
Aku berhasil membuat Alexandria berhenti mendesakku. Aku tidak memberikan informasi mengenai adikku yang berusaha mendekati nya, aku memberikan informasi palsu kepada nya. Walaupun ia setengah percaya akan informasi yang ku berikan.
Waktu isirahat makan telah selesai, sekarang pelajaran ke empat sudah di mulai. Guru yang memasuki kelas adalah seorang wanita berumur di akhir empat puluh tahunan, bernama Margaret Lavoisier, mata pelajaran kali ini adalah Alkimia.
Alkimia yang kami pelajari benar-benar berhubungan dengan Kimia normal pada umum nya, walaupun dasar ilmu nya sama, yaitu transmutasi logam biasa menjadi logam mulia. Pada zaman dahulu Alkimia mungkin di anggap mustahil atau mungkin dianggap mitos dan hanya teori belaka tanpa ada kebenaran pasti. Tapi melihat perkembangan teknologi, dan tersebarnya Partikel Carlania ke seluruh dunia, membuat Alkimia bukanlah teori belaka, melainkan salah satu cabang ilmu kimia. Dengan merubah susunan partikel pada logam dan memasukkan energi sihir (Partikel Carlania) hal seperti merubah logam biasa menjadi logam mulia bukanlah hal yang mustahil untuk di lakukan.
Karena merubah logam biasa menjadi logam mulia adalah hal yang mudah sekarang, agar tidak merusak harga pasar terhadap barang tersebut, aturan untuk profesi ini sangatlah ketat.
Ada sebuah lisensi yang di tanda tangani oleh negara agar bisa seorang Alkemis untuk melakukan hal tersebut, dan batas produksi pun di batasi oleh negara, jika alkemis tersebut melanggar aturan tersebut, maka dia akan di jatuhkan hukuman yang berat. Walaupun ada beberapa orang yang masih ngotot melakukan hal itu, dan akhirnya di hukum oleh negara atas kejahatan yang telah mereka lakukan.
"Untuk pelajaran kali ini, kita mulai praktek sederhana. Merubah besi berkarat ini, menjadi perunggu."
Guru Alkimia kami mengeluarkan lima buah bongkahan besi yang telah di tutupi karat tebal, lalu memberikan kami masing-masing satu.
"Kalian di larang menggunakan sihir dalam praktek kali ini. Jika kalian menggunakan sihir, pelajaran ini tidak akan ada artinya untuk kalian. Alkimia biasa di gunakan untuk menambah daftar sihir yang dapat kalian gunakan atau mengembangkan kemampuan kalian dari ramuan yang kalian buat, bisa di bilang ini adalah alternatif bagi orang-orang yang tidak ingin berlatih."
"Baiklah, sekarang kita mulai proses transmutasi nya, tetapi sebelum itu ada baiknya kita menghilangkan karat yang menutupi besi ini terlebih dahulu, dengan asam nitrat tentu nya. Kemudian..."
Guru Margaret menjelaskan secara terperinci apa yang harus kami lakukan untuk merubah besi berkarat ini menjadi perunggu. Kami mengikuti instruksi nya dengan mempraktekkan semua perkataan nya dengan alat alkimia yang telah guru Margaret bawa untuk kami.
Setelah sepuluh menit melakukan semua instruksi beliau, dan memasukkan formula yang tepat salah satu dari kami berlima berhasil merubah besi berkarat menjadi perunggu murni.
"Bagus sekali... Siapa nama mu?"
"Mira Fantasia."
"Mira Fantasia... Bagus! Untuk praktek kali ini kamu mendapat nilai 85."
Itu benar, aku adalah orang pertama yang berhasil menyelesaikan praktek dari guru Margaret. Setelah melihat ku telah selesai, guru Margaret mengambil buku kecil dari saku nya, menanyai nama ku lalu memasukkan nilai ku kedalam buku kecil nya.
