
Happy reading guys!"
Seusai membersihkan dirinya Khardha melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Dia heran mendapati suaminya yang berdiri seperti orang frustasi dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Khardha sembari berjalan menuju lemari pakaiannya.
Dokter Hasan langsung menolehkan kepalanya mendengar suara istrinya dia langsung berlari menghampirinya dengan memeluknya dari belakang & menaruh kepalanya di bahunya.
"Aku tadi cariin kamu Sayang sampai aku berkeliling ke seluruh rumah kita ini, aku gak mau kehilangan kamu lagi, aku benar-benar trauma dengan kejadian kemarin." Jujurnya
tanpa sadar mengatakan peristiwa yang dialami istrinya.
"Kejadian apa kemarin? Kenapa bisa membuat kamu trauma?" Cecar Khardha dengan membalikkan badannya sembari mengerutkan keningnya.
"Kemarin itu kan kamu sakit keras, aku sangat takut kehilangan kamu, kejadian itu membuat aku sangat trauma Sayang." Jawabnya dengan menangkup pipi istrinya.
Maafin aku Sayang, aku sudah jujur sama kamu tapi aku gak mungkin menceritakan semuanya secara detail kepadamu," batin Dokter Hasan sembari menatap mata hazel milik istrinya kemudian mengecup keningnya.
"Ya udah kalau gitu, cepat mandi sana gih, aku tungguin kamu untuk sholat ashar berjamaah." Ucap Khardha seraya tersenyum manis.
"Ok Sayang," Sahutnya sembari mengecup pipi istrinya kemudian beranjak menuju kamar mandi.
Sementara menunggu suaminya selesai mandi, Khardha membuka aplikasi pasar online siap antar untuk membeli kebutuhan sehari-hari di dapur, ketika melihat banyak makanan yang sudah jadi tawarkan disana dia juga memesannya.
Seusai membersihkan dirinya Dokter Hasan
keluar dari kamar mandi dengan wajah yang fresh karena habis mandi, dia berjalan menghampiri Khardha yang sedang asyik memegangi handphonenya sembari duduk santai di pinggir ranjang dengan mengayunkan kakinya.
"Kamu lagi ngapain Sayang?" Tanya Dokter Hasan sembari menengok ke layar handphone istrinya.
"Aku lagi belanja di online shop." Jawab Khardha dengan meletakkan kembali handphonenya diatas nakas.
"Ohhh." Dokter Hasan hanya ber oh ria.
"Ini bajumu udah aku siapin dari tadi Sayang." Khardha menyerahkan pakaian suaminya.
"Makasih ya Sayang." Ucapnya dengan tulus & langsung memakainya.
"Aku mau wudhu dulu ya." Khardha beranjak menuju kamar mandi.
"Iya Sayang." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya, sembari menunggu istrinya dia melaksanakan sholat sunnah terlebih dulu.
Tut....tut....tut...handphone
Khardha terus berbunyi tanpa henti.
Dokter Hasan yang mendengarnya sedari tadi, ingin sekali mengangkatnya tapi khawatir istrinya marah, karena mengganggu privasinya, setelah istrinya keluar dari kamar mandi dia langsung memberitahukannya.
"Handphone kamu bunyi terus dari tadi Sayang, angkat dulu gih siapa tau penting." Perintahnya dengan lembut kepada istrinya.
Khardha langsung mengangkat panggilan teleponnya yang ternyata dari Merlin keponakan pertama kesayangannya.
"Assalamualaikum, ada apa Merlin?" Tanya Khardha dengan mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Merlin menelpon duluan.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Tante kakek tante....hiks... hiks..." Merlin yang ada diseberang telepon menangis terisak.
"Ada apa dengan kakek?" Tanya Khardha semakin penasaran.
" Kakek meninggal tante!" Seru Merlin dari ujung telepon.
Khardha langsung syok mendengarnya, sampai handphone yang dipegangnya terlepas dari tangannya, dia juga akhirnya terduduk bersimpuh sambil menangis.
Tutttttttt...Panggilan pun di matikan oleh Merlin.
__ADS_1
Melihat istrinya seperti itu Dokter Hasan segera menghampiri nya & memeluknya.
"Kenapa kamu jadi begini Sayang? Ada kabar apa dari Merlin?
"Bapak sayang.... Bapak....hu...hu....huaaaaa..." Tangis Khardha langsung pecah di pelukan suaminya.
Khardha menangis semakin nyaring dengan memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak karena syok menerima kabar duka dari keponakannya. Sebab Khardha sangat dekat dengan bapaknya ketika masih kecil walaupun bapaknya terkadang mendidiknya cukup keras karena Khardha kecil yang sangat susah diatur.
