
"Untungnya mereka segera pergi." Ucap Raihan sambil memberikan nampan yang sudah berisi hidangan yang ku pesan.
"Thanks..." Kataku kepada Raihan yang telah repot-repot membawa hidangan yang ku pesan.
Aku segera memakan hidangan yang ku pesan. Tidak lama, sisa dari kawan sekelasku datang, yaitu Alexandria dan Dani yang telah selesai memesan makanan mereka.
Dani masih saja berwajah cemberut, ia melihat kearah makanannya seperti seseorang yang sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.
Sebagai seseorang yang tidak pernah merasakan dan tidak pernah mau untuk merasakan hal yang bernama cinta, aku tidak memahami mengapa Dani bisa sampai dalam kondisi seperti ini.
Yah... Apapun yang terjadi padanya, itu bukanlah urusan ku. Aku terus melanjutkan memakan makanan ku.
"Haaah..." Dani menghela nafas panjang sambil memainkan sup yang ada di depannya, mengaduk-ngaduk tidak jelas sup itu dengan sendoknya.
Aku mengabaikannya, terus melanjutkan memakan makanan ku.
"Haaah...." Dani sekali lagi menghela nafas.
"Haaah..." Dia menghela nafas untuk ketiga kalinya, kali ini lebih panjang. Dan wajahnya semakin kendur, menunjukkan betapa depresinya dia.
"Haaah..."
Baiklah... Dia sudah mulai mengganggu ku dengan helaan nafas beruntun yang ia lakukan. Tapi sama seperti sebelumnya, aku abai dengan apa yang ia lakukan.
"Haaah..."
"Dani. Seperti yang ku bilang, telinga ku selalu ada untuk mendengar curhatan mu kawan." Raihan berkata kepada sahabatnya dengan wajah khawatir.
"Itu benar Dani. Kita teman bukan? Kau bisa curhat kepada kami." Sambung Alexandria.
Tolong jangan libatkan aku dalam masalah ini, pikir ku. Tapi aku tidak ingin mengatakan hal itu dengan mulutku, mengingat betapa sensitifnya pemuda yang bernama Dani ini. Jika aku dengan dingin mengatakan hal ini, jelas sekali sumbunya akan langsung mencapai titik ledaknya dan melampiaskan amarahnya padaku.... Karena itu, aku dengan bijak menahan mulutku.
"Maaf... Aku tidak ingin membicarakan masalah ini... Silahkan lanjutkan makan kalian." Jawab Dani dengan lesu.
__ADS_1
Seperti yang ia minta, semua orang melanjutkan memakan makanan mereka. Tapi setelah beberapa saat kami menyambung makanan kami, ia sekali lagi menghela nafas.
"Haaah..."
"Oke, aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini. Tapi bisa tidak.... Kau berhenti menghela nafas! Dan segera makan makanan mu!" Ucap ku dengan emosi.
"Kau... Kawan mu tengah sedih, dan kau malah dengan dinginnya mengatakan hal itu! Apakah kau tidak punya hati!?" Kata Dani dengan ekspresi kesal.
Inilah yang ku maksud! Dia segera emosi saat aku mengomentari kondisinya saat ini! Betapa egoisnya orang ini!? Apakah dia tidak sadar, karena helaan nafasnya, membuat suasana di meja makan sekarang benar-benar canggung! Setidaknya bacalah suasana!
"Baik. Maaf, aku salah... Aku akan makan makanan ku dengan tenang di sini." Kataku, melanjutkan memakan makanan ku.
Tidak ada gunanya menambah bensin kedalam api. Jika aku merespon dengan emosi, dia hanya akan semakin emosi. Satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini, adalah dengan mengalah. Dengan begini, aku melanjutkan memakan makanan ku dengan wajah datar, tidak menunjukkan ekspresi kesal ku.
Cara yang ku lakukan, berhasil. Dani tidak emosi dengan sikap ku. Ia terus melanjutkan galaunya, dengan cara mengaduk-ngaduk supnya dengan sendok.
Sementara Dani masih mengaduk-ngaduk supnya sambil menghela nafas dengan ekspresi sedih, aku hampir menyelesaikan makanan ku. Aku hanya tinggal menghabiskan salad sayur ku, sambil menahan emosiku akibat mendengarkan helaan nafas Dani yang dari tadi tidak berhenti.
Nampaknya aku salah untuk duduk bersama dengan Dani saat ini. Aku hanya ingin makan makanan ku dengan tenang. Yang sebenarnya tidak pernah ku dapatkan semenjak aku selalu memutuskan untuk makan bersama kawan sekelasku. Sebenarnya aku bisa memisahkan diri dari mereka. Tapi jika aku melakukan itu, mereka akan segera mengucilkan ku di kelas dan menganggap ku sombong, karena tidak ingin berinteraksi dengan mereka.
Aku berharap tidak akan ada lagi hal yang mengganggu selama aku menyantap makanan ku.
Sayangnya....
Harapan ku tidak terkabul...
Sekelompok murid mendatangi meja tempat kami makan, sebenarnya murid-murid yang datang saat ini adalah murid yang kami lihat saat berada di lantai dua beberapa menit yang lalu. Salah satu dari mereka, murid yang memiliki rambut coklat tebal dan wajah tampan. Murid itu nyengir lebar saat mendekati meja tempat kami makan.
Firasat ku tidak enak mengenai hal ini... Terlebih lagi saat aku melihat ekspresi dari murid itu....
