
Kami berlima sampai di kantin sekolah. Untuk mendskripsikan bagaimana suasana kantin di sekolah ini, aku hanya memiliki dua kata. "Berisik dan ramai." Dua kata pendeskripsian yang begitu buruk untuk orang introvert seperti ku. Aku lebih menyukai tempat sepi dan hening. Tidak peduli seberapa tidak suka nya aku dengan suasana di kantin ini, aku tidak bisa mengatakan itu kepada yang lain nya, terlebih lagi kepada Alexandria yang telah repot-repot mengajak ku.
"Kalian ingin beli apa?" Tanya Dani kepada kami.
"Apa maksud mu Dani? Semua makanan di kantin ini gratis. Ini bukan kantin biasa yang ada di sekolah pada umum nya ya, yang dimana kantin biasanya di isi oleh pedagang kaki lima dengan berbagai macam jajanan nya." Alexandria menjelaskan.
"Betul kata Alexandria," Sambung Natasha. "Semua makanan di sini boleh kita ambil, untuk biaya makan sendiri telah di tanggung pihak akademi."
Dengan kata lain, seluruh makanan di kantin ini di sediakan oleh pihak akademi kepada murid-murid nya. Tentu saja itu adalah hal yang sangat menguntungkan bagi kami. Sisi positif nya kami bisa lebih menghemat uang saku kami, untuk sisi negatif nya mungkin hanya varian makanan yang di sajikan. Kantin di sekolah ini hanya menyediakan makanan sehat. Tidak ada gorengan, bakso, nasi padang, ataupun makanan berlemak tinggi lain nya. Sebenarnya aku bukanlah penyuka makanan seperti itu, tapi lain hal nya dengan Dani...
Saat kami semua mengambil piring dan mengantri di meja penyedia makanan, Dani menunjukkan ekspresi kecewa melihat jenis makanan yang di jejerkan di atas meja.
Setelah mengambil makanan di meja penyedia makanan yang berada di ujung kantin, kami pergi ke meja yang memang khusus makan. Meja khusus makan sama seperti meja penyedia makanan, ukuran nya panjang walaupun tidak sepanjang meja penyedia makanan, meja khusus makan hanya cukup untuk di duduki lima orang. Meja khusus makan yang kosong berada di bagian sisi kiri ruangan, dua langkah dari dinding, di situ satu-satu nya meja yang benar-benar kosong. Kami berlima dengan garcep pergi ke meja itu, dengan kantin yang begitu ramai, kami harus berebutan dengan murid lain.
Sayang nya, bukan hanya kami yang mengincar meja kosong itu ada kelompok murid lain yang mengincar nya juga. Saat Dani menaruh piring nya di atas meja, murid lain juga menaruh piring nya di samping Dani.
"Kami duluan yang mendapatkan tempat ini!" Kata Dani dengan nada menantang.
"Tidak! Jelas kami duluan yang sampai" Sanggah murid lain.
"Jelas-jelas Dani yang menaruh piring nya duluan!" Alexandria berkata dengan nada kesal membantu Dani.
"Apa maksud mu, jelas Jack duluan yang menaruh piring nya!" Salah seorang teman murid yang di tantang Dani membantu saingan Dani dalam beragumen.
__ADS_1
Raihan tidak tahu harus berbuat apa, jelas wajah nya menunjukkan ekspresi panik melihat kawan nya yang sudah terlibat masalah dengan murid lain di hari pertama nya di sekolah.
"Haaah..." Aku menghela nafas kemudian melihat sekeliling. Menemukan tempat kosong aku pergi ke sana, sendirian... Aku ingin secepat nya pergi dari kantin ini, tidak ada gunanya aku ikut bertengkar karena masalah sepele seperti itu.
Aku duduk di kursi kosong, lalu dengan cepat memakan makanan ku. Makanan yang ku ambil adalah nasi dengan porsi kecil, di tambah sayur bayam, wortel tomat dan seledri, untuk minuman nya sendiri aku mengambil jus apel.
Saat aku menyuap makanan ku, Natasha ikut pergi menjauh dari Dani yang masih bertengkar di bantu oleh Alexandria dan Raihan yang dari tadi berdiri di samping nya dengan panik, (Raihan tidak membantu Dani bertengkar.)
"Sungguh kekanak-kanakan." Gumam Natasha.
Untung nya, pertengkaran mereka berdua tidak mengarah ke perkelahian serius, karena ada seorang staff dari kantin yang menghentikan mereka. Alhasil orang yang bertengkar merebutkan tempat kosong itu, di paksa untuk duduk bersama. Tetapi karena suasana nya tidak nyaman, salah seorang dari kelas kami pergi dari tempat itu. Alexandria berhasil pergi duluan dari tempat itu, menuju tempat ku dan Natasha. Dani dan Raihan ingin mengikuti Alexandria, tapi karena tidak ada tempat kosong lagi, mereka berdua mau tak mau harus duduk di tempat itu dengan suasana yang tidak nyaman menemani mereka.
"Aku tidak menyangka kau bersumbu pendek seperti itu." Kata Natasha ke Alexandria.
"Motto keluarga Barnet adalah menang! Kami harus selalu meraih kemenangan tidak peduli seberapa sepele masalah itu." Kata Alexandria dengan bangga sebelum akhir nya ia juga menyantap makanan nya.
