
"Manusia dan hewan memiliki perbedaan ukuran otak yang signifikan, ukuran otak manusia adalah 2 persen dari berat tubuhnya. Sedangkan untuk hewan sendiri lebih kecil dari itu, lalu apakah ukuran otak ini mempengaruhi kecerdasan mahluk hidup?"
Seorang guru pelajaran kedua kami, yang mengajarkan biologi dan anatomi tubuh mahluk hidup menanyakan hal itu, setelah ia menjelaskan sedikit mengenai perbedaan ukuran otak manusia dan hewan. Hari ini adalah hari ketiga ku bersekolah di Magic Academy. Guru yang mengajar adalah seorang pria paruh baya dengan rambut acak-acakan, terdapat lingkaran hitam di sekitaran mata nya. Guru yang mengajarkan kami bernama Rizky Abdijaya.
Kami tahu, pertanyaan itu di tujukan untuk tidak di jawab. Karena itu kami berdiam, membiarkan guru itu menjawab pertanyaannya sendiri.
"Sayangnya, ukuran otak tidak mempengaruhi kepintaran mahluk hidup. Nyatanya otak paus memiliki ukuran yang jauh lebih besar dari manusia, tapi mereka tidak lebih pintar dari manusia. Bahkan lebah madu saja masih menunjukkan sedikit kecerdasan walaupun otak mereka sangat kecil.
Analogi nya seperti ini, dulu perangkat penyimpanan komputer lebih besar dari pada zaman sekarang, tapi ukuran yang besar itu hanya mampu menyimpan data sebesar megabite saja, sedangkan memori komputer sekarang yang ukurannya hanya sebesar milimeter, mampu menyimpan data hingga jutaan bahkan puluhan juta megabite. Ini menandakan kalau ukuran bukanlah indikasi penyimpanan data pada suatu perangkat, sama halnya dengan otak. Ukuran bukanlah indikasi kepintaran mahluk hidup."
"Kalau begitu, mengapa manusia bisa mengembangkan kecerdasan yang jauh melebihi mahluk hidup lain? Jawabanya tidak pasti, ada banyak teori yang membahas mengenai hal itu. Kita akan membahas salah satu teori itu. Teori satu ini membahas mengenai Reproduksi Biokultural."
Guru bernama Rizky Abdijaya menjelaskan panjang lebar mengenai salah satu teori yang ia pelajari, penjelasan tersebut tidak terlalu panjang, hanya saja waktu pelajaran kedua tinggal sedikit, sehingga guru Rizky hanya bisa membahas satu teori saja. Saat ia hendak menjelaskan teori lain, waktu pelajaran pun habis.
Kriiing!
Suara bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, guru Rizky langsung merapikan barang-barangnya lalu berpamitan pada kami.
"Kita sambung pada pertemuan selanjutnya. Dan juga, selepas ini kalian tidak memiliki pelajaran khusus, waktu pelajaran ketiga pada hari ini dikhususkan untuk siswa belajar mandiri." Katanya, sebelum akhirnya ia mengangkat semua barang-barangnya dari atas meja, setelah itu ia berjalan keluar kelas.
"Haaah... Untunglah kita tidak belajar terus menerus pada hari ini." Kata Dani meyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Kau tidak dengar apa kata Pak Rizky? Kita diinstruksikan untuk belajat mandiri hari ini." Kata Alexandria kepada Dani yang sudah mulai bermalas-malasan.
"Ayolah... Jangan terlalu dibawa serius. Kita juga perlu istirahat tahu."
"Kita bisa istirahat pada akhir pekan bukan?"
"Dalam waktu seminggu, kita bersekolah lima hari lalu diberikan istirahata hanya dua hari, itupun kalau tidak ada pekerjaan rumah."
"Dari pada kalian berdebat, lebih baik kalian ikut kami bertiga." Saat Dani dan Alexandria ingin berdebat lebih panjang, Natasha datang menengahi perdebatan mereka, dengan mengajak mereka berdua.
Saat di bus, aku sudah membahas hal ini kepada mereka berdua. Sebenarnya aku ingin melakukan hal yang hendak kami lakukan ini pada jam istirahat, tapi siapa sangka kalau kami diberikan jam pelajaran khusus untuk belajar mandiri seperti ini.
__ADS_1
"Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Dani.
Yang menjawab pertanyaan Dani bukan Natasha, melainkan Alexandria yang juga ikut mendengar rencana ku sewaktu di bus tadi pagi.
"Apalagi kalau bukan membantu Raihan." Itu benar. Hari ini aku berencana untuk membantu Raihan mengatasi masalah pada sihirnya.
Ada satu pertanyaan yang belum terjawab di buku yang kami baca kemarin. Yaitu mengenai wujud transformasi Raihan yang berbeda dari biasanya sewaktu pertandingan melawan Android. Aku hampir lupa mengenai masalah itu. Lagipula alasan kami mencari informasi di perpustakaan untuk memecahkan misteri itu, mencari jawaban atas alasan Raihan kehilangan kendali hanyalah informasi tambahan.
Tapi nyatanya kami malah mendapat jawaban atas pertanyaan kami yang lain.
Sebelum pelajaran dimulai, Natasha sudah membahas hal yang kudiskusikan ini kepada Raihan, sayangnya tadi pagi kami tidak sempat memberitahukan hal ini kepada Dani.
Dani yang memang dari awal berniat membantu sahabatnya itu menyetujui ajakan kami. Kami berlimapun pergi keluar dari kelas menuju lapangan yang berada di belakang gedung sekolah.
