
Urusan kami di kantin telah selesai, niat nya kami ingin kembali ke kelas. Tapi masih ada waktu satu setengah jam sebelum akhir nya kelas siang di mulai. Jika kami kembali ke kelas tidak ada hal yang bisa kami lakukan. Mengetahui hal ini, Alexandria mengusulkan suatu ide kepada kami.
"Mau temani aku sebentar?" Katanya. "Dan Raihan kau harus ikut, karena hal yang hendak kulakukan saat ini sangat berhubungan dengan mu."
"Ah.. Oke. Baiklah."
Aku, Natasha dan Dani bertukar pandang sebentar sebelum akhir nya kami pun memutuskan untuk mengikuti Alexandria.
Keluar dari kantin sekolah, kami tiba di aula besar, Alexandria mengeluarkan denah academy dari saku baju nya. Hari ini adalah hari kedua kami sekolah, walaupun kami sudah hapal jalan dari aula menuju kelas dan kantin, masih banyak tempat yang tidak kami ketahui. Karena itu kami selalu membawa denah di saku baju kami.
"Etto, perpustakaan... Perpustakaan..." Gumam Alexandria sembari menatap denah akademi dengan teliti, saat ia menemukan tempat yang ia cari ia berseru: "Ketemu!" Ia pun mulai berjalan mengikuti arahan dari denah yang ada di tangan nya.
"Untuk apa kita ke perpustakaan?" Tanya Natasha ke Alexandria.
"Saat Raihan menggunakan sihir Transformation nya. Dia selalu kehilangan kendali, dan juga saat pertadingan kita hari ini ada yang aneh saat ia menggunakan sihir nya. Wujud banteng nya, lebih mengerikan dari sebelum nya! Seluruh tubuh nya membesar hingga tiga kali lipat. Jika kita tahu alasan kenapa Raihan sampai bisa berubah wujud hingga seperti itu, mungkin saja kita juga bisa mengetahui alasan dia bisa kehilangan kendali." Jelas Alexandria.
Dani juga ikut mendengar penjelasan Alexandria, ia kemudian melirik kesamping nya, tempat sahabat nya itu berjalan bersama nya. "Apakah kau tahu alasan kenapa kau bisa seperti itu?"
"Uuuum...."
"Aku yakin dia tidak akan tahu," Saat Raihan kesusahan menjawab pertanyaan Dani, Alexandria sekali lagi membuka mulut nya, mengambil alih peran Raihan untuk menjawab pertanyaan Dani. "Dia bahkan tidak sadar saat bertransformasi. Sangat wajar ia tidak tahu keanehan yang terjadi pada diri nya sendiri."
Aku melirik Raihan, melihat langsung ke wajah nya. Dari ekspresi nya, aku bisa menebak kalau ia sulit menerima perkataan Alexandria, tapi gadis itu mengungkapkan fakta yang kebenaran nya begitu valid, sehingga tidak ada alasan Raihan untuk menyanggah perkataan Alexandria.
Menyusuri koridor di lantai satu, lebih tepat nya koridor yang berada dua meter di samping tangga yang ada di aula, kami terus berjalan hingga akhir nya bertemu satu-satu nya simpangan di koridor ini. Mengikuti arah simpangan itu yang berbelok ke kanan, kami berjalan sekitar 10 meter hingga akhirnya kami sampai di depan sebuah ruangan yang di hiasi oleh dua pintu kayu berwarna coklat tua berukuran 3 meter. Di atas pintu kayu itu terdapat papan bertuliskan 'perpustakaan.' Dari tanda itu dapat di pastikan kalau kami telah sampai ketujuan kami.
Membuka kedua pintu itu, kami di sambut dengan rak buku yang menjulang tinggi, berderet hingga ujung ruangan dengan jarak antara rak satu dengan rak yang lain nya sekitar 2 meter. Perpustakaan magic academy ini nampak normal, sama seperti perpustakaan sekolah pada umum nya... Nampak nya kenyataan ini membuat Natasha dan Alexandria kecewa, wajah mereka segera berubah sesaat memasuki ruangan perpustakaan ini.
"Apa yang kalian harapkan?" Tanya ku pada mereka.
"Aku berharap ada rak terbang." Jawab Alexandria.
"Tangga yang melayang-layang, lalu buku-buku yang melesat melintasi kepala kita..." Sambung Natasha.
