan, Natasha membuka pintu ruangan itu, di balik nya ada tiga buah loker dengan nama kami bertiga tertera di bagian atas nya.
Kami bertiga mendatangi loker masing-masing, membuka nya. Benar seperti yang di katakan oleh guru Robert, memang ada seragam olahraga di dalam loker itu, dan parah nya seragam itu benar-benar pas dengan ukuran tubuh kami.
"Sebaik nya kita tidak perlu memikirkan apapun saat ini." Kata Natasha.
"Kau benar. Dan juga kita harus cepat berganti pakaian, aku tidak ingin lari seratus kali keliling lapangan." Balas Alexandria.
Selama mereka saling berbincang satu sama lain, aku sudah membuka kancing baju ku, bersiap mengganti pakaian ku.
Mungkin Natasha dan Alexandria merasa tidak nyaman, melihat seragam olahraga yang ukuran nya sangat pas dengan tubuh mereka sudah di siapkan oleh pihak akademy. Tapi jika di pikirkan dengan baik, sebenarnya perasaan tidak nyaman mereka adalah hal yang tidak perlu. Mengapa? Karena ukuran tubuh mereka, mulai dari pinggul, bokong hingga ukuran dada mereka, mereka sendiri yang mengungkap nya. Itu juga alasan mengapa seragam sekolah kami langsung di kirim ke rumah kami dengan ukuran pas.
__ADS_1
Selesai berganti pakaian menjadi seragam olahraga, kami bertiga keluar dari ruang ganti, kemudian bergegas menuju lapangan academy yang letak nya berada di belakang bangunan academy.