MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2

MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER Season2
MY LOVE STORY IS ALWAYS FOREVER season2 episode #21 "Ujian kesabaran"


__ADS_3

Happy reading guys!


Setelah selesai menyatap makan malamnya Dokter Hasan segera menyusul istrinya kedalam kamar. Dia melihat wanita kesayangannya itu masih saja sibuk memakan eskrim nya sembari memainkan benda pintarnya dengan duduk dipinggir ranjangnya.


"Kamu makan eskrim dari tadi kok belum habis juga sich Sayang? Emangnya udah berapa eskrim yang kamu makan?" Tanya Dokter Hasan sembari duduk disamping istrinya.


"Baru juga lima." Jawab Khardha dengan santainya tanpa menoleh sedikitpun kearah suaminya.


"Ingat Sayang kamu boleh makan eskrim asal jangan berlebihan, aku gak mau kamu sakit lagi." Nasehatnya kepada istrinya sambil membelai rambut indahnya.


"Iya Sayang ini yang terakhir kok untuk malam ini." Sahut Khardha sambil menghabiskan sisa eskrim nya secepatnya.


Setelah melihat istrinya menghabiskan eskrim nya, modus untuk mencium bibir ranum wanita yang sangat dicintainya itu tiba-tiba muncul di otaknya.


"Sayang kenapa sich setiap kali makan eskrim selalu aja belepotan? Sini biar aku bantu bersihin." Ujarnya memberi alasannya.


Dia segera memutar kepala istrinya dengan lembut agar menghadap kearahnya lalu menjilati bekas eskrim yang masih menempel di bibirnya. Tidak sampai disitu saja dia juga mulai menyesap manisnya benda kenyal yang selalu menjadi candu untuknya itu, menggigit kecil lalu mengekplor lidahnya didalam rongga mulut kekasih halalnya itu. Merasakan istrinya juga menikmatinya Dokter Hasan semakin menekan tengkuk wanita yang telah mengandung buah cintanya itu, untuk memperdalam penjelajahan lidahnya dan saling membelit satu sama lain. Cukup lama pasangan suami istri itu menyatukan bibir mereka hingga kumandang suara azan terdengar dari speaker musholla barulah keduanya melepaskan pagutannya.


"Makasih Sayang kamu udah mencharge aku biar semangat & gak ngantuk lagi sehabis seharian nungguin kamu tadi." Ucapnya sembari menyentuh bibir istrinya yang sedikit bengkak akibat ulahnya.


Khardha menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis dengan menatap lekat wajah tampan laki-laki yang sudah berhasil merebut hatinya itu.


Ohh Sayang senyumanmu dan tatapanmu ini benar-benar mengalihkan duniaku, membuatku bisa melupakan segalanya, sungguh kehadiranmu dalam hidupku adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki." Gumam Dokter Hasan dalam hatinya dengan mengulum senyumnya.


"Ada apa Sayang? Kenapa kamu ngeliatin aku sampai segitunya?" Khardha mengerutkan keningnya memperhatikan ekspresi wajah suaminya.


"Udahlah Sayang kamu benar-benar bikin aku bucin akut. Aku sholat jamaah dulu ya, nanti sepulang dari musholla baru kita otw cari kepiting biar mamahnya kenyang, baby nya juga gak kelaparan." Ujarnya sembari berjongkok untuk mencium perut istrinya dan mengelusnya.


"Iya papah Sayang ." Sahut Khardha dengan menirukan suara anak kecil.


"Jangan bikin suara kayak gitu Sayang, bikin aku gemes banget dengarnya tau." Dokter Hasan berdiri lalu mencubit pipi istrinya dengan gemesnya.


"Ishhh sakit tau!" Kesal Khardha dengan menepis tangan suaminya yang memainkan pipinya." Udah sana cepat jalan nanti ketinggalan jamaahnya." Khardha mendorong suaminya kedepan pintu.


Sebelum membuka pintu kamar Dokter Hasan mengecup kening istrinya.


Cup....," aku pergi ke musholla dulu ya Sayang, assalamualaikum." Pamitnya lalu melangkahkan kakinya menuju musholla dekat rumah mertuanya itu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha mengantar kepergian suaminya sampai punggungnya hilang dari pandangan matanya.


