MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY FOREVER ALWAYS season2 episode#94 "Menyesal"


__ADS_3

Happy reading guys!


Flashback on


Selama tiga tahun menjalani hubungan dengan Mujahidin, Khardha yang selalu berusaha sabar menghadapi semua sikap flamboyannya, akhirnya memilih mundur teratur tanpa harus berkata-kata lagi, sebab Mujahidin selalu ada alasan untuk mempertahankan hubungan mereka.


Mujahidin pov


Aku sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan kepercayaanmu Khardha, ketika pertama kali aku mengkhianatimu dirimu masih bisa memaafkanku, namun untuk yang kesekian kalinya kamu akhirnya memilih menyerah dan meninggalkanku tanpa ada kata perpisahan yang terucap dari bibirmu.


Setelah kepergianmu aku terpaksa harus menikah dengan Emil wanita yang selalu mengejar-ngejarku karena dia mengaku hamil anakku dan usia kandungannya sudah menginjak tiga bulan jadi aku harus bertanggung jawab kepadanya itulah yang diinginkannya, jujur aku memang pernah bercinta dengannya. Karena dia selalu menggodaku dan kamu tidak pernah mau kusentuh walaupun itu hanya sekedar ciuman dibibir saja.


Namun seiring berjalannya waktu aku curiga Emil membohongiku sebab aku tidak melihat perutnya yang seharusnya membuncit layaknya wanita hamil. Aku berinisiatif memeriksakan diri ke Dokter spesialis kandungan bersamanya, ternyata faktanya dia tidak akan bisa mengandung lagi sebab dia pernah melakukan operasi pengangkatan rahim diakibatkan kecelakaan yang menimpanya ketika SMA. Keluarganya juga tidak tahu saat itu dia sedang hamil anak siapa, mungkin karena pergaulan bebas yang dianutnya itulah yang dikatakan orang tuanya sambil memohon kepadaku agar tidak meningalkannya. Setelah mengetahui semua itu aku tetap berusaha sabar menjalani hidup berumah tangga dengannya demi orangtuanya dan juga orang tuaku tentunya. Karena aku sadar, aku juga bukan laki-laki yang baik selama ini, namun aku berusaha menjadi suami yang terbaik untuknya.


Hingga akhirnya pada suatu hari aku pergi dinas keluar kota dan pulang tanpa menghubunginya terlebih dulu agar aku bisa memberi kejutan untuknya dengan membawakan bunga mawar merah kesukaannya, namun bukan hanya dia yang terkejut ketika melihat kedatanganku justru aku yang lebih terkejut melihat pemandangan didepan mataku, dia berselingkuh dibelakangku dengan sahabatku sendiri dan bercinta diatas ranjang pribadi kami. Menyaksikan langsung pengkhianatan yang dilakukannya itu aku sangat frustasi dan memutuskan untuk segera menceraikannya.


Sebab aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatannya yang sudah mencoreng nama baikku dan keluargaku.


Aku kembali mencarimu Khardha. Agar aku bisa memperbaiki hubungan kita yang pernah kandas akibat kesalahanku sendiri, aku ingin minta maaf kepadamu dan berniat untuk langsung melamarmu. Namun ternyata kamu sudah menikah dengan laki-laki yang dijodohkan oleh keluargamu. Apakah kamu bahagia bersamanya? Itulah pertanyaan yang selalu mengganggu pikiranku selama ini.


Dan hari ini aku tidak sengaja melihatmu kembali setelah lima tahun kita tidak pernah bertemu lagi. Kamu duduk di warteg yang biasa kita datangi, aku berusaha mendekatimu untuk menyapamu agar bisa mendengar kembali suara merdumu, tapi sayang ternyata suamimu sangat posesif kepadamu. Seandainya aku yang berada diposisinya aku juga pasti akan melakukan hal yang sama karena aku tahu kamu adalah wanita terbaik yang pernah kukenal sebelumnya. Kamu selalu bisa menjaga kehormatanmu sampai akhirnya aku terlambat menyadari bahwa aku sangat mencintaimu dan sangat kehilanganmu.


Kusadari aku hanya seorang mantan yang tidak berhak atas dirimu, oleh karena itulah aku memilih mengalah dan meninggalkan kalian berdua disana. Aku benar-benar menyesal dan merasa sangat bodoh membiarkanmu pergi begitu saja dalam hidupku.


Penyesalanku ini memang tiada guna,


namun aku tidak akan pernah berhenti mencoba untuk memperbaiki hubungan kita. Aku berniat untuk menemuimu kembali sore ini dirumah orang tuamu. Apapun yang terjadi nanti aku hanya ingin minta maaf kepadamu Khardha my love.


Flashback off


*****


Jam 15:30 kumandang suara azan terdengar dari speaker musholla didekat rumah orang tuanya Khardha. Dokter Hasan terbangun lalu mengecup kening istrinya dan memainkan telunjuknya diwajahnya lalu menggesekkan hidungnya dihidung wanita yang sangat dicintainya itu dengan gemesnya.


