
Happy reading guys!
Dokter Hasan segera menghampiri istrinya yang terkulai lemas hingga limbung kebelakang, menyaksikan kepala Hendrik yang bersimbah darah karena senjatanya mengenai dirinya sendiri, hingga akhirnya ambruk sambil memegangi kepalanya.
"Sayang aku akan panggil bantuan, kamu jangan takut ya," Ucapnya sembari merengkuh tubuh istrinya lalu menghubungi petugas medis lewat sambungan telepon yang ada diruangannya itu.
Khardha hanya diam membisu tanpa suara menatap kondisi Hendrik yang sangat memprihatinkan didepannya.
📞"Cepat bawa brankar dan tim medis keruangan saya, disini ada seseorang yang terluka cukup parah dikepalanya."
📞"Baik Dokter kami akan segera kesana."
Tidak berselang lama bantuan pun datang. Tim medis segera melakukan tindakan apa yang seharusnya mereka lakukan. Namun tiba-tiba setelah semuanya sudah beres Dokter Rasyid yang ikut menangani Hendrik menghampiri pasangan suami istri itu yang duduk diluar ruang rawat inap Hendrik sekarang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dokter Rasyid penuh selidik menatap keduanya bergantian.
"Orang itu yang pernah menculik istriku, tadi dia menyusup keruanganku. Dia juga menodongkan pistol ke kepalaku, namun ketika aku berhasil menepisnya tiba-tiba senjatanya mengenai dirinya sendiri. Itu benar-benar diluar dugaan kami, lihatlah istriku masih syok menyaksikannya." Jawab Dokter Hasan tanpa melepaskan pelukannya kepada istrinya.
"Benarkah?" Dokter Rasyid masih meragukannya.
"Kalau kamu masih tidak percaya, itu bukan masalah bagiku." Sahut Dokter Hasan dengan menekankan kata-katanya.
"Lantas siapa yang bertanggung jawab dengan orang itu?" Dokter Rasyid mendudukkan dirinya disamping Khardha.
"Dia itu seorang pengusaha sukses cari saja tanda pengenalnya didalam dompetnya atau browsing saja di internet untuk mengetahui identitasnya. Kenapa kamu harus bertanya terus kepada kami?" Dokter Hasan semakin mengeratkan pelukannya agar Dokter Rasyid tidak bersentuhan dengan istrinya.
"Aku dengar dari Mas Wahyu & Mbak Selvi orang itu masih ada hubungan keluarga denganmu Khardha, apakah itu benar?" Dokter Rasyid ingin sekali membuat Khardha membuka suaranya.
"Iya dia kakak sepupu istriku." Kembali Dokter Hasan yang menjawabnya.
"Kenapa selalu kamu yang memberikan jawaban, apa aku gak boleh bicara dengan Khardha?" Kesal Dokter Rasyid dengan beranjak dari duduknya.
"Kenapa kamu sewot, dia ini istriku! Aku berhak atasnya seutuhnya, jadi kamu jangan berharap lebih kepadanya walaupun dia cinta pertamamu." Dokter Hasan kembali menekankan kata-katanya.
"Iya, aku juga tau itu!" Dokter Rasyid meninggikan intonasi suaranya kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Dokter Hasan tersenyum penuh kemenangan bisa mengusir Dokter Rasyid tanpa harus mengganggu istrinya lagi.
"Sayang kita pulang yuk!" Ajaknya sembari menuntun istrinya untuk berjalan menuju ke parkiran rumah sakit.
Ketika sampai diparkiran ternyata disana sudah ada Dokter Wahyu & Dokter Selvi yang menunggu didekat mobil sambil bercengkrama dengan Dokter Rasyid yang sudah menceritakan semua tentang kejadian diruangan Dokter Hasan.
"Hai bro istri lo gak papa kan?"
Bukannya menjawab Dokter Hasan langsung membukakan pintu mobil untuk istrinya, mendudukkannya kemudian memasang seat beltnya. Dia juga segera duduk dikursi kemudi lalu membunyikan klakson mobilnya menandakan dia akan pergi dari sana. Namun para sahabatnya itu justru tidak menghiraukannya karena terlalu asyik membahas tentang Hendrik yang menjadi korban kebodohannya sendiri.
