My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 21 Pertandingan Melawan Android Part III


__ADS_3

"Seperti nya Dani berniat memancing musuh ke arah nya, dan melawan nya sendiri. Aku juga melihat Raihan dan Alexandria pergi menjauh dari Dani." Kata Natasha menginformasikan hal itu kepada ku sembari menatap tajam ke arah pohon tempat Dani berada. Dengan kemampuan matanya yang spesial, Natasha dapat melihat kejadian yang terjadi disana dari kejauhan, walaupun aku tidak tahu seberapa jelas ia dapat melihat nya.


"Seperti dugaan ku. Dani berusaha untuk mengorek informasi lawan kita dengan cara menghadapi mereka secara langsung."


Yang jadi masalah sekarang ini adalah... Bagaimana ia menyampaikan informasi itu kepada kami. Dani tidak mengetahui mengenai mata Natasha, yang saat ini ia gunakan untuk mengawasi nya dari kejauhan, sehingga ia harus mengambil resiko melawan mereka sembari mengorek informasi, kemudian berjuang keras untuk menyampaikan informasi itu kepada kami. Hal ini membuat Dani harus bekerja tiga kali lebih keras. Berbeda hal nya kalau ia mengetahui kemampuan mata Natasha, ia tidak perlu pusing mengenai cara menyampaikan informasi itu kepada kami. Karena itulah aku mengatakan kalau rencana Dani ini kemungkinan berhasil hanya di bawah lima persen.


... Sepertinya aku harus membantu nya.


"Natasha, apakah kemampuan mata mu itu memiliki batas?" Tanya ku kepada nya, tanpa mengalihkan pandangan ku dari pucuk pohon yang di ciptakan Dani.


"Tentu saja. Aku tidak bisa melihat ke kejauhan dalam waktu yang lama, mentok-mentok hanya 10 menit."


"Bagus... Itu lebih dari cukup... Oh, ya. Kita tidak perlu membantu Dani, sudah tidak ada harapan untuk membantu nya. Kita hanya perlu menambah jebakan agar bendera kita tidak di rebut."


"Apakah kau memiliki rencana?"


***


Mungkin terdengar berlawanan ketika aku berniat untuk membantu Dani tapi aku mengatakan kepada Natasha kalau kami tidak perlu membantu nya. Tapi pada kenyataan nya, menurut perhitungan ku, cara kami untuk menolong Dani dengan cara tidak membantu nya dalam perkelahian.


Mengapa bisa seperti itu?


Inti dari rencana Dani adalah mengorek informasi musuh dengan menghadapi mereka secara langsung. Hambatan terbesar dari rencana Dani adalah memberikan informasi yang ia dapatkan kepada kami, karena itulah satu-satu nya cara untuk membantu Dani adalah berdiam diri di tempat kami, menyaksikan perkelahian Dani secara langsung dari kejauhan, dengan begitu, secara tidak langsung kami telah mendapatkan informasi dari menyaksikan perkelahian Dani. Walaupun aku mengatakan 'kami' yang akan menyaksikan perkelahian Dani, pada kenyataan nya hanyalah Natasha seorang yang menyaksikan perkelahian itu dengan mata khusus nya, sedangkan peran ku adalah menyiapkan jebakan untuk melawan musuh dari informasi yang telah Dani dapatkan untuk kami.


Aku memberitahu Natasha mengenai hal ini, ia langsung menyetujui rencana ku, dengan nurut menyaksikan perkelahian Dani mengikuti instruksi ku. Natasha memberitahu ku kalau ada empat orang musuh yang mendatangi Dani.

__ADS_1


"E-Empat orang..."


"Yap. Itu benar. Nampak nya, ke empat orang itu menggunakan jubah untuk menutupi wajah mereka."


Jubah...? Dari mana mereka mendapatkan hal itu? Dan juga Mengapa mereka harus menutupi wajah mereka... Pertanyaan seperti itu muncul di kepala ku, tapi ada hal yang lebih penting, aku pun menanyakan hal yang menurut ku lebih penting itu kepada Natasha. "Apakah kau bisa mengetahui Gender dari ke empat orang yang menyerang Dani saat ini?"


"Hmmm~~~ Entahlah. Jubah yang mereka kenakan terlalu tebal. Aku tidak bisa melihat bentuk tubuh mereka. Tapi yang jelas, kalau tinggi mereka sama semua."


"Tinggi mereka sama semua...? Apakah kau tidak salah lihat?"


"Tidak. Aku sangat yakin dengan penglihatan ku."