Aku senang berhasil selesai pertama, tapi ada satu hal yang tidak membuat ku senang. Mengapa aku mendapat nilai 85? Padahal aku berhasil merubah besi berkarat menjadi perunggu dengan baik.
"Dari wajah mu, pasti kau heran mengapa kau mendapatkan nilai 85 dan tidak lebih tinggi. Jawaban nya ada di sini..."
Guru Margaret menunjuk perunggu yang ada di meja ku, atau lebih tepat nya besi yang telah menjadi perunggu. "Kau memang merubah nya dengan baik, tapi di beberapa bagian, masih ada unsur besi di dalam nya. Bisa di katakan perunggu yang kau ubah tidak sepenuh nya perunggu murni."
"Dari mana anda bisa tahu hal itu?"
"Jangan remehkan pengalaman ku anak muda, kau pikir sudah berapa lama Ibu menjalani profesi ini?"
"Jawaban itu tidak meyakinkan."
"Kalau tidak percaya mari kita buktikan."
__ADS_1
Guru Margaret mengambil perunggu yang telah ku ubah, ia kemudian memasukkan nya ke sebuah alat yang dari awal ia masuk kelas sudah ia letakkan di atas meja nya.
"Analisis..." Suara elektronik keluar dari alat itu, setelah beberapa detik alat itu kembali mengeluarkan suara. "Memastikan unsur kimia dalam logam... Cu: 80% Sn: 12% dan Fe: 8%."
Mata ku terbelalak kaget saat mendengar hal itu. Walaupun dalam jumlah yang kecil, pernyataan Guru Margaret benar. Ada unsur besi yang tertinggal dalam perunggu ku.
"Bagaimana? Kau percaya sekarang? Kau kurang memasukkan unsur tembaga, sebaiknya kau periksa ketepatan formula yang ibu berikan."
"Baik. Dan maafkan saya telah lancang sebelum nya."
"Jangan di pikirkan, ibu senang kamu mengkritisi nilai yang ibu berikan. Gunakan ini sebagai pengalaman mu untuk kedepan nya, kau harus lebih teliti lagi dengan formula yang kau masukkan."
"Baik. Akan saya ingat."
"Hm... " Mendengar jawaban ku, guru Margaret tersenyum lembut. "Dalam proses pembelajaran, kesalahan adalah hal yang wajar. Sebagai seorang guru, kami di tuntut untuk memperbaiki kesalahan murid kami agar kesalahan itu tidak di ulang kembali, dan kalian sebagai murid wajib untuk mengoreksi kembali kesalahan yang kalian lakukan. Dengan begitu, proses pembelajaran akan lebih menyenangkan! Baiklah cukup nasihat nya. Ayo cepat, selesaikan perunggu kalian!"
Satu jam lima belas menit kemudian, jam pelajaran ke empat hanya tersisa lima menit. Ke empat murid lain nya telah selesai merubah besi mereka menjadi perunggu. Yang paling terakhir menyelesaikan tugas adalah Raihan. Semua murid mendapatkan nilai di atas 80. Dengan nilai Natasha yang paling tinggi yaitu 90. Dia melakukan kesalahan kurang memasukkan unsur tembaga kedalam perunggu nya, sehingga kemurnian perunggu milik Natasha masih kurang memuaskan guru Margaret. Untuk Alexandria dan Dani sendiri nilai nya masih di bawah aku dan di bawah Raihan, dengan masing-masing mendapat nilai 80, kemudian di atas mereka berdua ada Raihan yang nilai nya hampir sama dengan milik ku yaitu 84.
"Hmm..." Guru Margaret tersenyum puas melihat nilai kami. "Kalian semua mendapat nilai bagus! Ibu ingin kalian mendapatkan nilai yang lebih tinggi lagi di pertemuan selanjut nya."
"Kriiing..."
"Oh... Sepertinya waktu kita telah habis. Sampai jumpa murid-murid!"
***
"Kriing..."