Tin...tin..Dokter Hasan kembali membunyikan klakson mobilnya.
"Heyy lo berdua mau ikut gue apa sama Rasyid?" Teriak Dokter Hasan dari balik kemudinya.
__ADS_1
"Ya sama lo lah, mobil gue kan ada dirumah lo!" Jawab Dokter Wahyu sembari membuka pintu mobil kemudian masuk bersama istrinya.
"Kalian berdua udah gak ada pasien lagi ya, kok duluan ke parkiran?" Tanya Dokter Hasan sambil melirik spion yang ada diatas kepalanya.
"Sudah beres semua, kebetulan istri gue udah gak sanggup lagi menahan ngidamnya pengin makan rujak & bakar sate sama istri lo." Sahut Dokter Wahyu sembari melirik ke arah Khardha yang masih setia dengan kebisuannya.
"Sayang gimana kamu mau gak?" Dokter Hasan menggenggam tangan istrinya.
Khardha menoleh kepada suaminya lalu menganggukkan kepalanya. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah lalu masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri, sholat dan beristirahat.
"Bicaralah Sayang, jangan diam aja. Aku gak suka kamu kayak gini, aku mau kamu yang selalu terbuka, ceria, dan manja sama aku." Dokter Hasan menangkup wajah istrinya ketika mereka berdua sudah selesai melaksanakan sholat maghrib & isya berjamaah.
"Gimana keadaan kak Hendrik setelah operasi tadi Sayang?" Khardha akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang sangat mengganggu pikirannya sedari tadi.
"Inshaallah dia sudah gak papa lagi Sayang, sebab dia sudah melewati masa kritisnya, tapi bisa aja dia nanti kehilangan ingatannya." Jawab Dokter Hasan dengan menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Maksud kamu otak kak Hendrik mengalami masalah? Terus gimana nanti aku ngomong sama Tante Reyna & Lina, kalau mereka menayakan penyebab kak Hendrik sampai terluka? Apakah aku harus jujur sama mereka?" Khardha meminta pendapat suaminya dengan menatap lekat manik matanya.
"Nanti aku akan bantu jelasin semuanya pada mereka, kamu tenang aja Sayang, aku akan selalu ada untukmu." Dokter Hasan langsung mendekap erat istrinya sembari menciumi puncak kepalanya.
"Makasih Sayang, kamu selalu mendukung & menguatkan aku." Khardha semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya.
Tok...tok...tok...suara pintu di ketuk dari luar.
Mereka berdua langsung melepaskan pelukannya, Dokter Hasan beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Ceklik...pintu kamar terbuka.
"Sebentar lagi kami nyusul, lo duluan aja kesana." Dokter Hasan langsung menutup kembali pintu kamarnya setelah sahabatnya pergi dari hadapannya.
"Sayang kita udah ditungguin dari tadi, yuk kita turun." Dokter Hasan langsung menarik tangan istrinya untuk menyusul sahabatnya ke gazebo dekat kolam renangnya.
Setelah sampai disana Khardha langsung membantu membakar sate diatas alat pemanggang yang baru saja menyala.
"Biar aku yang bakar satenya Sayang, kamu siapin yang lain aja." Dokter Hasan mengambil alih pekerjaan istrinya karena tidak tega melihat wajah Khardha yang langsung merah terkena panas alat pemanggang dengan keringat yang bercucuran.
"Ok, Sayang!" Khardha beranjak mengambil buah-buahan yang ada diatas meja untuk dibikin rujak lalu mengupasnya dan menyiapkannya diatas piring.
Sedangkan Dokter Selvi & Dokter Wahyu justru sibuk bermain dengan smartphonenya sambil bersandar ditempat duduk yang ada disana.
"Bi Tutik tolong bikinin jus buat kita semua ya," pinta Khardha sembari menyerahkan sebagian buah yang masih segar didalam kresek.
"Baik Non!" Bi Tutik langsung membawanya ke dapur.