Khardha terbangun merasakan ada yang mengganggu kenyamanan tidurnya lalu membuka matanya.


"Kepalamu masih sakit Sayang?" Tanyanya seraya tersenyum menatap istrinya yang sangat dekat dengannya sambil menyentuh kepalanya.


"Alhamdulillah udah berkurang." Jawab Khardha sembari meletakkan tangannya di dada bidang suaminya.


"Syukurlah kalau begitu Sayang, aku mau mandi dulu terus ke musholla. Kamu juga harus mandi ya, aku gak mau punya istri bau kayak kamu!" Serunya sambil beranjak mengambil handuk lalu berlari keluar menuju kamar mandi seraya tersenyum karena berhasil menjahili istrinya.


"Awas kamu ya Sayang! Berani ngatain aku bau, orang aku masih wangi gini kok." Pekik Khardha dengan mengendus baju yang dipakainya.


Khardha segera beranjak kemudian merapikan tempat tidurnya lalu membuka kopernya untuk


mencarikan baju bersih yang akan dipakai suaminya. Dia berdiri didepan cermin meja riasnya lalu menggulung rambutnya keatas dengan jepitannya. Tidak berselang lama Dokter Hasan telah selesai mandi, dia masuk kembali kedalam kamar untuk mencari baju didalam kopernya.


"Baju kamu udah aku siapin Sayang, itu aku taruh diatas ranjang." Ucap Khardha sembari melirik ke arah suaminya.

__ADS_1


"Makasih ya Sayang." Dokter Hasan langsung memakai bajunya dengan menghadap kepada istrinya.


"Kenapa kamu tadi bilang aku bau? Mau aku suruh tidur diluar malam ini!" Kesal Khardha sembari melangkah perlahan mendekati suaminya yang sudah berwudhu seraya tersenyum jahil.


"Stop Sayang! Nanti aku ketinggalan jamaah di musholla." Dokter Hasan naik keatas ranjang untuk menghindari istrinya sambil memakai sarungnya.


"Siapa juga yang mau gangguin kamu, orang aku mau ngambil handuk buat mandi kok, week!" Khardha menjulurkan lidahnya lalu membuka pintu kamarnya dan berlari menuju kamar mandi.


Awas aja ya kamu Sayang, berani godain aku terus hari ini, gak bakal kuberi ampun kamu malam ini," gumamnya dalam hati seraya tersenyum smirk.


Setelah itu Dokter Hasan bergegas pergi menuju musholla dengan berjalan kaki kesana. seusai mandi Khardha segera melaksanakan sholat ashar dikamarnya. Sepulang dari musholla tiba-tiba tanpa sengaja Dokter Hasan melihat kecelakaan tunggal dijalan tepat didepan rumah mertuanya. Dia bergegas menghampiri orang yang terlempar ke aspal itu untuk menolongnya bersama tetangga yang ikut membantunya. Dia meminta agar korban dibawa ke teras rumah mertuanya saja terlebih dulu. Dia sangat terkejut ketika memperhatikan wajah korban kecelakaan yang pingsan itu, ternyata orang itu adalah Mujahidin mantan pacar istrinya yang baru bertemu dengannya siang tadi. Khardha yang baru selesai sholat mendengar keributan di teras rumah langsung bergegas keluar ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" Tanya Khardha dibalik kerumunan orang-orang.


Dokter Hasan yang mendengar suara istrinya refleks menolehkan kepalanya kebelakang, dia langsung berdiri lalu menarik tangannya dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Ada apa sebenarnya Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menarik tanganku?" Bingung Khardha dengan sikap suaminya.


Bukannya menjawab Dokter Hasan justru memeluk istrinya dengan sangat erat sembari memejamkan matanya.


"Sayang ada apa sebenarnya? Kenapa kamu kayak gini?" Khardha mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Aku mau kamu gak usah keluar dulu sebelum dia siuman dan pergi dari sini." Pintanya sembari menangkup wajah istrinya lalu mengecup keningnya.


"Maksud kamu dengan dia itu siapa?" Khardha semakin bingung dibuatnya.


"Dia orang yang kecelakaan didepan rumah barusan, dia juga ketemu sama kita di warteg siang tadi, jadi aku harap kamu bisa ngerti kenapa aku ngelarang kamu keluar." Jawab Dokter Hasan sembari mencari peralatan medisnya.


*****


"Gimana keadaannya Dokter? Apakah harus kita bawa ke rumah sakit?" Tanya salah seorang tetangga yang juga ikut berkerumun.


"Alangkah baiknya dia dibawa ke rumah sakit untuk melakukan rontgen agar bisa memastikan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya, sebab kepalanya terlihat membengkak dan mungkin saja dia mengalami cedera." Jawab Dokter Hasan dengan penuh wibawa setelah memeriksa keadaan Mujahidin.


"Kalau begitu lebih baik Dokter saja yang membawanya ke rumah sakit, sebab kami disini gak ada yang punya mobil, kalaupun ada itu hanya milik orang kaya yang gak mungkin mau mengantarkannya secara gratis." Ucap tetangganya Khardha yang bernama Yudi.