Itu seharus nya tidak mungkin. Seingat ku, bentuk tubuh dan tinggi badan kelima android yang saat ini melawan kami benar-benar berbeda. Satu bertubuh gempal, satu berbadan cungkring, dan satu lagi berbadan pendek. Hanya dua Android yang memiliki bentuk tubuh yang hampir mirip, yaitu yang bernama Alpha dan Epsilon. Jika ada empat orang yang menyerang Dani, seharus nya kami bisa mengetahui siapa saja yang menyerang nya, kami bisa melakukan itu dengan cara mengidentifikasi dari bentuk tubuh dan tinggi badan mereka.


***


"Hahahaha... Mereka terjebak!"


Robert tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan murid-murid nya yang bergerak atas inisiatif mereka sendiri-sendiri tanpa adanya kerja sama tim yang solid.


Basis perbuatan mereka yang seperti itu adalah kepercayaan atas rekan satu tim mereka. Tapi itu adalah kesalahan yang fatal! Memang tidak salah untuk saling percaya satu sama lain, tapi jika kepercayaan itu sampai membutakan, itu adalah sebuah kesalahan. Dan murid-murid nya benar-benar di butakan oleh kepercayaan itu.


Mereka semua memang nampak melakukan semua tindakan dengan perhitungan yang nampak presisi. Tapi jelas perhitungan mereka banyak yang salah! Banyak sekali kesalahan dalam langkah mereka yang nampak presisi itu. Mulai dari tidak tahu nya mengenai kemampuan musuh, bergerak dengan bermodalkan kepercayaan tanpa adanya diskusi lebih lanjut dengan rekan setim, bertindak gegabah, dan yang paling parah... Mereka juga kekurangan informasi mengenai kawan mereka sendiri. Benar-benar banyak yang harus di benahi dari mereka semua. Sebagai seorang pengajar, tentu hal ini membuat Robert senang.


"Ah. Aku hampir lupa, sudah waktu nya untuk menunjukkan peta kepada mereka."

__ADS_1


Waktu yang di tentukan untuk menunjukkan peta yang telah di scan oleh Drone yang dari tadi berkeliling di arena permainan telah tiba, karena keasyikan menyaksikan murid nya, Robert benar-benar lupa akan hal itu. Tapi ia segera mengingat nya, ia pun langsung memencet tombol di panel operasi di depan nya.


***


Alexandria dan Raihan terus berlari ke arah timur laut dengan kecepatan tinggi, tapi langkah mereka kemudian berhenti saat mereka mendengar pengumuman mengenai drone yang akan menunjukkan peta arena.


Peta arena langsung muncul di udara kosong tepat di depan mereka, dari peta tersebut menunjukkan kalau markas musuh berada di samping kiri mereka, mereka melenceng dari arah markas musuh sekitar tujuh puluh derajat.


"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Raihan kepada Alexandria.


"Tentu saja kita langsung menyerbu markas musuh, lagipula lawan kita hanya satu orang!"


Mereka pun merubah haluan, bergerak mengikuti peta yang menunjukkan posisi markas musuh, markas musuh berjarak sekitar 45 meter dari tempat mereka berada, dengan kecepatan lari mereka, mereka pun sampai di tujuan dengan waktu singkat.


Mereka sampai di depan bagunan kosong, berdiameter 10 meter. Gedung itu hanya memiliki satu tingkat. Pintu depan hanya berhiaskan gerbang besi yang telah berkarat. Tanpa perasaan ragu, Alexandria membuka gerbang itu, menggeser nya kesamping. Suara besi berdecit mengikuti gerak pintu itu, secara tidak langsung memberitahu keberadaan mereka.


Ruangan di dalam gedung gelap, tapi yang jelas gedung itu kosong. Hanya ada bendera yang menancap di tanah tepat berada di tengah ruangan.


"Percuma sembunyi! Kami tahu kau ada di sini!" Alexandria berteriak di dalam ruangan dengan percaya diri, menyuruh Android milik Robert, bukan, bukan milik Robert tetapi milik Magic academy yang di pinjam Robert, untuk keluar.


Android itu pun keluar, saat dia keluar, Alexandria dan Raihan terkejut bukan main. Itu dikarenakan....


"Di-dia tidak sendirian!" Raihan berteriak dengan ekspresi horor.


Itu benar. Seorang Android keluar dari kegelapan di pojokan ruangan di temani dengan tiga andorid lain nya.

__ADS_1


__ADS_2