Mereka berdua kemudian mulai menceritakan mengenai keluarga mereka masing-masing. Di mulai dari Alexandria, kemudian di sambung oleh Natasha. Sebagai seseorang yang terlahir di keluarga kelas menengah, aku tidak mengerti mengapa keluarga mereka menjunjung tinggi hal seperti itu. Walaupun aku tidak mengerti mengenai hal itu, aku tidak bisa menyalahkan jalan pikir mereka yang telah di tanamkan oleh keluarga mereka sedari kecil. Justru aku menaruh respect kepada mereka yang masih memegang teguh motto keluarga yang telah di ajarkan kepada mereka sedari kecil.
Karena Natasha dan Alexandria yang terus berbicara sembari menyantap makanan mereka, kecepatan makan mereka terbilang lambat. Saat mereka baru menghabiskan setengah porsi mereka, aku yang dari tadi diam menikmati makanan ku telah menghabiskan makanan ku, tentu saja termasuk minuman yang telah ku pesan. Porsi makanan ku yang kecil, juga berpengaruh terhadap kecepatan makan ku.
"Jika kalian tidak menghabiskan makanan kalian, waktu istirahat akan habis tanpa kalian sadari."
"Hah. Mira benar! Kita tidak boleh menghabiskan waktu dengan mengobrol seperti ini!" Kata Alexandria.
__ADS_1
Menyadari kesalahan mereka, Alexandria dan Natasha melanjutkan menyantap makanan mereka dengan hening, kecepatan makan mereka pun bertambah sehingga mereka bisa menghabiskan sisa porsi mereka kurang dari sepuluh menit.
Masih ada waktu beberapa menit sebelum akhir nya jam istirahat makan siang benar-benar berakhir. Tidak sopan untuk duduk terus di kantin sementara masih banyak orang yang menunggu tempat kosong, atas alasan ini aku mengajak Natasha dan Alexandria kembali kekelas. Sesampai nya kami di kelas, Natasha dan Alexandria duduk di kursi mereka masing-masing lalu melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti di kantin tadi.
"Di keluarga ku, aku satu-satu nya orang yang tidak mewarisi kemampuan anggota keluarga ku." Kata Natasha memulai cerita nya.
"Benarkah... Aku... Turut bersimpati akan hal itu," Alexandria dengan wajah sedih menanggapi perkataan Natasha.
"Kau tidak perlu bersimpati pada ku. Aku tidak di kucilkan oleh keluarga ku. Malahan mereka menunjukkan kasih sayang yang lebih karena penyakit ku ini." Jawab Natasha dengan sedikit panik.
"Begitu ya... Syukurlah... Aku tahu rasanya di lahirkan dari keluarga penyihir kelas atas. Kita sebagai salah satu dari mereka, di tuntut untuk harus sama seperti yang lain nya. Jika tidak, nasib nya akan mengenaskan." Kata Alexandria memandang ke sudut ruangan dengan mata seperti melihat jauh ke masa lalu, ekspresi nya sedih, mengindikasikan kalau terjadi sesuatu yang begitu tragis dalam hidup nya di masa lalu. Aku dan Natasha paham akan ekspresi wajah nya, membuat kami sebagai kenalan baru nya tidak bermaksud untuk menggali lebih dalam mengenai masa lalu nya.
"Sepertinya aku membuat suasana menjadi gelap. Lupakan yang ku katakan barusan! Oh. Benar juga Mira, bagaimana kondisi keluarga mu?" Menyadari ia membuat suasana menjadi tidak nyaman, Alexandria dengan senyum canggung mengalihkan topik pembicaraan dengan menanyai kondisi keluarga ku.
".... Tidak ada yang spesial di dalam keluarga ku. Tidak seperti kalian yang di lahirkan di keluarga kelas atas, aku di lahirkan di keluarga kelas pertengahan. Keluarga ku juga tidak menurunkan sihir khusus seperti keluarga kalian. Dan tidak ada motto yang benar-benar di tekankan kepada ku dan Adikku." Aku diam sejenak, memikirkan berapa banyak informasi yang harus ku berikan pada mereka berdua, setelah mengorganisir semua informasi di kepala ku, aku akhirnya berbicara mengenai keluarga ku.
"Eeeh... Begitu ya... Ngomong-ngomong tentang adik mu. Seperti nya kemarin ia ingin meminta sesuatu dari ku? Aku tidak mendengar perkataan nya karena aku terburu-buru kemarin."
".... Aaah... Sebaiknya... Kau tidak perlu mengetahui hal itu."
Mengalihkan pandangan ku dari wajah Alexandria yang menunjukkan rasa ingin tahu nya, aku memilih untuk tidak memberitahu nya kalau sebenarnya adikku ingin PDKT ke dia.
"Eeeeh... Kau malah membuat ku makin penasaran! Ayolah kasih tahu padaku, apa yang di inginkan adik mu dari ku."
__ADS_1
"Hahahaha...." Natasha tertawa terbahak-bahak melihat Alexandria yang begitu keras kepala mendesak ku.
"Jangan hanya tertawa! Bantu aku! Anak ini begitu keras kepala!"