
Happy reading guys!
Melihat ekspresi adiknya Bripka Gusti Hamidi langsung beranjak dari duduknya & berjalan mendekati adik kesayangannya itu, kemudian duduk disamping kirinya.
"Kakak ngapain kesini?" Khardha mengerutkan keningnya.
"Aku kangen banget sama kamu dek!" Jawab Gusti sambil menaiki turunkan alisnya.
"Masa sich?" Khardha memicingkan matanya.
"Kangen pengin jahilin kamu!" Ucap Gusti sambil mengoleskan saus pedas ke hidung Khardha kemudian berlari masuk kekamar mandi.
"Kakakkkkkkkk!" Teriak Khardha hendak mengejar Gusti namun dicegah oleh suaminya.
"Sudah Sayang gak usah di kejar, sini biar aku bantu bersihin hidung kamu," ucap Dokter Hasan langsung mengambil tisu dihadapannya kemudian menghapus saus dihidung istrinya dengan lembut.
"Hidungku panas rasanya Sayang," keluh Khardha sambil memegangi hidungnya yang sudah selesai dibersihkan suaminya.
"Kulit wajah kamu kayaknya sensitif banget dech Sayang, itu hidung kamu langsung memerah seperti itu." Tunjuk Dokter Hasan merasa lucu sekaligus kasian melihat hidung istrinya karena di jahili kakaknya sendiri.
Namun dia tidak mungkin memarahi kakak iparnya itu hanya gara-gara sifat jahilnya & membuat kesal istrinya.
"Habis ini kamu langsung cuci muka yang bersih ya Sayang, biar gak tambah parah merahnya." Dokter Hasan memberikan facial foam yang biasa di pakainya.
Khardha menerimanya, membaca indikasi, komposisi dan aturan pakainya.
"Inikan buat cowok Sayang, memangnya gak papa kalau aku yang pakai?" Tanya Khardha merasa heran dengan apa yang di berikan suaminya.
"Ohh maaf Sayang aku lupa, sebentar ya aku beliin dulu yang biasa kamu pakai di swalayan seberang hotel sekalian baju buat kamu & bi Tutik." Ucap Dokter Hasan langsung berpamitan serta berjalan menuju pintu.
Khardha beranjak dari duduknya untuk melarang suaminya dengan melangkah cepat sambil memegangi perutnya.
"Sayang tunggu dulu!" Panggilnya tanpa memperhatikan langkah kakinya.
Brukk...awww...arghhh...," Khardha terjerembab hingga mencium lantai & hidungnya yang sudah merah semakin merah, untung saja tidak berdarah begitupun dengan perutnya yang juga bertambah sakit.
Sebab kakinya tersandung kaki meja makan.
Astagfirullah al azdim! Kaget Dokter Hasan langsung membalikkan badannya mendengar suara istrinya.
"Kamu kenapa Sayang kok bisa jatuh?" Dia bertanya sambil membantu istrinya untuk bangun.
"Gara-gara kamu yang gak mau nungguin aku, makanya aku jadi jatuh kayak gini." Sahut Khardha seraya meringis sakit memegangi hidungnya & perutnya.
" Memangnya kamu mau ikut?" Dokter Hasan mengerutkan keningnya menatap istrinya yang ada dalam gendongannya.
__ADS_1
Khardha menggelengkan kepalanya seraya melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Kamu kan masih sakit Sayang, lagi pula diluar itu bahaya buat kamu. Hendrik dan anak buahnya gak mungkin membiarkan kamu pergi begitu saja tanpa mencarimu." Dokter Hasan berusaha mengingatkan istrinya kemudian membaringkannya diatas ranjang.
"Iya Sayang, aku cuma mau bilang sama kamu supaya gak usah beli facial foam dan bajunya. Aku gak mau terus-terusan merepotkan kamu." Lirih Khardha dengan menatap lekat manik mata suaminya.
"Aku gak pernah merasa direpotkan oleh kamu Sayang, seluruh dunia ini pun akan kupersembahkan buat kamu kalau bisa. Aku akan selalu berusaha sekuat semampuku untuk memberikan apapun yang kamu mau.
Kehadiranmu sungguh sangat berarti bagiku Sayang, justru kalau kamu menolak apapun yang kuberikan padamu itu akan membuatku
sangat kecewa bahkan sakit hati. Aku hanya ingin selalu membuatmu bahagia disetiap waktu yang mengiringi kebersamaan kita. Tetaplah di sisiku Sayang sedahsyat apapun badai yang menerpa kehidupan rumah tangga kita." Pinta Dokter Hasan sembari menggenggam erat tangan istrinya kemudian mendekapnya dengan penuh cinta.