Khardha segera berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu setelah itu dia kembali kekamarnya untuk mengambil mukena dan sajadahnya. Dia langsung memakai mukenanya lalu bergabung untuk menunaikan sholat isya, tarawih dan witir berjamaah bersama bu Hana, kak Amey, Merlin juga Aisya adiknya. Seusai berzikir, berdoa dan bersalaman dengan keluarganya, Khardha kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengganti bajunya. Sembari menunggu kedatangan suaminya Khardha membuka aplikasi qur'an digitalnya, dia mengaji dengan khusuknya hingga tidak menyadari kedatangan orang yang dinantikannya itu.


Seusai sholat berjamaah di musholla Dokter Hasan segera pulang kerumah bersama kakak iparnya Bripka Gusti Hamidi Choi.


"Assalamualaikum," ucap mereka berdua bersamaan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut bu Hana, kak Amey, Merlin dan Aisya yang sedang asyik menonton televisi di ruang tengah.


"Permisi ya." Dokter Hasan melewati semua orang yang ada didepan televisi untuk menuju kamar pribadi istrinya yang sekarang juga menjadi kamarnya.


Ketika membuka pintu kamarnya dia menyaksikan wanita kesayangannya itu masih memakai mukenanya sembari melantunkan ayat suci Al-qur'an dengan duduk bersandar di kepala ranjangnya. Dia mendekatinya lalu berdiri didepannya.


"Assalamualaikum Sayang," ucapnya dengan nada sangat lembut lalu mencium puncak kepala istrinya yang masih tertutup mukena.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Khardha dengan mendongakkan kepalanya lalu menandai ayat yang telah dibacanya.


"Kenapa kamu belum siap-siap Sayang?" Tanyanya sembari membantu melepaskan mukena istrinya.


"Aku udah ganti baju Sayang, cuma malas dandan aja." Jawab Khardha dengan melipat mukenanya lalu berdiri untuk menyisir rambutnya di depan cermin.


"Gak usah dandan Sayang kamu udah cantik kok, aku gak suka kamu dandan kalau bukan acara resmi." Ungkapnya sembari memeluk pinggang istrinya dari belakang lalu menaruh kepalanya di bahunya.


Dokter Hasan menatap pantulan wajah cantik natural istrinya dibalik cermin. Dia tersenyum lalu menciumi leher jenjang istrinya dan meninggalkan jejak kepemilikan disana dengan tangan yang tidak bisa dikondisikan ditempatnya.


"Udah Sayang hentikan katanya mau jalan, kalau kamu kayak gini terus kita gak bakalan jalan keluar tapi malah jalan kedalam." Khardha memutar tubuhnya menghadap suaminya lalu mendorongnya agar menjauhinya.


"Iya Sayang aku ganti baju dulu ya." Dokter Hasan menarik tangan istrinya hingga menabrak dadanya.


Dia merangkul pinggang istrinya dengan posisi saling berhadapan lalu menghujani wajahnya dengan kecupannya.


"I love you so much my wife." Lirihnya dengan mata berkabut penuh gairah.


Krucuk...krucuk...perut Khardha berbunyi menyadarkan Dokter Hasan yang hampir melupakan keinginan ngidam istrinya yang hendak makan kepiting.


"Maaf Sayang, hampir aja aku lupa kamu belum makan, aku ganti baju dulu ya." Ucapnya sembari mengambil pakaiannya didalam kopernya.


Setelah selesai bersiap-siap mereka berdua keluar kamar dengan bergandengan tangan. Semua orang mengerutkan keningnya menatap pasangan suami istri itu hingga Bripka Gusti Hamidi Choi angkat bicara lalu menegur mereka.


"Kalian mau kemana?" Tanya Gusti dengan memperhatikan keduanya dari atas kebawah.

__ADS_1



"Mau jalan Kak, bumil lagi ngidam pengin makan kepiting." Jawab Dokter Hasan dengan mengulum senyumnya.


Khardha sendiri hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hingga menampakkan barisan giginya sambil merangkul lengan suaminya.


"Hahh kepiting! Emangnya ada orang jualan di musim pandemi kayak gini?" Gusti menutup mulutnya menahan tawanya membayangkan bagaimana bingungnya nanti pasangan suami istri itu mencari kepiting.


Sebab banyak sekali warteg dan rumah makan yang terpaksa tutup akibat pandemi covit-19 ini.


"Ya dicari dulu lah sampai dapat, kalau dirumah aja gimana mau tau ada apa gak kepitingnya." Kesal Khardha dengan mendelik tajam melihat tampang kakaknya yang suka sekali membuly nya itu." Iya kan Sayang?" Khardha meminta persetujuan suaminya.