"Cukup untuk pertemuan kita hari ini, kita sambung di pertemuan selanjut nya!"
Guru pelajaran ke enam mengakatan hal itu, sebelum akhir nya ia merapikan barang nya lalu pergi keluar kelas. Saat guru sudah berbelok saat di luar, menyusuri koridor, kami juga merapikan barang-barang kami.
Ke enam pelajaran telah selesai, jam menunjukkan pukul 5 sore.
Dari pelajaran ke lima dan ke enam aku mendapatkan banyak pembelajaran, terutama di pelajaran keenam, yang mengajarkan kondisi alam dapat berpengaruh terhadap beberapa manusia yang mengalami evolusi tidak biasa. Sebagai contoh nya, Natasha yang kekuatannya akan meningkat pada saat malam hari atau saat cuaca mendung, intinya saat langit tidak menunjukkan sinar matahari. Guru pelajaran ke enam, yang bernama Olivier Rouge, menjelaskan sinar UVA yang terdapat pada cahaya matahari yang menyebabkan seseorang yang menderita "Sindrom Vampir" Seperti Natasha tidak bisa mengeluarkan kekuatan penuh nya. Untuk pelajaran kelima sendiri, adalah "Enchament Magic" Yang di ajarkan oleh Estarossa Glory. Pelajaran ini membahas mengenai pengimbuhan benda dengan Partikel Carlania atau bisa di katakan energi sihir, guna memperkuat benda tersebut. Selama pelajaran kelima, kami di ajarkan formula yang dapat kami gunakan untuk mengimbuhi suatu benda dengan partikel Carlania, formula yang di ajarkan sangat penting, karena jika terdapat sedikit kesalahan pada formula, pengimbuhan akan gagal dan dapat merusak struktur benda yang akan di Enchant.
Sungguh semua pelajaran yang di ajarkan pada kami kali ini sangat berguna dalam pengembangan ilmu sihir kami. Ini selaras dengan perkataan guru Matematika kami, Hiroaki Shiina, kalau Magic Academy tidak mengajarkan pelajaran yang tidak ada hubungan nya dengan sihir.
Selesai memasukkan semua barang ku di dalam tas, aku menggandeng tas ku dengan tangan kiri ku.
"Aaah... Otakku benar-benar terbakar!" Kata Dani mengeluh saat selesai memasukkan semua barang nya di dalam tas.
"Kau masih mengeluh..." Dengan ekspresi yang tidak dapat di deskripsi kan, Alexandria berkata kepada Dani.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya mengeluh terus seperti itu, ada baik nya kau pulang dan istirahat." Natasha memberi saran kepada Dani dengan sikap acuh tak acuh.
"Ayo Dani, sebaiknya kita pulang." Ajak Raihan.
"Ya. Kau benar, sebaik nya kita pulang. Tidak ada gunanya aku mengeluh terus seperti ini."
Kami berlima pun keluar kelas, lalu menyusuri koridor hingga sampai ke tangga, menuruni tangga dengan kecepatan normal, kami tidak berhenti sampai akhirnya sampai kelantai satu. Setiba nya di lantai satu, kami melewati aula besar yang pada jam segini di penuhi oleh murid-murid yang hendak pulang kerumah. Bersama murid-murid itu kami pergi keluar academy dan menuju Bus sekolah yang akan mengantar kami pulang, tentu saja kami memilih bus sesuai dengan tingkatan kami. Bus untuk kelas satu berada di bagian ujung kiri tempat parkir bus. Tidak seperti bus angkatan lain nya yang memiliki beberapa unit, karena pada angkatan sebelum nya masih banyak murid yang di terima, bus untuk angkatan kami hanya memiliki satu unit, sesuai dengan jumlah murid yang di terima pada tahun ajaran kali ini.