"Maafin aku Sayang, aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu, aku terlalu sering mengecewakanmu, bahkan aku belum bisa memberikan keturunan untukmu, aku....hiks... hiks....," Khardha menangis dalam pelukan suaminya.
"Sayang aku sudah memaafkan semua kesalahanmu sebelum kamu minta maaf kepadaku, aku juga tidak akan memaksamu untuk melahirkan anak dari rahimmu dalam waktu dekat ini, karena aku tau bagaimana perjuanganmu ketika mengandungnya dulu." Ucap Dokter Hasan seraya menghapus air mata istrinya dengan ibujarinya.
Ehemmm, ehemmm. Bripka Gusti Hamidi kembali berdeham untuk mengingatkan pasangan suami istri itu.
Khardha & Dokter Hasan langsung menolehkan kepalanya mendengar suara Gusti.
"Ayo cepat siap-siap, aku sudah pesan tiket pesawat agar kita semua bisa pulang ke tanah air malam ini juga." Perintahnya kemudian berlalu pergi untuk mengemas barang bawaannya sendiri yang disimpannya di lemari yang disediakan pihak hotel mewah & luas itu.
" Baik Kak!" Ucap keduanya bersamaan.
Setelah mereka berempat sudah siap semuanya, Dokter Hasan langsung memesan taksi menuju bandara Changi dua jam sebelum keberangkatan, sebab jarak hotel menuju bandara hanya sekitar lima belas menit saja dari sana.
Perjalanan yang cukup melelahkan sehingga sesampainya di rumah Khardha langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang king size mereka yang ada dilantai dua kamar utama itu.
Berbeda dengan Dokter Hasan suaminya yang langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sehabis mandi dia langsung menghampiri istrinya yang tampak kelelahan sambil memejamkan matanya. Dia tahu istrinya tidak mungkin tidur lagi sebab ketika di perjalanan Khardha sudah tidur sepanjang jalan dengan bersandar di bahunya. Khardha hanya terbangun ketika turun dibandara & masuk kembali ke pesawat hingga menaiki taksi sampai kerumahnya.
"Mandi dulu Sayang, supaya badan kamu lebih fresh," pintanya sambil mengusap kepala istrinya.
"Ok, Sayang!" Khardha langsung beranjak menuju kamar mandi.
Dokter Hasan langsung memakai baju piyamanya & menyiapkan baju tidur istrinya. Setelah itu dia meracik obat yang harus diminum istrinya secara rutin untuk membantu pemulihan pasca operasinya.
lima belas menit kemudian Khardha keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat fresh, menggunakan handuk yang melingkar didadanya sehingga membuat suaminya menelan salivanya berkali-kali.
"Jangan menggodaku Sayang, takutnya nanti aku khilaf dan memakan kamu." Ucapnya seraya tersenyum smirk & langsung memeluk istrinya dari belakang ketika Khardha hendak memakai baju tidurnya.
Dokter Hasan mulai menciumi tengkuk & bahu istrinya juga menggigit kecil disana hingga meninggalkan jejak kepemilikannya.
"Sayang aku mohon jangan kayak gini, aku masih belum bisa melayanimu." Lirih Khardha merasakan sensasi yang berbeda dialiran darahnya.
__ADS_1
"Aku tau Sayang, aku hanya ingin bermain-main saja tidak sampai ke intinya." Jawabnya sembari menggendong istrinya ala bridal style menuju tempat tidur mereka.
Setelah itu Dokter Hasan membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang miliknya. Dia pandangi istrinya yang hanya berbalut gaun tidur tipis warna putih yang menampakkan lekuk tubuhnya. Dia melepaskan baju tidur yang baru di pakai istrinya itu & menggerayangi setiap inci bagian atasnya, dia hanya menyisakan segitiga pengamannya saja. Aksinya terhenti seketika saat melihat perban pasca operasi istrinya yang belum di lepaskan. Dia langsung memeriksanya dengan seksama kemudian membukanya secara perlahan.
"Astaga lukanya belum kering Sayang, kamu jangan banyak bergerak ya, aku mau ambil obat & perban yang baru." Ucapnya kemudian beranjak mencari kotak P3k nya di lemari dekat tv yang ada di kamar itu juga. Dia memang sengaja selalu melengkapi semua jenis obat-obatan untuk persediaan di rumahnya itu.