***
Kami tidak bisa menggunakan lapangan di belakang sekolah tanpa izin dari guru, karena itu kami berpecah menjadi dua kelompok, satu kelompok menunggu di lapangan dan satu lagi pergi ke kantor guru untuk meminta izin kepada guru.
Untuk kantor guru sendiri seharusnya berada di lantai satu, itu menurut denah yang kami dapatkan saat pertama kali memasuki academy ini. Tapi rupanya ada beberapa guru yang memang khusus mengajar anak murid kelas satu, yang tidak ingin repot-repot turun naik dari lantai satu kelantai tiga, menggunakan ruang khusus dilantai tiga ini untuk membuat ruang guru khusus yang mengajar anak kelas satu.
Saat kami berjalan di koridor lantai tiga yang cukup kompleks, aku dapat melewati beberapa ruangan, yang nampaknya menjadi ruang kelas. Aku mengetahui hal itu karena saat aku dan Natasha melewati ruangan itu, kami dapat mendengar suara orang dewasa menjelaskan suatu topik, atas alasan inilah aku dapat menebak-nebak guna dari ruangan yang kami lewati, walaupun pintu ruangan itu tertutup membuat kami tidak bisa memastikan bagian dalam ruangan itu.
"Nampaknya hanya kita yang mendapatkan jam khusus seperti ini." Kata ku saat berjalan melewati suatu ruangan, yang terdengar dari dalamnya ada seseorang yang berbicara seperti sedang menjelaskan sesuatu.
"Mungkin ini hak khusus yang kita terima sebagai peraih nilai tertinggi sewaktu ujian masuk." Kata Natasha mengungkapkan spekulasinya.
"Mungkin..."
Terus berjalan melewati koridor, kami akhirnya sampai didepan ruangan, yang diatas ambang pintu bertuliskan "ruang guru."
"Kita sampai." Kata ku, sebelum mengetuk pintu beberapa kali.
"Silahkan masuk." Terdengar suara wanita dari dalam.
__ADS_1
Aku memegang gagang pintu, memutar nya, lalu mendorong pintu perlahan sambil berkata. "Permisi." Saat aku membuka pintu, seisi ruangan pun terungkap. Ruangan ini di penuhi dengan meja dengan jarak masing-masing meja dengan meja lainnya sepuluh sentimeter, ada beberapa orang dewasa yang mengenakan pakaian dinas didalam, yang jelas sekali jawabannya mereka adalah guru yang dikhususkan mengajar anak murid kelas satu.
Hawa sejuk menerpa kami saat kami memasuki ruangan, melihat ke bagian atas ruangan, terdapat beberapa Air Conditioner yang terpasang.
"Kalian... Mengapa kalian kesini?"
Aku dan Natasha melihat kearah suara yang bertanya itu. Tidak jauh dari pintu masuk, ada seorang guru wanita yang mengenakan kacamata dengan rambut pendek berwarna biru. Dia adalah wali kelas kami, Yukina Kirisaki.
Tidak sopan untuk menjawab pertanyaan guru itu dengan jarak kami yang sedikit berjauhan darinya, aku dan Natasha berjalan perlahan untuk tidak menggaggu fokus semua guru yang ada diruangan ini. Saat aku dan Natasha telah sampai tepat dimeja guru Yukina, aku pun memberitahu urusan ku datang ke kantor guru ini.
"Kami ingin meminta izin menggunakan lapangan gedung belakang sekolah."
"Hah...? Mengapa kalian ingin menggunakan lapangan, bukankah kalian ada pelajaran ketiga?" Yang bertanya bukanlah guru Yukina, melainkan seorang pria tua yang duduk di seberang meja guru Yukina.
"Mereka anak murid saya pak," Jawab guru Yukina mewakili kami. "Mereka dari kelas A."
"Aaaah... Jadi mereka mendapatkan hak khusus belajar mandiri ya."
"Begitulah, walaupun saya sendiri tidak tahu mengapa mereka ingin menggunakan lapangan belakang."
"Kami ingin menggunakan untuk berlatih sihir bu," Kata ku memberitahu guru Yukina.
"Berlatih sihir?"
"Ya. Apakah boleh?"
"Hmmm... Sebenarnya kalian tidak boleh berlatih sihir tanpa pengawasan, tapi kalian telah diberikan hak khusus oleh kepala sekolah, jadi tida ada alasan saya melarang kaian. Sebentar... Saya siapkan surat izinnya."
Aku berterima kasih kepada kepala sekolah didalam hati ku karena telah memberikan anak murid kelas A hak khusus seperti ini. Tanpa adanya izin dari beliau, sudah jelas kami tidak diizinkan untuk menggunakan lapangan belakang.
Guru Yukina mengambil sebuah kartu di laci mejanya, ia kemudian menandatangani kartu itu lalu memberikan stempel tepat di atas tanda tangannya. Setelah selesai melakukan semua itu, guru Yukina memberikan kartu itu pada kami. "Jangan sampai hilang! Jika hilang jangan salah saya jika kalian dihukum oleh pengurus lapangan sekolah."
"Baik bu." Jawab ku dan Natasha bersamaan.
__ADS_1
Aku mengambil kartu itu, kemudian berjalan ke depan pintu bersama dengan Natasha, kami mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruang guru.
Aku dan Natasha pun pergi menyusul ketiga kawan kami yang harusnya telah berada di lapangan belakang sekolah.