"Aaah... Tipikal perpusatakaan sihir di cerita fantasy. Tapi sayang nya hal itu tidak mungkin. Jika ada yang memikirkan untuk membuat hal seperti itu, pasti proposal nya akan di tolak. Lagipula tidak ada untung nya membuat buku yang bisa terbang, lalu untuk membuat tangga dan rak melayang memerlukan biaya yang tinggi. Orang-orang lebih memikirkan membuat transportasi yang bisa melayang."
"Kami tahu hal itu... Tapi kau paham kan maksud kami..." Keluh Natasha.
"Ya. Biarkan kami mewujudkan mimpi kami melihat hal yang kesan nya fantasy banget gitu nah..." Sambung Alexandria.
"Haaah..." Aku menghela nafas panjang mendengarkan keluhan mereka.
__ADS_1
Mereka terlalu berharap khayalan kanak-kanak mereka menjadi kenyataan. Tidak bisakah mereka membuang semua hal itu, dan menjadi dewasa dengan berpikir realistis? Yah apapun hal yang mereka impikan itu, sayang nya hal itu tidak akan terjadi... Mereka sekali lagi harus menghadapi kenyataan yang pahit ini.
Kami berjalan menyusuri perpustakaan, memeriksa setiap rak yang ada.
Semua buku yang ada di rak di bariskan dengan posisi berdiri, hanya menunjukkan bagian punggung buku yang hanya bertuliskan judul dari buku tersebut dengan ukuran tulisan yang kecil. Karena itu kami berjalan dengan langkah kecil sambil memerhatikan setiap buku yang ada.
"History of Magic... Basic Magic... Summoning Magic, oh... Ini rak buku khusus ilmu sihir." Saat kami tiba di suatu rak, kami melihat buku dari ujung rak hingga beberapa buku selanjut nya di penuhi dengan buku berjudulkan kata sihir di depan. Dari sini kami simpulkan kalau kami telah memeriksa Rak yang benar.
Aku dan ke empat kawan ku terus berjalan kearah depan, menyentuh punggung buku, sembari menggumamkan judul buku yang tersusun rapi di rak ini. Saat kami tiba di pertengahan rak buku, kami menemukan buku yang kami cari.
"Transformation Magic!" Seru Alexandria dengan suara lirih, tidak ingin berisik di dalam perpustakaan.
Alexandria mengambil buku itu. Aku lupa memberitahu hal ini, di dalam perpustakaan ini bukan hanya ada rak buku yang berjejer tapi juga ada beberapa meja yang di sediakan khusus untuk membaca. Saat ini di perpustakaan tidak ada siapa-siapa kecuali kami dan pengurus perpustakaan.
Saat ini masih jam pelajaran, wajar jika tidak ada siswa di dalam sini.
Kami berlima pergi ke meja, murid perempuan duduk di samping kanan dan kiri Alexandria sedangkan dua murid laki-laki sisa nya duduk di seberang meja, berhadap-hadapan dengan nya. Lima pasang mata menatap langsung ke arah buku, Alexandria membuka nya langsung ke halaman daftar isi buku itu.
"Bab 1. Awal mula muncul nya Transformation Magic, bab 2. Macam-macam... Bab 3.. Bab 4... Bab 5. Masalah pada Transformation Magic..."
Mengetahui topik yang sedang kami cari saat ini, Alexandria pun membalik-balik halaman buku itu hingga sampai pada halaman yang menunjukkan Bab 5.
".... Untuk masalah kehilangan kendali saat bertransformasi ada tiga penyebab. Pertama kurang nya kendali atas energi sihir, kedua keadaan mental sang pengguna sedang tidak stabil, lalu yang ketiga karena kondisi alamiah mahluk yang menjadi alter ego sang pengguna... Haaah...? Kondisi alamiah...? Apa maksud nya?" Alasan pertama dan kedua dari penjelasan yang tertulis di buku dapat di pahami oleh Alexandria. Tapi pada saat membaca alasan yang ketiga, ia mengerutkan alis nya, dengan wajah rumit ia memiringkan kepala nya dalam bingung.
"Hmmm..." Alexandria melanjutkan membaca, berharap menemukan penjelasan mengenai hal yang ia tak mengerti. "Cara mengatasi ketiga kondisi tersebut... Hah...? Tidak ada penjelasan apapun mengenai maksud alasan nomor tiga? Buku ini langsung menjelaskan cara mengatasi masalah nya."
