
"Memangnya sejak kapan ada papan pengumuman di sana...?" Dani menyuarakan pertanyaan yang menyangkut di kepala ku.
"Papan pengumuman itu dipasang saat semua murid ada dikantin.... Kesampingkan hal itu dulu, jika kalian tidak tahu mengenai turnamen ini, saya tidak punya pilihan lain selain menjelaskan mengenai turnamen ini kepada kalian." Kata guru Jhon Jiménez, menyalakan proyektor yang tergantung di langit-langit kelas.
Lampu sorot proyektor langsung menyorot kearah papan tulis yang ada di depan kelas kami. Guru Jhon Jiménez menyambungkan proyektor itu dengan smartphone miliknya.
Smarphone pada pertengahan abad ke-21 ini telah berkembang begitu pesat. Smartphone sekarang sudah memiliki beberapa fungsi yang mumpuni, salah satunya adalah menghubungkan perangkat secara nirkabel ke perangkat lain, salah satunya proyektor. Seharusnya smartphone pada zaman dahulu tidak memiliki fungsi ini.
"Seperti namanya, turnamen antar kelas ini adalah turnamen yang melibatkan semua kelas yang seangkatan dengan kalian." Saat Guru Jhon Jiménez itu menjelaskan, proyektor menunjukkan gambar slide murid-murid yang sedang berlomba. "Intinya turnamen ini dilaksanakan untuk mengembangkan bakat para murid dalam sebuah turnamen. Kalian akan melawan murid-murid kelas satu dari kelas lain selama turnamen."
"Turnamen akan dilaksanakan selama seminggu penuh, mengingat jumlah murid yang tidak sedikit.... Harusnya seperti itu, tapi murid yang masuk pada tahun ini lebih sedikit dari angkatan tahun-tahun sebelumnya, turnamen akan di selenggarakan hanya dalam waktu tiga hari."
"Turnamen akan dilaksanakan di salah satu fasilitas yang terpisah dari akademi ini. Banyak tamu penting akan hadir untuk menonton turnamen ini... Asal kalian tahu, banyak murid yang sudah di rekrut oleh organisasi tertentu saat mereka menunjukkan bakat pada turnamen ini, jadi kalian harus mengeluarkan kemampuan terbaik kalian."
"Turnamen ini memiliki tiga perlombaan. Duel, rebut bendera, dan lomba misteri. Untuk lomba misteri sendiri, adalah perlombaan acak yang bertujuan untuk mempertemukan dua tim yang telah lolos dua lomba sebelumnya untuk menuju ke fase final."
__ADS_1
"Sampai sini kalian paham?" Tanya guru Jhon Jiménez.
Kami semua mengangguk. Guru kamipun melanjutkan penjelasannya.
"Seperti yang saya bilang, ini adalah perlombaan antar kelas. Bisa dikatakan kalian tidak di untungkan dalam perlombaan ini karena memiliki sedikit murid yang ada dikelas ini. Tapi, jumlah bukanlah faktor utama dalam meraih kemenangan dalam turnamen ini, faktor utama kemenangan turnamen ini adalah strategi yang jitu! Karena itulah saya di tunjuk sebagai instruktur kalian! Untuk mengajarkan macam-macam strategi yang dapat memenangkan turnamen ini."
Apa ini...? Ini semua begitu mendadak! Kami baru masuk ke akademi selama dua bulan, dan sekarang kami telah di perintahkan untuk mengikuti turnamen! Ada yang salah dengan sistem pendidikan pada akademi ini!? Semuanya terlalu mendadak!
"Karena kalian akan berlomba pada turnamen ini dalam sebuah tim, dan tim tidak akan bisa bekerja dengan baik tanpa adanya pemimpin, karena itu langkah pertama kita kali ini adalah memilih ketua dari tim kelas ini. Ada yang ingin mencalonkan diri?"
Mungkin semua orang berpikiran sama seperti ku. Semua orang dikelas ini tidak ada yang mengangkat tangannya untuk mencalonkan diri. Tapi entah kenapa.... Aku merasakan kalau mereka semua melihat kearah ku... Pasti hanya perasaan ku, yah... Itu benar, ini semua hanya perasaan ku. Bahkan tatapan tajam kawan-kawan ku yang mengarah ke aku juga hanya perasaan ku.
Sambil mengabaikan tatapan tajam kawan-kawan ku, dan juga firasat buruk yang mengganjal hatiku, aku membuka buku pelajaran ku.
Apa...? Mengapa kalian saling menatap dengan ekspresi yakin seperti itu? Ku mohon, semoga firasat burukku tidak benar!
__ADS_1
"Pak, kami mengusulkan Mira Fantasia menjadi ketua tim kami." Kata Dani mengangkat tangannya.
"...."
"... Mira Fantasia... Aaah, gadis berambut perak ini ya... Baiklah jika kalian telah memutuskan. Bagaimana? Nak Mira, kau ingin menjadi ketua kelas ini?"
Firasat burukku benar...
"Haaah...." Sambil menghela nafas panjang, aku hanya bisa mengangguk setuju. Tidak mungkin aku menolak saat semua orang telah menatapku dengan mata penuh harap seperti itu.
Aku memang mengharapkan hal spesial datang ke kegiatan sehari-hari ku yang monoton ini, tapi aku tidak mengharapkan hal spesial seperti ini. Aku sekali lagi hanya bisa menghela nafas, sambil memikirkan strategi untuk turnamen yang akan segera dilaksanakan.
"Benar juga. Saya lupa memberitahu kalian kapan turnamen ini akan dilaksanakan... Turnamen ini akan dilaksanakan pada esok hari."
Seperti yang ku pikirkan, pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan akademi ini.
__ADS_1