"Wah, wah... Sungguh beruntung kita bisa bertemu di sini. Dani Kalpataru." Kata murid laki-laki berambut coklat dengan seringai mengejek di wajahnya.
"Halo, Dani. Lama tidak bertemu." Murid perempuan berambut biru, menyapa Dani dengan senyuman di wajahnya. Jelas sekali kalau dia senang melihat Dani. Perempuan berambut biru adalah gadis yang Dani suka, yaitu Alya.
__ADS_1
Dani yang awalnya berwajah galau, segera merubah ekspresinya dalam waktu sepersekian detik. Ekspresinya menunjukkan emosi yang membara sesaat laki-laki berambut coklat itu menyapanya.
Dengan tatapan menusuk, Dani melihat ke arah laki-laki berambut coklat itu. "Apa yang kau mau dari ku, Michael Caseolaris?" Tanya Dani dengan nada mendesis, layaknya ular berbisa yang siap mematuk mangsanya.
"Hei... Jangan jahat seperti itu. Dan juga, kau tidak ingin menyapa teman masa kecil mu?" Laki-laki berambut coklat, yang bernama Micahel Caseolaris itu melirik ke arah perempuan berambut biru yang selama ini berdiri di sampingnya.
Dani melihat kearah perempuan berambut biru itu, kemudian dengan suara lirih, ia menyapanya. "Lama tidak bertemu, Alya."
"Mmm..." Gadis berambut biru, Alya, mengangguk, menjawab sapaan Dani. "Lama tidak bertemu..." Sambungnya dengan lirih, ekspresinya malu-malu, rona merah dapat terlihat dari kedua pipi gadis itu.
Aku menginspeksi ekspresi gadis itu dengan seksama, dari ekspresi wajahnya, nampak jelas kalau ia memendam perasaan khusus kepada Dani. Tapi entah apa yang terjadi diantara mereka, suasana di antara gadis itu dan Dani terasa canggung.
"Ma-maaf Michael. Aku ambil makanan duluan." Ucap Alya, kepada Michael sebelum akhirnya ia pergi dengan langkah kaki cepat ke arah meja prasmanan.
Melihat gadis berambut biru yang bernama Alya itu pergi, Michael langsung merangkul Dani dengan gaya akrab. Ia kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Dani, dengan seringai jahat di wajahnya, Michael membisikkan sesuatu ke telinga Dani.
Wajah Dani segera terdistorsi saat mendengar bisikan dari Michael itu. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Tapi yang jelas, Dani sudah mencapai titik didihnya. Ia mengepalkan telapak tangannya, bersiap-siap memukul wajah Michael.
Anak murid kelas A tidak ada yang bisa membantu Dani. Kami saat ini berada di ruang publik, sekali kami berbuat masalah, jelas nama kelas kami akan tercoreng... Atau begitulah yang kupikirkan, Alexandria yang duduk di samping Natasha tidak tahan melihat kawan sekelasnya diganggu seperti itu, ia segera menegur Michael dengan nada tinggi.
"Bisakah kau pergi! Kami sedang makan di sini!" Ucapnya.
Ku mohon Alexandria... Aku tahu kau orang yang sangat menghargai pertemanan. Tapi tidak bisakah kau tidak mengurusi urusan orang seperti ini!? Aku hanya bisa berharap seperti itu di dalam kepalaku, sembari melanjutkan menyantap salad sayur ku.
"Michael! Bisakah kau berhenti mengganggu sahabat ku!" Situasi di perburuk oleh Raihan, yang ikut campur. Ia juga tidak terima sahabatnya di ganggu.
"Oh... Maaf-maaf..." Dengan seringainya, Michael menjauhkan dirinya dari Dani.
"...Bukankah kalian dari kelas A. Aku dengar dari Alya, kelas A adalah kelas khusus di akademi ini... Tapi... Setelah melihat kalian semua, nampaknya pemikiran ku salah." Kata Michael dengan nada memprovokasi.
"Apa kau bilang!?" Alexandria segera beranjak dari tempat duduknya, bersiap-siap menerjang kearah Michael dengan ekspresi kesal.
Dani dan Raihan berekspresi serupa seperti Alexandria. Sedangkan Natasha menjadi pucat dengan ekspresi panik. Dan untukku sendiri, aku masih menyantap salad sayur ku dengan tenang. Lagipula, salad yang ku makan saat ini tinggal sedikit, sangat sayang jika tidak segera dihabiskan.
__ADS_1
"Aku hanya mengungkapkan fakta disini. Anak gagal dari keluarga Adaka, anak nakal dari keluarga Kalpataru, lalu ada... Orang biasa yang bukan dari keluarga penyihir terkenal.... Heh... Bagaimana mungkin kelas khusus di isi oleh orang tidak berguna seperti kalian." Dia melihat ke arah ku dan Natasha saat mengatakan 'orang biasa.'
Aku sebenarnya ingin nyengir saat mendengarnya mengatakan hal itu. Dia benar-benar orang buta, yang tidak bisa melihat kenyataan. Mungkin dia memang benar-benar dari keluarga terkenal, yang mungkin prestasi keluarganya di akui hingga menjadi keluarga kelas atas. Tapi pada kenyataannya, dia kalah secara nilai dari kami hingga tidak bisa masuk kekelas A. Itu tandanya dia adalah orang yang lebih tidak berguna daripada kami, orang-orang yang ia anggap rendahan.