"Bukankah itu bagus? Kita tidak perlu susah-susah mengerti penjelasan dari buku ini." Kata ku pada nya.
"Harus nya sih begitu... Hmm... Bacalah sendiri!"
'Cara mengatasi ketiga kondisi tersebut dapat di lakukan dengan berbagai cara. Untuk mengatasi masalah pertama, tentu saja melatih mengendalikan energi sihir, mengatasi masalah kedua dapat di selesaikan dengan cara menghilangkan tekanan pada pengguna, untuk mengatasi masalah ketiga dapat di atasi dengan melatih korban, memindahkan kesadaran korban atau cara yang paling sederhana dengan menggunakan ramuan.'
Setelah melihat penjelasan yang tertulis di buku itu, aku bisa paham alasan mengapa Alexandria sampai kesal. Penjelasan yang di berikan buku ini terlalu ambigu, atau mungkin tidak...? Buku ini seperti nya langsung di tujukan kepada pengguna 'Transformation Magic' yang lebih mengerti mengenai seluk beluk sihir tersebut. Karena itulah buku ini tertulis dengan penjelasan yang sukar untuk di pahami oleh orang awam mengenai sihir itu seperti kami.
Aku melihat ke arah Raihan, wajah nya seperti mendapatkan pencerahan dari sebuah kitab suci. Tapi seketika ekspresi nya berubah, ia menunjukkan ekspresi wajah rumit.
Alexandria menutup buku yang ia baca, meletakkan buku yang baru saja di baca nya agak jauh sedikit dari nya, setelah itu ia mengarahkan pandangan nya ke wajah Raihan.
"Kau yang paling mengerti mengenai sihir ini Raihan, apakah ada beberapa hal yang bisa kau jadikan refrensi dari buku ini?" Tanya Alexandria dengan penuh harap.
"Hmm... Sebenarnya ada... Tapi aku tidak yakin hal itu berhasil atau tidak, dan juga aku tidak tahu harus dari mana memulai nya."
__ADS_1
"Untuk masalah berhasil atau tidak nya, itu urusan nanti. Tapi apa maksud mu kau tidak tahu harus mulai dari mana?" Sahabat Raihan, Dani bertanya dengan tidak yakin atas perkataan sahabat nya itu. Wajah nya juga sedikit menunjukkan eskpresi kesal, yang alasan kenapa ia mengeluarkan ekspresi itu tidak ku ketahui sama sekali.
"Hmmmm... Untuk menjelaskan hal itu, biar ku jelaskan secara singkat mengenai sihir ini. Tenang saja penjelasan ku tidak akan ribet seperti di buku yang kalian baca sebelum nya."
Transformation Magic tercipta akibat paparan radiasi nuklir yang di akibat kan ledakan bahan bakar nuklir yang terjadi di suatu kota pada tahun 2026 silam. Kota tersebut langsung di karantina. Yang parah nya, penduduk di kota tersebut tidak di evakuasi ke tempat yang aman hanya di biarkan di dalam kota itu, kota itu otomatis di hapus dari peta. Pemerintah dari negara yang memiliki hak atas wilayah terhadap kota tersebut menutupi kejadian kelam itu, sehingga kejadian itu terungkap kebenaran nya dalam waktu yang lama. Pada saat Carlania Particle di temukan, dan tersebar keseluruh penjuru dunia dengan massive.
"Leluhur dari keluarga ku adalah penduduk selamat dari kota yang terkena paparan radiasi nuklir itu." Kata Raihan memberitahu kami dengan wajah serius, ia tidak berhenti bercerita sampai situ, dengan ekspresi wajah yang tidak pernah berubah, Raihan melanjutkan ceritanya. "Saat Particle Carlania di temukan, beberapa orang yang selamat di kota itu dengan tubuh yang telah bermutasi akibat paparan radiasi nuklir, mengalami evolusi seperti manusia lain nya..."
