
Dokter Hasan langsung memesan taksi online untuk mengantarkannya ke bandara, tidak lupa dia juga membeli smartphone baru di konter hp terbesar yang ada didekat rumahnya. Setelah mensetting handphonenya dia kembali bisa terhubung dengan chip yang dipasangnya di smartphone istrinya. Tidak lama kemudian taksi yang dipesannya datang, dia langsung masuk kedalam taksi kemudian melakukan perjalanan menuju bandara. Sesampainya di bandara Dokter Hasan menunggu kakak iparnya Bripka Gusti Hamidi, ditempat yang sudah mereka tentukan. Tiga puluh menit kemudian kakak iparnya datang & langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum Hasan, apakah kamu sudah pesan tiket pesawatnya? "Bripka Gusti Hamidi duduk disamping adik iparnya dengan membawa tas ransel yang disandang di belakangnya sama persis dengan Dokter Hasan yang hanya membawa tas ranselnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Kak, tiketnya sudah aku pesan dari tadi, satu jam lagi kita take off. "Jawab Dokter Hasan sambil memijat keningnya, karena kepalanya sakit akibat kurang tidur & selalu memikirkan keadaan istrinya.
"Apa kamu ada rencana kedepannya seandainya nanti setelah kita sampai disana tapi tidak diperbolehkan masuk untuk menemui Rara? Aku yakin Hendrik pasti memerintahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga didepan pintu kamar perawatan Rara disana. "Bripka Gusti Hamidi bertanya sambil mengingatkan kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
"Sepertinya aku akan minta bantuan kepada sahabatku Kak, dia seorang pengusaha yang sangat sukses & mempunyai banyak relasi dimana-mana namanya Tuan Arga Hutama suaminya Nona Erina, aku yakin dia pasti mau menolongku untuk membebaskan istriku dari cengkraman Hendrik Choi, sebab dia juga kabarnya sangat bucin dengan istrinya, seperti layaknya diriku kepada Khardha adikmu Kak. "Ucap Dokter Hasan tanpa rasa malu atas kejujurannya.
Bripka Gusti tersenyum mendengar jawaban sekaligus pernyataan dari adik iparnya itu, apalagi kalau mengingat tentang kata bucin yang menurutnya sangat menggelikan untuk laki-laki dewasa sepertinya. Istilah anak muda zaman sekarang yang kadang terasa janggal & lucu, benar-benar membuatnya menjadi orang yang sangat kuper akan semua itu.
Apalagi mengingat tentang Tuan Arga Hutama yang sangat posesef dengan istrinya Erina, membuat semua orang pasti akan baper jadinya, terutama kaum wanita. Benar-benar author Nafasal menggambarkan sebuah kesempurnaan sosok laki-laki idaman semua orang & sangat cocok dengan Erina yang cantik lugu tapi sangat menggemaskan.
*****
Satu jam kemudian setelah check in
Dokter Hasan dan Bripka Gusti Hamidi langsung masuk pesawat Garuda Indonesia airline. Mereka terbang menuju negara Singapura untuk mencari Khardha di rumah sakit E seperti yang di infokan oleh Dokter Wahyu. Sekitar 1jam 50 menit sampailah mereka berdua di bandara Changi Singapura. Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, keduanya langsung turun dengan membawa ransel masing-masing.
" Kak aku permisi mau ke toilet sebentar ya, "pamit Dokter Hasan kemudian melangkahkan kakinya menuju toilet umum yang ada dibandara.
Bripka Gusti hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk di bangku yang tersedia di cafetaria sekitar bandara itu.
Sesudah keluar dari toilet Dokter Hasan kembali berjalan untuk menemui kakak iparnya seraya menggunakan hedset ditelinganya sambil mencari akses ke rumah sakit secepatnya melalui smartphone yang baru dibelinya itu.
"Kak aku sudah tahu rute yang harus kita lalui agar cepat sampai ke rumah sakit E. "Ucapnya sangat antusias seraya duduk di hadapan kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita berangkat kesana sekarang! "Seru Bripka Gusti Hamidi seraya merangkul bahu adik iparnya itu.
"Aku juga sudah memesan apartemen dekat rumah sakit agar kita bisa bolak-balik ke sana tanpa harus naik taksi lagi Kak. "Jelasnya ketika mereka sudah berada dalam taksi menuju rumah sakit.
"Baguslah kalau begitu, berarti kita bisa jalan kaki saja kerumah sakit nantinya. "Bripka Gusti Hamidi tersenyum bangga mempunyai ipar yang sangat pintar juga pengertian seperti Dokter Hasan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama mereka berdua sampai di depan rumah sakit E. Dokter Hasan langsung bertanya di bagian informasi tentang pasien atas nama istrinya, setelah mendapatkan infonya dia mengajak kakak iparnya berjalan menuju ruang rawat inap VVIP lantai sepuluh tempat Khardha dirawat.
Sesampainya di sana mereka menemukan banyak penjaga di depan pintu sehingga sulit untuk mereka masuk tanpa ketahuan siapapun.