Khardha yang sangat malu dengan keadaannya langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Dokter Hasan kembali dengan membawa kotak P3k nya, dia duduk ditepi ranjang kemudian menyibak selimut yang dipakai istrinya. Terpampang jelas pemandangan indahnya ciptaan Tuhan yang selalu membuatnya tergoda & meneguk salivanya dengan susah payah itu, namun dia berusaha menahannya agar bisa fokus mengobati luka istrinya terlebih dulu.
Khardha menyilangkan tangannya diantara kedua buah dadanya karena sangat malu dengan keadaannya.
"Kenapa harus ditutupi Sayang, padahal aku sangat menyukainya & sering memainkannya." Ucap Dokter Hasan sambil mengobati luka istrinya seakan tidak tergoda dengan pemandangan yang ada dihadapannya padahal sedari tadi dia selalu berusaha menahan hasratnya.
"Ishhh, aku malu tau!" Cebik Khardha dengan memajukan bibirnya kedepan.
"Kenapa mesti malu, akukan suami kamu yang sudah hafal setiap inci bagian tubuhmu & kita juga sering melakukannya," ucapnya lagi dengan ambigu.
Khardha terdiam mendengar ucapan suaminya karena tidak bisa mengelak lagi. Setelah selesai mengobati luka istrinya & membereskan kotak P3k nya, dia langsung
menempelkan bibirnya kembali di bibir mungil nan sensual milik wanita yang sangat dicintainya itu. Dengan sangat lembut dia menyalurkan kembali rasa rindunya hanya dengan ciuman yang tidak menuntut untuk lebih dari itu walaupun cukup lama hingga hampir kehabisan oksigen barulah dia melepaskannya.
"Terimakasih Sayang kamu selalu menjadi penyemangat hidupku," ucapnya kemudian mencium kening istrinya & merebahkan tubuhnya disampingnya.
"Sama-sama Sayang," Khardha menggeser posisinya agar bisa memeluk erat suaminya & bermanja diatas dada bidangnya.
Ketika hendak memejamkan matanya Dokter Hasan langsung teringat bahwa istrinya belum meminum obatnya. Dia langsung beranjak bangun mengambilkan air putih di dispenser yang ada dalam kamar itu juga untuk istrinya. Khardha ikut bangun & duduk menatapnya dengan heran sambil memeluk selimut hingga sebatas dadanya.
"Kamu kenapa sich Sayang kok tiba-tiba bangun?" Khardha menatap suaminya dengan kening berkerut.
Dokter Hasan hanya tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan istrinya.
"Kamu belum minum obat Sayang, jadi ini airnya & ini obatnya." Jawabnya sembari menyodorkan gelas berisi air putih beserta obat yang sudah disiapkannya sedari tadi.
Khardha langsung menerimanya kemudian meminum obatnya, setelah itu dia menaruh gelasnya diatas nakas & kembali berbaring dengan posisi membelakangi suaminya karena kesal ditinggal begitu saja.
Dokter Hasan langsung membalikkan badan istrinya kemudian menyusupkan tangannya diantara lehernya, menjadikan lengannya sebagai bantal kepala istrinya.
"Jangan ngambek nanti tambah cantik," ucapnya sambil memejamkan matanya & mendekap istrinya.
"Dimana-mana orang ngambek itu tambah jelek tau, bukannya cantik!" Sergah Khardha sambil memukul dada bidang suaminya dengan pelan.
"Diamlah Sayang, aku sudah lelah dan ngantuk banget sepanjang jalan gak bisa tidur buat jagain kamu, besok aku harus bertugas lagi kerumah sakit." Ucapnya semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus darinya dengan nafas yang teratur. Khardha menatap setiap inci wajah laki-laki yang selalu membuatnya nyaman bila berada didekatnya itu, dia memainkan telunjuknya menyusuri wajah tampan suaminya hingga berhenti di bibirnya, kemudian mengecupnya sekilas. Setelah itu dia juga ikut memejamkan matanya kembali karena merasa mengantuk sehabis meminum obatnya tadi. Akhirnya pasangan suami istri terlelap masuk kedalam alam mimpinya masing-masing.
__ADS_1
Bersambung....
Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman, jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komen, koin nya ya! Salam sayang selalu dari author Khardha Love