Evolusi tersebut membuat mereka dapat mengendalikan mutasi yang terjadi dalam tubuh mereka, menciptakan sihir yang bernama "Magic Transformation!" Sihir ini dahulu kala di percaya adalah sihir yang dapat digunakan jika seseorang menyatu dengan roh dari hewan suci atau roh hewan iblis. Pada kenyataan nya, sihir ini hanya memunculkan kembali mutasi pada sel, yang sebagian besar mutasi dari sel itu adalah sel dari hewan. Karena itulah sihir ini dapat merubah bentuk tubuh seseorang menjadi seekor hewan.
"Maksud alasan ketiga, mengenai kondisi alamiah alter ego dari sang pengguna adalah kondisi natural dari perubahan hewan kami. Walaupun telah bermutasi dengan sel manusia, hewan tetaplah hewan, mereka tidak punya akal. Karena itulah saat kami menggunakan wujud hewan kami, ada beberapa orang yang tidak bisa mengendalikan energi sihir, seperti ku, membuat mutasi sel tersebut tidak terkendali sehingga mempengaruhi perubahan organ tubuh kami yang seharus nya tidak di rubah, sebagai contoh otak."
".... Jadi maksud mu, saat kau bertransformasi, kau juga ikut merubah kondisi otak mu sama seperti hewan asli nya?" Tanya Dani.
"Ya. Itu benar. Dan aku kaget saat membaca buku ini. Buku ini mengatakan masalah itu dapat di selesaikan hanya dengan ramuan."
"Tidak. Kau salah Raihan." Kata ku kepada nya, dia langsung menatap ku dengan bingung. Aku menjelaskan lebih lanjut atas pemahaman ku mengenai buku yang baru saja kami baca. "Buku ini tidak mengatakan kau bisa mengatasi masalah mu hanya dengan satu cara, buku ini mengatakan dapat mengatasi masalah mu dengan berbagai cara. Dari yang ku lihat, buku ini menjelaskan semua masalah secara bertahap, mulai dari pengendalian energi sihir, kondisi mental dan ramuan yang dapat menahan mutasi sel. Ini semua di jelaskan secara berurutan, kau tidak bisa hanya menggunakan satu cara, tapi semua cara."
"Jadi maksud mu..."
"Ya. Pertama-tama, kita harus memperbaiki kendali akan energi sihir mu... Dan maaf untuk mengatakan hal ini, tapi jika ku perhatikan, sikap mu menunjukkan kalau kau sedang di bawah tekanan mental, kita juga harus mengatasi hal itu, tidak. Bukan kita, tapi kau sendiri yang harus mengatasi hal itu. Masalah mental mu, aku dan yang lain nya tidak bisa membantu. Karena kami bukanlah ahli dalam masalah itu. Jadi kau sendiri yang harus mengatasi hal itu." Terdengar keras, tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya di sini. Kami bukanlah psikiater ataupun psikolog, kami hanya anak SMA yang baru saja lulus SMP beberapa bulan yang lalu. Untuk masalah mental, lebih baik dia menyerahkan kepada seorang ahli dari pada kepada kami, remaja yang baru hendak menginjak usia dewasa.
"Baik..."
"Untuk masalah ketiga, mungkin kami bisa atasi."
"Terima kasih... Kalian mau repot-repot membantu ku, terima kasih..."
***
Beberapa jam kemudian, jam istirahat tiba. Kami memutuskan untuk makan dengan porsi kecil untuk mengganjal perut hingga sore hari. Waktu istirahat berlalu dengan cepat, kelas siang pun di mulai.
Semua guru yang mengajar kelas siang, secara normal, tanpa ada tambahan waktu seperti kelas pagi, memasuki kelas kami.
Waktu terus berlalu, hingga sampailah kami pada penghujung hari. Semua pelajaran telah habis. Waktu pulangan pun tiba, sama seperti hari pertama kami berlima menaiki bus sekolah, yang segera mengantar kami kerumah masing-masing.
"Sampai jumpa besok." Kata ku sesaat turun dari bus, sembari melambaikan tangan kepada kawan sekelas ku.
"Sampai jumpa besok!" Balas mereka, sebelum akhir nya pintu bus tertutup lalu berjalan kembali mengantar murid yang tersisa. Saat bus terbang kelangit, aku berbalik, berjalan memasuki rumah ku.
"Aku pulang." Mengucapkan salam kepada siapapun yang ada di rumah, aku masuk kedalam sebelum menutup pintu masuk. Dengan pulang nya aku kerumah, menandakan sekolah untuk hari kedua telah selesai.
__ADS_1