"Ada apa dengan bapak Sayang? Apa yang terjadi sebenarnya? Kamu jangan kayak ini, jangan bikin aku khawatir, aku gak mau liat kamu seperti ini." Cecar Dokter Hasan sembari menciumi puncak kepala istrinya.
"Bapak meninggal Sayang...hiks.... hiks.... hiks." Khardha semakin terisak dipelukan suaminya.
"Yang sabar ya Sayang, aku akan selalu ada untukmu apapun yang terjadi dalam hidupmu." Ucap Dokter Hasan berusaha menguatkan istrinya.
Dia semakin mengeratkan pelukannya ditubuh istrinya untuk memberi kekuatan kepadanya agar tidak terlalu terpukul menerima kabar duka tentang orang tuanya itu. Namun tiba-tiba tubuh Khardha melemah karena tidak sadarkan diri dalam pelukannya. Ketika menyadari semua itu Dokter Hasan langsung melonggarkan pelukannya.
"Sayang bangun Sayang!" Panggilnya sembari menepuk pipi istrinya dengan lembut.
Innalillahi wa innailaihi rojiun, kuat kan istriku dalam menghadapi ujianMU ini ya Allah," batinnya sembari menggendong & membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang king size mereka.
"Sayang aku mohon cepat lah sadar." Lirihnya dengan menggenggam erat tangan istrinya sembari menciuminya.
"Aku tinggal sebentar sholat ashar ya Sayang," ucapnya sembari beranjak hendak melangkahkan kakinya kekamar mandi untuk berwudhu, namun tiba-tiba tangannya di pegang oleh istrinya yang ternyata sudah siuman.
"Sayang aku mohon kita pulang kampung sekarang." Pinta Khardha dengan lirihnya.
"Baiklah Sayang, kita sholat ashar dulu ya sehabis itu kita siap-siap." Sahut Dokter Hasan sembari menepuk punggung tangan istrinya dengan lembut.
Khardha menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan suaminya. Pasangan suami istri itu segera berwudhu & menunaikan sholat ashar berjamaah, sesudah itu mereka mengemasi baju beserta barang yang di butuhkan selama mereka pulang ke kampung halaman Khardha itu. Ketika sedang sibuk berkemas memasukkan semuanya keperluan mereka kedalam koper, tiba-tiba handphone Khardha kembali berdering. Dia langsung menggeser tombol hijau di layar hpnya untuk menerima panggilan.
📲 "Halo Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?" Tanya Khardha ketika melihat nomor tidak dikenal tertera di layar handphonenya.
📱"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Saya kurir olshop yang di tugaskan mengantar pesanan Mbak Khardha.
📲"Oh gitu mas nya sudah ada dimana?
📲"Kalau begitu tunggu sebentar ya mas, saya akan segera turun kebawah.
📱"Iya mba saya tunggu.
Tutttttt....panggilan berakhir.
"Dari siapa Sayang?" Tanya Dokter Hasan dengan melipat kedua tangannya diatas dada.
Dia paling tidak suka bila istrinya berhubungan dengan laki-laki lain tanpa seizinnya, sebab dia adalah tipe suami yang sangat pencemburu alias posesif & sangat overprotektif dengan semua yang menyangkut wanita kesayangannya itu.
"Kurir yang mengantar pesanan aku Sayang!" Seru Khardha sembari bergegas mengambil dompet & membuka pintu kamarnya.
"Biar aku saja yang turun kebawah untuk mengambil pesanan kamu." Ucapnya dengan tegas sembari menampilkan wajah dinginnya.
Dia sengaja menghalangi istrinya agar tidak bersentuhan dengan orang lain baik sengaja maupun tidak sengaja, karena alasan virus corona atau covit 19 yang mewabah padahal sebenarnya kecemburuan lah yang mendominasinya.
Khardha tertegun menatap suaminya yang benar-benar overprotektif terhadapnya. Sebenarnya dia sangat bersyukur atas semua perhatiannya tapi kalau berlebihan itu yang membuat Khardha terkadang jengkel dibuatnya.
"Kamu bereskan & cek apalagi yang harus kita bawa nanti." Perintahnya sembari berlalu pergi menemui kurir yang mengantarkan pesanan istrinya tadi.
"Baiklah Sayang kalau itu yang kamu mau." Khardha berusaha mengalah karena tidak ingin berdebat dengan suaminya.
Setelah mengambil pesanan istrinya lewat kurir tadi, Dokter Hasan meletakkannya di atas meja makan. Dia memeriksa isi tas kresek pesanan istrinya untuk memastikan apa saja yang sudah dibelinya, ternyata di dalamnya sudah ada lauk pauk yang sudah siap santap berupa pepes ikan, sambel terasi & lalapan. Lalu dia membuka rice cooker ternyata istrinya juga sudah memasak nasi terlebih dahulu sebelum sholat tadi.