"Baiklah saya ganti baju dulu." Sahut Dokter Hasan dengan menghela nafasnya yang terasa berat.


"Sayang aku akan membawa dia ke rumah sakit, kamu juga siap-siap buat temani aku ya." Pintanya dengan melepaskan headset ditelinga istrinya.


"Kenapa harus ke rumah sakit Sayang, apakah dia terluka parah?" Tanya Khardha sembari beranjak untuk mengganti bajunya.


"Aku belum bisa memastikannya sebelum dia sadarkan diri dan melakukan rontgen di rumah sakit Sayang ." Jawabnya sambil memakai baju juga celana jeans nya.


Setelah semuanya siap Dokter Hasan langsung meminta orang-orang membantu mengangkat tubuh Mujahidin kedalam mobilnya di jok bagian belakang dengan posisi berbaring. Dia juga meminta salah seorang yang mengenali Mujahidin untuk ikut masuk dan menghubungi keluarganya. Khardha yang terlebih dulu masuk kedalam mobil hanya menatap orang-orang di sekitarnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan sebab dia juga sengaja langsung memakai maskernya agar orang tidak memperhatikannya.



Setelah itu Dokter Hasan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena kebetulan jalanan sangat lengang sebab tiba-tiba hujan deras mengguyur desa menuju kota kabupaten itu. Dia juga takut tidak bisa menolong Mujahidin yang masih setia memejamkan matanya. Walaupun sebenarnya hatinya ingin sekali membiarkannya.

__ADS_1


Namun karena rasa kemanusiaan dia berusaha mengesampingkannya. Sesampainya di rumah sakit Mujahidin langsung dibawa ke UGD oleh petugas medis yang menyambutnya di depan pintu darurat.


"Sayang kita harus menunggu dia sadar atau langsung pulang?" Khardha menatap suaminya yang berdiri didepannya ketika selesai mengurus administrasi pendaftaran pasien.



"Kita tunggu pihak keluarganya datang dulu ya Sayang, supaya gak salah paham." jawab Dokter Hasan dengan membuka maskernya sembari menatap istrinya yang kembali terlihat aura lain di matanya.


"Ya udah terserah kamu aja kalau gitu, aku mau toilet dulu perutku gak enak dari tadi rasanya enek banget, apalagi mencium bau rumah sakit ini." Ucap Khardha sembari beranjak dari duduknya.


"Kamu gak papa kan Sayang, aku anterin ya." Dokter Hasan meraih tangan istrinya.


"Aku baik-baik aja Sayang, kamu gak usah khawatir, aku bisa jalan sendiri mencari toiletnya, kamu tungguin pihak keluarganya aja disini ya." Khardha berusaha menenangkan suaminya walaupun sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya.


"Kamu yakin gak papa?" Dokter Hasan menyentuh wajah istrinya yang tampak semakin pucat.


"Iya Sayang tenang aja ya." Khardha menurunkan tangan suaminya dari wajahnya lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Ada apa dengan istriku? Kenapa aku melihat sesuatu yang berbeda darinya? Apa sebaiknya aku periksakan dia juga mumpung ada disini." Gumamnya dalam hati dengan mendudukkan dirinya dikursi panjang diluar ruang UGD.


"Maaf apakah kamu yang menolong kakakku?" Tanya seorang laki-laki yang baru datang didepan Dokter Hasan.


"Kakakmu?" Dokter Hasan mengangkat sebelah alisnya.


"Iya korban kecelakaan didepan rumah Khardha itu kakakku, tadi aku dihubungi oleh Yudi yang ikut mengantarkan dia ke rumah sakit ini."


Dokter Hasan hanya menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya ingin segera menyusul istrinya.


"Kenalkan namaku Nasrullah, kamu sendiri siapa?" Ujarnya sembari mengulurkan tangannya.


Dokter Hasan menatap laki-laki yang ada dihadapannya dengan wajah datarnya lalu menjabat tangannya.


"Saya Hasan suaminya Khardha." Jawabnya tanpa mengubah ekspresinya." Sudah hampir maghrib saya permisi dulu, assalamualaikum." Dokter Hasan segera berlalu pergi dari sana.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Jawab Nasrullah dengan memandangi punggung Dokter Hasan.


Ternyata suaminya Khardha cool banget ya, apa Khardha bahagia hidup bersamanya? Kalau enggak aku akan membantu Mujahidin untuk mendapatkannya kembali." Gumam Nasrullah dalam hatinya.


Dokter Hasan sangat mencemaskan istrinya


yang sangat lama meninggalnya ke toilet, feeling nya mengatakan wanita kesayangannya itu tidak baik-baik saja. Dia semakin mempercepat langkahnya menuju toilet umum di rumah sakit itu.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Khardha?


Tunggu episode selanjutnya ya!


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya teman-teman para author maupun reader semuanya.

__ADS_1


Melalui vote, like, komennya, semoga kalian tidak bosan dengan ceritaku ini. Salam sayang selalu dariku Khardha Love.


__ADS_2