"Apa yang harus kita lakukan terlebih dulu Kak? Disana banyak sekali orang-orang yang berjaga, "Tunjuk Dokter Hasan dibalik dinding pembatas kamar rawat yang tidak jauh dari sana.
"Apa kita menyamar jadi Dokter saja, biar bisa leluasa keluar masuk, "Bripka Gusti menyarankan.
" Ide Kakak memang sangat brilian tapi gimana caranya kita meminjam jas Dokternya, inikan rumah sakit yang sangat ketat penjagaan keamanannya. "Dokter Hasan menatap sendu kearah kakak iparnya sambil menggelengkan kepalanya.
Dokter Hasan membulatkan matanya dengan sempurna mendengar ide kakak iparnya itu.
Emang ada ya Dokter & Polisi ganteng seperti kita jadi OB? Batinnya sambil tersenyum kecut kemudian melangkahkan kakinya mengikuti ide kakak iparnya menuju ruangan OB yang ada di rumah sakit itu.
Sementara itu di dalam kamar rawat, Khardha sebenarnya sudah terbangun sejak dua jam yang lalu namun dia berpura-pura masih tidur, karena tidak ingin berbicara dengan Hendrik maupun bi Tutik yang menungguinya.
Aku tidak akan membuka mataku kalau bukan suamiku sendiri yang datang memanggil namaku, gumamnya dalam hati ketika Hendrik terus saja memanggil namanya.
Tidak lama kemudian datang dua orang OB ganteng masuk mendorong peralatan kebersihan, mereka berdua menggunakan masker, topi & baju yang agak kekecilan dibadannya.
Dokter Hasan sengaja mulai mengepel lantai di dekat bed pasien istrinya agar bisa memandang wajahnya dari jarak dekat, sedangkan Bripka Gusti Hamidi sengaja menyapu & mengepel lantai di dekat Hendrik sambil mengibaskan sapu juga kain pel di kakinya.
"Apa-apaan yang kamu lakukan ini, membersihkan atau mau mengotori kakiku, "sarkas Hendrik kemudian berlalu pergi keluar ruangan.
__ADS_1
Bripka Gusti Hamidi tertawa dalam hatinya melihat Hendri keluar begitu saja tanpa curiga dengan kesengajaan yang dilakukannya.
Bi Tutik juga ikut melangkahkan kakinya keluar untuk membeli sesuatu di kantin rumah sakit.
Setelah merasa situasi aman mereka berdua segera mendekati ranjang tempat Khardha terbaring. Dokter Hasan langsung membuka maskernya & memegangi tangan istrinya.
"Sayang aku mohon bangunlah, aku & Kak Gusti sudah ada disini untukmu, "ucapnya sambil mencium tangan istrinya.
Khardha segera membuka matanya ketika mengenali suara suaminya, dia tersenyum menatap suami juga kakaknya bergantian.
"Sayang tolong bawa aku segera keluar dari sini, aku mau kita pulang secepatnya kerumah, "Pinta Khardha sambil menggenggam tangan suaminya.
"Tentu saja Sayang kami akan mengusahakan semaksimal mungkin untuk membawamu pergi dari sini secepatnya, yang penting sekarang kamu harus cepat pulih dulu, kondisi tubuhmu masih lemah Sayang, jadi kamu harus benar-benar mematuhi petunjuk Dokter yang merawatmu disini, karena aku & Kak Gusti tidak bisa setiap saat menungguimu, soalnya diluar banyak anak buah Hendrik yang berjaga didepan pintu. Kami akan selalu berusaha untuk mencari celah agar selalu bisa berada dekat denganmu Sayang. "Ucap Dokter Hasan dengan membelai lembut kepala istrinya kemudian mencium keningnya cukup lama seraya memejamkan matanya.
" Iya dek, benar apa yang di katakan suamimu, kami akan mencari kelemahan Hendrik agar mau melepaskan kamu bagaimanapun caranya. "Janji Gusti dengan mengepalkan tangannya seraya menatap tajam kearah pintu.
Ternyata diluar Hendrik sudah memerintahkan anak buahnya menyiapkan segala sesuatunya untuk memindahkan Khardha kerumah mewahnya yang ada di negara itu. Sebab dia mulai curiga & waspada kepada semua orang yang sudah tahu keberadaannya di negara itu melalui berita yang bertebaran di medsos.
"Semoga semua ini cepat berakhir & kembali seperti semula, sebab aku tidak ingin terlalu lama berada dalam situasi seperti ini Kak. "Lirih Khardha dengan menatap sendu kearah kakaknya.
ceklek bunyi pintu dibuka dari luar, mereka semua terkejut dan akhirnya....
Bersambung...
Kalau kalian mau tau lebih detail bagaimana kisah cinta seorang Tuan Arga Hutama & Nona Erina silahkan kunjungi novel dibawah ini 👇🏻
Jangan lupa vote, like, komen, koin nya ya reader. Mari saling mendukung, salam sayang selalu dari author Khardha Love.
__ADS_1