"Iya Sayang." Dokter Hasan menganggukkan kepalanya sembari menepuk pelan tangan istrinya yang bergelayut di lengannya untuk menghilangkan kekesalannya.


"Ya udah kami pergi dulu ya, assalamualaikum." Pamit pasangan suami istri itu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut semua orang yang ada dirumah.


Setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya Dokter Hasan segera mendudukkan dirinya didepan kemudi. Dia mulai melajukan kendaraan roda empatnya itu menyusuri jalanan sambil melihat kiri kanan mencari penjual seafood. Namun sayangnya kebanyakan warteg, rumah makan dan restoran yang mereka cari semuanya bertuliskan tutup akibat lock down, sosial distancing dan physical distancing di musim pandemi covit-19.


"Sayang kita harus cari kemana lagi? Kita udah keliling mengitari kota kabupaten ini, semuanya pada tutup." Tanya Dokter Hasan sembari melirik istrinya sekilas lalu kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Khardha hanya diam membisu tanpa suara karena dia juga bingung harus berkata apa. Netra matanya memandang ke arah luar dari kaca jendela mobil namun pikirannya hanya membayangkan nikmatnya memakan kepiting saus tiram yang sangat diinginkannya itu.


"Sayang apa kamu mau diganti dengan makanan yang lain? Itu banyak orang jual sate." Tunjuk Dokter Hasan dengan memperlambat laju mobilnya.


"Ok, tapi aku maunya sate bebek." Jawab Khardha dengan santainya tanpa menghiraukan respon suaminya.


"Apaaaaaa?" Dokter Hasan sangat terkejut dengan jawaban istrinya hingga dia langsung menginjak rem mobilnya secara mendadak dan berhenti tepat di depan penjual sate.


Kenapa kamu selalu meminta sesuatu yang susah untuk dicari Sayang? Apa semua suami begini ya ketika menghadapi istrinya yang lagi ngidam? Dokter Hasan bertanya dalam hatinya sembari melirik istrinya yang hanya menatap kearah luar lewat jendela mobilnya.


"Sayang disini kan adanya cuma orang jual sate ayam sama sate kambing." Ujarnya berusaha menahan emosinya dengan berbicara selembut mungkin pada istrinya.


" Ya udah gak usah makan aja sekalian." Khardha kembali berkata tanpa memikirkan perasaan suaminya.


Astagfirullah al azdim! Ya Allah berikan aku kesabaran yang tiada batas menghadapi ngidam istriku ini." Batinnya dengan meneguk salivanya berkali-kali.


"Sayang kamu kan udah laper dari tadi, kasian baby kita juga gak ada asupan makanan dari mamahnya kalau kamu gak mau makan sama sekali." Dokter Hasan menggenggam tangan istrinya sembari mengelusi perutnya.


Khardha tidak perduli dengan apa yang di ucapkan dan dilakukan suaminya, dia justru memejamkan matanya.


"Gak!" Singkat Khardha dengan menepis tangan suaminya.


"Ok Sayang kita cari sampai dapat walaupun waktu udah menjelang larut malam." Kesalnya namun selalu berusaha sabar menghadapi semua tingkah laku istrinya.


Dokter Hasan kembali memutar kemudinya menyisir jalanan yang dilewatinya dengan perlahan, dia menanyakan kepada setiap penjual sate adakah yang menjual sate bebek. Namun sayang sampai jam menunjukkan pukul 24:00 belum juga dia mendapatkan apa yang di inginkan istrinya.


"Sayang ini udah tengah malam, aku gak kuat lagi nyetir lebih lama, mending kita pulang aja ya." Ujarnya sembari mengusap wajahnya yang sudah sangat mengantuk.


Khardha akhirnya menganggukkan kepalanya karena tidak tega melihat upaya suaminya yang sudah berusaha semaksimal mungkin menuruti kemauannya. Dia menyalakan audio sistem yang ada mobil itu lalu memutar musik dengan lagu favoritnya yang nyanyikan oleh Faank vocalis band Wali.