Saat di dalam bus, aku dan Natasha memilih tempat duduk yang sama seperti yang kami gunakan tadi pagi, ada sedikit perbedaan kali ini, Alexandria ikut duduk bersama dengan kami. Melihat nya yang dengan natural duduk di samping kiri ku, otakku menyadari sesuatu.
"Benar juga. Tadi pagi aku tidak melihat mu menaiki bus ini." Kata ku kepada Alexandria.
"Aaaah... Itu..."
Alexandria mengungkapkan alasan mengapa ia tidak berada di bus ini. Saat bus jemputan datang menjemput nya tadi pagi, ia ketiduran sampai lupa jadwal penjemputan bus. Karena menunggu terlalu lama, bus pun segera pergi, membuat Alexandria pergi ke akademi di antar oleh orang tua nya.
"Jadi murid yang membuat supir bus tadi pagi kesal itu kamu Alexandria." Kata Natasha dengan senyum masam ke Alexandria.
"Apa? Apa yang terjadi?"
"Sebelum Bus menjemput mu, bus ini mampir ke rumah seorang murid. Murid itu membuat kami semua menunggu selama lima menit, karena tidak kunjung keluar, supir bus kesal dan langsung tancap gas kerumah mu." Jelas Natasha.
Suara mesin di nyalakan terdengar, membuat badan bus bergetar pelan, memanaskan mesin bus selama beberapa detik, supir bus kemudian menginjak pedal gas, membuat bus berjalan pelan keluar dari parkiran menuju landasan pacu.
Menaikkan gas sedikit, bus menambah kecepatan ancang-ancang dengan mulus tanpa membuat kami semua merasakan G-Force hingga badan kami tertarik ke belakang. Ujung depan bus mulai naik ke udara, layak nya seperti menaiki lift, tubuh kami tertarik ke bawah sedikit sebelum akhir nya perasaan tertarik itu menghilang saat ban bus benar-benar lepas dari tanah landasan pacu.
Beberapa menit kemudian...
Bus sampai ke komplek perumahan ku, mendarat dengan mulus di aspal beberapa meter dari rumah ku, bus berjalan pelan hingga akhirnya benar-benar sampai di depan rumah ku. Supir mengoprasikan sebuah tuas untuk membuka pintu bus, saat pintu terbuka aku berdiri dari tempat duduk ku lalu berpamitan dengan Alexandria dan Natasha sebelum aku berjalan menuju pintu bus.
"Sampai jumpa Mira!" Dani yang duduk bersama Raihan di kursi dekat dengan pintu bus mengucapkan salam perpisahan pada ku, yang ku balas dengan: "Hm. Sampai jumpa besok."
Aku turun dari bus dengan hati-hati, saat kedua kaki ku menyentuh tanah, pintu bus tertutup. Aku berbalik, melihat bus pergi sembari melambaikan tangan ku kepada teman-teman sekelas ku. Saat bus sudah lepas landas kelangit, aku berbalik, kemudian berjalan memasuki rumah ku.
"Aku pulang!" Membuka pintu rumah di sertai dengan salam, aku di sambut oleh satu-satu nya penghuni rumah yang pasti ada pada jam sore seperti ini, siapa lagi kalau bukan adikku, Mia.
"Selamat datang kembali. Bagaimana Mira? Mengenai Magic Academy?"
"Sangat menarik," Aku menceritakan mengenai bangunan, suasana, pelajaran, fasilitas, dan kawan sekelas ku kepada adikku, tentu saja aku menyimpan bagian paling menarik yaitu kebenaran dari laki-laki bernama Alex yang berusaha di dekati oleh adikku. "Tapi bagian paling menarik nya akan ku simpan untuk diriku sendiri, lagipula aku tidak ingin membuat mu syok."
"?" Memiringkan kepala nya sedikit dengan wajah bingung, adikku menatap ku dengan mata yang mengindikasikan kalau ia meminta penjelasan lebih.
Mengabaikan adikku yang kebingungan, aku pergi kelantai dua, menuju kamar ku.
__ADS_1