__ADS_1
"Udah matang Sayang?" Khardha menghampiri suaminya yang masih asyik membolak balik sate yang dibakarnya.
"Sebentar lagi Sayang, tolong ambilin tisu ya." Dokter Hasan menghapus keringat dikeningnya dengan lengan bajunya.
"Ok Sayang!" Khardha langsung mengambil tisu dan membantu mengelap keringat diwajah suaminya.
"Makasih Sayang, cup." Dokter Hasan langsung melayangkan kecupan di pipi istrinya.
Khardha hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lalu ikut membolak balik sate yang hampir matang.
Sementara itu Dokter Wahyu yang memperhatikan sahabatnya yang tengah asyik bermesraan didepan alat panggangan, diapun mempunyai ide untuk menjahili keduanya. Dia menambahkan cabe yang sangat banyak dibumbu rujak yang ada dipiring bagian Dokter Hasan dan Khardha sebab dia tahu sahabatnya itu tidak suka makanan yang terlalu pedas. Dengan wajah tanpa dosa dia menyodorkan rujak kedepan pasangan suami istri itu yang sudah selesai memanggang satenya.
"Nich makan rujaknya dulu baru makan berat." Ucap Dokter Wahyu dengan menggeser piring kedepan pasangan suami istri itu.
Dokter Hasan mengangkat satu alisnya karena curiga ada udang di balik bakwan atas kebaikan yang disuguhkan oleh sahabat somplaknya itu.
"Kami gak suka makan rujak malam-malam, jadi lo berdua aja yang habisin mumpung istri lo lagi ngidam." Sahut Dokter Hasan seraya tersenyum smirk.
"Tapi aku pengin Sayang!" Khardha langsung mengambil buah yang ada didalam piring, ketika hendak mencocol bumbunya Dokter Hasan langsung mencegah istrinya.
"Gak usah pakai bumbu rujaknya Sayang nanti kamu sakit perut." Dokter Hasan langsung menyuapi istrinya tanpa membiarkannya menyentuh bumbunya.
"Beb aku juga mau dong disuapin tapi yang ada di piring bagian Khardha ya plus bumbunya." Pinta Dokter Selvi dengan nada manja.
Wah gawat kenapa istriku malah mau yang itu, seharusnya mereka yang memakannya," gumam Dokter Wahyu dalam hatinya seraya menggigit bibirnya.
"Jangan yang itu ya Beb di piring bagian kita kan belum disentuh." Ujarnya memberi alasannya seraya tersenyum manis menatap istrinya.
"Gak pokoknya aku mau yang itu dan kamu juga harus ikut makan!" Pinta Dokter Selvi dengan tegas.
"Udah turutin aja kemauannya, nanti anak lo ileran lagi kalau gak dituruti." Ucap Dokter Hasan dengan menahan tawanya.
Dengan terpaksa Dokter Wahyu mengambil piring yang berisi buah plus bumbu rujak super pedas yang dibuatnya untuk mengerjai sahabatnya justru dia sendiri yang akhirnya kena akibatnya. Hingga akhirnya sesudah menghabiskan semua rujaknya Dokter Wahyu bolak-balik ke kamar mandi karena sakit perut.
"Gimana enakan rujaknya?" Dokter Hasan menaik turunkan alisnya kearah Dokter Wahyu yang memegangi perutnya.
Dokter Wahyu hanya tersenyum kecut merasakan kebodohannya.
"Udah Sayang jangan menggodanya, lebih baik kita makan malam dulu ya." Khardha menyajikan makanan diatas meja yang ada disana.
Mereka akhirnya menyantap makan malam dengan nikmatnya sambil sesekali bergurau disela makannya.
Bersambung....
Oleh karena itu janganlah suka menjahili ataupun mengerjai orang lain kalau tidak mau berbalik lagi kepada dirinya sendiri. Senjata makan tuan layaknya Hendrik dan Dokter Wahyu yang terkena akibat atas kebodohan mereka sendiri.
Semoga selalu menghibur ya teman-teman.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian melalui vote, like, komennya.