🌿Doaku untukmu sayang


Kau mau apa pasti kan kuberi


Kau minta apa akan kuturuti


Walau harus aku terlelah dan letih


Ini demi kamu sayang


Aku tak akan berhenti


Menemani dan menyayangimu


Hingga matahari tak terbit lagi


Bahkan bila aku mati


Ku kan berdoa pada Ilahi


Tuk satukan kami


Di surga nanti


Tahukah kamu apa yang kupinta


Di setiap doa sepanjang hariku

__ADS_1


Tuhan tolong aku juga jaga dia


Tuhan ku pun sayang dia


Aku takkan berhenti menemani


Dan menyayangimu


Hingga matahari tak terbit lagi


Bahkan bila aku mati


Ku kan berdoa pada Ilahi


Tuk satukan kami di sorga nanti


*****


Tidak terasa karena asyik mendengarkan lagu favoritnya sampailah pasangan suami istri itu di depan rumah orang tuanya. Dokter Hasan segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah mertuanya. Khardha langsung keluar dari mobil tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobilnya, dia berjalan mendahuluinya dan masuk ke dalam rumah. Dia melihat kakaknya masih belum tidur karena sedang asyik menonton televisi. Gusti menyimak berita tentang perkembangan saat ini tentang pasien covit-19 serta di perpanjangnya PSBB (pembatasan sosial berskala besar).


"Assalamualaikum." Khardha mengucapkan salamnya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Sahut Gusti dengan melirik ke arah adik bungsunya itu." Gimana dapat gak kepitingnya?" Tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Gak!" Ketus Khardha dengan memajukan bibirnya.


"Tuh kan udah aku bilangin gak percaya sich." Ujar Gusti seraya tersenyum mengejek adiknya.


"Ishhh nyebelin!" Khardha masuk kedalam kamarnya dengan menekuk wajahnya karena kesal, jengkel dan marah jadi satu ditambah lagi dengan mendengar ucapan kakaknya yang selalu menggodanya itu.


" Permisi Kak." Dokter Hasan datang menyusui istrinya.


" Iya silahkan bujuk Rara semalaman." Sahut Gusti sambil menahan tawanya melihat kelakuan adik iparnya yang menurutnya seperti isti (ikatan suami takut istri).


*****


Setelah masuk kedalam kamar Dokter Hasan kembali membujuk istrinya.


"Sayang maafin aku ya, aku kan udah usahain semuanya sesuai kemampuanku, kalau belum ada berarti belum rezeki kamu


sama anak kita untuk makan kepiting atau sate bebek malam ini." Dokter Hasan mengusap punggung istrinya yang berbaring dalam keadaan tengkurap sambil menangis.


Krucuk......krucuk....perut Khardha kembali berbunyi.


"Kamu laper Sayang, aku bikinin susu ya sama roti bakar mau?" Dokter Hasan membalikkan badan istrinya dengan hati-hati.


"Aku mau makan mie instan aja boleh gak?" Khardha menatap suaminya dengan sendu.


"Boleh Sayang tapi jangan sering-sering ya, biar aku yang masakin spesial buat kamu dan baby kita." Jawabnya sembari menciumi perut istrinya." Yuk kita kedapur sekarang." Ajaknya sambil membantu istrinya bangun.


"Tadi kamu bilang udah ngantuk banget?" Khardha mengerutkan keningnya menatap suaminya.


"Gak papa Sayang aku rela begadang demi kamu." Jawabnya dengan ambigu sembari menaikturunkan alisnya.


"Ishhh Sayang kamu tuh mesum banget sich." Khardha mencubit perut suaminya.


"Tapi aku kan mesumnya cuma sama kamu Sayang." Dokter Hasan langsung memeluk istrinya lalu menciumi puncak kepalanya.


Krucuk....krucuk...Perut Khardha lagi-lagi


berbunyi karena memang harus di isi.


''Kayaknya bumilku ini lagi laper banget ya." Dokter Hasan kembali mengelusi perut istrinya." Ya udah yuk kita masak mie sama-sama." Ajaknya dengan menggendong istrinya membawanya keluar menuju dapur.


"Turunin aku Sayang, malu ada Kak Gusti." Tunjuk Khardha dengan matanya.


Dokter Hasan segera menurunkan istrinya dengan mendudukkannya di kursi meja makan.


"Ehem... ehem udah gak ngambek lagi nich ceritanya." Ujar Gusti sembari menuang air putih di gelasnya.


Bersambung....


Assalamualaikum, selamat menunaikan ibadah puasa semuanya bagi yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita di terima Allah subhanna wata'ala, aamiin ya robbal alamin.


Mohon doa & dukungannya terus ya teman-teman melalui vote, like, komen, koin nya.


Dari kalian semuanya yang sudah mau mampir ke novel ini.


Semoga selalu bisa jadi bacaan favorit

__ADS_1


kalian ya, salam sayang dari author Khardha Love.


__ADS_2