Aku benar-benar kagum sama kamu Sayang, ternyata kamu telah menyiapkan semuanya untuk kita berbuka seakan-akan kamu sudah tau bahwa ada hal mendadak seperti ini," gumam Dokter Hasan dalam hatinya.
Dokter Hasan tersenyum membayangkan wajah istrinya dengan sikapnya yang sangat pengertian juga perhatian walaupun lebih dominan manjanya namun dia sangat menyukainya. Dia akhirnya kembali menghampiri istrinya di kamar utama mereka yang terletak di lantai dua.
__ADS_1
"Assalamualaikum Sayang," ucapnya sembari mendekati istrinya yang masih sibuk berkemas.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Khardha tanpa menolehkan kepalanya kepada suaminya.
Khardha tetap asyik memasukkan barang yang harus dibawanya sendiri juga suaminya,
ke dalam dua buah koper mereka masing-masing.
"Sayang kira-kira kita pulang kampung berapa lama disana?" Tanya Dokter Hasan sembari duduk disamping istrinya dengan memperhatikan isi kopernya siapa tahu masih ada yang kurang.
"Kita lihat situasi dan kondisi disana nanti ya Sayang." Jawab Khardha menatap suaminya sekilas lalu kembali merapikan semua bawaannya.
"Ohh ya udah gak papa kalau begitu." Ucap Dokter Hasan mengerti maksud istrinya.
Khardha akhirnya selesai mengemasi baju & barangnya mereka. Dokter Hasan juga tidak lupa membawa peralatan medisnya untuk berjaga-jaga siapa tahu ada sesuatu hal yang memerlukan tindakan medisnya secepatnya.
"Alhamdulilah akhirnya selesai juga." Gumam Khardha sembari menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
"Kamu capek Sayang." Dokter Hasan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Sedikit." Singkat Khardha seraya memejamkan matanya sebentar merasakan lelah fisik & pikirannya.
"Apa sebaiknya kita otw pulkamnya habis buka puasa & sholat maghrib aja, biar gak terlalu terburu-buru." Sarannya sembari menatap wajah istrinya yang terlihat pucat karena kelelahan.
"Terserah kamu aja dech Sayang yang penting jangan besok!" Sergah Khardha sembari beranjak menuju pintu kamarnya untuk turun kebawah menyiapkan menu berbuka puasa & menatanya diatas meja makan.
"Inshaallah gak sampai besok Sayang." Janjinya sembari mengikuti langkah istrinya dari belakang." Sayang kamu gak marah kan kalau aku menunda waktu berangkat kita?" Tanya Dokter sembari merangkul pinggang istrinya dari belakang
"Kenapa aku harus marah?" Khardha balik bertanya karena kecewa tidak langsung berangkat. Padahal dia sudah menyiapkan semuanya.
"Kalau gak marah, kenapa mukanya ditekuk kayak gitu?" Dokter Hasan membalikkan badan istrinya agar menghadap kepadanya.
"Sudahlah Sayang jangan bikin aku tambah badmood." Sahut Khardha dengan menghindari tatapan suaminya.
Khardha berjalan menuju dapur untuk memasak air berniat mau membuat teh hangat sebab pasangan suami istri itu terbiasa berbuka puasa dengan minum yang manis dan hangat.
"Sayang aku minta maaf ya kalau aku salah," ucap Dokter Hasan dengan terus saja mengikuti langkah istrinya.
"Iya aku maafin tapi jangan dekat-deket dulu masih puasa nanti batal pahalanya." Khardha akhirnya tidak bisa marah terlalu lama kepada suaminya sebab kelakuannya yang selalu membuatnya ingin tertawa.
Bagaimana tidak ingin tertawa Dokter Hasan bertingkah seperti anak kecil yang selalu mengekorinya kesana kemari membuatnya susah untuk bergerak dengan leluasa didapur mereka yang minimalis itu.
"He...he...iya Sayang," cengir Dokter Hasan sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Bersambung....
Assalamualaikum. Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya.
Semoga amal ibadah kita di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.
Mohon doa & dukungan nya terus ya teman-teman melalui,
Vote yang banyak
Like yang tiada henti
Komen yang membangun
Koin seikhlas nya
Dari kalian semuanya yang sudah mau mampir ke karya aku ini.
Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit kalian semuanya ya!
__ADS_1
Ikuti terus ya up terbaru dari aku dengan mengklik tombol hati pada tempatnya.
Salam sayang selalu dari author Khardha Love.