My Daily Life In Magic Academy

My Daily Life In Magic Academy
Chapter 01 Diskusi Keluarga


__ADS_3

Aku terbangun dari tidur ku, musik yang ku nyalakan telah mati dikarenakan mode pengaman earphone yang memiliki fungsi mematikan musik jika pengguna tertidur. Dengan kemajuan teknologi, earphon yang ku kenakan memiliki fungsi seperti itu.


Aku terbangun ketika hari sudah sore. Melihat ke arah jam, aku melihat waktu menunjukkan pukul lima sore. Aku segera bangkit dari kasur ku, melepaskan earphone, kemudian aku pergi keluar kamar.


Saat aku berada di luar kamar, aku pergi ke arah tangga, menuruni nya hingga sampai ke lantai bawah. Setibanya aku di bawah, aku mendengar suara orang bercakap-cakap, suara yang cukup familiar.


"Tumben ayah dan ibu sudah pulang." Gumam ku, berjalan ke arah ruang tengah tempat suara itu berasal.


Ruang tengah rumah ku, biasa nya di gunakan sebagai tempat kami makan, mulai dari sarapan hingga makan malam. Semua kegiatan di lakukan di sana. Di jam segini, biasanya ruang tengah tidak di gunakan. Karena pada sore hari seperti ini orang tua ku belum pulang, lalu adikku dan aku tidak akan makan malam pada jam segini. Kami akan makan malam setelah orang tua kami pulang sekitar jam 9 atau jam 10 malam. Atas alasan ini, aku terkejut mendengar suara orang tua ku mengisi keheningan di ruang tengah.


"Ayah, Ibu, tumben pulang cepat. Kerjaan di kantor udah selesai?" Tanya ku pada mereka setelah aku sampai di ruang tengah.


"Ah. Mira, kebetulan. Ada yang ingin kami bicarakan pada mu." Ayah ku tidak menjawab pertanyaan ku, ia malah menyuruh ku untuk duduk di kursi dan mendengarkan perkataan nya.


"Ada apa?" Tanya ku sekali lagi.


Dari raut wajah ayah dan ibu, seharus nya mereka tidak mengalami masalah. Maksud ku, tidak mungkin mereka akan tersenyum bahagia jika mereka mengalami masalah. Kalau begitu, bisa di pastikan mereka pulang lebih cepat dari biasanya bukan kerena ada masalah di kantor. Dari raut wajah mereka, dan dengan tebakan asal ku, aku bisa mengasumsikan kalau mereka mendapatkan sesuatu dari atasan mereka...


Atau begitulah pikir ku...


"Mira, kepala sekolah mu menghubungi kami siang tadi. Atas alasan itulah, ayah dan ibu mu ini minta izin ke bos untuk pulang cepat. Jika kami tidak mendiskusikan ini bersama mu secepat mungkin, kamu pasti akan menolak rekomendasi dari kepala sekolah."


Aaaah... Jadi begitu, alasan mereka nampak senang bukan karena mendapat hadiah dari atasan mereka, tapi karena surat rekomendasi dari kepala sekolah ya... Haaah... Ini sesuatu yang merepotkan. Aku ingin kepala sekolah kolot itu mengurus diri nya sendiri!


"Maksud ayah rekomendasi untuk masuk akademi sihir?"


"Itu benar. Bagaimana? Apa kamu mau masuk kesana?"


"Ya. Aku mau,"


"kalau begitu-"


"Tetapi... Aku tidak ingin masuk ke sekolah itu karena rekomendasi dari kepala sekolah!"


Orang normal pasti akan dengan senang hati menerima rekomendasi dari kepala sekolah. Jika aku masuk ke sekolah ternama dengan rekomendasi dari nya, aku akan mendapatkan beasiswa prestasi yang akan menutupi semua biaya sekolah ku disana selama tiga tahun. Bukan hanya itu, aku juga akan mendapatkan uang saku rutin setiap bulan nya, aku juga tidak perlu melakukan tes masuk. Jika banyak keuntungan yang bisa ku peroleh, lalu mengapa aku menolak rekomendasi itu?


Jawaban nya simple.


Aku tidak ingin kepala sekolah itu naik jabatan karena ku.


Sebagai informasi, sekolah tempat ku menempuh pendidikan menengah pertama, adalah sekolah dengan akreditasi B. Bisa di katakan sekolah ku bukanlah sekolah favorite, dan bisa di katakan kalau sekolah ku adalah sekolah standar pada umum nya. Itu adalah pandangan objektif dari segi akreditasi, tetapi pada kenyataan nya dari sudut pandang ku sendiri, sebagai seorang yang tahu sselu-beluk sekolahan ku, dan sebagai orang yang telah menghabiskan waktu di sana selama waktu tiga tahun, bisa ku katakan... Kalau sekolahan ku.... Tidak layak mendapatkan Akreditasi B.

