
Aku melihat Raihan dibawa ke salah satu lorong di sudut arena oleh tim medis. Lorong yang dilalui tim medis itu sendiri langsung mengarah ke ruang medis (berdasarkan asumsi ku.)
Dari bunyi hantaman palu yang diterima oleh Raihan, aku dapat menduga kalau Raihan menerima luka gagal otak ringan. Oleh sebab itulah ia langsung pingsan setelah menerima satu hantaman dari gadis kelas B, bernama Ema Knežević itu.
Aku harus berterima kasih kepada sel mutasi Raihan, dengan sel mutasi itu ia dapat menyembuhkan dirinya, membuat luka yang ia terima tidak terlalu parah. Dari suara hantaman yang begitu nyaring, dapat dipastikan kalau palu yang memukul kepala Raihan sangatlah berat. Apabila orang normal, bahkan orang yang telah berevolusi akibat Partikel Carlania sendiri, pasti akan menerima luka fatal akibat hantaman keras dari palu seberat itu.
Tetapi... Aku tidak menduga kalau Raihan akan kalah...
Aku tidak tahu kalau kelas B, memiliki anggota yang tidak kalah hebat dari Reiko Kagami. Aku sebenarnya sudah berhati-hati kalau ada anggota lain yang memiliki kemampuan setara dengan Reiko kagami, tapi tetap saja, walaupun sudah menduga hal ini, aku tetap terkejut melihatnya langsung dengan mata kepala ku sendiri.
Tetapi, kekalahan Raihan patut di apresiasi. Dari kekalahannya, aku dapat menduga beberapa kemampuan dari gadis bernama Ema Knežević itu.
Berdasarkan penampilannya saat pertandingan melawan Raihan. Menurut analisis ku, Ema Knežević memiliki kemampuan perhitungan yang bagus, ia juga memiliki pemahaman mengenai ilmu mekanika kuantum dengan baik. Terbukti sewaktu ia memperhitungkan jarak serudukan Raihan, menangkisnya dengan balon air yang nampaknya sudah ia buat dengan cairan bersifat khusus.
Sejujurnya, menangkis serangan Raihan dengan balon air adalah langkah yang ceroboh. Jika aku jadi Ema, aku hanya akan menghindari serangan Raihan. Tidak perlu berbuat seceroboh itu. Juga keputusannya sewaktu mengalahkan Raihan dengan mempengaruhi berat palunya. Itu adalah langkah cerobohnya yang kedua. Mengapa ia tidak menggunakan sihir doppleganger seperti sebelumnya untuk mengangkat palu yang berat itu? Apakah ia sengaja? Atau memang karena kurang telitinya ia dalam menganalisa situasi?
.... Sekali lagi, aku kekurangan informasi untuk mengkonfirmasi hal itu... Membuatku tidak bisa memastikan mana yang benar...
Hanya itu yang bisa ku dapatkan dari penampilan Ema Knežević. Dengan ini, aku memasukkannya dalam list orang yang harus kuwaspadai dalam turnamen ini.
__ADS_1
"Raihan... Benar-benar kalah..." Gumam Dani dengan mulut ternganga, tidak percaya dengan fakta yang ada.
"Seperti yang kukatakan bukan? Sedari awal, Raihan sudah dipermainkan oleh gadis bernama Ema Knežević." Ucap ku.
Kawan-kawan ku menatapku dengan tatapan tidak percaya. Sekali lagi, mereka diyakinkan dengan kemampuan analisa dan hipotesa ku dalam menilai situasi. Terdengar seperti menyombongkan diri, tapi inilah fakta.
"Pertandingan selanjutnya... Akan dilanjutkan dengan pertandingan antara kelas A dan Kelas C. Dani Kalpataru, sebagai perwakilan kelas A, dan Michael Caseolaris sebagai perwakilan kelas C! Kedua peserta, dipersilahkan memasuki arena!!" Ucap pembawa acara, mengumumkan pertandingan berikutnya.
Pertandingan yang sangat kukhawatirkan akhirnya akan dimulai. Semoga saja, Dani tetap mengikuti rencana yang telah kita sepakati.
"Ingat Dani. Stick to the Plan!" Kataku, mengingatkan Dani.
***
Dani mengambil posisi, beberapa meter dihadapan lawannya, Michael Caseolaris. Mereka saling bertatap-tatapan dengan tatapan tajam, setajam silet.
Belum ada pengumuman untuk memulai pertandingan, keduanya sudah bersiap untuk menyerang satu sama lain, mengumpulkan partikel Carlania disekitaran mereka.
"Ingat Dani. Stick to the plan!' Perkataan Mira beberapa saat yang lalu terputar lagi dikepala Dani dengan keras seolah menggunakan salon, perkataan itu menggema dengan nyaring dikepalanya.
__ADS_1
"Aku tahu. Tidak perlu mengingatkan ku berkali-kali..." Pikir Dani, menjawab perkataan Mira yang terputar dikepalanya.
Padahal Mira hanya mengatakan hal itu sekali, tapi, entah mengapa, perkataan gadis kecil itu terus menggema dikepalanya. Membuat Dani seakan-akan terkena ilusi kalau gadis itu mengingatkannya berulang-ulang sampai ia merasa risih.
Hal ini terjadi bukan karena sihir Mira, tapi murni akibat permainan otak Dani, yang terus mengulang-ulang perkataannya terus-menerus. Tidak ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan hal ini, tapi kemungkinan besar hal ini terjadi akibat konflik yang terjadi pada diri Dani saat ini.
Hati Dani, ingin menghajar, mengalahkan Michael dengan seluruh kemampuannya. Tetapi logikanya menolak untuk melakukan hal ini, membuat otaknya memutar perkataan Mira terus-menerus. Otak Dani secara otomatis melakukan ini sebagai sistem penahanan dirinya.
"Huuuh..." Nampaknya, Dani tidak kalah dengan perasaannya, ia masih bisa mengedepankan logikanya, membuat Dani dapat menenangkan dirinya, membantunya untuk berpikir jernih. Dani memejamkan matanya sebentar, menenghela nafas panjang.
Dani kemudian membuka matanya perlahan, melotot kembali kearah Michael Caseolaris dengan tatapan tajam. Tatapan tajam yang ia tunjukkan bukan lagi tatapan tajam yang ingin menusuk secara menggila seperti sebelumnya, tatapan yang ia tunjukkan adalah tatapan tajam yang menusuk dengan presisi lagikan tepat. Tatapan tajam menganalisis dan mengamati.
Walaupun terlihat tidak terlalu pintar, nyatanya Dani adalah seorang siswa yang mampu mendapatkan nilai yang cukup untuk masuk kekelas A, membuat kepintarannya pun, tidak bisa diremehkan. Jika Dani bisa menekan egonya dan bertindak dengan kepala dingin, ia mampu menilai kemampuan lawan dengan cukup akurat.
Berbanding terbalik dengan Dani yang sudah menenangkan dirinya, Michael sama sekali tidak berubah. Hanya ada kegilaan, kemarahan, yang tergambar dimatanya. Yang menahan Michael untuk menyerang Dani saat ini hanyalah bunyi lonceng tanda pertandingan belum dibunyikan, jika lonceng itu sudah menggema, jelas siapa yang akan menyerang untuk pertama kali.
"Pertandingan keempat dimulai!" Teriak pembawa acara melalui mikrofon.
"Ting!"
__ADS_1
Lonceng tanda pertandingan pun berbunyi.