__ADS_1


Akreditasi C! Adalah penilaian yang tepat untuk menilai sekolah ku.


Banyak sekali keburukan yang terjadi di sekolah ku. Guru yang malas-malasan, siswa yang tidak bisa di atur, bangunan yang bobrok, dan kejadian imoral yang sering terjadi di sana. Bahkan aku sampai mempertanyakan hasil nilai kelulusan ku, apakah itu adalah penilaian objektif? Apakah tidak ada penambahan nilai secara bias dalam mengkalkulasikan nilai ku? Karena itu, walaupun aku lulus dengan nilai sempurna, hal itu tidak membuat ku senang sama sekali.


Dan yang lebih parah lagi, kepala sekolah kolot dan tidak tahu diri itu... Ingin memanfaatkan ku sebagai batu loncatan nya.


Biar ku kasih tahu sedikit info lagi... Sebagai kepala sekolah yang memimpin sistem edukasi di sekolah itu, hingga bisa mencetak seorang murid yang bahkan bisa mendapat nilai sempurna di setiap mata pelajaran, dan bisa masuk ke akademi sihir dengan jalur prestasi, kepala sekolah ku akan di pandang sebagai orang yang hebat, dan jabatan nya sebagai pegawai negeri sipil akan naik, ia pun bisa minta pindah posisi ke dinas pendidikan. Bahkan guru-guru di sekolah ku pun akan mendapat nilai yang tinggi di dinas pendidikan yang akan membuat gaji mereka naik!


Mereka pikir bisa memanfaatkan ku untuk kenyamanan mereka sendiri!? Jawaban nya sudah pasti! Tidak!


Lebih baik aku berusaha keras dengan kemampuan ku sendiri untuk masuk ke akademi sihir itu! Tanpa membawa nama kepala sekolah ku.


Aku menjelaskan hal itu kepada kedua orang tua ku. Awal nya mereka senang dengan berita rekomendasi dari kepala sekolah, tetapi setelah mendengar penjelasan ku, wajah senang mereka menghilang.


"Kami tidak tahu kalau sekolah mu memiliki sistem seperti itu. Bagaimana kami bisa tidak menyadari nya?"


"Ini semua salah ku. Seharus nya aku memberitahukan hal ini kepada ayah dan ibu dari jauh hari. Tetapi, aku tidak ingin membuat ayah dan ibu khawatir."


"Apa yang kamu katakan Mira... " Ibu yang mendengarkan ku menyalahkan diri ku sendiri, mendekati ku lalu memeluk ku dengan lembut. "Ini bukan salah mu. Ini adalah kesalahan kami, seharus nya kami tidak memasukkan mu ke sekolah itu dari awal, kami terpancing dengan biaya sekolah yang murah dan memasukkan mu ke tempat yang buruk itu."


"..."


Inilah alasan aku tidak ingin menceritakan masalah sekolah ku pada mereka.


Alasan mengapa aku bisa masuk ke sekolah yang jelek itu, karena aku menunjukkan pamflet pendaftaran di sekolah itu. Awal nya, sekolah itu nampak baik, bahkan pada saat masa pengenalan lingkungan sekolah, tidak ada nampak kebobrokan dari sekolah itu. Aku pun untuk meringankan beban mereka, memilih bersekolah di situ karena biaya nya yang tidak sampai memberi beban ke mereka berdua.


Alasan mengapa orang tua ku selalu bekerja hingga larut malam, karena mereka sering lembur untuk mendapatkan bonus tambahan. Ironis nya, kemajuan teknologi saat ini begitu pesat, tetapi kesejahteraan masyrakat tidak ada kemajuan sama sekali, bahkan bisa di katakan mengalami kemunduran. Tuntutan biaya hidup semakin tinggi, tetapi gaji dari perusahaan industri tidak bertambah sama sekali.


Memang dari luar, kami terlihat seperti keluarga yang berada, tetapi sebenarnya... Kemampuan finansial kami begitu rendah. Untuk membiayai sekolah ku dan adik ku, dan juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ayah dan ibu harus kerja tiga kali lebih keras dari orang normal.


"Baiklah Mira. Jika memang kamu mau, kami akan membiayai semua biaya mu selama kau bersekolah di akademi sihir. Kebetulan kami masih memiliki tabungan di rekening kami."


".... Tidak perlu... Dari awal, aku memang tidak mau masuk ke akademi sihir. Perkataan ku sebelum nya, hanya sebagai pengantar untuk memberitahu ayah dan ibu mengenai kebusukan dari kepala sekolah ku."


"Mira... Ayah tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu pasti memikirkan untuk tidak membebani kami bukan? Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Sudah menjadi tugas kami untuk mendukung seratus persen cita-cita dari anak kami. Jika perlu, kami akan bekerja lima kali lebih keras dari biasanya untuk mendukung mu."


"Sudah ku bilang tidak perlu! Tabungan ayah dan ibu simpan saja untuk biaya Mia nanti. Aku akan masuk ke SMA biasa saja."


"Tidak! Kau harus masuk ke akademi sihir Mira! Jangan sia-siakan bakat mu!"


Dari arah pintu masuk ruang tengah, aku dapat mendengar suara adik ku yang dari intonasi suara nya terdengar begitu kesal.

__ADS_1


Aku melihat ke arah pintu masuk ruang tengah, dan benar saja, di sana ada adik ku yang menggembungkan pipi nya, sembari menatap ku dengan tatapan tajam.


Dia mendekati ku, ibu yang telah dari tadi melepaskan ku dari pelukan nya, menyaksikan interaksi antara kami berdua dengan senyum lembut. Mengabaikan ibu yang begitu, adikku terus mendekati ku, saat dia benar-benar sudah berada di depan ku, ia menjetik kening ku dengan keras sampai aku terjatuh dari kursi ku.


Sialan! Anak ini menggunakan sihir penguatan fisik untuk menjetik ku! Untung saja tulang ku sudah di perkuat dengan energi sihir, sehingga jentikan nya yang setara dengan pukulan laki-laki dewasa tidak terlalu berarti untuk ku.


"Kau tidak perlu menahan diri Mira! Inilah yang membuat aku membenci mu! Kau selalu berusaha menanggung beban yang tidak seharus nya kau tanggung! Kita ini keluarga bukan? Jika memang ada beban yang tidak bisa kau tanggung, kau bisa memberikan beban itu kepada kami!"


"Mia... Berapa lama sampai kau bisa menghapal kata-kata bijak itu?"


"Aku serius! Dan juga aku tidak menghapal nya!"


Ibu tertawa kecil melihat pertengkaran kecil kami. "Mia benar Mira. Kita sebagai keluarga harus mendukung satu sama lain, jika ada beban yang tidak bisa kita pikul, adakala nya kita harus menyerahkan beban itu kepada orang yang mampu menanggung beban itu. Oleh karena itu Mira, jangan menahan diri mu. Lakukanlah apa yang ingin kau inginkan, kami akan selalu mendukung mu dengan sekuat tenaga." Kata Ibu setelah menyelesaikan tawa kecil nya.


Mendengarkan perkataan ibu, membuat ku menundukkan kepala ku, merenungkan pilihan ku kedepan nya... Apakah aku harus menerima tawaran kepala sekolah? Walaupun itu melanggar prinsip yang selama ini kupegang? Demi mengurangi beban orang tua ku... Apakah aku harus melakukan itu...?


"Mira... "


Di tengah renungan ku, ayah memanggil ku dengan suara serak nya, namun begitu lembut di telinga ku. Reflek, aku melihat ke arah nya, menghentikan renungan ku. Saat aku melihat wajah ayah ku, senyuman lembut nya menyambut ku. Ia pun membuka mulut nya sekali lagi, "Untuk kali ini saja, lakukanlah apa yang kau ingikan."


".... Terima kasih ayah, ibu, Mia... Aku telah memutuskan. Aku ingin masuk ke akademi sihir tanpa surat rekomendasi dari kepala sekolah!"


...****************...


"Hmmm.... Makin tahun ke tahun, kenapa banyak sekali yang keterima di akademi kita?"


"Mengapa anda menyakan hal itu? Bukankah jawaban nya sudah jelas, itu karena banyak orang yang mendaftar di akademi kita, tentu saja kuota penerimaan nya menyesuaikan jumlah pendaftar."


"Begitu... Tapi aku terpikirkan alasan lain. Bukankah alasan mengapa banyak yang keterima di akademi kita ini karena ujian masuk yang kita lakukan terlalu mudah?"


"Aku tidak bisa mengatakan itu mudah, dari sepuluh ribu orang, hanya ada seribu orang yang keterima di pendaftaran tahun kemarin. Dari data, hanya ada sepuluh sampai dua puluh persen dari jumlah pendaftar yang keterima di akademi ini."


"Sepuluh sampai dua puluh. Itu jumlah yang besar, di jaman ku dulu, paling banyak hanya ada lima persen yang lolos seleksi."


"Anda tidak bisa menyamakan zaman anda dengan zaman sekarang."


".... Hmmm... Begini saja, aku ingin untuk tahun ini semua siswa yang berhasil lolos tes akan di gratiskan semua biaya sekolah nya, yang lolos juga akan mendapatkan uang saku selama sebulan penuh."


"Anda serius?"


"Ya. Sangat serius. Tetapi aku ingin batas maksimal penerimaan siswa baru kali ini hanya lima puluh orang. Dengan begini, aku bisa mendapatkan sedikit hiburan. Fufufu...."

__ADS_1


__ADS_2